
Dewi Kehidupan mondar mandir cemas sambil bergumam bingung, apa yang harus Ia lakukan kini? Ia tak mungkin membiarkan Rara mati begitu saja di dalam sana.
Dewi Kehidupan kembali mendekati kotak dan melihat ke arah Rara, seketika matanya melebar terkejut saat melihat pemandangan di dalam sana.
Bagaimana tidak, kini disekitar Rara dipenuhi Hewan hewan buas dari berbagai tingkatan dan jenis, bukan hanya itu, banyaknya Hewan buas itu bahkan mengambil separuh dunia di dalam kotak tersebut. Namun meski begitu, Dewi Kehidupan tampak sedikit lega saat melihat cahaya harapan bahwa Rara masih bisa selamat, namun darimana Rara tau cara melawan seperti ini?
Disisi lain Rara terus berusaha mengeluarkan Hewan buas sebanyak banyaknya, namun tampaknya waktunya telah habis. Sepuluh Orang pada tingkat Walis itu bergerak maju menyerang Rara, Rara dengan cepat mengerahkan seluruh Hewan Buasnya untuk melindunginya dan balas menyerang kesepeluh Orang tingkat Walis tersebut.
Ledakkan terjadi dimana mana, seluruh Hewan Buas Rara fokus menyerang kesepuluh Orang tingkat Walis tersebut, namun meski begitu tampaknya fokus kesepuluh Orang itu tetaplah pada Rara.
Meski banyak Hewan buas pada tingkat Walis, namun tetap saja Ia bukan halangan bagi Orang orang itu, dan Mereka menyapu seluruh pasukan Hewan Buas Rara seperti mengayunkan tangan. Rara menggigit bibirnya, kini Pasukan Hewan Buasnya tinggal seperempatnya, sedangkan Orang orang itu masih bersisa 7 Orang lagi.
"Apa yang harus Rara lakuin?"
Dewi Kehidupan yang melihat itu ikut cemas, Ia menggenggam telapak tangannya yang mulai berkeringat dan menatap pertarungan itu dengan teliti. Ia sendiri juga bingung bagaimana cara Rara untuk bertahan dari 7 Orang lagi.
Rara terdiam, Ia mengingat ngingat perkataan Feng tadi, apakah ada yang salah dari pemahamannya? atau ada yang kurang? Semut melawan gajah? Semut berkelompok? Berkelompok? Berkerja sama?
Benar itu dia! Rara membuka matanya lebar saat menyadari sesuatu, Ia kemusian dengan cepat mengatur Pasukan Hewan Buasnya, Hewan Buas tingkat Perunggu Ia tempati di depat sebagai pemancing serangan Orang orang itu, kemudian di belakangnya Ia beri Hewan Buas tingkat Walis untuk balas menyerang saat terjadi jeda serangan dari Orang orang itu. Begitu juga Hewan buas yang lainnya.
Ya, Kerja sama adalah hal penting dalam mengalahkan musuhnya saat ini, dalam Semut mengalahkan Gajah. Jika Pasukannya kacau maka itu hanya akan terbuang percuma bukan?
Dewi Kehidupan yang melihat gaya serangan Rara dan Rara yang dengan cepat selalu merubah gaya serangannya tersenyum sambil menghela nafas lega. Ia tak menyangka Rara akhirnya menemukan jalan keluarnya bahkan dengan cepat mengambil alih kendali pertempuran. Dewi Kehidupan juga baru ingat bahwa Rara adalah Pewaris Kekuasaan Hewan buas di seluruh alam sehingga Ia tau seluruh hewan buas dan dengan mudah mengatur dan menyusun rencana untuk melawan balik.
Benar saja, dengan cepat 4 Orang tingkat Walis itu menyusul ikut tumbang sedangkan pasukan Hewan buas Rara baru seperempat yang mati. Rara kemudian merubah rencananya, Ia menyuruh seluruh Hewan buas beracun untuk menebarkan racunnya membuat Orang orang itu sedikit tertahan pergerakannya, di saat itu Rara menyuruh Hewan buas lainnya untuk menyerang cepat Orang orang itu, 3 Orang menyusul tumbang.
"Terakhir," gumam Rara kemudian menyuruh seluruh pasukannya mengeluarkan kekuatan terakhirnya dan sepenuhnya serta mengarahkannya ke satu titik.
"Sekarang!" teriak Rara, seketika seluruh serangan itu melesat menuju satu Orang tingkat Walis tersebut dan tanpa bisa Orang itu tahan walau sedetik, Ia langsung hancur menjadi abu.
Rara menghela nafas duduk dengan tubuh bercucuran keringat. Ia kemudian mengembalikan seluruh Hewan buasnya untuk beristirahat sedangkan Ia sendiri juga langsung pingsan setelah itu karna kelelahan.
...----------------...
Di tempat Feng...
Titik kekuatan besar itu ternyata berasal dari seorang Pria yang tampak terbang beberapa meter dari tanah tersebut, di sekitar Ia juga terdapat beberapa Orang yang juga memiliki kekuatan besar, meski tak sebesar kekuatan Pria yang tengah terbang tersebut.
"Dewa Kehancuran! Kau telah melanggar hukum yang ada! Sebagai salah seorang Dewa Kuno harusnya Kau tak membuat kekacauan di Dunia Dewa!" ucap salah seoarang kepada Pria yang terbang itu, Pria itu tertawa mendengar itu.
"Kau! Apakah Kau tak takut Dewa Kuno yang lainnya datang dan membunuhmu!" ucap yang lainnya menunjuk ke arah Dewa Kehancuran. Tawa Dewa Kehancuran terhenti, Ia mengangkat bahunya tak peduli.
"Bisa jadi, namun sebelum itu..." Dewa Kehancuran lalu menatap satu persatu Dewa Dewa di sekitarnya kemudian tersenyum kejam. Tiba tiba aura yang berlipat ganda keluar dari tubuhnya yang menyebabkan Dewa dewa itu tak bisa bergerak saking tertekannya, bahkan Feng sendiri jatuh berlutut dengan darah mengalir dari ujung mulutnya.
"Biarkan Aku membersihkan sampah seperti Kalian," ucap Dewa Kehancuran lalu mengangkat tangannya, seketika di tangannya muncul bola energi berwarna hitam yang mengeluarkan kekuatan luar biasa, seluruh Dewa dewa di situ tak ada yang dapat menghindar walau seinci karna tubub Mereka yang tak dapat di gerakan. Feng hanya dapat melihat itu dengan mata terbuka lebar.
Wushhh... Sebuah bayangan cepat melewati Feng. Sepersekian detik sebelum Dewa Kehancuran itu melancarkan serangannya, sebuah bayangan muncul dan menyerangnya hingga membuat alih Dewa Kehancuran teralihkan dan Ia langsung bergerak mengjindar.
Booom!
Serangan dari Bayangan itu membuat sungai panjang di tanah hingga membelah Gunung yang ada di hadapannya. Semua Orang terkejut, termasuk Feng, Dewa Kehancuran dan Dewa dewa yang lainnya. Hingga beberapa saat kemudian Bayangan itu menunjukkan bentuk aslinya.
Dewa Kematian!
Feng terkejut begitu juga Dewa Kehancuran dan Dewa dewa yang lainnya.
"Ba-bagaimana bisa Dewa Kematian ada disini?" ucap salah seorang Dewa dengan tampak sangat terkejut, begitu juga Dewa dewa yang lainnya yang saking terkejutnya hingga tak bisa mengucapkan sepetah kata pun.
"Kau! Bagaimana bisa?!" Dewa Kehancuran juga terkejut, bukan karna Ia tau Dewa di depannya adalah Dewa Kematian, melainkan Ia terkejut dengan serangan yang di lancarkan Dewa Kematian tadi. Serangan itu bahkan sama kuatnya dengan serangan Dewa Kuno, sedangkan Dewa Kematian di depannya sama sekali bukanlah Dewa Kuno.
"Siapa Aku bukan urusanmu, namun Kau yang sudah menyebabkan kehancuran di Alam ini dan membuat banyak Makhluk kehilangan nyawanya, karna semua itu Kau harus di hukum!" ucap Dewa Kematian sengit. Kemudian dengan gerakan cepat, Dewa Kematian maju menyerang Dewa Kehancuran.
Boom!
Booom!
Booom!
Akhirnya kedua Dewa itu mengadu kekuatannya, menyebabkan efek yang besar bagi sekitarnya, bahkan salah satu serangan Dewa Kematian kembali meleset dan meratakan gunung yang berada di depannya.
...----------------...
Assalamualaikum...
Halo Apa Kabar?