The System

The System
Duel



Kini semua perlakuan kepada Feng berubah 180 derajat, semua Hewan kuno Manusia elang yang semula memusuhi Feng tersebut mendadak berlaku baik padanya. Feng di berikan tempat tinggal yang nyaman dan di antarkan makanan setiap waktunya, hal ini tentu saja membuat siapa saja curiga namun Feng sudah terlebih dulu menebak apa yang terjadi.


Tok... Tok... Tok...


"Tuan Feng!" sebuah suara merdu memasuki gendang telinga Feng yang sedang menatap perkampungan Hewan kuno itu dari jendela rumahnya. Ia bangkit dan berjalan membukakan pintu dan seketika nampaklah seorang Perempuan cantik dengan sebuah bingkisan buah di tangannya. Perempuan itu adalah perempuan yang sama dengan tempo hari Ia ceritakan, setelah Feng memiliki tempat tinggal Ia sering sekali datang berkunjung dengan alasan mengantar makanan.


"Tuan Feng, Aku membawa banyak buah untukmu," ucap Perempuan yang belakangan ini Feng ketahui namanya adalah Falca sedangkan saudara laki lakinya bernama Falco.


Feng mengangguk mempersilahkan Falca masuk sedangkan Ia melangkah keluar, hal itu tentu saja membuat Falca kebingungan.


"Eh? Kenapa Tuan pergi?" tanya Falca berbalik menatap Feng, Feng mengangkat kedua bahunya.


"Aku ingin berjalan jalan," ucap Feng dingin kemudian melangkah pergi keluar.


"Boleh Aku ikut?" tanya Falca, Feng hanya diam menjawab pertanyaan itu dan melanjutkan langkahnya pergi. Falca langsung menerjemahkan diamnya Febg sebagai 'Iya' dan langsung meletakkan keranjang buahnya laku berlari menyusul Feng.


Feng menatap dan memperhatikan setiap tempat Ia lewati dengan terperinci, mulai dari bentuk rumah rumah Hewan kuno Manusia elang ini yang persis berbentuk seperti bentuk Rumah rumah adat di wilayah timur negaranya saat di Bumi. Begitu juga Manusia manusia elang yang beraktivitas mengingatkan Feng pada suasana saat di Bumi.


"Meski Aku membenci takdirku saat disitu, namun Aku tetap saja merindukan tanah kelahiranku," gumam Feng samar.


"Apa? Tuan Feng bilang apa?" tanya Falca saat mendengar gumaman dari Feng, Feng menggeleng dengan wajah dinginnya.


"Oh yah Tuan Feng, bolehkan Aku memanggil Tuan Feng dengan nama saja?" tanya Falca dengan ekspresi gugup dan menunduk dengan muka memerah.


"Terserah," jawab Feng dingin kemudian berlalu pergi, Falca langsung mengangkat mukanya dengan mata berbinar binar begitu mendengar jawaban Feng itu, Ia melonjak senang kemudian mengejar Feng.


Feng dan Falca terus berjalan hingga sampai di sebuah lapangan besar, tepat di tengah lapangan tersebut lebih dari ratusan Manusia elang tengah berlatih dan itu justru di latih langsung oleh saudara Falca, Falco.


"Falco!!" panggil Falca melambaikan tangannya dari tepi lapangan begitu melihat Falco. Falco yang mendengar suaranya disebut langsung menoleh menatap saudarinya itu, namun begitu melihat siapa di samping Falca, Ia langsung memasang wajah datar.


Tiba tiba ekspresi Falco berubah, Ia kemudian berjalan menghampiri Feng dan Falca berdiri. Hal itu sejenak membuat Falca itu senang karna mengira Falco akan meminta maaf dan berdamai dengan Feng.


"Kau! Aku menantangmu untuk berduel!" ucap Falco menunjuk Feng, senyum Falca menghilang.


"Falco!" panggil Falca tak senang, Falco tak mempedulikan panggilan Saudarinya itu.


"Kita bertanding, Aku akan menggunakan satu teknik yang baru saja Aku ajarkan pada Mereka dan Kau bisa menggunakan satu teknik bebas milikmu itu, tanpa kekuatan dan hanya tangan kosong, bagaimana?" Falco menatap Feng remeh, Feng tersenyum tipis.


"Kenapa Aku harus menerimanya?"


"Kau! Baiklah! Kalau Kau berhasil, Aku akan menuruti apapun keinginanmu asal Aku bisa melakukannya!" ucap Falco, Feng diam sejenak kemudian mengangguk.


"Tunggu dulu! Ini gak adil!" ucap Falca menyela.


"Apanya yang tidak adil Falca? Aku satu teknik, Dia satu teknik," jawab Falco menatap Saudarinya itu.


"Aku yang akan menjadi wasitnya," sebuah suara terdengar membuat 3 Makhluk itu menoleh, seorang Kakek berjalan ke arah Mereka sambil tersenyum.


"Kakek!" ucap Falco dan Falca terkejut, tak biasanya Kakek Mereka akan keluar dari kediamannya apalagi hanya untuk menjadi wasit duel seperti ini.


"Tapi ke-" Falca ingin berkata lagi namun di tahan oleh Feng dengan kode tangan, Ia menatap Kakek itu dan Falco kemudian mengangguk.


"Baiklah," ucap Feng kemudian Ia dan Falco berdiri di tengah lapangan dengan Kakek tadi sebagai wasitnya.


"Yang pingsan atau menyerah duluan, Ia kalah, mengerti?" ucap Kakek itu, Feng dan Falco mengangguk.


"Baiklah, Duel dimulai!"


Begitu Kakek itu mengatakan itu, baik Feng ataupun Falco masih terdiam hingga Falco menatap Manusia manusia elang yang Ia latih tadi.


"Perhatikanlah dan pelajari!" ucap Falco kemudian secara cepat tubuhnya bercahaya dan menjadi kepala elang dan sepasang sayap.


Falco melesat maju mengayunkan tinjunya mengincar dada Feng, Feng langsung memasang kuda kudanya. Namun begitu beberapa centi lagi akan sampai di dada Feng, Falco justru memutar tubuhnya mengganti menjadi tendangan ke arah rusuk bawah Feng, Feng tersenyum tipis menurutnya kenapa Ia tak mengangkat tangan untuk menangkis serangan Falco tadi? Karna Ia sudah menebak serangan tipuan itu.


Maka dengan gerakan yang lebih cepat, Feng menurunkan tangannya menangkis tendangan Falco tersebut. Namun meski begitu, tetap saja tendangan Falco membuatnya termundur beberapa langkah kebelakang.


"Patut saja ini Mereka sebut teknik mematikan, selain kecepatan bertambah juga kekuatan berkali kali lipat, padahal hanya mebgandalkan titik berat kekuatan fisik," gumam Feng menganalisis.


Falco, Falca, dan Kakek Mereka sama sama terkejut melihat Feng dapat menangkis serangan itu. Falco menggertakan giginya kesal kemudian kembali maju menyerang Feng kembali dengan gerakan cepat. Sebuah pukulan Ia layangkan menuju kepala Feng dan langsung di tangkap cepat pergelangan tangannya oleh Feng, melihat tangannnya di tangkap Falco mengangkat kakinya menuju kepala Feng, Feng melepaskan pegangan tangannya dan menunduk serangan itu.


Saat menunduk, Feng melayangkan sebuab tinju ke arah perut Falco, Falco ingin menghindar namun sedikit terlambat membuat dirinya termundur beberapa langkah kebelakang.


Feng tak memberi lawannya nafas dan maju mengayunkan tinjunya, melihat serangan itu, Falco langsung menggulung sayapnya melindungi tubuhnya namun kemudian Feng tersenyum tipis kemudian memutar tubuhnya menuju sisi belakang Falco dan memukul kuduknya, membuatnya jatuh pingsan.


Sunyi...


Semua Orang menganga, begitu cepat duel itu terjadi dan kini Falco sudah terbaring tak sadarkan diri di tengah lapangan. Feng dengan santai berjalan ingin pergi.


"Aku akan menagih taruhannya saat Ia sadar nanti," ucap Feng, Kakek Falco bukannya marah melihat cucunya dikalahkan justru tersenyum.


"Bisa Kau menemaniku nanti sore?" tanya Kakek itu menatap Feng, Feng terhenti menoleh menatap Kakek Falco yang tersenyum itu meneliti ekspresinya.


"Baiklah," ucap Feng kemudian berlalu pergi, Kakek itu tersenyum.


"Sifat Mereka berdua memang benar benar mirip."


...- - -...