
Mata Feng terus memperhatikan sekitarnya meski mulutnya sedang dalam mengunyah. Berbeda dengan Rara yang selalu fokus jika makanan sudah terhidang di hadapannya.
Segerombolan Orang memasuki restoran, membuat seluruh perhatian Orang di kafe tersebut beralih ke arah rombongan Orang yang baru saja memasuki restoran tersebut.
Feng ikut menoleh melihat rombongan Orang itu dan menemukan bahwa Mereka memakai baju seragam yang mewah, berisikan beberapa Pemuda dan Pemudi dan rombongan itu dipimpin oleh seorang Pemuda yang kekuatannya berada di tingkat Bumi lapis 9. Orang orang di restoran mulai berbisik bisik begitu melihat rombongan ini memasuki restoran. Feng menajamkan pendengarannya berusaha mendengar apa yang dibisikkan Orang orang.
"Bukankah itu Murid murid Akademi Dewa? Kenapa Mereka bisa sampai kesini?"
"Iya, padahal Akadami Dewa adalah Akademi terbesar di Alam Dewa dan letaknya pun berada jutaan kilometer dari sini di Kekaisaran Dewa."
"Apakah ada misi yang membuat Mereka sampai kesini?"
Feng mendengarkan informasi dari Orang orang tersebut dengan seksama, kemudian mengangguk paham saat sudah menemukan intinya.
Rombongan Pemuda pemudi tersebut berasal dari Akademi Dewa, Akademi Dewa sendiri adalah Akademi terbesar di Alam Dewa. Akademi ini berisi lebih dari jutaan Dewa dari seluruh penjuru Alam Dewa. Selain kuantitas, kualitas Akademi Dewa pun tak dapat di remehkan. Orang orang terkenal dam hebat dari seluruh Alam Dewa pun berasal dari sana. Akademi Dewa di bangun sendiri oleh Kaisar Dewa dan menjadi salah satu kekuatan tak terandingi di Alam Dewa.
Feng memperhatikan lebih jelas dan menemukan bahwa Murid murid di Akademi Dewa ini berada di tingkat Bumi lapisl 7,8 dan 9. Mereka berjalan dengan gaya khas congkak dan sombongnya, kemudian langsung mengambil salah satu meja paling besar di restoran ini. Mereka melempar sekantong koin Dewa kepada salah satu pelayan terdekat dan mengibaskan tangannya.
"Berikan Kami makanan paling mewah disini," ucapnya sombong, Semua Orang diam tak ada yang berani berkata keras di hadapan Murid murid Akademi Dewa tersebut. Pelayan yang menerima sekantong koin Dewa tadi tergopoh gopoh berlari menghidangkan makanan. Makanan dengan cepat terhidang di meja Mereka dan Mereka langsung sibuk menghabiskan hidangan di depan Mereka.
"Hey kemari," Pemuda yang menjadi Pemimpin rombongan memanggil Pelayan yang tadi Ia berikan sekantung uang. Pelayan itu berjalan mendekat dan Pemuda itu menyuruh Pelayan itu duduk di sampingnya, Pelayan itu menurut ikut duduk.
Maka selanjutnya Orang orang sudah tau akan seperti apa jadinya, Pemuda itu menggoda pelayan tersebut dan Pelayan itu tak berdaya meski tubuhnya tampak menolak godaan Pemuda tersebur. Orang orang terdiam, tak ada yang berani menghentikan atau bahkan sekedar menegur Pemuda itu.
Brakk...
Seseorang menggebrak meja tempat rombongan Murid murid Akademi Dewa itu duduk membuat seluruh makanan berserakan dan seluruh Orang terkejut melihatnya.
Itu Resepsionis tadi, Feng dan Rara saling memandang begitu melihat Orang yang begitu berani menggebrak meja Murid murid Akademi Dewa itu adalah Resepsionis tadi. Seluruh Orang terdiam berdebar menunggu apa yang akan terjadi atas tingkah berani Respsionis itu.
"Kau! Beraninya Kau!" Salah seorang Murid Akademi Dewa berteriak marah menunjuk Resepsionis tersebut, Ia langsung mengeluarkan auranya yang berada di tingkat Bumi lapis 8. Resepsionis itu tak tampak takut dan justru memandang Murid Akademi Dewa itu menantang.
Merasa di tantang, Murid itu langsung melayangkan tinjunya ke arah Resepsionis itu.
Boom... Pukulan itu dengan mudah di tahan si Resepsionis dan memutar tangannya, membanting murid tadi keras. Semua Orang yang melihat itu terkejut, Mereka tak menyangka bahwa Resepsionis yang tampak masih di tingkat Bumi lapis satu tersebut justru bisa dengan mudah mengalahkan Murid Akademi Dewa yang berada di tingkat Bumi lapis 8 dengan mudahnya. Feng dan Rara tersenyum tipis sama sekali tak terkejut. Mereka berdua jelas tau, bahwa sebenarnya Resepsionis itu bukanlah berada di tingkat Bumis lapis 1 melainkan tingkat Langit lapis 1. Tentu saja tak ada yang menyadari itu, kecuali Feng dan Rara yang kekuatannya jauh di atasnya.
Seluruh Murid Akademi Dewa itu berdiri begitu melihat temannya di banting dan menatap marah ke arah Resepsionis tadi. Resepsionis itu justru dengan santainya menatap Murid murid Akademi Dewa itu kemudian menarik Pelayan yang di goda Murid Akademi Dewa tadi dan menyuruhnya pergi.
"Akademi Dewa? Menurut Kalian, Kalian cocok menjadi Murid Akademi Dewa dengan sikap Kalian ini?" balas Resepsionis itu santai. Pemuda tadi langsung mengerutkan dahinya begitu melihat Resepsionis ini tampak santai dan tak takut sama sekali meski Ia telah menyebut Akademi Dewa.
"Sudahlah, lebih baik Kalian pergi sekarang atau jangan salahkan Aku bertindak lebih jauh," ucap Resepsionis sambil melambaikan tangannya, Murid murid Akademi Dewa itu kembali marah mendengar pengusiran itu dan ingin menyerang Resepsionis bersamaan.
"Tunggu," tahan Pemuda tadi kepada Teman temannya, tiba tiba ekspresinya berubah menatap Resepsionis itu dan langsung menunduk sedikit, seperti memberi hormat.
"Baiklah, Kami akan pergi," ucap Pemuda itu mengajak teman temannya pergi. Teman temannya tentu saja ingin protes atas sikap Ketua Mereka namun melihat tatapan tajam dan mimik muka serius yang Mereka lihat dari Ketua Mereka. Mereka urung protes dan memilih ikut pergi.
Resepsionis tadi menggeleng menatap rombongan tadi dan melirik seluruh Orang di Restoran yang kini tengah menatapnya. Hanya ada 2 Orang yang tak menatapnya, bahkan sama sekali tak melirik kejadian barusan dan lebih memilih asyik ke makanannya.
Resepsionis itu melihat Feng dan Rara sejenak dan berfikir apakah Mereka menyesal karna mengancamnya tadi? Namun nampaknya Feng dan Rara juga masih begitu santai sama sekali tak peduli dirinya yang berhasil mengusir Murid murid Akademi Dewa tadi.
"Siapa sebenarnya Mereka berdua?"
...- - -...
Tap... tap...
Langkah kaki itu melangkah dengan halus di atas permukaan atap. Bayangan itu bergerak dengan cepat dan lincah, lenuju satu tujuan.
Feng menatap ke atas, ke arah langit langit kamar. Cerita yang sedang Ia ceritakan pada Rara sebagai pengantar tidur terhenti. Ia ingin bangkit dari tempat tidur, namun Rara menahan tangannya.
"Biar Rara aja," ucap Rara dingin. Feng mengangkat sebelah alisnya melihat Rara. Baru kali ini Ia melihat ekspresi dingin Rara dan sama sekali tak nampak lagi sifat kekanak kanakannya jika ekspresinya sudah begini.
Feng mengangguk membiarkan Rara yang mengurusnya. Rara langsung menghilang, Feng menghela nafas memilih kembali bangkit dan beranjak ke bawah meminta segelas minuman hangat untuknya dan Rara.
"Semoga Pelakunya tak mati."
...- - -...
Assalamualaikum...
Maaf ya, 3 Hari ini gak up, Author sakit sehingga harus berbaring terus di kasur.