
Feng dan Rara melanjutkan perjalanannya setelah membantu Gadis kecil tadi. Mereka terus berjalan dan memperhatikan sekitarnya, telinga Mereka menajam berusaha mendengar informasi sekecil apapun yang bisa Mereka dapatkan.
"Hei hei, ayo ke Arena Pertarungan sekarang!"
"Ada apa memangnya?"
"Kabarnya ada pertarungan seru!"
"Siapa yang bertarung?"
"Murid Akademi Dewa melawan si Gila itu!"
"Benarkah?! Kalau begitu, ayo Kita cepat pergi untuk melihatnya!"
Feng dan Rara saling berpandangan begitu mendengar hal tersebut. Arena Pertarungan? Kedengarannya menarik, apalagi Orang orang itu membahas pertarungan Murid Akademi Dewa dan siapa si Gila itu?
"Feng Gege, ayo Kita ikut lihat!" ajak Rara, Feng mengangguk setuju. Mereka berdua dengan cepat melesat mengikuti Orang orang tadi, menuju Arena Pertarungan.
Mata Feng dan Rara membesar melihat Arena Pertarungan yang di maksud Orang orang tadi. Arena ini memiliki wilayah cukup luas dengan sebuah bangunan melingkar di tengahnya.
"Ini lebih nampak seperti perpaduan antara Stadion sepak bola dan Coloseum," gumam Feng teringat akan bangunan bangunan di Bumi begitu melihat bangunan di depannya. Di depan bangunan itu juga ramai Orang orang berkumpul berjualan berbagai macam jajanan dan lainnya.
Mata Rara langsung teralihkan begitu melihat jajanan jajanan tersebut, Feng yang sudah mengetahui hal itu langsung menepuk jidad Rara lembut.
"Aduuuh..." sebenarnya Rara mengaduh seperti itu bukan karna sakit, melainkan terkejut. Ia menoleh menatap Feng.
"Fokus, jangan jajan terus," ucap Feng kemudian berjalan memasuki Arena Pertarungan tersebut, Rara memanyunkan bibirnya mengikuti langkah Feng memasuki Arena Pertarungan.
"Waahhh..." Rara terpana melihat betapa luasnya di dalam Arena Pertarungan ini, di tengah tengah terdapat lapangan yang menjadi tempat bertarung dan di sekeliling lapangan itu terdapat bangku bangku yang tersusun layaknya bangku studion bola. Antara lapangan dan bangku penonton juga telah di lapisi oleh pelindung yang dapat melindungi penonton dari serangan Orang yang bertarung di Arena.
Kini sudah hampir setengah kursi penonton Arena Pertarungan penuh, Feng dan Rara segera berjalan mencari kursi di barisan paling depan. Feng dan Rara memperhatikan penonton lain yang nampaknya sangat antusias melihat pertarungan ini, bahkan tempat tempat judi dimana Mereka bertaruh akan yang menang pun sudah banyak di gelar dan setelah memperhatikan, tampaknya Orang orang lebih banyak bertaruh ke Murid Akademi Dewa daripada Si Gila yang di sebutkan tadi. Namun Feng masih penasaran akan Si Gila ini.
"Permisi," sapa Feng ke Orang di sebelah bangkunya, Orang itu menoleh menatap Feng bertanya.
"Ya?"
"Boleh Aku bertanya?"
"Tentu saja!"
"Siapa itu Si Gila?"
Orang yang ditanya tersebut terdiam sejenak, kemudian menatap Feng. "Apakah Kau berasal dari luar kota?"
Feng mengangguk menjawab pertanyaan itu.
"Aku tak tau bagaimana ceritanya, namun yang pasti Ia dulu sama seperti Orang orang biasa di Kota ini, hingga suatu hari Ia mengajak Istri dan Anaknya berburu di luar hutan dan yang Aku tau. Kembalinya Ia dari Hutan, Ia hanya kembali bersama Anaknya. Maka disitulah kegilaannya di mulai."
"Orang orang tentu sudah bertanya akan kemana Istrinya, namun hanya satu kalimat yang Ia ucapkan "Terkutuk Kau Akademi Dewa!" Ia hanya mengucapkan itu setiap hari dan tingkah lakunya pun semakin aneh sehingga Orang orang menganggapnya gila."
"Lalu bagaimana dengan Anaknya?" tanya Feng, muka Orang itu berubah iba nampak kasihan.
"Anaknya berumur 7 tahun saat Ia menjadi gila tersebut dan sejak saat itu, Ayahnya yang seharusnya mengurusnya justru malah Ia yang harus mengurusnya. Apalagi Ia harus menghadapi cemeehan cemeehan yang menghampirinya dan Ayahnya. Aku tak pernah melihat Anak perempuan setegar Ia yang menghadapi semua itu dan tak pernah lelah mengurus Ayahnya, hingga bertahun tahun lalu..."
"Ia akhirnya pergi."
"Pergi? pergi kemana?" tanya Feng yang sudah tertarik dengan cerita hidup si Gila ini.
"Tak ada yang tau, Ia pergi tanpa berpamitan kepada siapapun dan pergi meninggalkan Ayahnya yang gila," Orang itu menghela nafas begitu menceritakan hal tersebut.
"Lalu dari sejak saat itu hingga kini, si Gila selalu bertarung dengan Orang orang Akafemi Dewa yang datang ke Kota ini. Tak peduli apakah Ia hanya Murid biasa atau Guru terhormat di Akademi Dewa. si Gila selalu menantang dan bertarung dengan Mereka meski hasil akhirnya pasti sudah di tentukan, Ia kalah."
Feng menyeritkan dahinya mendengar penuturan Orang tersebut, kalau memang si Gila selalu kalah mengapa Orang berbondong bondong datang ke sini dan menyaksikan pertarungan si Gila dan Murid Akademi Dewa?
"Namun kali ini berbeda," seperti paham akan pikiran Feng, Orang itu kembali berucap. Feng menatap Orang itu bingung, berbeda? apa yang berbeda?
"Seluruh lawan si Gila dari Akademi Dewa dulu berhasil mengalahkannya dan melepaskan si Gila karna kasihan akan kegilaannya. Namun kini kabarnya, Murid Akademi Dewa yang ini tak akan melepaskannya semudah itu dan akan menghabisinya, mungkin itu yang di tunggu Orang orang sebanyak ini," jelas Orang tersebut, Feng terdiam. Tiba tiba otaknya memikirkan suatu pemikiran.
"Boleh Aku bertanya untuk yang terakhir kali?" tanya Feng, Orang itu menganggu* mempersilahkan.
"Siapa dan kapan lawan lawan si Gila, 3 Orang terakhir sebelum sekarang?"
"Em... sebentar biar Ku ingat, kalau tidak salah, 2 Orang sebelum ini adalah Murid Akademi Dewa juga, Cowok dan sebelumnya lagi adalah Guru Akademi Dewa, Cewek. Untuk waktunya, terakhir kali 2 tahun yang lalu, 4 tahun yang lalu dan 6 tahun yang lalu," jawab Orang itu, Feng mengangguk, tebakannya sepertinya benar.
"Baiklah para Penonton sekalian!"
Suara aba aba yang diberikan komentator Arena Perang membuat seluruh Penonton di Arena Perang itu terdiam dan menunggu dengan jantung berdebar penuh semangat.
"Hari ini, Kita akan menyaksikan pertarungan paling epic sepanjang sejarah. Dimana Kita akan menyaksikan pertarungan dua Orang yang sama sama terkenal. Seorang Murid Akademi Dewa melawan..... si Gila!"
Orang langsung bersorak sorak begitu nama si Gila di teriakkan. Feng memperhatikan hal tersebut, Mereka nampak bersorak seperti mendukung si Gila padahal sebenarnya Mereka justru bersorak untuk kekalahan dan penghabisan si Gila nantinya. Orang orang ini... memang tak memiliki hati.
"Baiklah, pertama Kita panggilkan. Murid Akademi Dewa!"
Orang orang kembali bersorak semangat untuk Murid Akademi Dewa ini. Seseorang dengan seragam Akademi Dewa memasuki Arena Pertarungan. Feng mengangkat sebelah alisnya begitu melihat Murid Akademi Dewa yang baru saja memasuki Arena Pertarungan tersebut.
Ia adalah Pemuda Pemimpin rombongan Murid Akademi Dewa yang Ia temukan dj Restoran kemarin.
...- - -...