
Kekaisaran Matahari
Orang orang yang akan ikut ke Daratan Hitam dari Kekaisaran Matahari juga telah berkumpul.
Pangeran Mahkota, Pangeran Kedua, Putri Mentri Han, Da Bai, Ning Mei, Ru Lang, serta 4 Orang jenius lainnya di Sekte Matahari yang akan pergi ke Daratan Hitam.
Mereka pergi menggunakan salah satu Hewan Buas Tingkat Menengan yaitu Serigala bersayap, sepanjang jalan Mereka juga menyempatkan untuk slalu menghancurkan Sekte Sekte Hitam yang Mereka temui.
...- - -...
3 Hari berlalu...
Feng dan seluruh Peserta yang ikut ke Daratan Hitam akhirnya memutuskan turun setelah terbang 3 hari 3 malam.
Mereka turun ke sebuah Kota yang tampak ramai bernama Kota Bulan Emas, Kota ini merupakan salah satu Kota teramai di Kekaisaran Bulan.
Terletak di tengah tengah Benua membuat Kota ini sering kali di singgahi oleh Orang orang antar Benua, banyak Pedagang dan Orang orang berbagai Benua yang bisa ditemukan disini.
"Baiklah, Kita akan beristirahat dulu sehari lalu kembali melanjutkan perjalanan, berkumpullah disini besok tepat saat matahari terbit," ucap Old Xi mengingatkan, seluruh Peserta mengangguk paham kemudian berpencar termasuk Feng, Rara dan Wang Yi.
"Saudara Feng, matahari baru naik, Kita akan kemana?" tanya Wang Yi berjalan dibelakang Feng yang tengah menggendong Rara.
"Entahlah, mungkin Aku ingin melihat lihat Kota sekaligus mencoba jajanannya, ya kan Ra?" ucap Feng, Rara mengangguk setuju dan semangat.
Wang Yi juga setuju dan akhirnya Mereka mulai membeli dan mencoba jajanan jajanan di Kota Bulan Emas.
Kini Mereka bahkan tengah mengantri di antrian untuk membeli roti yang kabarnya merupakan roti terlembut dan terenak di Kekaisaran Bulan.
"Minggir! Minggir!" usir salah seorang Prajurit dari belakang Feng, Rara dan Wang Yi.
"Hey Bocah, minggir! Tuan Muda akan lewat!" bentak Prajurit tersebut berteriak pada Feng.
Feng hanya cuek begitu juga Wang Yi dan Rara.
"Ba_ingan!" marah Prajurit tersebut lalu mengangkat Pedangnya hendak menebas Feng.
Ting!
Ctak!
Mata seluruh Orang disana membukat dengan ekspresi terkejut saat Pedang yang ditebaskan Prajurit tadi patah saat bersentuhan dengan kulit Feng.
Feng tersenyum sini, tubuhnya bahkan bisa dibandingkan dengan Pendekar Tingkat Langit, sedangkan Pedang tadi hanya Pedang tingkat rendah setara Tingkat Perunggu.
Ingin menebasnya? Bodoh.
Feng mengibaskan tangannya pada Prajurit tersebut membuatnya terlempar menabrak sebuah Kereta kuda mewah yang tak jauh dari Mereka.
"Hmph!" dengus Feng kemudian kembali mengantri.
"Sial_n! siapa yang berani menyakiti Prajuritku?!" teriak marah dari dalam Kereta kuda tersebut kemudian disusul dengan keluarnya seorang Pemuda gendut dengan kulit hitam.
Seluruh Orang disana tak ada yang tak jijik begitu melihat Laki laki gendut tersebut termasuk Feng, Rara dan Wang Yi.
Namun seluruh Orang memilih diam karna Mereka tau siapa laki laki tersebut.
Ia adalah Luo Peng, Anak dari Tuan Kota Luo.
Sebagai Tuan muda di Kekuarga Luo, Luo Peng tentu saja sering kali di manjakan oleh Ayahnya bahkan Ia benar benar malas belajar Ilmu bela diri membuatnya sering hanya memanfaatkan Prajurit dan Pelayannya.
Keluarga Luo merupakan Keluarga Pemilik Kota Bulan Emas, hal ini bukan disebabkan Keluarga Luo kuat, namun karna Organisasi yang membantu Kekuarga Luo.
Kaisar Di yang merupakan Kekaisaran Bulan juga belum mengirim Orang untuk memberantas Organisasi ini karna dikatakan bahwa Organisasi ini memiliki Orang pada Tingkat Langit sedikit lagi menuju Tingkat Surka.
Kembali kepada Feng yang menatap datar Pemuda tersebut, Tuan Muda Luo dikarenakan jarang berlatih membuat kekuatannya hanya terus terusan pada Tingkat Perunggu lapis 5.
Feng menoleh pada Wang Yi lalu membuka mulutnya berucap.
"Saudara Wang, tunjukkan pada Tuan Muda tersebut apa yang disebut Surga Dunia," ucap Feng tersenyum seram.
Melihat senyuman seram Feng membuat siapa saja merinding termasuk Wang Yi, Wang Yi yang paham akan kemauan Feng langsung maju menuju Tuan Muda Luo.
Perkembangan Wang Yi memang dibilang diluar akal selama 3 Hari ini, dengan banyaknya Sumber Daya yang diberi Feng, akhirnya Ia meningkat secara cepat ke Tingkat Perunggu lapis 9 sedikit lagi lapis 10.
"Kau! Prajurit serang Dia!" teriak marah Tuan Muda Luo menunjuk Wang Yi yang berjalan maju.
Para Prajurit mengangguk patuh kemudian hendak maju namun tiba tiba tubuh Mereka mati rasa.
Feng melempar jarumnya dengan sedikit tambahan racun pelumpuh untuk melumpuhkan para Prajurit tersebut.
"Prajurit!" teriak marah dan takut Tuan Muda Luo saat Wang Yi berjalan semakin mendekat.
Bruk...
Bruk...
Bruk...
Seluruh Orang yang ada disana terkejut saat Prajurit Prajurit milik Tuan Muda Luo tersebut berjatuhan ke Tanah.
"Hehehe... Prajurit belaka tak bisa melindungimu," tawa kecil Wang Yi yang kini sudah berdiri tepat didepan Tuan Muda Luo.
"Kau!" Tuan Muda Luo langsung melayangkan tinjunya dan di tangkap dengan mudah oleh Wang Yi.
"Heh, Tinjumu ini bahkan tak akan melukai seekor Ayam," sinis Wang Yi lalu mengeratkan genggamannya.
Krekk..
"Arrrgh!" teriak kesakitan Tuan Muda Luo saat tulang jarinya di remukkan oleh Wang Yi.
"Kau tau, Aku juga dulu sama sepertimu, dan Kau juga harus mengalami sesuatu yang dapat memahami bahwa bersinarnya Bintang masih ada Bintang yang lebih bersinar dari itu," ucap Wang Yi kemudian melayangkan tinjunya pada perut Tuan Muda Luo hingga membuat Tuan Muda Luo tersebut terpental hingga menabrak Kereta kudanya sendiri.
Boom!
Seluruh Orang yang melihat itu menahan nafasnya, antara senang dan kasihan.
Mereka senang karna akhirnya ada juga Orang yang berani untuk melawan bahkan menyiksa Tuan Muda yang dikenal menjijikkan tersebut, namun di sisi lain Mereka juga kasihan pada Wang Yi yang harus berurusan dengan Tuan Kota Bulan Emas karena ini.
Bukan karna apa, namun pernah suatu ketika ada Orang yang juga tampak sebagai Pahlawan dan memukul Tuan Muda Luo hingga berakhir dengan marahnya Tuan Kota Luo.
Tuan Kota Luo langsung menyuruh Organisasi Racun Emas untuk menculik Orang tersebut dan menyiksanya.
Orang tersebut alhasil di jadikan subjek eksperimen bagi Organisasi Racun Emas.
Saat ditemukan, mayat Orang tersebut sudah tak berbentuk alias rusak, dengan mata bolong, wajah hancur, perut berlubang dan banyak luka kejam lainnya.
"Saudara Wang, Kami sudah membeli rotinya, mari cari tempat untuk makan," ucap Feng berjalan dengan santai dari belakang Wang Yi sambil memegang tas kertas berisi berbagai macam roti.
Rara mengangguk dengan mulut penuh roti, Wang Yi mengangguk kemudian Mereka bertiga berjalan menjauh dengan santai seakan tak ada sesuatu yang terjadi.
...- - -...