
"Sialan, tak Ku sangka 3 Prajurit rendahan saja bisa membunuh Rekanku bahkan membuatku terluka sampai separah ini," kesal Iblis itu, Ia kemudian mengambil posisi duduk bersila dan memejamkan matanya, perlahan aura hitam keluar dari tubuhnya dan luka luka di tubuh Iblis itu perlahan tertutup.
Wush... Tanpa Iblis itu sadari, di belakangnya sudah berdiri seseorang dengan caping di kepalanya.
"Aku tak tau apa masalahmu dengan Prajurit Kerajaan, tapi maaf, Aku tak bisa membiarkanmu tetap hidup."
Zrassh...
Hanya dengan satu tebasan, kepala Iblis itu telah lepas dari tubuhnya, Saudara Mal Li itu menghela nafas kemudian menatap Mayat mayat di sekitarnya.
"Setidaknya ini akan menambah peluang keberhasilan misiku meski resikonya juga besar," gumam Saudara Mal Li kemudian mendekati salah satu mayat Prajurit yang sudah tergeletak tak bernyawa itu.
...- - -...
"Kak Ra, emang Abang bisa masak apa?"
"Kak Ra, Abang biasanya masakin Kak Ra apa?"
"Kak Ra...."
Rara yang duduk di salah satu kursi menghela nafas dengan sabar meladeni Mal Xia, Feng yang tengah memasak hanya tertawa kecil melihat itu, Ia juga pernah berada di posisi seperti itu dulu saat Ia baru pertama kali memasak untuk Rara dan Rara sibuk bertanya, sekarang giliran Rara merasakan itu.
"Kak Ra-" belum sempat Mal Xia kembali bertanya, Rara sudah membungkam mulut kecilnya itu dengan tangannya.
"Xia xia jangan banyak tanya lagi yah, liat tu Feng Gege jadi keganggu," sela Rara menunjuk Feng yang tengah memasak, Mal Xia menatap Feng kemudian mengangguk dan Rara akhirnya melepas bekapan tangannya.
"Udah, sekarang mending Xia xia duduk di samping Kak Ra dan liat Feng Gege masak," ucap Rara menepuk kursi disampingnya, Mal Xia mengangguk lalu menaiki kursi itu dan fokus menatap Feng.
"Kak Ra, Abang beneran ganteng kali ya," gumam Mal Xia berbisik membuat Rara menggembungkan pipinya kesal, Ia benar benar menyesal berkata pada Mal Xia agar Feng Gege jadi Abangnya.
Feng tertawa dalam hatinya melihat Rara yang kesal karna Mal Xia, namun Ia juga tak membantunya, anggap saja itu percobaan sebelum menjadi Ibu bagi Anak anaknya nanti, pikir Feng tersenyum tipis.
"Tuan!" ucap Mal Li terkejut saat memasuki dapur dan melihat Feng yang tengah memasak, bagaimana mungkin Tuan yang Ia hormati dan yang akan membantu dirinya justru malah memasak di dapur.
"Eh Ayah, Ayah ayah, liat tu, Abang bisa masak lho!" ucap Mal Xia melompat ke pelukan Mal Li, Mal Li terkejut beralih menatap Feng.
"Tapi-" Ia ingin berkata kata, namun di tahan oleh Feng melalui kode jari, Mal Li langsung terdiam menatap Anaknya itu.
"Ra, bisa ajak Xia xia bermain keluar?" tanya Feng, Rara yang paham maksud Feng mengangguk kemudian menggandeng Mal Xia keluar dapur.
"Tuan, A-aku bisa meny-"
"Tak perlu, Kau juga tak perlu memarahi Xia xia, Aku sendiri yang ingin memasak untuk Istriku, lidahnya tak cocok dengan masakan Kalian," ucap Feng kembali memasak, Mal Li terdiam merasa tak enak. Bagaimanapun harusnya Feng dilayani disini, tapi kenapa malah Ia memasak sendiri.
"Jika Kau merasa bersalah maka bantu Aku memasak," ucap Feng mengerti bahwa Mal Li merasa bersalah, Mal Li tersentak mendengar itu, eh? Memasak? Ia tak bisa memasak.
"Ikuti saja arahanku, sekarang potong Wortel itu," perintah Feng menunjuk beberapa wortel di sebuah piring, Mal Li mengangguk mendekati Wortel itu, nama benda ini Wortel? Ia belum pernah melihatnya sebelumnya, apakah ini bisa dimakan? pikir Mal Li.
"Sudah, jangan banyak berpikir, potong saja," ucap Feng, Mal Li mengangguk mengambil pisau dan mulai memotong motong wortel itu hingga kecil kecil.
...- - -...
"Kita disana malah meganggu Feng Gege masak, sekarang lebih baik Xia xia tunjukin rumah Xia xia yang besar ini," saran Rara, Mal Xia langsung tersenyum bangga.
"Baiklah, Xia xia akan tunjukin tempat tempat bagu di Rumah Xia xia," antusias Mal Xia menarik tangan Rara.
...- - -...
"Ini Taman di rumah Xia xia Kak Ra, indah kan?" ucap Mal Xia menunjuk sebuah Taman yang di penuhi bunga warna warni, Rara mengangguk menatap kagum ke bunga bunga itu, Rara akui itu indah.
"Kak Ra, mau ke Taman sebentar?" tawar Mal Xia, Rara mengangguk, Mereka berduapun berjalan menuju Taman itu.
"Wahh... Buah persiknya sudah berbuah," teriak Mal Xia menunjuk sebuah pohon persik di ujung Taman yang tengah berbuat lebat, satu dua buah juga tampak telah jatuh.
"Kak Ra tunggu sebentar ya, Aku mau ambilin buah persiknya," ucap Mal Xia, Rara mengangguk. Mal Xia kemudian berlari pergi sedangkan Rara memilih untuk melihat bunga warna warni di Taman Mal Xia itu, namun tiba tiba instingnya berdentang.
"Ada orang yang mematai matai," bisiknya merasakan aura yang sedang memperhatikannya dan Mal Xia, Rara kemudian berpura pura seperti tak tau apa apa dan meniup serta mencium bau wangi bunga bunga itu.
...- - -...
"Sepertinya pendatang baru ini memiliki sesuatu untuk membantu sampah Keluarga Mal itu, Aku harus melaporkannya ke Kepala Keluarga utama, namun lebih baik Aku mengawasi lebih jauh lagi," gumam seorang Iblis sambil menyembunyikan tubuhnya. Ia hanya menyembunyikan tubuhnya, tidak dengan auranya, karna bagaimanapun auranya sama seperti Iblis lain dan lagi Ia sekarang juga hanya mengawasi 2 Anak kecil menurutnya.
Setelah beberapa saat mengawasi, Ia kemudian berbalik kemudian diam diam melesat pergi. Disisi lain, Rara yang tau bahwa mata mata itu sudah pergi, tersenyum kecil.
"Kak Ra, Xia xia dapat banyak Buah Persiknya," senang Mal Xia membawa sekeranjang besar buah persik, Rara mengangguk tersenyum mengacak rambut Mal Xia.
"Ya sudah, yuk balik," Ajak Rara.
"Eh, Kak Ra gak mau lanjut keliling kah?" tanya Mal Xia, Rara menggeleng.
"Perut Kak Ra udah lapar, juga kayaknya Feng Gege udah selesai masaknya," jawab Rara, Mal Xia mengangguk.
"Perut Xia xia juga udah lapar."
...- - -...
Disisi lain Feng menghela nafasnya, benar benar menyuruh Mal Li untuk memasak saja sama seperti dulu Ia menyuruh Ran dan Rara memasak, susah dan kacau meski tak sekacau Ran dan Rara dulu. Tapi Ia kemudian tersenyum puas melihat banyaknya masakan yang Ia masak dan juga Ia tak pernah ragu akan rasanya.
"Wahhh! Wanginya enak!" girang Mal Xia saat baru memasuki dapur dan mencium aroma makanan yang sangat enak.
"Abang yang masak semuanya?" tanya Mal Xia, Feng Gege menggeleng.
"Enggak, Ayah Xia xia juga bantu tu di dapur," jawab Feng, mata Mal Xia langsung berbinar dan ngacir ke dapur. Feng sendiri menatap Rara yang sepertinya memikirkan sesuatu, tak seperti dirinya yang biasanya langsung lupa asal ada makanan di hadapannya.
"Ra, ada apa?"
...- - -...