The System

The System
Ajaran Dewa Kematian



Klik...


Hanya dalam beberapa detik akhirnya pintu penjara besi tersebut terbuka, dengan perlahan Feng menyelinap keluar penjara besi tersebut dan melesat kabur.


Namun satu hal yang Feng lupakan, bahwa Ia tak tau dirinya berada dimana, sudah lebih dari 5 menit Ia berkeliling namun tak kunjung Ia menemukan titik terang. Perkampungan Hewan Kuno ini benar benar seperti tak berujung. Tiba tiba telinga Feng menangkap sebuah suara, Ia dengan cepat langsung menggunakan element kegelapannya untuk masuk ke bayangannya sendiri.


Benar saja, 2 Manusia elang tampak melintas persis di bawah bayangan tempat Feng bersembunyi salah satu dari Mereka tampak berhenti sejenak seperti menyadari sesuatu membuat temannya ikut berhenti dan tampak seperti bertanya. Feng menahan nafasnya, dan benar benar menyembunyikan seluruh aura di dalam tubuhnya.


Akhirnya setelah beberapa saat 2 Manusia elang itu kembali bergerak berjalan pergi, Feng menghela nafas keluar dari bayangannya. Ia memang bisa saja mengalahkan 2 Manusia elang itu dengan cepat jika saja dirinya tak kehilangan Qi dan hal itu pasti menarik perhatian.


Tiba tiba insting Feng berdentang, Ia segera memutar tubuhnya dengan cepat dan benar saja, hanya dalam sepersekian detik sebuah serangan melesat cepat ke arahnya berdiri tadi.


Serangan itu bukan serangan yang kuat, namun cukup mematikan menurutnya apalagi dengan kekuatannya yang sekarang. Ia menoleh melihat ke arah sersngan itu.


"Sial!" gumam Feng kesal karna Ia ketahuan oleh salah seorang Manusi elang, Feng berniat pergi namun mendadak manusia elang itu telah menghilang dan melancarkan setangan ke arah Feng. Feng yang tak sempat mengjindar terpaksa menahan serangan itu.


Boom... Feng termundur beberapa langkah kebelakang hingga tersandar ke dinding sebuah rumah, Ia menatap Manusia elang di depannya tajam.


"Dia lebih kuat dari Manusia manusia elang yang ku lawan sebelumnya," gumam Feng, jika Kekuatannya ada mungkin tak butuh waktu lama bagi Feng untuk kabur atau bahkan menghabisi Manusia elang didepannya, namun kini selain tanda Neraka tak ada yang bisa Ia begitu andalkan.


Hanya dalam hitungan detik setelah serangan itu mendadak berdatangan banyak Manusia elang.


"Insting Mereka kuat sekali, tadi berhasil mensmukanku, sekarang bahkan semuanya berdatangan padahal Aku sudah seusaha mungkin meminimalisir suara serangannya," gumam Feng kesal kemudian menatap sekitarnya, apa yang harus Ia lakukan kini?


Namun semua Manusia elang disitu nampak tak berniat menyerang Feng malah seperti ingin menonton Feng melawan Manusia elang yang menyerangnya tadi. Benar saja, Manusia elang tadi kembali melesat cepat meluncurkan serangan ke arah Feng, Feng kali ini lebih siap sehingga bisa menghindar sepersekian detik dari serangan itu.


"Aku harus menggunakan teknik, tidak bisa menggunakan energi," gumam Feng kemudian mendadak diam mutup matanya dan menarik nafasnya panjang kemudian menghembuskannya. Ia menyebarkan instingnya dan mengembalikan ketenangan dirinya.


Manusia elang didepannya terdiam sejenak, tampak penasaran akan apa yang dilakukan manusia di depannya itu, namun apapun itu Ia merasa itu bukan sesuatu yang baik untuknya sehingga Ia dengan cepat maju melesat melayangkan tinju penyh energi ke arah dada Manusia itu.


Mendadak manusia yang masih menutup mata itu menangkap pergelangan tangan tinjunya beberapa centi sebelum pukulan itu sampai ke dadanya. Lalu dengan gerakan cepat Ia memutar pergelangan tangan itu dan mendadak satu kakinya dengan cepat mengait kaki Manusia elang itu dan menariknya hingga jatuh telentang.


Semua Manusia elang disitu menatap kejadian barusan dengan mata melotot tak percaya, gerakan apa barusan? Mereka benar benar tak merasakan energi di dalamnya. Manusia elang tadi bangkit dengan cepat dan melompat mundur dengan wajah juga tak percaya, begitu juga Feng yang membuka matanya. Barusan adalah salah satu teknik yang sama sekali belum Ia pelajari, namun sering Ia tonton dalam beberapa film dulu saat di Bumi dan Ia tak menyangka Ia langsung bisa menggunakannya secara sempurna di percobaan pertama.


Dengan tubuh Feng yang belum sempurna sembuh dan Qi yang tak ada membuat Feng langsung berlutut tak kuasa menahan serangan aura tersebut. Manusia elang itu menyeringai kemudian berjalan lambat mendekati Feng layaknya seorang sombong yang merasa telah mengalahkan musuhnya dengan mudah.


Feng, demi melihat kesombongan dan gaya Manusia elang tersebut di buat kesal sehingga tanpa menggunakan energi, Feng mengeluarkan aura kematiannya membuat Manusia elang yang bediri di depan Feng itu menadadak terlonjak kaget dan mundur kebelakang sambil menatap Feng waspada, begitu juga Manusia manusia elang yang berada di sekitarnya merasakan ancaman begitu merasakan aura kematian yang berasal dari Feng.


Serentak seluruh Manusia manusia elang itu menyiapkan senjata atau jurus sambil menatap Feng tajam.


"Berhenti!" mendadak sebuah suara yang melengking terdengar, dan kemudian dari kerumunan muncul seorang Perempuan yang nampak seumuran dengannya berjalan kemudian berdiri di depan Feng, siapa Perempuan ini?


Mendadak tubub Manusia elang didepannya bercahaya dan tampaklah olehnya seorang laki laki yang juga tampak seumuran dengannya itu.


"Tapi Dia sudah melukaimu dik! Sekali itu lihatlah dan rasakan aura dari tubuhnya, benar benar berbahaya dan mengancam," ucap laki laki itu, Perempuan di depannya mendadak menggeleng keras.


"Itu bukan salahnya, Aku yang menyerangnya terlebih dahulu. Lagipula Ia tak berniat membunuhku saat itu," jawab Perempuan itu melirik ke arah Feng, Feng sadar dengan lirikan itu namun Ia terlanjur bingung akan percakapan 2 orang didepannya.


Namun mendadak Feng menyadari sesuatu dari percakapan sebelumnya, perempuan di depannya adalah Manusia elang yang Ia kalahkan pertama kali saat itu?


"Menyingkirlah dik!" ucap laki laki itu mengeluarkan aura yang lebih dari sebelumnya, Perempuan didepannya menggeleng tegas kemudian mengeluarkan aura yang sama untuk menahan aura abangnya itu.


"Simpan aura Kalian berdua!" sebuah suara di ikuti munculnya sesosok kakek kakek dengan tonkat di tamganya, Laki laki dan perempuan didepannya yang semula bertengkar langsung menyembunyikan auranya dan menunduk hormat ke Kakek itu, begitu pula seluruh Manusia elang disitu yang langsung betekuk lutut hormat ke arah Kakek kakek itu.


"Kakekkk tapi Dia?!" ucap laki laki tadi sambil menunduk tak terima, Kakek itu terenyum tipis kemudian berjalan menuju laki laki itu dan menepuk pundaknya.


"Aku tau perasaanmu nak, tapi ada suatu hal yang penting di banding itu," ucap Kakek itu membuat laki laki dan perempuan itu menatap Kakek itu bingung kemudian mengalihkan tatapannya menatap Feng.


"Suatu hal penting?"


...- - -...


"