
"Bagaimana mungkin?!" ucap Murid Akademi Dewa tak percaya dengan apa yang di alaminya.
"Kau bahkan tak menyentuhku, bagaimana bisa..." tiba tiba Murid Akademi Dewa itu berteriak keras, perlahan sebuah benda keluar dari tubuhnya dan kekuatannya langsung turun kembali. Bukan ke tingkat Bumi lapis 8 melainkan jatuh ke tingkat Emas lapis 3. Benda yang keluar dari tubuh Murid Akademi Dewa itu terbang dan mendarat di telapak tangan si Gila.
Benda itu adalah... Pil Darah!
"Tidak mungkin?! Bagaimana bisa Kau mengalahkanku padahal kekuatanku jauh lebih kuat darimu."
"Iya bagaimana mungkin si Gila bisa mengalahkannya?"
"Teknik apa yang Ia gunakan?"
"Feng Gege..." Rara tiba tiba menoleh menatap Feng bertanya.
"Kok bisa?" Feng tersenyum, Rara saja kebingungan akan perubahan si Gila yang tiba tiba menjadi sangat kuat dan bisa mengalahkan Murid Akademi Dewa itu bahkan tanpa mengendalikannya.
"Perhatikan baik baik matanya," suruh Feng, Rara langsung menoleh, menyipitkan matanya memperhatikan yang disuruh Feng. Rara tersentak saat menyadari sesuatu.
"Matanya tampak aneh dan spesial," gumam Rara, Feng mengangguk.
"Periksalah dengan system," ucap Feng, Rara mengangguk. Ia memang sudah lama di ajari Feng cara menggunakan system namun Ia jarang menggunakannya karna biasanya Feng yang akan langsung memberi taunya tentang apa yang Ia tak tau atau Ia tanyakan.
"Woww... Mata yang sangat aneh dan spesial," ucap Rara terkagum begitu melihat informasi dari System.
"Ya, Ia juga ternyata pandai menggunakannya."
Kembali ke Arena Pertarungan, si Gila menyimpan pil darah yang Ia dapatkan dari Murid Akademi Dewa kemudian menatap Murid Akademi Dewa itu tajam.
"Kalian... Seluruh Akademi Dewa harus hancur!" ucap si Gila dengan nada penuh dendam dan aura pembunuh yang kuat.
Wussh... Tiba tiba 3 sosok muncul di depan si Gila. 3 Sosok pria tua dengan jubah berwarna merah dan sebuah lambang di dadanya.
"Itu para Tetua Arena Pertarungan Kota ini?!" salah seorang Penonton berkata terkejut diikuti keterkejutan penonton penonton lainnya.
"Tetua?" tanya Feng ke Orang yang duduk di dekatnya tadi. Orang itu mengangguk.
"Arena Pertarungan bukanlah sekedar tempat untuk bertarung, namun Ia juga adalah salah satu Organisasi terbesar di Alam Dewa selain Akademi Dewa. Hampir dij setiap kota di seluruh Alam Dewa memiliki Arena Pertarungan dan pusatArena Pertarungan terbesar sendiri ada di Kekaisaran Dewa. Maka setiap Arena Pertarungan di setiap Kota di pimpin oleh 3 Tetua dan kebetulan Arena Pertarungan Kota ini juga di jaga oleh 3 Tetua di tingkat Langit lapis 5 dan kabarnya Mereka sudah lama saling bertarung berdampingan dan bahkan jika Mereka bekerja sama dapat mengalahkan Orang pada tingkat Langit lapis 8."
Feng mengangguk mendengar informasi terbaru tersebut kemudian kembali menoleh menatap ke Arena Pertarungan. Apakah langkah yang akan di ambil si Gila?
"Hentikan! Pertarungan ini selesai, Kau dapat pergi tapi tinggalkan Ia disini," ucap salah seorang Tetua Arena Pertarungan sambil menunjuk Orang berjubah hitam yang sudah terbaring tak sadarkan diri.
Si Gila mengangkat sebelah alisnya menatap Tetua Arena Pertarungan itu. Ia tersenyum mengejek, "Apa hak mu untuk mengaturku?"
"Kau! Beraninya Kau melawan Kami, para Tetua Arena Pertarungan!" Para Tetua Arena Pertarungan berteriak marah menatap si Gila. Si Gila sama sekali tak nampak takut.
"Heh jangan Kau pikir dengan kemampuan anehmu yang dapat mengalahkan seseorang di tingkat Langit lapis 2 yang menggunakan pil darah itu sudah hebat."
"Baiklah, tak udah banyak omong. Pertama Aku ingin Ia mati!" Si Gila menatap ke arah Murid Akademi Dewa yang masih berusaha bangkit. Para Tetua langsung bersikap waspada, namun terlambat. Tanpa di sentuh apapun tiba tiba Murid Akademi Dewa itu nampak seperti di cekik kemudian melayang terbang dan dalam sekejap mata, Ia sudah meregang nyawanya.
Para Tetua Akademi Dewa membuka matanya lebar. Serangan si Gila ini benar benar aneh, Mereka bahkan tak bisa menyadarinya dan itu langsung membunuh tanpa sempat bertindak.
"Kau! Kau juga harus mati!" Tiga Tetua Arena Pertarungan itu kemudian bergerak melesat maju menyerang si Gila. Si Gila dengan mudah menghindari setiap serangan para Tetua Arena Pertarungan itu namun Ia tak nampak ingin membalas atau menangkis.
"Kenapa Ia tak menyerang balik Feng Gege? Padahal Ia bisa dengan mudah menghindarinya," tanya Rara bingung.
"Justru jika Ia menyerang sekali akan menyebabkan Ia kalah selamanya. Satu kecerobohan apapun kini dapat membuatnya mati."
"Sial! Bagaimana bisa Ia membaca setiap serangan Kita?" ucap salah satu Tetua menggertakkan giginya geram menatap si Gila.
"Kerahkan saja jurus Area, Ia pasti tak dapat menghindarinya," saran salah satu Tetua Arena Pertarungan, 2 Tetua lainnya mengangguk setuju. Mereka lalu membentuk formasi seperti segitiga.
"Formasi Segitiga Penghancur!"
Langit tiba tiba menggelap dan petir menyambar nyambar, ini berbeda dengan jurus yang di keluarkan Orang berjubah hitam tadi ataupun Murid Akademi Dewa. Awan hitam dan langit gelap ini tak hanya menutupi Arena Pertarungan melainkan seluruh Kota ini!
"Kau tak bisa mengelak lagi dasar Orang Gila, serangan Kami ini bahkan dapat membunuh seseorang pada tingkat Langit lapis 8!" salah satu Tetua berkata sombong, si Gila tak menghiraukannya dan terus menatap langit.
Tepat dari balik awan awan itu, turun sebuah Piramida berwarna emas yang menutupi seluruh Arena Pertarungan tanpa lewat sedikitpun. Semua Orang yang melihat Piramida itu nampak tertekan akan auranya.
"Jurus ini sangat menakutkan," para Penonton merinding, Beruntung Mereka berada di luar Arena sehingga masih terlindungi oleh pelindung yang dibuat untuk melindungi Penonton.
Booom! Piramida itu jatuh, menutupi seluruh Arena, para Tetua tersenyum senang menatap seluruh Arena. Mereka yakin bahwa si Gila itu pasti sudah mati kini dengan jurus gabungan milik Mereka.
"Apakah sudah selesai?" Para Penonton mulai ribut bertanya apakah pertarungan ini sudah selesai dan si Gila sudah mati.
"Belum, pertandingan ini sama sekali belum selesai," gumam Feng.
Kraaak...
Semua Orang terkejut, tiba tiba Piramida itu mulai retak dari satu titik dan menyebar ke segala arah.
Boom! Piramida itu hancur, berkeping keping, Semua Orang yang melihat hal tetsebut termasuk para Tetua Arena Pertarungan itu terkejut. Jurus Mereka dihancurkan?!
Tepat di tengah Arena berdiri si Gila yang sudah berlumuran darah, tak hanya itu yang membuat semua Orang terkejut. Si Gila masih hidup! dan dipelukannya terdapat Orang berjubah hitam tadi.
"Semua hal yang terjadi hari ini pasti akan di balas," ucap si Gila lirih kemudian melirik para Tetua Arena Perang.
Siiing...
...- - - ...