
Beberapa Tahun lalu...
Keluarga Mal yang hidup di Kota Satu Ras ini hidup dengan damai dan menyenangkan, Orang orang pun mengenal Mereka sebagai Keluarga yang Dermawan karna suka menjamu pendatang yang baru datang ke Kota Satu Ras. Meski tak dapat pemasukan karna diusir dari Ras Mal, namun Keluarga Mal di Kota ini sama sekali tak kekurangan Uang, sebab bagaimanapun Mereka tetap keturunan Ras Mal, sehingga tak susah bagi Mereka untuk kembali mebghasilkan uang.
Para Pemuda Iblis Keluarga Mal pun dapat berlatih dengan tenang dan fokus sebab tak ada gangguan atau perintah dari Ras Mal atau Keluarga Mal Utama. Perkembangan Mereka pun terbilang sangat cepat karna meski berasal dari Ras Pedagang, namun dalam hal kekuatan Mereka juga tak dapat di remehkan.
Hingga suatu saat, Ayah Mal Li, yang merupakan Kepala Keluarga di Keluarga Mal Kota Satu Ras, memanggil Anak satu satunya, Mal Li.
"A-ada apa K-kepala Keluarga memanggilku?" Tanya Mal Li dengan nada sedikit takut, bagaimanapun meski Ia satu satunya Anak Kepala Keluarga serta Tuan Muda Keluarga Mal itu, namun Ia sadar bahwa Ia... Cacat.
Cacat yang di maksud disini bukanlah dalam hal fisik atau yang lainnya, namun cacatnya adalah karna perkembangannya yang sangat lambat di bandingkan generasi muda Keluarga Lin lainnya. Mal Li menyadari itu sehingga Ia terus berusaha keras latihan, namun seberapa keraspun Ia latihan tetap saja Ia tertinggal jauh di banding generasi muda Keluarga Mal lainnya.
Lalu hari ini tiba tiba Ayahnya yang merupakan Kepala Keluarga memanggilnya? Apa Ayahnya ingin memarahinya karna perkembangannya yang lambat? atau jangan jangan ingin mengusirnya?!
Mal Li menatap Ayahnya itu dengan takut takut, Ayahnya sendiri berjalan dari singgasananya ke sebuah kotak yang sengaja di letakkan di sudut ruangan itu, Ia mengambilnya lalu kembali berjalan dan berdiri di depan Mal Li.
"Tak lama, Keluarga ini akan hancur," ucap Ayah Mal Li dengan nada dingin, Mal Li sendiri yang mendengar itu tersentak kaget.
"H-hancur? B-bagaimana bisa?"
"Hufht..." Ayah Mal Li menghela nafas panjang dan berat kemudian duduk di singgasananya dan meletakkan kotak itu di bawahnya.
"Aku akan menceritakan kepadamu, masalah Internal Ras Mal, masalah yang tak pernah nampak kecuali oleh Generasi lama Ras Mal."
"Masalah?"
"Iya, Kau tau sebenarnya Keluarga Kita adalah darah murni Ras Mal."
"Darah Murni?!" ucap Mal Li terkejut, bagaimana tidak, jika Mereka adalah Darah murni Ras Mal yang berarti Mereka harusnya Keluarga utama Ras Mal, Pemimpin Ras Mal! Namun sekarang kenapa Mereka di usir?
"Aku tau apa yang Kau pikirkan, Dulu, Leluhur Keluarga Kita juga merupakan salah satu Orang terkuat di Alam Iblis. Namun karna hal itu, Ia lupa akan Keluarganya, Ras Mal, dan sibuk meningkatkan kekuatannya. Alhasil... Ras Mal berhasil di susupi."
"Penyusup?!" ucap Mal Li kaget.
"Ya, namun Mereka menyusup secara perlahan dan halus, sampai sampai tak ada Orang yang tau motif Mereka untuk menyusupi Ras Mal. Kau tau? Kemampuan dagang Ras Mal sekarang berasal dari mana? Semua itu berasal dari Penyusup penyusup itu!"
Mal Li terdiam, Ia masih mencerna semua perkataan Ayahnya.
"Kini, Para Penyusup itu akhirnya mulai bergerak, dan Kau lihat sendiri... Mereka dengan segala strategi liciknya akhirnya Mengusir Kita, Darah murni Ras Mal dari Ras Mal. Namun Mereka sungguh salah langkah, dengan mengusir Kita itu berarti membuat Kita hidup lebih tenang dan memiliki banyak waktu untuk mengembangkan kekuatan Kita, karna bagaimanapun Kita keturunan murni Ras Mal dan ada darah Leluhur Kita yang kuat dalam diri Kita." Jelas Ayah Mal Li kemudian menutup matanya, Mal Li dapat melihat jelas ke khawatiran di wajah Ayahnya itu sebagai Kepala Keluarga.
"Jadi harus bagaimana Yah?!" tanya Mal Li dengan panik, melupakan ketakutannya pada Ayahnya tersebut.
Ayah Mal Li menarik nafas panjang kemudian menyunggingkan senyum kecil, Ia lalu membuka kotak di bawahnya. Saat membuka kotak itu, maka tampaklah olehnya 3 buah buku yang nampak sudah berdebu.
"Inilah... Motif utama Para Penyusup itu."
"Sebuah buku?"
Ayah Mal Li tersenyum kemudian mengambil buku buku itu dan menepuknya, membersihkan debu di atasnya. Ia kemudian memberikan buku buku itu pada Mal Li.
"Sejarah Ras Mal, Kultivasi Ras Mal, Teknik Ras Mal," gumam Mal Li membaca setiap judul di depan Buku buku tersebut.
"Itu bukan sekedar Buku, tapi Kitab. Kitab sejarah adanya Ras Mal, Kitab teknik kultivasi leluhur dan jurus terkuat leluhur Kita dulu dan semua itu... Harus Kau pelajari."
Mal Li tersentak menatap Ayahnya, bukankah Ayahnya tau bahwa Ia merupakan Anak terlemah di generasinya, lalu mengapa Ia menyuruhnya mempelajari teknik terkuat Keluarganya, bukankah itu sia sia?
"Ikuti Aku..." Ucap Ayah Mal Li lalu bangkit berjalan pergi diikuti Mal Li.
"Aku tau, Kau pasti merasa rendah diri karna kekuatanmu, tapi Aku memintamu untuk mempelajarinya, menghafalnya, tak perlu mempraktekannya. Suatu saat, saat takdirmu sudah datang, maka Kau akan menguasainya dan menjadi sekuat Leluhurmu dulu, Aku yakin itu!" Jelas Ayah Mal Li dengan mata penuh keyakinan.
Mal Li menelan ludahnya menggenggam erat Tiga Kitab itu, Mereka terus berjalan hingga akhirnya sampai di depan pintu sebuah ruang bawah tanah.
"Tapi untuk semua itu dan untuk keamanan semuanya, Aku ingin Kau mengasingkan diri selama 10 Tahun untuk mempelajarinya."
"10 Tahun?!"
"Ya, karna menurut perkiraanku tak akan lama lagi Para Penyusup itu akan menyerang Kita, Aku ingin Kau menjaga Kitab Kitab itu sambil mempelajarinya di ruang bawah tanah ini, semua kebutuhanmu sudah ada didalam, Aku juga akan memasang segel yang akan terbuka sendiri setelah 10 Tahun," Ucap Ayahnya membuka pintu Ruang bawah tanah di depannya, Mal Li menelan ludah berjalan masuk.
"Tapi Bagaimana dengan Ayah dan Keluarga lainnya?!" Tanya Mal Li berbalik bertanya, Ayah Mal tersenyum.
"Kami akan baik baik saja, namun jika Kau tak menemukan Kami kelak setelah Kau keluar, maka berpikirlah dengan bijak jika ingin balas dendam," jawab Ayah Mal Li kemudian menutup pintu lalu membuat segel yang menutupi aura ruang bawah tanah itu.
Mal Li sendiri masih terdiam mendengar jawaban Ayahnya tadi, membalas dendam? Apakah Ayahnya memperkirakan bahwa Mereka semua akan mati, menyisakan dirinya sendiri di Keluarga itu. Tiba tiba air matanya mengalir keluar menyadari itu dan langsung coba membuka pintu dan menggedornya, namun semuanya sia sia, segel itu benar benar telah terpasang dan tak akan terbuka sebelum 10 tahun.
"Hiks..." Mal Li menangis bersadar ke pintu itu.
...- - -...