The System

The System
Tombak Kuno



"B-bagaimana mungkin?!" ucap Falco tak percaya saat melihat lampu lantai 2 Pagoda sudah padam dan lampu lantai 3 hidup.


"Cuman 3 jam," cicit Falca termenung, Kakek Mereka yang melihat respon Mereka tersenyum. Respon Mereka wajar, bahkan Manusia manusia elang yang lain juga memiliki respon yang sama seperti Mereka berdua.


"Ia pelajar yang cepat, dan kini Ia di lantai 3 harusnya Ia lebih cepat selesai," gumam Kakek itu kembali menatap ke arah lantai 3 Pagoda.


...- - -...


Feng sampai di lantai 3 dengan santai dan tak memperhatikan sekitarnya dengan waspada karna Ia sudah membaca bahwa di lantai 3 dan 6 Merupakan lantai latihan dari lantai lantai sebelumnya.


Kini Feng justru mengeluarkan Tombak yang baru Ia dapat sebagai hadiah di lantai 2 tadi dan menggenggamnya erat.


Dari informasi yang Ia dapatkan bahwa Tombak itu bernama Tombak kuno, bukan karna tombak itu memang sudah lama dibuat, namun karna kekuatannya. Di buat dari tulang Kaisar Naga yang merupakan Naga pertama dan paling murni darahnya dan di rendam di dalam air mata phoenix yang memiliki sumber kekuatan terkuat, ujungnya sendiri terbuat dari kuku Kaisar Phoenix sebagai Phoenix pertama.


Feng tersenyum apalagi begitu melihat corak pada tombak itu, Ia kemudian menutup matanya mengingat ngingat jurus yang baru Ia dapatkan dari pikirannya. Kemudian tanpa menunggu waktu lama Feng menggerakkan tombak itu dengan lincah.


Wushhh...


Setiap gerakan Feng mengeluarkan energi tebasan yang kuat pada ujung tombak, bukan hanya pada ujung, Feng juga merasakan energi yang kuat menyentak dirinya dari dalam tombak saat menggerakkannya.


Feng terus mencoba teknik teknik di dalam pikirannya, tak butuh waktu lama sampai Ia kemudian menguasai dasar teknik tombak kuno tetsebut.


"Baiklah, mari Kita mencoba kekuatannya," gumam Feng kemudian menajamkan matanya, dirinya bergerak membentuk sebuah tarian dengan tombak tetsebut, tarian yang akan memberi siapa saja kesan bahwa tarian itu tak hanya indah namun juga mematikan.


Wussh...


Booom!


Dengan sentakan tetakhir Feng mengarahkan tusukan menuju dinding ruangan tersebut, energi yang kuat menabrak dinding membuat seketika ruangan tersebut gemetar.


Wushh..


Boom!


Kali ini tebasan penuh energi yang Feng lakukan menuju dinding ruangan tersebut membuat efek ledakan yang menggetarkan ruangan tersebut.


"Sempurna!" bisik Feng tersenyum saat menyadari teknik dasar tombaknya sudah sangat sempurna. Ia kembali menutup mata masuk ke teknik selanjutnya.


...- - -...


Di luar Pagoda semua Orang menganga melihat Pagoda yang mendadak bergetar 2 kali, kali ini Kakek tadi juga tak bisa menahan keterkejutannya.


"Senjata sekuat apa yang di dapatkannya dan latihan seperti apa yang bisa membuat Pagoda bergetar," ucap Falco mengungkapkan ketetkejutannya dan manusia manusia elang yang lain.


Ia ingat bahwa Ia mendapat senjata sebuah gada yang sebenarnya tak cocok bagi Manusia elang sepertinya, namun kekuatannya rupanya sangat di luar ekspetasinya dan efeknya pun dapat membuat sebuah lubang sebesar danau. Namun saat melatih itu dengan teknik tertinggi sekalipun tak dapat membuat Pagoda tersebut, sedangkan Feng? Kakek itu menggeleng menghela nafas, Ia memang memberikan banyak kejutam di luar ekpetasinya.


...- - -...


"Eh, tidak ada teknik di sini, hanya sebuah kalimat yang harus ku pahami," gumam Feng saat memeriksa ingatannya dan hanya menemukan sebuah kalimat tanpa teknik.


"Satu dengan Tombak!" gumamnya tersenyum tipis, Ia langsung mengerti maksudnya.


Menyatu dengan senjata merupakan hal yang paling susah di lakukan bagi Orang orang, namun saat seseorang itu berhasil menyatu dengan senjatanya, maka senjata itu adalah tangannya, kakinya, matanya, hatinya dan dirinya. Senjata itu bagaikan nyawa keduanya yang akan meningkatkan kekuatan dan tekniknya berkali kali lipat.


Feng sudah memahami hal tersebut dan Ia pun juga sudah pernah menguasainya pada beberapa senjata yang pernah Ia gunakan sebelumnya. Namun kini sepertinya tingkatannya akan berbeda.


Tombak kuno ini jika Ia masukkan dalam tingkatan senjata mungkin berada pada tingkatan tertinggi atau bahkan di atas itu. Hal itu tentu saja membuat tingkat kesulitannya menjadi berkali kali lebih sulit dan kekuatannya juga bekali kali lebih kuat.


Namun hal itu tak membuat Feng takut, melihat bahwa Ia di beri Tombak itu dan Ia dengan cepat menguasai teknil dasarnya saja sudah membuktikan bahwa Ia memang berjodoh dengan Tombak tersebut.


Feng duduk bermeditasi, sambil meletakkan Tombak itu di hadapannya. Ia menutup matanya dan memfokuskan pikirannya, hati dan otaknya sedang menyusuri Tombak tersebut juga menyusuri awal dan perjalannya.


Feng menyerit saat menemukan kisah unik di balik Tombak tersebut, semula tombak itu adalah tombak biasa yang terbuat dari kayu dan ujungnya dari batu yang di runcingkan.


"Persis seperti Tombak purba," gumam Feng begitu mengetahui itu.


Tombak itu di gunakan oleh seorang Anak muda yang senang berlatih tombak, Anak muda itu sangat miskin namun tak mengjalangi tekadnya untuk berlatih tombak sehingga Ia membuat tombak dari kayu dan batu seperti itu.


Meski sering di ejek oleh teman temannya akan tombak buruknya tersebut, Ia tak pernah putus asa dan terus berlatih dengan tombak tersebut. Hingga Ia suatu hari, desa nya di serang oleh segerombolan Hewan buas yang dipimpin oleh seekor ratu hewan buas.


Seluruh Pendekar di desanya maju untuk mempertahankan desa tersebut, namun sayangnya Mereka kalah jumlah dan kekuatan sehingga satu persatu Pendekar itu tumbang. Begitu juga dengan Ayah di Anak muda, anak muda itu marah karna Ayahnya terbunuh, namun Ia lebih bisa menguasai dirinya dan menjalankan logikanya meski di landasi amarah.


Maka saat matanya menangkap bayangan Ratu hewan buas tersebut dan jaraknya yang beratus ratus meter membuat Ia menggenggam lebih erat tombaknya.


Secara logika dalam jarak sejauh itu tak ada sesuatu yang bisa bertahan sejauh itu jika di lempar apapun itu, bahkan tembakan pistol di Bumi, mungkin hanya Sniper yang bisa menembak jarak sejauh itu.


Anak muda itu tau, namun Ia tak peduli. Ia mengenggam tombaknya erat, maka saat itulah mendadak Ia merasa sebuah aliran tal kasat mata mengalir dari tombak itu menuju dalam dirinya. Aliran yang menambah energinya terhadap segala sesuatu dan membuatnya metasakan perasaan yang luar biasa.


Ia memasang kuda kuda dengan tombak di tangannya tersebut dan dalam satu kali ancang ancang, tombak itu di ayunkan dan melesat cepat menuju Ratu hewan huas tersebut. Energi tak kasat mata menyelimuti Tombak itu, saat tombak itu mengenai hewan buas yang menghalangi Ia sama


sekali tak terhenti justru mendadak berubah lebih cepat dan lebih kuat.


Wushhh...


...- - -...