The System

The System
Sarang Hewan Buas 2



Booom! Sebuah ledakkan besar terjadi di wilayah dalam Sarang Hewan buas tersebut, membuat terkejut seluruh Makhluk yang ada di dalamnya termasuk Iblis iblis yang masih berburu Hewan buas di wilayah luar. Sedangkan itu, tepat di atas sebuah gunung di wilayah tengah Sarang Hewan Buas tersebut, seekor Makhluk membuka matanya mendengar ledakkan itu.


Mahluk itu masih dalam posisi nyaman berbaringnya meski Ia sedikit kesal karna tidurnya terganggu oleh Suara tersebut. Ia kemudian menatap ke bawah, dimana lebih dari puluhan hewan buas yang begitu kuat dan mematikan tengah berkeliaran.


"Kalian semua! Pergi ke arah sumber suara ledakkan tersebut, jika itu Manusia atau makhluk lain habisi saja, namun jika itu adalah hal lain laporkan padaku!" perintah Makhluk tersebut melalui telepati pikiran, Makhluk makhluk di bawahnya yang sedang berkeliaran itu berhenti dan mengangguk bersujud horkat dan langsung melesat pergi menuju sumber suara ledakan tersebut.


Disisi lain, Tiga Saudara Kematian dan Tiga Tetua menganga melihat apa yang Ia lihat kini, lihatlah! Ular yang tadi yang menyerang Mereka sudah jatuh tergeletak dengan tubuh penuh lubang sebesar telapak tangan mulai dari kepala hingga ekornya. Sedangkan Rara hanya menatap semua itu datar dan memasukkan pedabgnya kembali ke gelang penyimpanan.


"Kalian tak apa apa?" tanya Rara menatap Tiga Tetua tersebut, Tiga Tetua itu mengangguk patah patah menatap Rara sedikit takut, siapa sangka Perempuan muds ini dapat mengalahkan Ular penyiksa itu dengan mudah bahkan tanpa luka se senti pun si tubuhnya. Pantas saja Ia juga bisa membuka segel gerbang sarang Hewan buas dengan mudah dan sampai di wilayah dalam inj dengan cepat.


Tiba tiba Rara terdiam dengan ekspresi serius, Ia kemudian menatap Tiga Tetua dsn juga menoleh ke arah Tiga Saudara Kematian. "Kalian, bantu bawa Tiga Orang ini pergi menjauh sejauh jauhnya!"


Tiga Saudara kematian nampak kaget sejenak saat tau Rara dengan mudah menemukan tempat persembunyian Mereka. Mereka kemudian keluar dan berdiri beberapa langkah dari Rara.


"Bawa Mereka menjauh," ulang Rara dekali lagi menunjuk tiga Tetua, Tiga saudara kekatian kompak menoleh ke arah Rara dengan tatapan yang sama.


"Kami disuruh Raja Iblis melindungimu bukan Mereka," ucap Tiga saudara kematian tanpa peduli ekspresi tiga Tetua yang berubah kesal begitu mendengar hal tersebut.


"Bawa saja!" ucap Rara dengan dingin dan nada penuh penekanan, Tiga saudara kematian itu langsung bungkam dan dengan patuh memapah tiga Tetua tersebut pergi.


Tiba tiba, baik Tiga saudara kematian maupun Tiga tetua merasakan aura yang banyak dan sangat menakutkan mengarah pada Mereka. "Cepat pergi!"


Mendengar bentakan Rara tersebut, Tiga saudara kematian dengan cepat mengangguk dan melesat pergi sambil memapah tiga Tetua. Tubuh Mereka juga bergetar dengan keringat mengalir di pelipis Mereka, Aura aura tadi benar benar sangat menakutkan, tapi tunggu lalu bagaimana dengan Rara?


Mereka sudah terlalu jauh dari Rara, namun hal itu tak membuat Mereka berhenti dan menoleh melihat ke arah Rara. Maka seketika itu juga Mereka terkejut setengah mati melihat Rara yang sudah di kepung segerombolan Hewab buas. Bukan hanya sekedar hewan buas biasa namun hewan hewan buas terkuat di Alam Iblis ini.


"Mustahil! Ucap Tiga saudara kematian dan tiga tetua terkejut melihat Rara sudah terkepung oleh segerombolan Hewan buas tersebut.


"Bagaimana ini?! Kita harus menolongnya!" ucap salah satu Tiga sudara kematian, dua saudara lainnya serempak menoleh ke arahnya dan menggeleng keras.


"Begini saja, Kalian berdua kembali dan beritahu Raja Iblis sedangkan Aku akan menunggu disini dan menunggu jika Dia dalam keadaan sangat genting," ucap salah saudara kematian yang memiliki dua tanduk, Ia adalah saudara tertua di antara tiga saudara kematian yang berarti keputusannya menjadi keputusan final di antara ketiganya.


"Tapi..."


"Tidak ada tapi tapi, laksanakan saja!" ucap Saudara tertua itu sambil menyerahkan tetua yang Ia papah Disisi lain tiga Tetua hanya bisa terbengong bengong mendengar percakapan Tiga saudara tersebut, Raja iblis? Mereka memiliki hubungan dengan Raja Iblis? Begitu juga Perempuan itu? Apakah Ia Ratu Iblis? Segala pertanyaan berputar putar di benak Tiga Tetua tersebut.


Booom! Ledakkan itu mengalihkan perhatian Mereka semua, Mereka langsung memperhatikan kebawah dimana debu telah mengepul dimana mana membuat pandangan Mereka.


"Cepat laksanakan!" perintah saudara tertua dan labgsung melesat memasuki kabut debu tersebut, disisi lain dua saudara itu saling memandang kemudian mengabgguk dan melesat cepat kembali ke arah kerajaan.


Saudara tertua tersebut terus masuk ke dalam kepulan debu tersebut dan mencari Rara. Ia sempat beberapa kali hampir terkena serangan tak sangaja yabg mengarah padanya, namun beruntungnya Ia berhasil menghindar dengan cepat. Serangan serangan itu tak benar benar mengincar dirinya, dan memang hanya meleset. Ia menjadi kagum karna jika masih ada serangan yang Hewan buas itu lakukan berarti Rara masih bertahan di dalam sana.


Debu tiba tiba menghilang, memperlihatkan Beberapa Hewan buas yang sudah tergeletak tak berdaya, terluka parah maupun masih tampak biasa saja. Namun yang menjadi fokus Saudara tertua bukanlah itu, melainkan seorang Perempuan yang nampak tersungkur tepat di tengah tengah Hewan Buas tersebut.


Saudara tertua itu sudah bersiap mengambil ancang ancang saat melihat Rara sudah tergelatak seperti itu untuk menyelamatkannya. Namun mendadak Ia terhenti saat melihat Rara kembali bergerak dan bahkan langsung bangkit, matanya tajam menatap seluruh Hewan buas di sekitarnya dengan tatapan marah.


"Baiklah!" gumam Rara, aura luar biasa kemudian keluar dari tubuhnya, aura itu bahkan berkali kali lebih menakutkan di banding aura Hewan hewan buas tersebut membuat Saudara tertua itu tak bisa tak bergetar tubuhnya begitu metasakan aura tersebut.


Tak berhenti sampai di situ, sebuah cahaya nampak menyelimuti Rara membuat tubuhnya terbang beberapa jengkal dari tanah dan aura kewibawaan keluar darinya. Terakhir sebuah siluet Manusia dengan jubah putih dan telinga kelinci keluar dari dalam tubuhnya.


Tubuh Saudara tertua itu gemetar, kali ini bukan karna takut melainkan karna sebuah perasaan yang tak bisa Ia ungkapkan. Sebuah perasaan dimana Ia merasakan kekaguman akan sebuah kewibawaan luar biasa yang membuat siala saja akan patuh di bawah kendalinya. Ia bahkan tak pernah merasakan hal seperti ini sekalipun saat berhadapan dengan Raja Iblis bahkan ketika Ia melihat Raja Iblis marah, perasaan ini benar benar aneh dan membuatnya tak tahan untuk tak jatuh bertekuk lutut di tanah.


Mata Rara mulau memancarkan cahaya berwarna putih dan tatapannya menajam menatap ke arah Hewan hewan buas tersebut.


"Bersiaplah!"


...- - -...