
Wush...
Sebuah cahaya menyelimuti tubuh Rara dan menutupi pandangannya yang mengabur menjadi warna putih. Beberapa saat, akhirnya Rara kembali membuka mata dan melihat pemandangan di depannya.
Lihatlah! Ia tak tau ada dimana dirinya saat ini, namun yang pasti Ia berada di tempat dimana tempat itu sungguh sungguh indah. Kakinya yang kini berpijak pada padang luas rumput hijau, Ia juga dapat melihat sebuah air terjun di kejauhan juga Ia tak sendiri disini, di sekelilingnya banyak nampak Kelinci yang sedang berkeliaran.
Sejenak Rara lupa bahwa Ia tadi sedabg dalam pertarungan, Ia juga lupa bahwa Ia hampir saja mati dan sebuah cahaya datang membungkusnya lalu membawanya kemari, Ia sejenak lupa akan sekua itu. Rara melangkahkan kakinya berjalan menyusuri tempat itu, tempat ini benar benar mirip sebuah surga tersembunyi karna keindahan, kesejukan dan kenyamanannya.
Tiba tiba tatapan Rara terhenti saat melihat sesosok berjubah putih yang berjongkok membelakanginya sambil nampak memberi makan kelinci kelinci tersebut. Akhirnya Rara kembali ingat bahwa Ia berada di tempat yang Ia tak tau dan Ia hampir mati tadi saat sebuah cahaya membawanya kemari.
"Tak usah takut atau curiga, kemarilah," ucap sebuah suara yang berasal dari sosok berjubah putih tersebut, sesosok itu nampak berdiri dan berbalik melihat Rara. Seketika Rara sedikit kagum dengan sosok di depannya, itu adalah seorang Perempuan yang nampak seumuran dengannya dan memiliki rambut panjang berwarna putih, mata biru muda dan kulit putih halus.
"Cantiknya," gumam Rara tanpa sadar, Perempuan itu tertawa kecil mendengar gumaman Rara kemudian melambaikan tangannya, "Kau juga cantik Ra."
"Kak, Kakak siapa? Dan ini dimana?" tanpa Rara sadari, Perempuan di depannya membuat dirinya terpikat dan kembali mengeluarkan sifat aslinya, sifat polos dan kekanak kanakan. Perempuan itu nampak tersenyum sejenak mendengar itu kemudian mengajak Rara duduk di salah satu dahan pohon besar di dekst Mereka, di belakang Mereka terdapat sebuah air terjun membuat suasana lebih sejuk dan nyaman.
Bukan hanya itu, begitu Rara dan Perempuan itu duduk, kelinci kelinci dibsekitar Mereka mendadak berlari ke arah Mereka dan mengelilingi Mereka lalu diam seakan juga ingin ikut mendengar cerita. Rara yang melihat itu menjadi gemas dan mengambil salah satu kelinci lalu memeluknya erat, Perempuan itu nampak tersenyum melihat sifat kekanak kanakan Rara.
"Baiklah, Cerita ini dimulai dari hidupnya seorang Perempuan dari sebuah bangsa hebat yang juga merupakan anak dari pemimpin bangsa tersebut. Menjadi anak dari pemimpin membuatnya juga begitu berbakat, kuat serta tak lupa, cantik. Banyak laki laki yang menyukainya, juga mengincarnya untuk dinikahi, namun sayangnya Perempuan itu terlalu dingin atau terlalu tak mau menikah karna pertama Ia masih muda, dan yang kedua Ia masih belum menemukan cinta sejatinya. Akhirnya kemudian Ia memutuskan untuk pergi berkelana, Berharap Ia bisa menjauhi hal hal tentang pernikahan juga untuk mencari cinta sejatinya," mulai cerita Perempuan itu.
"Tunggu dulu Kak!" ucap Rara menyela membuat Perempuan itu menoleh menatap Rara bingung.
"Ada apa?"
"Emm... Perempuan itu Kakak ya?!" ucap Rara menebak, Perempuan itu tersenyum, "Bagaimana kau tau?"
"Soalnya perempuan itu cantik," jawab Rara polos, justru jawaban polos Rara tersebut membuat pipi Perempuan itu mendadak memerah dan Ia tersenyum malu. Perempuan itu mengangguk, "Baiklah lupakan itu sejenak, mari Kita lanjutkan ceritanya."
"Saat itu Aku benar benar kesal berada di rumah, pasalnya banyak sekali Pemuda pemuda dari bangsaku yang datang entah itu sekedar melihatku, metayuku atau bahkan lebih beraninya melamar ke Orang tuaku. Beruntung saat itu Aku merupakan Orang terkuat di generasiku sehingga tak ada yang berani atau bahkan coba coba untuk melecehkanku."
"Akibat lama hal itu terjadi, terlebih setelah ulang tahunku ke 17, akhirnya Orang tua ku juga bertanya tanya apakah Aku ingin menikah? Aku menjawab Aku belum ingin, pertama Aku ingin menjadi sekuat Ayahku yang merupakan Pemimpin Rasku, kemudian Aku juga belum menemukan cinta sejatiku," cerita Perempuan itu kemudian menoleh menatap Rara.
"Rara gak tau, tapi yang pasti Rara sangat mencintai Feng Gege, Rara gak bisa jauh dari Feng Gege, sampai kemarin Feng Gege tiba tiba gak ada di samping Rara, Rara rasanya mau mati aja. Tapi Feng Gege datang dalam mimpi Rara, bilang Rara pasti bakal bertemu Feng Gege lagi, tapi, Rara harus menjadi kuat sebelum itu. Sampai sekarang Rara sangat merindukan Feng Gege, itu makanya Rara coba bersikap kayak Feng Gege, dingin, kejam tapi tetap penuh kasih sayang," jawab Rara panjang lebar juga dengan kesedihan jelas yang tergambar dalam ekspresi wajahnya. Perempuan itu ikut terdiam kemudian tersenyum mengelus kepala Rara.
"Maka itu jugalah yang pertama kali Aku rasakan saat bertemu cinta sejatiku," ucap Perempuan itu membuat Rara kembali mendongak dengan nada bertanya.
"Siapa cinta pertama Kakak itu?" tanya Rara, Perempuan itu tersenyum menjawab.
"Dewa Kematian."
...- - -...
Phoenix Es maupun Saudara tertua menatap kebingungan ke arah tempat Rara tadi berdiri. Pasalnya di saat seperti itu, saat hanya butuh satu serangan lagi untuk Rara di habisi oleh Phoenix Es, tiba tiba Ia menghilang bersama cahaya yang menyilaukan Phoenix es dan Saudara tertua. Disisi lain Phoenix Es merasa ada yang janggal sedangkan Saudara tertua langsung panik begitu melihat Rara menghilang.
"Kemana Dia?" ucap Phoenix es marah, padahal hanya sedikit lagi untuk menghabisi Rara yang malah justru menghilang entah kemana.
Disisi lain Saudara tertua juga panik, namun Ia dengan cepat dapat mengendalikan dirinya dan berpikir logis. Jika Ia panik mencarinya maka bukan tak mungkin Phoenix es akan melihatnya dan membunuhnya jadi Ia langsung menyembunyikan auranya dan diam diam menyelinap bersembunyi, Ia tidak berniat pergi karna Ia yakin bahwa sesuatu akan terjadi setelah ini.
Benar saja, mendadak dari langit melesat 3 Bayangan yang salah satu sosok bayangan itu mendadak menyerang Phoenix Es tersebut dan memukul kepalanya. Phoenix es tak sempat menghindar dan langsung terhempas menghantam tanah.
"Raja Iblis!" gumam Saudara tertua melihat tiga sosok bayangan itu ternyata adalah dua saudaranya dan Raja Iblis yang baru saja menyerang Phoenix Es tadi.
Phoenix Es yang di serang tiba tiba seperti itu dan bahkan sampai membuat dirinya terhempas ke tanah tentu saka langsung marah dan bangkit dengan aura kuat keluar dari tubuhnya.
"Siapa yang bersni menyerangku?!" Raungnya marah sambil bangkit menatap sekitarnya.
Sesosok dengan dua tanduk dan sepasang sayap maju, tubuhnya juga mengeluarkan Aura yang lusr biasa kuatnya.
"Aku!"
...- - -...