The System

The System
Sang Dewi



Feng menatap dingin dan datar Kakek kakek yang berjalan ke arahnya tersebut, Ia tak bisa merasakan aura apapun dari Kakek ini namun diukur dari hormatnya laki laki dan perempuan serta seluruh Manusia elang, kekuatannya sepertinya tak bisa di remehkan.


"Aku punya penawaran untukmu," ucap Kakek itu, Feng diam masih menatap Kakek tersebut.


"Yah, kalau Kau bisa melakukannya Kau akan Kami lepas kembali namun jika tidak maka hanya namamu yang akan kembali," lanjut Kakek itu, Feng masih diam, namun secarik senyuman tersungging dari ujung bibirnya.


"Kau mengancamku?" tanya Feng balik, Kakek di depannya nampak sedikit terkejut melihat keberanian dan mental Feng yang kuat tersebut, jika itu Orang lain mungkin sudah mengangguk setuju tanpa pikir panjang.


Feng bukan Orang yang suka melakukan suatu hal karna ancaman, melainkan keinginannya sendiri. Meski Kakek di depannya mencoba menyamarkan wajah terkejutnya, mata Feng yang tajam lebih dulu menangkap ekspresi itu. Ekspresi keterkejutan akan sesuatu yang tak pernah di hadapi.


"Apa tantangannya?" gumam Feng mengabaikan diamnya Kakek di depannya, Kakek di depannya tersenyum.


"Kau harus memasuki dan menyelesaikan Pagoda Kuno," jawab Kakek itu, kali ini seluruh Manusia elang yang mendengar itu terkejut.


"Kakek!" ucap Perempuan tadi berjalan menghadap ke Kakek tersebut.


"Pagoda Kuno bukan tempat sembarangan yang bisa di masuki, apalagi oleh Manusia lemah sepertinya," ucap Perempuan itu, Kakek itu tertawa kecil.


"Kalau Dia lemah, berarti Kau apa?" tanya Kakek itu, mendadak muka Perempuan itu memerah malu, benar kalau Feng lemah lalu dia apa? Kuat? Padahal Ia dengan mudah kalah di tangan Feng.


"Tapi tetap aja kek, Aku bahkan hanya dapat sampai di lantai 2, Abang di lantai 3 dan Kakek? lantai 7, lalu akibatnya karna masih di paksakan justru kelumpuhan kekuatan," jelas Perempuan itu lagi.


"Sudahlah dik, Kau jangan mengahalangi Kakek lagi, biarkan Kakek yang mengurusnya. Kau kenapa menghalanginya, atau jangan jangan?" ucap Laki laki itu menatap Perempuan itu curiga, Perempuan itu langsung menutup mukanya yang memerah memanas malu dan melesat pergi.


Feng hanya diam menatap semua kejadian itu, namun otaknya berpikir "Semoga Perempuan itu tidak jatuh cinta padaku," gumamnya.


Bagaimanapun juga, Perempuan itu pasti akan sakit hati begitu jatuh cinta pada Feng. Karna bagaimanapun dan seberapa lama pun, Ia akan berakhir kecewa karna Feng tak pernah membuka hatinya kepada perempuan lain. Hatinya sepenuhnya milik Istrinya besok dan itu adalah Rara.


"Jelaskan padaku," ucap Feng dingin, Kakek di depannya tersenyum misterius.


"Pagoda Kuno, adalah Pagoda yang terdiri dari 10 lantai. Masing masing lantai ada sebuah tantangan dan rintangan yang mesti Kau hadapi dan kesulitannya akan naik setiap lantainya," jelas Kakek itu, Feng mengangguk.


"Baiklah, atas kemauanku sendiri, Aku akan pergi," jawab Feng, Kakek itu nampak terkejut lagi kali ini, bagaimana mungkin Pemuda ini bisa setenang itu menjawabnya.


"Rintangan di Pagoda itu susah, Aku bahkan hanya mencapai lantai 5 dan satu lagi, jika Kau tak segera cepat menyelesaikan rintangan atau menyerah terhadap rintangan, Kau bisa saja di buat mati di dalam Pagoda," lanjut Kakek itu, Feng mengangguk dengan tenang dan itu sukses membuat Kakek itu kembali terkejut.


"Tapi Aku meminta satu syarat," ucap Feng.


"Apa itu?"


"Ah maksudmu energi lemah itu? Baiklah, akan Ku kembalikan nanti beberapa saat jika Kau akan memasuki Pagoda," jawab Kakek itu, Feng mengangguk kemudian melangkah ingin pergi.


"Kau benar benar tak akan takut pada kematian?" tanya Kakek itu, Feng tersenyum tipis mendengar itu.


"Aku bahkan pernah berhadapan dengan kematian itu," jawab Feng kemudian berlalu pergi.


...- - -...


Rara melintas cepat di udara, matanya awas menatap kebawah hingga Ia menemukan suatu tempat yang firasatnya mengatakan bahwa tempat itu adalah tempat yabg sebenarnya Ia tuju, maka Ia kemudian turun dari terbangnya dan berjalan menuju tempat itu.


Sarang hewan buas, itu adalah tempat dimana disitu merupakan tempat habitatnya para Hewan buas di Alam Iblis. Hewan buas hewan buas itu juga terbagi menjadi beberapa teritory kekuasaan wilayah tergantung kepada kekuatan Hewan buas itu sendiri, namun konon katanya tepat di tengah tengah, alias teritory tertinggi di sarang Hewan buas terdapat seekor Phoenix.


Phoenix? Ya, burung legenda yang keberadaannya di samakan dengan Naga. Menurut kabar, Phoenix yang tinggal di sarang Hewan huas itu bukanlah merupakan Phoenix dengan garis darah yang murni, namun walau begitu kekuatannya masih belum dapat diukur karna hanya 2 Orang sepanjang sejarah Alam Iblis yang pernah berhadapan dengan Makhluk tersebut, Orang itu adalah Kaisar Iblis dan Raja Iblis.


"Hari ini adalah hari Dimana banyak Hewan buas yang akan memasuki masa hibernasi sehingga akan mudah nanti bertemu dengan Phoenix dan mengalahkannya bersama, itu sebabnya banyak orang yang datang ke sini," jelas salah seorang Iblis dengan sebelah sayap di punggungnya.


Rara yang mendengar itu mengangguk paham kemudian berlalu pergi sambil memberikan sekantung uang pasa Iblis itu. Kini sekua Orang di depan sarang Hewan buas itu nampak sedsng memandsng Rara erat, mulai dari Rara turun tadi, Ia tampak bagai seorang dewi dan itu sukses membuat seluruh Iblis yang berada di situ menganga kaget dan tak mau melepaskan pandangannya dari Rara.


Rara sadar akan semua itu, jika ada Feng disini maka situasinya akan lebih baik sehingga Rara dapat melambaikan tangannya bak seorang artis. Namun kini Ia benar benar merubah kepribadiannya sejak tidak ada Feng di sampingnya.


"Hai nona!" sebuah suara terdengar daris seorang Iblis laki laki muda yang berjalan ke arahnya, di punggung Iblis itu tergantung sebuah pedang besar dan di belakangnya berdiri 3 Iblis lainnya.


Rara menatap Iblis itu sejenak kemudian dengan cuek berlalu berjalan pergi, hal itu tentu saja membuat Iblis tadi seakan tertampar dan malu. Ia menggertakkan giginya kesal dan mengepalkan telapak tangannya.


"Tangkap dia!" ucap Iblis itu pada salah seorang Iblis dengan badan besar di belakangnya itu, Iblis berbadan besar itu mengangguk kemudian melesat meraih tangan Rara.


Namun di saat seperti itu, hanya dalam sepersekian detik, Rara menghindar dan balas membanting Iblis besar itu dengan keras ke tanah. Semu iblis yang berads di tempat itu nampak terkejut, ternyata perempuan yang baru saja turun bak seorang Dewi dengan anggunnya itu juga merupakan Orang yabg sangat kuat.


Kejadian itu hanya terjadi beberapa saat sebelum mendadak seluruh Orang berbisik sambil menatap Iblis muda tadi yang tengah diam dengan wajah memerah kesal.


"Gawat, sang Dewi telah menyinggung Tuan muda Keluarga Gu!"


...- - -...


Ada yang masih ingat tingkat kultivasi Feng dan Rara???