The System

The System
Orang Berjubah Hitam



Pemuda Murid Akademi Dewa itu memasuki Arena dengan gaya sombongnya. Ia melambaikan tangannya bak artis, menyapa seluruh Penonton arena pertarungan.


"Kemudan lawannya dan Orang yang paling Kita tunggu tunggu! Si Gila!" ucap Komentator itu berapi api. Orang orang kembali bersorak, kali ini lebih meriah dan semangat.


Orang yang di tunggu tunggu akhirnya memasuki lapangan. Seorang Kakek tua dengan pakaian sobek sobek dan tambalan, jenggot panjang tak teratur, rambut berantakan.


"Memang mirip gelandangan tak terurus," gumam Feng begitu melihat penampilan si Gila tetsebut, namun ada satu hal yang membuat Feng tertarik akan si Gila ini.


Mata dan tatapannya, Feng dapat merasakannya, mata dan tatapan si Gila itu mengandung dendam yang dalam dan sesuatu yang membuat dirinya memandang segala sesuatu di sekitarnya berbeda. Selain itu, Feng juga merasakan sesuatu yang spesial dari mata tersebut.


"System, bisakah Kau mengecek mata itu?"


[Ding! Bisa Tuan!]


[Memindai...]


[Ding! Mata Dewa : Mata Dewa adalah mata legenda di Dunia Dewa. Orang yang memiliki mata ini akan mendapat keberuntungan besar namun juga ujian tanpa henti, selain itu, Mata ini memiliki banyak kekuatan tersembunyi yang harus di cari sendiri oleh sang Pemilik mata namun efek negatifnya, kultivasinya akan lambat berkembang]


Feng mengangguk mengetahui informasi tersebut. Matanya kembali beralih ke arah lapangan dan menemukan bahwa Murid Akademi Dewa dan si Gila sudah siap bertarung.


"Baiklah, dengan ini pertarungan ini... Dimulai!"


Si Gila langsung mengeluarkan jiwa beladirinya, siluet seekor Burung Phoenix berwarna biru keluar dari dalam tubuhnya. Feng tampaknya lumayan familiar dengan aura phoenix yang keluar dari tubuh si Gila tersebut.


"Hahaha... Apakah itu jiwa beladirimu? sangat kecil dan lemah," tawa Murid Akademi Dewa kemudian Ia ikut mengeluarkan jiwa beldirinya. Siluet seekor Naga besar keluar dari dalam tubuhnya, besar Naga itu 5 kali lebih besar dari Phoenix yang dikeluarkan si Gila, membuat keduanya tampak jauh berbeda.


Orang orang yang melihat itu langsung bersorak semangat dan berapi api. Mereka tidak penasaran siapa yang menang atau apakah ini akan menjadi pertarungan sengit, Mereka sudah memastikan bahwa Murid Akademi itu yang akan menang. Bukan tanpa alasan, Murid Akademi Dewa itu berada di tingkat Bumi lapis 8 sedangkan si Gila berada di tingkat Bumi lapis 2. Perbedaan yang sangat jauh!


Orang orang lebih antusias selama apakah si Gila akan bertahan dan bagaimana cara Murid Akademi Dewa menghabisi si Gila. Mereka sangat menantikan hal tersebut. Feng juga memastikan bahwa Murid Akademi Dewa itu akan menang kecuali...


Si Gila dapat menggunakan Mata Dewanya.


Si Gila maju menyerang terlebih dahulu, mengerahkan jiwa beladirinya terbang menyerang Murid Akademi Dewa. Murid Akademi Dewa tersenyum remeh dan mengangkat tangannya, menggerakkan jiwa beladirinya untuk menyerang jiwa beladiri si Gila.


Boom... Jiwa beladiri naga milik Murid Akademi Dewa dengan mudah melilit jiwa beladiri phoenix milik si Gila. Jiwa beladiri itu menggeliat coba melepaskan diri namun sama sekali tak berhasil.


"Kau ingin lepas? Baiklah," ucap Murid Akademi Dewa sambil tersenyum mengejek kemudian menggerakkan jiwa beladiri naganya, membanting jiwa beladiri phoenix tersebut.


Si Gila langsung memuntahkan darah dari mulutnya begitu jiwa beladirinya di lukai. Ia menatap Murid Akademi Dewa itu dingin sedangkan Murid Akademi Dewa itu menatap dirinya remeh dan menantang.


Si Gila kembali bangkit dan melesat maju menyerang, kepalan tinju Ia arahkan pada Murid Akademi Dewa itu.


Tap... Murid Akademi Dewa itu menangkap tinju si Gila dengan mudah dan menarik tangan si Gila dan menghempaskannya ke pembatas arena pertarungan.


Boom! Hempasan itu sangat kuat, semua Orang meringis melihatnya namun juga semakin semangat melihat si Gila disiksa seperti itu.


Murid Akademi Dewa bergerak, balas menyerang. Ia menarik si Gila dan melemparkannya ke langit.


"Serangan seribu Naga!"


Booom! Pukulan terakhir dari Murid Akademi Dewa itu menghempaskan si Gila. Layaknya meteor melesat menabrak tanah.


Seluruh Arena menjadi hening melihat itu, debu mengepul. Perlahan, satu persatu Orang bersorak hingga seluruh Arena Pertarungan bergemuruh oleh sorak sorai.


"Kasian," gumam Rara di sebelah Feng, matanya menatap iba ke arah si Gila yang sudah terbaring tak berdaya di atas tanah itu. Feng menghela nafasnya, Ia sebenarnya juga kasihan namun ini bukan persoalannya dan Mereka juga baru sampai di Alam Dewa lebih baik jangan mencari masalah yang bisa menghalangi jalan Mereka.


Murid Akademi Dewa itu berjalan lambat sambil melambaikan tangannya pada Penonton yang bersorak sorai ramai ke arahnya.


"Bunuh!"


"Habisi Orang gila itu!"


Sorak sorai itu berubah menjadi sorakan dan ujaran benci yang bertalu talu. Murid Akademi Dewa itu menginjak punggung si Gila dan mengangkat tangannya. Perlahan energi berkumpul di tangannya menjadi sebilah pedang tajam. Semua menahan nafasnya melihat hal tersebut.


"Jangan salahkan Aku membunuhmu, salahkan kenapa Kau gila dan lemah."


Wushh...


Sraat...


Hening...


Tak ada satupun yang berbicara, darah mengalir menetes. Semua Orang terbelakak melihatnya.


Bukan, itu bukan darah si Gila. Melainkan darah dari goresan di pipi Murid Akademi Dewa tersebut. Si Gila selamat dan Murid Akademi Dewa itu sudah mundur cukup jauh. Di hadapan Murid Akademi Dewa itu justru kini berdiri seseorang.


Seseorang dengan jubah hitam, aura pembunuh terasa pekat dari dirinya dan semuanya Ia arahkan ke Murid Akademi Dewa itu.


"Siapa Kau?! Beraninya Kau ikut campur dalam pertarunganku?!" Murid Akademi Dewa itu berteriak marah menunjuk Orang berjubah hitam di depannya.


"Heh pertarungan? Ini namanya penindasan!" Orang berjubah hitam itu berkata dingin, aura pembunuh semakin terasa pekat dari dirinya. Murid Akademi Dewa itu menggertakkan giginya marah, siluet Naga keluar dari dalam tubuhnya.


"Tak ada yang bisa menghalangiky untuk membunuhnya!" Murid Akademi Dewa itu bergerak cepat, melayangkan tinjunya yang di selimuti aura kuat, siap menyerang.


"Kau bisa mencobanya," Orang berjubah hitam itu kemudian menggeser langkahnya. Ia dengan mudah menangkap tinju Murid Akademi Dewa itu dan balas melemparkannya ke langit.


"Hujan Bulu Phoenix!"


Ctarrr.. Langit menggelap, semua Orang yang menyaksikan itu terdiam.


Wushh... Dari langit, turunlah ribuan energi berbentuk bulu yang langsung menabrak Murid Akademi Dewa itu bertubi tubi.


Boom! Murid Akademi Dewa itu jatuh menghempas tanah, tak dapat bangun lagi. Semua Orang terdiam melihat kejadian yang berubah dalam sekejap mata tersebut.


"Siapa Orang berjubah hitam tersebut?"


...- - -...