The System

The System
Pembatas Alam



"A-apa maksudmu?"


Feng tersenyum menatap Resepsionis tersebut.


"Aku tak salah bicara, Orang yang berjubah hitam itu Kau bukan? dan si Gila sekarang ada bersamamu," lanjut Feng. Resepsionis itu melebarkan matanya, aura pembunuhnya kali ini bukan bocor namun sengaja Ia keluarkan dan Ia arahkan pada Feng.


"Kau berusaha mengancamku dengan aura pembunuhmu?" tanya Feng mengangkat sebelah alisnya, Ia sama sekali tak nampak tertekan oleh aura pembunuh yang dikeluarkan Resepsionis itu.


"Kau mau merasakan aura pembunuh sebenarnya?" Feng kemudian melepaskan sedikit aura kematiannya, aura kematian yang merupakan gabungan dari seluruh Aura pembunuh itu bahkan berkali kali lipat lebih menekan ketimbang aura pembunuh.


Brakkk... Resepsionis itu langsung jatuh berlutut begitu terkena aura kematian dari Feng. Ia mendongak menatap Feng ketakutan, siapa Orang didepannya ini.


"Baiklah, Mari Kita bicara baik baik, namun lebih baik jangan disini," Feng melambaikan tangannya dan dalam satu kedipan Mereka bertiga sudah menghilang.


Dunia Kecil milik Feng...


"Baiklah, disini tampaknya lebih cocok," ucap Feng kemudian menarik aura kematiannya dari Resepsionis itu. Resepsionis yang sudah terlepas dari Aura kematian Feng langsung melompat mundur menatap Feng dan Rara waspada.


Feng tersenyum, "Santai saja, jika Aku ingin membunuhmu, sudah sejak Kau duduk di meja Resepsionis kemarin Aku membunuhmu apalagi Kau kini berada didalam Duni kecilku, satu jentikanku bahkan dapat membuat dirimu meledak hancur."


Feng mengucapkan itu dengan santai namun hal itu cukup membuat Resepsionis itu merasa ketakutan menatap sekitarnya.


"Baiklah, Pertama biar Aku ungkapkan apa yang Aku tebak sejak awal. Si Gila, adalah Ayahmu bukan?" pernyataan Feng tetsebut membuat Resepsionis terkejut namun Ia diam tak berkilah.


"Kau adalah Anak perempuannya yang pergi meninggalkann-"


"Aku tak meninggalkannya!" Resepsionis itu berteriak marah, Feng tersenyum mengangguk.


"Baiklah Kau tidak meninggalkannya, Kau hanya bergabung ke Akademi Dewa dan berkembang sangat cepat hingga.. Aku tak tau sampai mana pangkatmu, namun yang pasti bahkan Murid Akademi Dewa yang mati itu saja tak berani menyinggungmu."


Resepsionis itu lagi lagi terkejut, bagaimana Pemuda didepannya tau begitu banyak tentang dirinya.


"Biar Rara lanjutkan, kemudian setelah sekian lama Kau akhirnya memutuskan untuk kembali dan menjaga Ayahmu dari jauh dan menyamar menjadi Resepsionis biasa. Oh yah, Aku tak mengatakan Kau tak pernah pulang, karna saat masih di Akademi Dewa Kau juga selalu pulang sekali dua tahun untuk menyamar menjadi Orang lain dari Akademi Dewa, kemudian bertarung dengan Ayahmu sendiri dan melepaskannya."


Resepsionis itu lagi lagi terkejut, tak hanya Pemuda itu, bahkan Nona di sampingnya dengan mudah menebaknya.


"B-bagaimana Kalian tau?" tanya Resepsionis itu tak percaya.


"Mudah saja, Kau Murid Akademi Dewa karna Pemuda Murid Akademi Dewa yang mati itu tak melanjutkan perseteruan denganmu setelah melihat sebuah gelang di tanganmu yang kutebak itu adalah gelang yang menunjukkan identitasmu di Akademi Dewa dan kedudukanmu."


"Kedua, Ku rasa tak ada Orang dari Akademi Dewa yang melepaskan Orang lain dengan begitu mudahnya setelah bertarung dengannya, apalagi Orang itu dikenal sebagai Orang gila yang tak berguna."


"Ketiga, Kau menyembunyikan kekuatanmu di tingkat Langit dan itu pasti bukan hanya untuk merendah."


Rara mengakhir penjelasannya dan menatap Resepsionis yang sudah terdiam. Ia terdiam cukup lama sebelum tiba tiba jatuh berlutut di hadapan Feng dan Rara.


"Kumohon bantu Aku!" ucap Resepsionis itu sungguh sungguh sambil menundukkan kepalanya, Feng dan Rara saling bertatapan melihat hal tersebut.


"Atas dasar apa Kau meminta bantuan Kami? Bukankah bahkan beberapa menit yang lalu Kau berusaha membunuh Kami dengan racun?" tanya Feng.


"Ampuni Aku, Aku hanya ingin mengetes Kalian karna Racun itu hanya bisa di deteksi oleh Orang di tingkat Langit. Selain itu, Aku meminta bantuan Kalian karna tau Kalian pasti Orang hebat dan kuat! Kumohon bantu Aku! Aku rela melakukan apa saja agar Kalian dapat membantuku, bahkan jika itu mengorbankan nyawaku sekalipun!" kali ini Resepsionis itu tak lagi hanya berlutut namun langsung bersujud di hadapan Feng dan Rara. Feng menatap Rara meminta pendapat, Rara mengangguk tersenyum setuju.


"Baiklah, Kami akan menolongmu namun sebagai gantinya Kami membutuhkan bantuanmu," jawab Feng, Resepsionis itu langsung mengangkat kepalanya dan menatap Feng dan Rara dengan mata sudah basah.


"Baiklah!"


...- - -...


Di salah satu tempat di Alam Dewa...


Tingkat Walis lapis 9!


Tak cukup sampai situ, Kaisar Dewa kemudian mengeluarkan Roh beladirinya. Siluet dirinya yang berwarna emas dengan baju kebangsaannya keluar dari dalam dirinya. Auranya bertambah berkali kali lipat.


"Ini masih belum cukup," gumam Kaisar Dewa kemudian menutup matanya sejenak, sesaat setelah menutup matanya Ia kembali membukanya dan kedua pupil matanya menjadi emas bersinar.


"Ledakkan!" Boom... suara ledakkan berturut turut keluar dari dalam tubuhnya, Kaisar Dewa sedang meledakkan energi di dalam tubuhnya yang membuat kekuatannya naik sementara sebelum akhirnya nanti memiliki efek samping Ia akan kehilangan beberapa tingkat basis kultivasinya.


Boom!


Tingkat Walis lapis 10!


"Sedikit lagi," Kaisar Dewa menggertakkan giginya terus meledakkan energi di dalam tubuhnya. Darah mengalir dari ujung mulutnya yang menandakan organ dalamnya sudah hancur beberapa, namun Kaisar Dewa tak mempedulikan itu dan terus meledakkan energinya.


Boom!


Setengah langkah menuju Dewa Kuno!


"Baiklah segini cukup!" Kaisar Dewa kemudian mengangkat tangannya, langit di seluruh Alam Dewa tiba tiba menggelap dan kilat petir terdengar bersahutan. Seluruh Alam Dewa terkejut akan fenomena aneh tersebut.


Disisi lain, tanpa mempedulikan hal lainnya. Kaisar Dewa terus mengumpulkan seluruh energi di tinjunya dan memasang kuda kuda.


"Tinju Kaisar Dewa!"


Boom!


Kraaak...


Kaisar Dewa meninju ruang kosong didepannya dan langsung menimbulkan keretakan. Tak cukup sampai disitu, Kaisar Dewa segera mengumpulkan seluruh tenaganya kembali dan memasang kuda kudanya.


"Tinju penghancur Dunia!"


Booom!


Krakkk...


Ctar...


Akhirnya ruang kosong di hadapannya pecah menampilkan sebuah lubang hitam yang mirip dengan sebuah portal. Kaisar Dewa tersenyum lebar kemudian berbalik menatap Alam Dewa.


"Aku sudah meninggalkan kloningku disini meski kekuatannya sudah turun berkat menerobos pembatas Alam ini, tunggu Aku mendapatkan benda 'itu' dan menjadi Dewa kuno akan ku hancurkan pembatas Alam Dewa, Manusia, Iblis lalu menjadi Penguasa 3 Alam dan menjadi yang terkuat di alam ini!"


Kaisar Dewa mengucapkan hal tersebut dengan mata dipenuhi ambisi dan kerakusan. Ia tersenyum berangan angan dan segera berbalik berjalan memasuki lubang hitam tersebut.


...- - -...


Assalamualaikum...


Apa kabar Fengra Lovers? Welcome to Agustus!


Bagaimana The System sekarang? Aku harap semakin baik semakih harinya dan dapat menghibur Kalian selalu.


Jangan lupa promosikan The System ya, agar semakin banyak pembaca dan Author semakin semangat up nya.


Terima kasih...