
Keesokkan Harinya...
"Kalian semua pergilah kembali keluar dan cari kelompok Kekaisaran Matahari itu," ucap Feng mengejutkan Di Shi, Wang Yi dan yang lainnya.
"K-kau mengusir Kami, Saudara Feng?" tanya Wang Yi, Feng menggeleng lalu mengeluarkan jarum jiwa dari jubahnya.
"Jarum ini akan, membantu Kalian untuk melawan kelompok itu," ucap Feng, kompak seluruh Orang menoleh pada jarum di tangan Feng.
"Kalian cukup melemparnya saja dan jarum ini dengan sedikit kesadaranku akanku gerakkan untuk melukai Orang orang itu, lalu tugas akhir Kalian adalah membawa Orang orang itu kepadaku terlebih dahulu," ucap Feng membuat seluruh Orang terdiam memikirkan sesuatu.
Feng yang sudah paham apa yang Mereka pikirkan hanya tersenyum tipis.
"Jarum ini memang termasuk Senjata tingkat Tinggi," ucap Feng berbohong.
Faktanya tentu saja jarum Jiwa tersebut ada pada Tingkat Roh sehingga Di Mo bisa tinggal didalamnya.
Feng juga sudah sedari awal membisikkan pada Di Mo untuk bersikap layaknya jarum biasa namun saat Mereka telah melemparnya, Di Mo harus melukai kelompok Kekaisaran Matahari itu namun jangan sampai parah, cukup buat lumpuh saja.
Di Mo yang paham, langung menurut dan bersikap selayaknya jarum biasa yang tak memiliki kesadaran.
"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Di Shi menatap Feng.
"Aku dan Rara akan membersihkan beberapa Hewan Buas untuk jalan keluar nanti," ucap Feng, seluruh Orang mengangguk kemudian berjalan keluar Menara meninggalkan Feng dan Rara.
"Ra, Ayo!" ucap Feng, Rara mengangguk kemudian tangan kecilnya menggandeng tangan Feng lalu Mereka berdua naik ke lantai 2.
Feng dan Rara kemudian mulai membantai seluruh Hewan Buas di lantai 2, tak banyak namun kuat hingga membuat Feng dan Rara terluka serta kelelahan.
Hari sudah Sore saat Feng dan Rara benar benar telah membersihkan seluruh Hewan Buas, tatapan Mereka kini teralih pada sebuah dinding dimana Mereka selesai membantai Hewan Buas terakhir.
Di dinding itu tampak sebuah pintu besar yang tertutup sedangkan di sebelah pintu tampak lorong tangga untuk naik ke lantai 3.
Feng dan Rara saling berpandangan lalu mengangguk dan berjalan menuju lorong tangga untuk naik ke lantai 3.
Mereka berdua menyeritkan dahinya saat sebuah pintu tepat terpampang di lantai 3 tersebut, jika hanya pintu mungkin memang biasa saja, namun didepan pintu ini dipenuhi tengkorak Manusia.
Feng memejamkan matanya lalu mengedarkan Qi nya untuk melihat lingkungan sekitar, namun Qi tersebut tiba tiba terpental tak dapat masuk lewat pintu tersebut.
"Ada sesuatu di pintu ini, Ra ayo Kita pergi lihat," ucap Feng, Rara mengangguk setuju lalu Mereka berdua berjalan mendekati pintu tersebut dan kemudian mendorongnya.
Kreeek...
...- - -...
"Hahaha... Tak ku sangka akan kembali bertemu dengan Semut semut ini," tawa Pangeran kedua Kekaisaran Matahari tersebut.
Disebelahnya, Da Bai sudah menjilat bibirnya menatap Di Shi dan Murid Perempuan Sekte Malam Gelap.
"Hehe... Bagaimana kalau Kalian menyerahkan diri Kalian maka Kami akan membebaskan Kalian," ucap Da Bai penuh nafsu.
"Cih, Jangan harap! jika bukan karna Senjata tingkat Tinggi itu maka Kalian juga tak akan bisa mengalahkan Kami!" teriak marah Wang Yi.
Ya, Pertarungan sebelumnya antara kelompok Kekaisaran Matahari dan kelompok Kekaisaran Bulan dimenangkan oleh Kekaisaran Matahari karna Mereka menggunakan Senjata tingkat Tinggi.
"Hmph! Lalu kenapa kalau Kami menggunakan Senjata tingkat Tinggi," dengus Pangeran Mahkota kesal.
"Haha... Kau pikir jika Kita kembali bertemu, Kami akan kembali kalah dari B_jingan seperti Kalian!" tawa Di Shi.
"Berisik Kau J_lang!" teriak Ning Mei lalu mengeluarkan Roh bela dirinya.
Semua Orang disitu juga ikut mengeluarkan Roh bela dirinya.
Pangeran Mahkota juga mengeluarkan sebuah Pedang dengan Aura panas dan kuat yang berasal dari Pedang tersebut.
"Kalian tak akan bisa melawan Pedang Matahari merah ini," sini Pangeran Mahkota.
"Tebasan Matahari merah!"
"Siala_," umpat Wang Yi.
"Wang Yi, keluarkan jarum yang diberikan Feng untuk melawan Pedang itu," teriak Di Shi, Wang Yi mengangguk kemudian mengeluarkan jarum bewarna emas itu lalu langsung melemparnya ke arah Pangeran Mahkota.
"Hahaha... Hanya jarum kecil itu tak akan bisa melawan Pedang Matahari merahku ini," tawa Pangeran Mahkota arogan.
Pangeran Mahkota kemudian kembali mengarahkan tebasannya menuuju kelompok Di Shi tanpa menghiraukan jarum yang sedang melesat ke arahnya tersebut.
Wusssh...
Kreek...
Mata seluruh Orang melebar karna terkejut saat Jarum kecil itu dengan mudahnya menembus Pedang tersebut dan membuatnya retak.
"Kau... Bagaimana bisa?!" ucap Pangeran Mahkota frustasi.
Tentu saja Ia frustasi, Pedang tersebut adalah Pedang yang diberikan leluhur yang menjaga Kekaisaran Matahari sekaligus itu adalah Pedang warisan dari setiap Kaisar Kekaisaran Matahari.
Di Shi, Wang Yi dan yang lainnya juga terdiam melihat hal tersebut, kini Mereka mulai meragukan apakah yang diberikan Feng itu memang merupakan Senjata tingkat Tinggi atau...
Tingkat Roh!
Jleb!
Jleb!
Jleb!
Jarum itu tak berhenti malah langsung terbang menuju masing masing Orang didekat Pangeran Mahkota seperti Da Bai dan yang lainnya.
Jarum yang sudah Feng beri racun pelumpuh tersebut mulai menembus paha, atau tangan Orang orang itu.
"Aargh... Sakit!" teriak Orang orang itu apalagi saat Racun yang Feng beri memang langsung tersebar dan melumpuhkan titik lumpu Manusia.
Pangeran Mahkota sendiri langsung coba kabur, namun Jarum tersebut dengan cepat langsung menyerangnya membuat Pangeran Mahkota tersebut langsung terjatuh lumpuh.
"Senjata apa itu?!" geram Pangeran Mahkota coba mengedarkan Qi dalam tubuhnya namun hasilnya sia sia, Racun pelumpuh itu langsung menyerap Qi nya.
Seluruh Orang terdiam menatap Jarum yang tengah melayang layang itu dengan tatapan ngeri, takut dan waspada.
Tiba tiba cahaya keluar dari Jarum itu dan kemudian Jarum tersebut secara tiba tiba berubah menjadi seorang Pria tua.
"Hey apa yang Kalian liat, Aku tau, Aku memang ganteng tapi jangan segitu juga ngelihatnya," ucap narsis Pria Tua tersebut membuat seluruh Orang membuka mulutnya tercengang.
...- - -...
Di tempat lain, Feng menyerit saat Ia tak bisa masuk ke dalam ruangan tersebut saat melewati pintu namun berbeda dengan Rara yang dengan mudahnya masuk.
Seperti ada sesuatu yang tak kasat mata yang menghalangi Feng untuk masuk.
"Kau tak akan bisa masuk, kalau Kau masih menyimpan Pasukanmu itu," sebuah suara membuat Feng berbalik dan melihat Nenek Ki yang tengah tersenyum padanya.
Feng terdiam, kemudian Ia mengeluarkan Kotak Alam dan yang lainnya seperti Boneka Kelelawar.
Feng lalu kembali berbalik dan berjalan masuk menuju pintu tersebut dan akhirnya Ia bisa masuk dengan mudah.
"Makasih petunjuk-" omongan Feng terputus saat Ia berbalik dan tak lagi menemukan Nenek Ki dibelakangnya.
"Benar benar Misterisus," gumam Feng kemudian mengajak Rara untuk masuk.
Rara mengangguk menggandeng tangan Feng kemudian berjalan masuk.
...- - -...