
Apa yang dilakukan Ji Yao tentu saja mengundang berbagai macam kecaman maupun umpatan Orang orang.
Namun walau begitu hanya Kaisar Di, Matriak Sekte Malam Gelap dan Patriak Sekte Kembang Warna yang menyerukan ketidaksukaannya.
"Kepala Keluarga Ji, apakah Kau tak mendidik Anakmu dengan benar, benar benar tak tau malu!" marah Matriak Sekte Malam Gelap bernama Zhi Mai.
"Hei Matriak Zhi! Apa maksudmu itu?! Hal ini mungkin terjadi secara tak sengaja, lagipula Muridmu itu saja yang terlalu lemah hinggat tak bisa melawan Muridku!" bukan Kepala Keluarga Ji yang menjawab melainkan Patriak Sekte Naga Langi bernama Ping Lang.
"Patriak Ping, menurutku yang dikatakan Matriak Zhi benar, ini adalah Turnamen yang disaksikan banyak Orang, tak pantas kiranya untuk mempermalukan Orang seperti itu walau lawannya lemah atau belum menyerah," ucap Kaisar Di membuat seluruh Orang terdiam.
Kepala Keluarga Ji hanya diam sambil mengepalkan tangannya mendengus mendengar hal tersebut.
Feng yang mendengar hal tersebut dari jauh hanya menggelengkan kepalanya.
"Benar bebar bodoh!" gumamnya.
...- - -...
Keesokkan Harinya...
Pertandingan kembali dilanjutkan dengan 5 Orang yang kemarin menang.
"Baiklah, karna ada 5 Orang maka 1 Orang yang beruntung akan langsung masuk ke final!" ucap Old Xi.
Akhirnya 5 Orang yang terdiri dari Feng, Rara, Ji Yao, seorang Murid Sekte Naga Langit dan seorang Murid Sekte Kembang Warna maju mengambil nomor.
Kali ini Rara beruntung karna mendapat no 3 yang artinya Ia langsung ke babak final.
Feng mendapat giliran pertama melawan...
Ji Yao!
Feng tersenyum tipis begitu melihat lawannya adalah Ji Yao, Ji Yao pun juga tersenyum meledek pada Feng.
"Heh, Kau hanya pada Tingkat Perak dan masih berpikir untuk mengalahkanku!" ejek Ji Yao saat kini Ia dan Feng telah berdiri berhadap hadapan di atas Arena.
Feng hanya diam tak menanggapi perkataan Ji Yao dan hal tersebut membuat Ji Yao semakin geram dibuatnya.
"Mulai!"
Saat Old Xi mengumumkan pertandingan di mulai, Ji Yao langsung berdiri dengan remeh menatap Feng.
"Ku beri Kau kesempatan untuk 3 serangan padaku!" ucap Ji Yao sombong.
Orang orang yang melihat kesombongan Ji Yao hanya mengumpat dalam hati.
"Baiklah jika Tuan Muda Ji berkata seperti itu," jawab Feng.
Feng kemudian mengangkat tangannya dan membuat sebuah Api kecil di tangannya dan melemparnya ke Ji Yao.
"Heh, hanya Api kecil saja," remeh Ji Yao kemudian mengibaskan tangannya kebawah sehingga Api tersebut meluncur ke arah bawah.
Feng hanya tersenyum setelahnya pada Ji Yao, membuat Ji Yao mengira Feng sudah gila hanya karna itu.
"Hahaha... Kau sudah takut hingga membuatmu gila!" tawa Ji Yao kencang, namun beberapa saat kemudian Ia menyadari bahwa seluruh Arena tampak sunyi.
Ia menyeritkan dahinya saat melihat seluruh Orang menatap ke arahnya dengan mulut menganga.
Hal tersebut membuat Ji Yao ikut melihat yang dilihat Orang orang tersebut dan terkejut melihatnya.
Kini bagian bawahnya telanjang!
Para Perempuan langsung terpekik menutup matanya begitu melihat adik kecil Ji Yao.
"Hahaha..," tawa menggelegar di Arena saat melihat hal tersebut.
Feng memang sengaja membuat Api namun Ia mengatur Apinya agar berusuhu dingin namun tetap membakar sehingga sepercik Api yang dikeluarkan Feng tadi terkena celana Ji Yao dan langsung membakar habis celana Ji Yao tampa Ji Yao sadari.
Kepala Keluarga Ji dan Patriak Sekte Naga Langit langsung berteriak dengan marah begitu melihat Anak dan Murid Mereka di permalukan sepeti itu.
"Kau! Dasar tak tau malu!" teriak marah Kepala Keluarga Ji.
"Oh ayolah, Aku hanya membakar luarnya bukan dalamnya," jawab Feng santai.
"Baji_gan! Mati Kau sekarang!" umpatnya marah kemudian melesat menuju Feng sambil melayangkan tinjunya.
Feng menggeser sedikit tubuhnya menghindari tinju tersebut kemudian mengangkat tangannya dan memukulkannya ke tangan Ji Yao yang terjulur.
Krak...
"Arggh!"
Ji Yao berteriak kesakitan sambil memegang tangannya yang patah, namun belum selesai rasa sakitnya Feng tiba tiba muncul dan melayangkan tamparan padanya.
Plak!
Ji Yao terpental dengan beberapa gigi yang telah patah.
Orang orang yang melihat hal tersebut menahan nafasnya.
"Hentikan! Kau sudah menyiksanya B_ajingan!" teriak marah Patriak Ping.
"Heh, Patriak bukankah peraturannya hingga lawan menyerah atau tak sadarkan diri, dan lihatlah Ia masih belum mau menyerah dan tampaknya Ia masih sehat sehat saja," ucap Feng menunjuk Ji Yao yang berusaha bangkit.
"BAJ_NGAN!" teriak marah Ji Yao kemudian mengeluarkan Roh Bela Dirinya.
Siluet Mamoth Suci keluar dari dalam tubuh Ji Yao namun kali ini Auranya berbeda.
Tingkat Surka!
Semua Orang terkejut saat mengetahui Roh Bela Diri Mamoth Suci milik Ji Yao telah meningkat ke Tingkat Surka.
Kini Mereka memandang Feng dengan tatapan kasihan.
"Hahaha... Mati Kau Ba_ingan kecil!" tawa Kepala Keluarga Ji menggelegar.
"Bersiaplah untuk mati!" ucap Ji Yao remeh kemudian mengangkat kedua tangannya.
"Tabrakan Penghancur!"
Ji Yao memukulkan tangannya ke Arena hingga membuat retakan menjalar menuju arah Feng.
Feng hanya tersenyum sinis kemudian menghentakkan kakinya.
Tuk...
Boom!
Retakan menjalar tersebut menandak terhenti kemudian kembali menutup, hal tersebut tentu saja mengejutkan banyak Orang termasuk Kaisar Di, para Patriak dan Kepala Kekuarga Bangsawan lainnya.
Hal tersebut disebabkan, jurus yang dikeluarkan Ji Yao merupakan jurus Tingkat Menengah yang dapat membunuh Pendekar Tingkat Emas lapis 3.
"Masih perlu berjuta juta Abad untuk menandingiku Tuan Muda Ji," ucap Feng membuat Ji Yao marah.
"Kau!"
Ji Yao yang hendak melesat ke arah Feng terkejut saat melihat bahwa Ia tak dapat bergerak karna Tanah yang telah mengikat tubuhnya.
Berusaha melepaskan diri namun Ji Yao belum juga bisa, Feng perlahan maju kehadapan Ji Yao.
Plak...
Plak...
Plak...
Plak...
Feng menampar Ji Yao berulang kali hingga tampak gigi Ji Yao yang telah hampir copot semua.
"Enak bukan."
...- - -...