The System

The System
Menyamarkan Roh Beladiri



"Kemudian ya... Kami saling jatuh cinta dan akhirnya Menikah, bertahun tahun itu meski sering dihina Orang. Namun bagi Ayah, sejak bertemu Ibumu adalah masa masa indah. Apalagi setelah Engkau lahir, itu benar benar kebahagiaan besar tanpa batas. Melihatmu mulai berjalan, bicara merupakan anugrah terbesar Kami hingga saat Kami mencoba membangkitkan roh beldirimu."


"Tak hanya Kami, bahkan seluruh kota terkejut akan roh beladirimu. Roh beladiri ganda, Phoenix api dan es. Kau tau? Hanya 1 dari jutaan Orang di Dunia ini yang bisa memiliki roh beladiri ganda, apalagi itu Phoenix, salah satu roh tingkat tinggi."


"Namun, bukannya Orang ikut senang dan mulai menghargai Kami berkat itu namun malah sebaliknya, Mereka semakin gencar menghina Kita, lebih dan lebih dari sebelumnya. Mereka mengatakan, "Phoenix cacat ketemu Phoenix biasa jadilah Phoenix Jenius."


Si Gila menarik nafas sejenak setelah menceritakan itu. Feng dan Rara pun yang mendengarnya ikut paham bagaimana susahnya kehidupan Laki laki tua di depannya ini.


"Sampai akhirnya kejadian itu terjadi..."


"Kejadian yang membuatku kehilangan Orang yang paling ku cintai dan Kau kehilangan Ibumu. Hari itu jika kau masih mengingatnya, Kita tak ada di rumah saat seorang laki laki datang menemui Ibumu. Laki laki itu adalah Orang yang sudah lama menyukai Ibumu bahkan hingga Ibumu menikah denganku dan memilikimu, obsesinya terhadap Ibumu tak pernah pudar. Hari itu Ia rupanya kembali datang dan kembali menyatakan cintanya pada Ibumu bahkan menyuruh Ibumu menceraikanku," si Gila menggertakkan giginya penuh kemarahan begitu mengingat hal tersebut.


"Apakah itu penyebab Ibu meninggal?" tanya Resepsionis itu, si Gila menghela nafas panjang sejenak kemudian menggeleng.


"Siapa yang lebih kuat dari Ibumu di Kota itu? Ia adalah yang terkuat dan laki laki itu jelas berada dibawahnya. Mereka berdua memang sempat bertarung sejenak dan Ibumu berhasil mengalahkannya dalam beberapa gerakan, namun ternyata bukan itu rencananya."


"Ia rupanya telah meminta beberapa Orang dari Akademi Dewa untuk membantunya dan Orang orang yang Ia mintai bantuan rupanya adalah elit di Akademi Dewa sehingga membuat Ibumu kewalahan melawannya. Meski kewalahan, Ibumu terus bertarung hingga membuat Orang orang itu terpaksa mengeluarkan jurus andalannya. Merasa tak bisa menghindari atau menahannya, Ibumu akhirnya balas menyerang dengan kekuatan terkuatnya."


"Ibumu membakar seluruh esensi kehidupannya dan memfokusnya untuk menyerang Orang orang dari Akademi Dewa itu dan akhirnya.... Mereka semua mati, baik Ibumu atau orang orang terkutuk itu!"


"Ingatkah? Aku meninggalkanmu di dalam hutan saat itu saat Kau tengah latihan. Firasatku sudah tak enak dan hanya Ibumu yang ada dalam ingatanku hingga Aku langsung pulang meninggalkanmu dan itulah yang Aku temui, mayat Ibumu sudah tak bersisa, hanya sebuah kertas yang tertulis menggunakan sisa Qi yang Ibumu punya yang menceritakan semua itu."


Suasana hening sejenak, Ayah dan Anak itu kembali berpelukan dengan emosi campur aduk antara sedih dan marah. Feng dan Rara paham perasaan keduanya mengingat baik Feng dan Rara pernah merasakan rasa kehilangan orang tua yang sama.


"Sepertinya Kita sudah akan sampai," ucap Feng saat menyadari dibawah telah nampak sebuah kota besar dengan tembok mengelilinginya. Ia kemudian menatap Ayah Anak yang telah melepaskan pelukannya dan ikut menatap kebawah.


"Nak, Aku tak pernah menyalahkanmu bergabung dengan Akademi Dewa, tapi hanya satu pesanku, ingatlah jati dirimu selalu!" pesan si Gila, Resepsionis menatap Ayahnya itu berkaca kaca kemudian mengangguk yakin.


"Baiklah, lebih baik Kau kembali kedalam cincinku, tenang saja, dendammu akan Ku balaskan," ucap Feng, si Gila mengangguk menangkupkan tangannya berterima kasih kemudian Feng memasukkannya ke dalam cincinnya. Burung yang mereka kendarai segera menukik kebawah menuju gerbang Akademi Dewa.


"Akademi Dewa adalah Kota ini?" ucap Rara terkejut saat menyadari sesuatu, Resepsionis itu mengangguk. Mereka turun dari burung dan telah menemukan banyak Orang yang juga tengah menunggu di depan Akademi Dewa.


"Sepertinya tahun ini banyak yang ingin mendaftar ke Akademi Dewa," ucap Resepsionis itu menatap Orang orang itu, Feng dan Rara ikut menatap sekitarnya dan menemukan bahwa Orang orang itu memang merupakan jenius jenius henbat dibandingkan Alam Manusia ataupun Iblis. Mereka rata rata di tingkat Emas keatas bahkan Feng dapat merasakan ada yang berada pada Bumi lapis 10 satu langkah lagi menjadi tingkat langit.


"Bisakah senior membantuku, Orang yang mendaftar tahun ini rupanya lebih banyak berkali kali lipat dari tahun sebelumnya apalagi Mereka tampak tak sabaran," ucap Murid Akademi Dewa itu dengan muka memohon, Resepsionis itu terdiam kemudian menoleh menatap Feng dan Rara. Feng melambaikan tagannya.


"Pergilah, Kami bisa melewati ini," ucap Feng singkat, Resepsionis itu mengangguk kemudian pergi bersama Murid Akademi Dewa tadi sedangkan Feng dan Rara terus menunggu sampai pendaftaran dibuka.


"Semua Murid baru silahkan berbaris menjadi satu barisan, Kami akan mulai ujian pertama yaitu mengecek roh beladiri Kalian, jika Roh beladiri kalian dibawah tingkat Emas maka Kalian tereliminasi!" ucap salah satu Panitia pendaftaran tersebut, Orang orang disana segera berbaris untuk mengecek roh beladirinya, begitupun Feng dan Rara namun tiba tiba Rara teringat sesuatu dan segera menarik baju belakang Feng membuat Feng menoleh.


"Feng gege, bukankah kalau Mereka tau Roh beladiri Kita akan terjadi keributan besar," bisik Rara, Feng tersentak baru teringat. Rara benar, tak hanya keributan besar bahkan mungkin Mereka akan langsung jadi buronan Alam Dewa.


"Kalau begitu Kita harus merubah roh beladiri Kita sekaligus menurunkan tingkatannya," balas Feng, Rara mengangguk.


"System bisakah Kau meyamarkan Roh beladiri Kami dan tingkatannya?"


[Ding! Bisa Tuan, silahkan sebuatkan perubahannya dan tingkatannya]


"Emmm... Apa ya?" Feng nampak kebingungan.


"Harimau kegelapan dan cahaya saja!" usul Rara, Feng mengangguk setuju.


"Ubah roh beladiriku ke Harimau kegelapan dan Rara menjadi Harimau cahaya dan turunkan tingkatannya hingga tingkat Bumi," ucap Feng.


[Ding! Sedang menyamarkan roh beladiri...]


[Ding! Menyamarkan roh beladiri selesai, silahkan Tuan dan Nyonya mengeceknya]


Feng dan Rara kemudian segera memejamkan matanya beberapa saat sebelum kemudian membukanya kembali dan tersenyum mengangguk puas. Antrian dengan cepat berkurang dan tak sedikit yang tereliminasi oleh ujian pertama itu hingga pada giliran Feng dan Rara.


"Silahkan letakkan tangan Kalian diatas batu itu," ucap Panitia itu, Rara dan Feng mengangguk kemudian meletakkan tangam Mereka diatas batu tersebut. Segera roh beladiri samaran Mereka keluar.


"Harimau Kegelapan dan Cahaya tingkat Bumi! Lolos!" ucap Panitia menyebutkan roh beladiri Mereka, Feng dan Rara saling memandang tersenyum kemudian beranjak pergi.


...- - -...