
Deg...
Seluruh Orang di Arena Pertarungan itu tiba tiba merasakan hal yang sangat sakit di kepala Mereka. Semua, semua Orang kecuali Rara dan Feng merasakannya membuat Mereka langsung memegangi kepala dan menggerang kesakitan.
"Arghh... Ini serangan mental!" teriak salah satu Tetua saat menyadari serangan yang menimpa semua Orang.
"Heh, menarik," Feng tersenyum tipis memperhatikan si Gila yang kemudian bangkit masih membawa Orang berjubah tersebut dan melesat pergi.
"Feng Gege?" Rara bertanya melihat si Gila pergi, Feng tersenyum menggeleng kemudian bangkit berdiri mengajak Rara ikut pergi.
"Sudah tak ada yang menarik disini, lebih baik Kita cari makan sekarang," ucap Feng, Rara langsung mengangguk semangat dan Mereka langsung menghilang pergi.
Seluruh Kota tentu saja gempar akan kejadian tersebut. Kabar si Gila yang tiba tiba menjadi sangat kuat, Murid Akademi Dewa yang mati oleh Orang berjubah hitam dan ketiga Tetua Arena Pertarungan yang keluar untuk melawan si Gila sudah menyebar ke segala penjuru. Orang orang terus membicarakan itu di mana mana, pasar, toko, bahkan anak anak pun juga ikut membicarakannya.
"Kudengar Murid Akademi Dewa itu menggunakan pil darah sebelum Ia mati dibunuh si Gila," salah seorang Pelanggan yang duduk tak jauh dari Feng dan Rara berbicara kepada temannya.
Temannya mengangguk, "Ya, namun sepertinya si Gila justru lebih hebat dari itu bahkan bisa membunuh Murid Akademi Dewa itu tanpa menyentuhnya."
"Tanpa menyentuhnya? Teknik serangan apa yang digunakannya?"
"Entahlah, kabarnya salah satunya ada teknik serangan yang menyerang mental. Itu sebabnya Ia dapat kabur dari serangan 3 Tetua Arena Pertarungan."
"Luar biasa! Sayang sekali Ia kini buronan dan Kita harus langsung melaporkannya jika bertemu dengannya, lagipula hadiah atas kepalanya juga tak murah."
Feng melanjutkan mengunyah makanannya, Ia sudah mengetahui hal tersebut. Ini memang belum setengah hari sejak pertatungan si Gila di Arena Pertarungan itu terjadi, namun sudah keluar perintah buronan dari Arena Pertarungan untuk memburu si Gila. Siapa yang mendapatkannya hidup hidup akan mendapatkan 1000 koin Dewa dan yang bisa membawa kepalanya akan mendapatkan 2000 koin Dewa. Tentu saja itu adalah uang yang sangat banyak dan siapa yang tidak tergiur dengannya. Orang orang dengan ambisi memenangkan hadiab tersebut langsung bergerak mencari si Gila di setiap penjuru kota bahkan hingga keluar Kota.
"Tentu saja Arena Pertarungan mengeluarkan dana sebanyak itu hanya untuk memburu si Gila karna bagaimanapun yang si Gila bunuh adalah Murid Akademi Dewa dan Kau tau sendiri, sudah sejak lama Akademi Dewa dan Arena Pertarungan bersahabat, kesalahan sekecil apapun yang terjadi baik di Akademi Dewa dan Arena Pertarungan yang menyebabkan Orang orang dari Akademi Dewa atau Arena Pertarungan terluka atau bahkan mati tentu saja tetap akan dimintai pertanggung jawaban."
Feng dan Rara menyelesaikan makan Mereka dan segera membayar lalu beranjak dari toko tersebut.
"Feng Gege Kita mau kemana?" tanya Rara mengenggam tangan Feng, Feng tersenyum.
"Kembali ke Penginapan."
Tak membutuhkan waktu lama, Feng dan Rara akhirnya mencapai penginapan dan langsung berjalan masuk. Baru saja berjalan masuk, di depan pintu Penginapan itu saja sudah tertempel poster buronan terhadap si Gila. Feng dan Rara berjalan masuk dan Orang orang yang makan di restoran lantai satu juga sibuk membicarakan topik yang sama.
"Jika Aku bertemu dengannya, akan langsung Aku tebas lehernya dan ku seret kepalanya keliling Kota sebelum menjemput 2000 Koin Dewa ku!" salah seorang yang sedang minum tuak bersama teman temannya berteriak kemudian tertawa.
"Ya, ya, itu jika Kau bisa menangkapnya. 3 Tetua Arena Pertarungan saja bisa dilawannya dan Ia dengan mudah kabur, lalu bagaimana denganmu?" salah satu temannya berkata mengejek diikuti tawa teman teman Mereka yang lainnya.
"Heh lihat saja, 2000 koin dewa itu adalah milikku!"
Feng menggeleng mendengar itu kemudian mengajak Rara menuju kamar Mereka.
"Bagaimana?" tanya Feng tiba tiba pada Rara, Rara memiringkan kepalanya bingung apanya yang bagaimana?
Rara terdiam berfikir sejenak sebelum berbicara, "Entahlah, Menurut Rara meskipun si Gila membunuh Murid Akademi Dewa, Ia tak jahat karna kalau posisinya terbalik mungkin Ia yang juga akan dibunuh jika Orang berjubah hitam itu datang dan menolong si Gila, lalu..." Feng mengangguk mendengar penjelasan Rara.
"Lalu?"
"Lalu Rara merasa Orang berjubah hitam tadi sangat familiar meski Rara tak bisa memastikannya," gumam Rara mencoba mengingat ngingat siapa Orang yang mirip dengan Orang berjubah hitam tersebut. Feng mengangguk tersenyum mendengar gumaman Rara tersebut.
"Orang yang Kau tunggu sudah datang..."
Tok... tok... tok...
Suara ketukan pintu membuat Rara menoleh.
"Masuklah."
Pintu terbuka dan seseorang berjalan masuk mendorong sebuah kereta kecil yang terdapat sebuah nampan di atasnya. Di atas nampan sendiri nampak seteko minuman dan 2 cangkir gelas.
"Permisi Tuan, Nona, ini teh Kalian," ucap Resepsionis itu ramah kemudian menuangkan teh di dalam teko kayu tersebut kedalam 2 cangkir tersebut dan menyerahkannya pada Feng dan Rara. Feng dan Rara menerimanya dan langsung menyeruput meminumnya, melihat Feng dan Rara meminumnya, Resepsionis itu nampak kecewa dan menarik kembali keretanya berputar keluar kamar.
"Hei, Apa pendapatmu soal si Gila yang menjadi buronan saat ini?" Feng tiba tiba bertanya membuat langkah Resepsionis itu terhenti tepat di depan pintu kamar.
Resepsionis itu terdiam tak menjawab namun tubuhnya justru sudah menjawab itu dengan getaran dan aura pembunuh yang mulai bocor dari dalam dirinya. Feng tersenyum tipis melihat reaksi itu.
"Kau tidak usah buang buang waktu kalau ingin membunuh Kami, bukankah Kau sudah meletakkan racun di dalam teh pada gelas Kami?"
Resepsionis itu tersentak, Ia langsung menarik aura pembunuhnya yang bocor dan berbalik menatap Feng dan Rara terkejut.
"B-bagaimana Kalian bisa tau?" ucapnya terkejut, Ia sama sekali tak membantah hal tersebut.
"Iyalah... Lagipula darimana asalnya ada seorang Resepsionis yang tiba tiba mengantar teh?" kali ini Rara yang berucap sambil kembali menyeruput teh nya.
"Untung tehnya enak."
"Tapi kalian meminumnya," lanjut Resepsionis itu masih nampak terkejut.
"Ini hanya racun kecil, tak akan menyebabkan apa apa padaku dan Rara," ucap Feng santai, Ia kembali menyeruput sedikit teh nya dan meletakkannya. Ia kemudian menoleh menatap Resepsionis tersebut.
"Baiklah, Bukankah ada yang ingin Kau bicarakan atau tanyakan Resepsionis, eh atau Orang berjubah hitam?"
...- - -...
"