
Xiao Ang dan Tang Ya tersenyum lebar begitu Mereka merasa bahwa Mereka telah berhasil membunuh Kucing bayangan tersebut.
Wush... Dalam sekejap mata kucing bayangan yang dipanah oleh Tang Ya tadi pecah menjadi kabut asap. Xiao Ang dan Tang Ya yang melihat hal tersebut tentu saja terkejut.
"Meoow..." Suara kucing terdengar jelas, bukan dari satu arah melainkan dari seluruh arah. Xiao Ang dan Tang Ya langsung memasang sikap waspada menatap sekitarnya.
Benar saja, tak hanya satu, bahkan ada puluhan kucing bayangan yang muncul di sekitar Mereka. Mata Xiao Ang dan Tang Ya membesar terkejut.
Belum selesai keterkejutan Mereka, puluhan kucing bayangan itu bergerak menyerang Mereka. Xiao Ang dan Tang Ya mencoba melindungi diri, namun dengan jumlah sebanyak dan secepat itu, tetap saja kucing bayangan itu meninggalkan banyak luka ditubuh Mereka berdua. Xiao Ang dan Tang Ya tak menyerah dan kembali mengeluarkan roh beladiri Mereka, menyerang balik kucing bayangan.
"Tebasan Naga!"
"Hujan Panah!"
Booom! Booom! Booom! Suara ledakkan terdengar keras beruntun di gunung dunia itu. Xiao Ang dan Tang Ya benar benar mengeluarkan seluruh tenaganya untuk menyerang kucing bayangan yang berjumlah puluhan tersebut. Kepul debu bertebaran dimana mana, pohon pohon hancur dan hewan hewan tingkat rendah langsung berlarian jauh jauh.
Pertarungan itu terjadi cukup lama, hingga Xiao Ang dan Tang Ya benar bebar kehabisan tenaga. Mereka hanya dapat memapah diri Mereka dengan tubuh penuh keringat bercampur darah. Dada Mereka naik turun mengatur nafas yang tak beraturan.
"Selesai," gumam Feng melihat pertarungan Mereka.
Wushhh... Kucing bayangan dengan santainya muncul, hanya satu, karna bayangannya yang lain telah Ia hilangkan. Xiao Ang dan Tang Ya yang melihat kucing bayangan itu berusaha bergerak, dengan sisa sisa tenaga Mereka coba membuat serangan untuk kucing bayangan.
Booom! Serangan itu tepat mengenai kucing bayangan itu, cukup kuat hingga membuat debu debu berterbangan menutupi pandangan. Hingga debu menghilang, Xiao Ang dan Tang Ya sudah benar benar kelelahan bahkan hampir kehilangan kesadaran Mereka, namun hal yang Mereka lihat selanjutnya benar benar membuat Mereka kehilangan seluruh harapan Mereka.
Kucing bayangan itu nampak baik baik saja tanpa ada luka sama sekali ditubuhnya. Ia menatap Xiao Ang dan Tang Ya dengan mata hitamnya kemudian dalam satu kedipan mata Ia sudah menghilang dan muncul di hadapan Xiao Ang dan Tang Ya kemudian menyerang keduanya hingga tak sadarkan diri.
Klikk... Feng menekan stopwatch yang Ia pasang tadi dan menunjukkannya pada Rara. Tebakan Feng benar, angka di stopwatch itu menunjukkan waktu 30 menit lewat 1 detik sejak pertarungan Xiao Ang dan Tang Ya melawan kucing bayangan itu dimulai. Rara bertepuk tangan begitu tebakan Feng benar.
"Sekarang mari Kita lihat pertandingan terakhir sekaligus pertarungan yang paling seru menurutku," ucap Feng, Mereka berdua kemudian mengalihkan tatapan Mereka ke layar hologram terakhir dimana menampilkan pertarungan antara Wei Yin dan Ratu Lobster.
Feng benar, pertarungan Wei Yin melawan Ratu Lobster benar benar adalah yang paling menarik. Lihatlah, Wei Yin bahkan bisa bertahan paling lama melawan Ratu Lobster dan Loster mata tiga.
Tak salah Wei Yin digelari si Gila racun, dengan kekuatannya saat ini harusnya Ia hanya dapat mengalahkan orang dengan tingkatan sama atau sedikit diatasnya dan itu hanya berlaku untuk satu dua orang. Namun dengan bantuan racunnya, Wei Yin telah berhasil membunuh selusin lebih lobster mata tiga.
"Hah... Hah... Hah..." nafas Wei Yin tak beraturan, kekuatannya dengan cepat terkuras. Ia menatap lobstet disekitarnya yang bukannya semakin berkurang karna Ia bunuh malah bertambah banyak.
"Harus membunuh Ratunya dulu," gumamnya kemudian mengeluarkan sebuah bola seukuran telapak tangan dari cincin penyimpanannya. Wei Yin melemparkan bola itu ketanah yang kemudian seketika meledak dan menimbulkan asap tebal.
Sebenarnya itu bukan asap biasa, asap itu adalah asap pelumpuh yang bahkan bisa melumpuhkan Pendekar pada tingkat Bumi lapis 7 kebawah selama beberapa detik. Hal itu juga berlaku pada lobster lobster tersebut meski dengan jeda yang lebih singkat, namun Wei Yin sama sekali tak menyia nyiakan kesempatan itu. Ia melesat dengan cepat maju kemudian mengeluarkan jarum jarumnya dan melemparnya ke arah Ratu Lobster tetsebut.
Ting... Ting... Ting... Jarum jarum Wei Yin sama sekali tak dapat menembus kerasnya cangkang Ratu Lobster tersebut. Justru malah membuatnya marah karena diserang. Mata Ratu lobster itu seketika bersinar kemudian Ia menggunakan skill uniknya untuk menembakkan banyak cahaya dari matanya ke arah Wei Yin. Wei Yin dengan cepat berusaha menghindar namun terlalu telat hingga hampir setiap serangan itu meski tak mengenaiknya namun berhasil menggores dirinya.
Booom! Akhirnya Wei Yin terkena serangan Ratu Lobster itu dan terpukul jauh menghantam beberapa pohon. Kabut asap yang dibuat Wei Yin juga berangsur angsur hilang dan lobster lobster mata tiva kembali dapat bergerak. Mereka bergerak, mendekati Wei Yin.
"Apakah sudah selesai?" gumam Rara, Feng tertawa kecil mendengar itu. Membuat Rara kebingungan dan menoleh menatap Feng. Feng menggeleng.
"Ini belum selesai, pertunjukkan sebenarnya baru akan dimulai," jawab Feng atas kebingungan Rara. Feng kemudian menunjuk ke layar hologram.
Boooom! Itu bukanlah sebuah suara serangan melainkan suara seseorang naik tingkat. Siluet seorang laki laki dengan aura berwarna hijau keluar dari dalam tubuh Wei Yin. Itu adalah roh beladirinya, Dewa Racun.
Pertarungan barusan benar benar sangat membantu Wei Yin untuk naik tingkat, kini Ia sudah berada di tingkat langit lapis satu setelah pertarungan hidup mati barusan.
Wei Yin kembali bangkit dengan energi sudah terisi ulang begitu Ia naik tingkat. Ia menatap Ratu Lobster dan Lobster mata tiga dengan tatapan yakin bahwa Ia dapat mengalahkannya begitu Ia naik tingkat.
"Jurus ribuan racun!" ucapnya mengeluarkan jurus, kemudian ribuah sulur keluar dari dalam tubuhnya dan menyebar, menyerang seluruh lobster mata tiga disekitarnya. Lebih dari puluhan lobster mata tiga mati karena serangan Wei Yin barusan.
"Apakah Ia akan menang?" tanya Rara menatap Feng yang berada di sebelahnya. Feng menggeleng.
"Eh, Aku akhirnya dapat bertemu salah seorang kenalan lamaku," sela Dewa kematian tiba tiba muncul, begitu juga dengan Dewi kehidupan.
"Oh, racun kecil itu ternyata menjadi roh beladiri juga," sahut Dewi kehidupan ikut memperhatikan layar hologram.
"Tentu saja, Ia yang memintanya kepadaku saat Ia ingin reinkarnasi dan sebagai imbalannya Ia memberiku salah satu cara menjadi kebal dari seluruh racun di dunia ini. Itu sebabnya Kau kebal racun," jelas Dewa Kematian menunjuk Feng.
Feng dan Rara mengangguk paham.
...- - -...