The System

The System
Lobster Mata Tiga



Feng tersenyum, perkataan dan sifat Rara saat ini benar benar mencerminkan sifat dewasanya. Feng tak melawan lagi dan memeluk Rara erat, Rara ikut tersenyun menepuk punggung Feng pelan.


"Malam ni ya," bisik Feng, muka Rara langsung memerah malu begitu mendengar bisikan Feng tersebut dan berubah mencubit pinggangnya. Feng menggaduh kesakitan kemudian tertawa kemudian lari dikejar Rara.


Keesokkan harinya...


Kini seluruh Murid baru Akademi Dewa telah berkumpul di sebuah kaki gunung besar di Akademi Dewa. Termasuk Rara dan Feng yang datang terlambat, bahkan Rara masih nampak mengantuk karna gempuran Feng tadi malam membuatnya tak bisa tidur.


"Gunung didepan Kalian ini dinamakan Gunung Dunia, Ia memiliki sejarah yang panjang bahkan adanya gunung ini juga menjadi sebab adanya Dunia ini. Jika Kalian penasaran akan sejarahnya Kalian nanti dapat membacanya di perpustakaan Akademi Dewa, meski itu tak lengkap karna masih banyak yang menjadi misteri dibalik gunung ini," jelas salah seorang Panitia ujian tersebut. Feng yang mendengar penjelasannya soal Gunung Dunia itu nampak tertarik akan misteri dan sejarah dibaliknya, gunung ini adalah sebab adanya Dunia ini? Menarik.


"Kini ialah Kalian akan dikirim dengan portal teleportasi dengan tempat secara acak di pegunungan ini, tugas Kalian adalah memburu sebanyak apapun hewan buas dan mengumpulkan intinya, semakin banyak dan tinggi inti hewan buas yang Kalian dapat maka semakin banyak dan tinggilah poin yang Kalian dapat, tapi ingat satu peraturan penting yaitu... Saat Kalian masuk nanti tidak ada peraturan didalam."


"Kalian bebas jika ingin saling membunuh dan merebut inti satu sama lain, namun tenang saja, masing masing Kalian akan dibekali satu batu teleportasi yang dapat langsung menteleportasikan Kalian keluar Gunung ini jika Kalian merasa bahaya."


Begitu panitia itu selesai menjelaskan semuanya, seluruh Murid baru langsung saling berpandangan tajam ke orang orang disekitarnya. Bahkan Putri ketujuh dan Pangeran pangeran Kekaisaran Dewa juga dibuat waspada. Bisa jadi saja Mereka dibunuh didalam tanpa diketahui siapa siapa sehingga Mereka harus lebih waspada nanti saat masuk kedalam.


Panitia itu kemudian memberikan sebuah batu kecil kepada setiap Murid baru Akademi Dewa tersebut dan kembali mengingatkan peraturannya. Feng yang mendapat batu itu langsung menatapnya tertarik karna Ia dapat merasakan formasi teleportasi didalam batu ini, formasi yang berbeda ketimbang Ia memakai banyak batu untuk membuat portal teleportasi.


"Aku akan mempelajarinya nanti," gumamnya kemudian bersiap sebelum akhirnya Mereka diteleportasikan masuk kedalam Gunung Dunia. Sebelum diteleportasikan Feng juga mengingatkan Rara agar berhati hati dan tak mencari masalah ataupun hal hal yang menarik perhatian orang. Rara mengangguk paham sambil menguap ngantuk.


Mereka akhirnya mulai diteleportasikan kedalam Gunung Dunia, Feng membuka matanya saat Ia melihat sebuah sungai didepannya. Ia menghirup nafas dalam dalam dan merasakan bahwa Qi disini berkali kali lipat lebih kuat ketimbang Qi yang berada diluar. Ia kemudian mengambil posisi duduk dipinggir sungai untuk bermeditasi sekaligus mempelajari batu kecil teleportasi ditangannya.


Tanpa Feng sadari, seekor hewan buas sudah mengintainya dari dalam sungai itu sedari tadi namun Ia sama sekali tak bergerak dan terus mengintai Feng. Hingga matahari sampai pada puncaknya, Hewan itu baru bergerak mendekati Feng.


Ctakkk...


Sebuah capit raksasa keluar dari dalam sungai dan tepat mencapit ke arah Feng. Feng yang sudah sadar sebelumnya langsung melompat menghindar dan menatap hewan buas yang menyerangnya tadi, hewan buas besar itu keluar dari dalam sungai. Badannya yang sebesar mobil dibumi dan kedua capitnya yang sebesar batang pohon, hewan itu lebih mirip ke udang atau lobster di bumi. Perbedaannya Ia memiliki tiga mata dan badan yang sangat besar.


[Lobster Mata Tiga : Hewan buas tingkat Perak setara Pendekar tingkat Bumi lapis akhir. Memiliki badan yang besar dan capit yang kuat, juga memiliki kemampuan unik yaitu tembakan sinar]


Trang... Benar saja, tembakan yang mengandung 20% Qi Feng saja, atau bahkan bisa membunuh kuPendekar tingkat Bumi saja sama sekali tak mempan padanya melihat kulitnya yang sangat keras. Lobster mata tiga itu nampak mengamuk setelah diserang Feng barusan dan maju mengarahkan capitnya untuk mencapit Feng.


Ctak... Ctak... Berkali kali lobster mata tiga itu berusaha mencapit Feng, namun Feng dengan mudah menghindar. Capitannya bahkan nampaknya bisa membunuh pendekar pada tingkat bumi dan melukai pendekar pada tingkat langit. Benar benar hewan yang mengerikan.


Merasa bahwa Ia dari tadi sama sekali tak bisa mencapit manusia didepannya ini, akhirnya Lobster mata tiga itu berhenti dan mengubah gaya menyerangnya.


Perlahan ketiga matanya bersinar terang, kemudian sebuah energi panjang layaknya laser berwarna putih ditembakkan dari tiga matanya tersebut. Feng menghindar, meski tiga laser itu terus mengejarnya. Ia melirik kebelakang dan terkejut melihat efek dari tembakan sinar lobster mata tiga tersebut. Pohon pohon terpotong hancur begitu juga batu dan tanah, bahkan Feng merasa ini dapat membunuh Pendekar tingkat langit jika terkena serangan itu terus terusan. Terlebih sudah hampir satu menit lobster itu menyerang dengan tembakan sinarnya namun sama sekali tak ada tanda tanda Ia akan berhenti menggunakannya.


"Baiklah, mari Kita selesaikan," gumam Feng tersenyum kemudian menghilang. Lobster mata tiga itu nampak kebingungan sejenak melihat mangsanya itu tiba tiba menghilang, kemudian dalam sekejap mata Feng muncul tepat diatas kepala lobster mata tiga itu dan mengarahkan tinjunya ke kepala lobster tersebut.


Boom... Crack... Tinju itu hanya mengandalkan fisik tanpa Feng campur Qi di dalamnya. Namun itu sudah dari cukup untuk membunuh Pendekar tingkat Bumi jika Ia lengah. Lobster mata tiga itu melesak masuk kedalam tanah dengan kepala retak dan pecah, dan dalam hitungan detik Ia sudah kehilangan nyawanya.


Feng menepuk tangannya kemudian menatap bangkai besar lobster mata tiga didepannya ini. Hewan buas ini lumayan apalagi jika dijadikan peliharaan.


"Kau bisa menggunakan jurus mayat hidup untuk menghidupkannya," suara Dewa Kematian membuat Feng tersentak.


"Jurus Mayat Hidup?" beo Feng, Dewa kematian mengangguk kemudian mentransfer sebuah jurus kedalam otak Feng.


[Jurus Mayat Hidup : Dapat menghidupkan makhluk hidup dengan tingkatan dibawah atau sama dengan pengguna jurus. Mayat yang dibangkitkan akan memiliki kekuatan yang sama bahkan lebih kuat dibanding saat Ia hidup namun setiap mayat yang dibangkitkan akan kehilangan rohnya dan perasaannya]


"Jurus yang keren," ucap Feng melihat penjelasan jurus tersebut, Dewa Kematian mengangguk tersenyum bangga.


"Sebagai Dewa kematian sebenarnya Aku bisa saja menghidupkan makhluk hidup kembali, namun itu akan banyak memicu karma dan masalah sehingga hanya bisa menggunakan jurus ini untuk menghidupkannya meski Ia tak memiliki roh dan perasaan."


...- - -...