
Tring!
Boom!
Arrrgh!
Suara pertarungan tersebut membuat Feng dan Rara menyerit lalu masuk menuju sumber suara, sampai disana Mereka dapat melihat sekumpulan Orang yang sedang melawan seekor Tikus raksasa.
Feng dan Rara terkejut saat tau Orang orang tersebut adalah Di Shi, Wang Yi dan 4 anggota lainnya.
Tikus raksasa itu sendiri ada pada tingkat Rendah namun setara tingkat Perak lapis 1, sedangkan Di Shi, Wang Yi dan yang lainnya sama seperti Feng yang tiba tiba kultivasinya ditahan hingga hanya sampai Perunggu lapis 7.
Zrasssh...
Mata semua Orang terbelakak saat Murid dari Sekte Naga Langit mendorong Wang Yi menjadi tamengnya sehingga serangan itu membuat tangan Wang Yi terluka parah.
"Si_lan! Apa yang Kau lakukan!" umpat Murid Sekte Malam Gelap.
"Apalagi, tentu saja melindungi hidupku, lagipula Ia sudah tak berguna," balas Murid Sekte Naga Langit.
Sedangkan dari jauh, Feng hanya diam dengan tatapan dinginnya kemudian memberi Rara beberapa pil penyembuh yang pernah Ia buat.
"Ra, pergi obati Orang orang itu kecuali Murid Sekte Naga Langit itu, Aku akan mengurus Monster kecil ini," ucap Feng, Rara mengangguk paham.
Feng kemudian mengaktifkan 3 Tanda Neraka, dan anehnya Tanda Neraka tak tertahan seperti kultivasinya sehingga kini Feng sama saja kembali naik 9 tingkatan ke tingkat Perak lapis 6.
Juga dengan seluruh keterampilannya, Ia saat ini bukan tidak mungkin melawan pada Tingkat Bumi dengan imbang.
Boom!
Semua Orang termasuk Di Shi dan Wang Yi terkejut saat tiba tiba sebuah tinju menghantap kepala Tikus raksasa itu hingga pecah.
"Saudara Feng!" ucap Wang Yi senang dan semangat.
"Obati dulu luka Kalian, obatnya ada pada Rara, Aku akan mengurus semuanya disini," ucap Feng tanpa menoleh lalu maju kedalam gelapnya lantai 1.
Semua Orang terus memperhatikan lantai 1 yang gelap tempat Feng masuk, Mereka juga bergidik ngeri saat teriakan, raungan lolongan, ledakkan terdengar menyahut nyahut dari dalam lantai 1 tersebut.
"Wangwang, Shishi, ini obat Kalian," ucap Rara menyerahkan pil dari Feng, Wang Yi dan Di Shi sadar dari lamunannya kemudian menerima obat dari Rara sambil berucap terima kasih.
"Hey! Obat untukku mana?!" marah Murid Sekte Naga Langit tadi saat melihat seluruh Peserta disana mendapat Pil penyembuh sedangkan Ia sendiri tak mendapatkannya.
Rara menoleh lalu menatap tajam Murid Sekte Naga Langit tersebut.
"Orang jahat gak boleh dapat Pilnya!" ketus Rara.
"Heh, Gadis kecil apa apaan maksudmu?!" bentak Murid Sekte Naga Langit itu.
"Tadi Orang jahat dorong Wangwang kan sampai terluka!" balas ketus Rara.
"Jadi Kau membela sampah ini, dasar J_lang!" teriak marah Murid Sekte Naga Langit.
"Siapa yang Kau sebut J_lang!" sebuah suara disertai Aura kematian yang pekat membuat seluruh Orang merinding dan menoleh melihat Feng yang berjalan dari gelapnya lantai 1 dengan darah berlumuran di tubuhnya.
Sekali lihat saja, Mereka sudah tau itu adalah darah Hewan Buas bukan darah Feng sendiri.
"Jawab!!" bentak Feng mengarahkan Aura kematinnya ke Murid Sekte Naga Langit itu.
Murid Sekte Naga Langit itu langsung jatuh berlutut, semua Orang yang melihat itu tak berniat membantu karna Mereka sudah melihat kekejaman Feng terhadap Ji Yao.
"K-kau..." omong Murid Sekte Naga Langit itu putus putus.
Feng tersenyum sinis lalu mengangkat kakinya dan menginjak kepala Murid Sekte Naga Langit tersebut.
"Kau ingin mengancamku dengan Sekte lemahmu itu, hahaha... bahkan jika 3 Kekaisaran yang menghina dan melukai Orang yang Aku cintai maka Aku akan langsung bersumpah saat itu juga akan memusnahkan 3 Kekaisaran itu!" sinis Feng menekankan injakannya pada kepala Murid Sekte Naga Langit tersebut.
Semua Orang yang mendengar ucapan Feng ntah kenapa seakan percaya bahwa Feng sebenarnya memang benar benar bisa memusnahkan 3 Kekaisaran.
"Bahkan akan ku buat seluruh Dewa dan Iblis berlutut di bawah kakiku, ingat itu!" lanjut Feng.
Kreek!
Boom!
Kepala Murid Sekte Naga Langit itu pecah dibawah hantaman kaki Feng, Feng menutup mata sesaat menghembuskan nafas perlahan untuk meredakan emosinya kemudian menatap Di Shi, Wang Yi dan yang lainnya.
Di Shi, Wang Yi dan lainnya yang di tatap Feng menjadi terdiam gugup, keringat dingin mengalir dipunggungnya.
"Siapa yang melukai Kalian sebelum masuk ke sini?" tanya Feng membuat Mereka semua terkejut.
Feng dari awal memang sudah memperhatikan beberapa luka yang ada pada Mereka, dan luka tersebut bukan dari Hewan Buas melainkan dari tebasan Pedang atau luka senajata lainnya.
Mereka semua terdiam hingga akhirnya Wang Yi mulai angkat bicara.
"Saudara Feng, sebenarnya sebelum masuk kesini, Kami memang dikejar kejar oleh kelompok perwakilan Kekaisaran Matahari, 2 diantara Kami mati karna membantu Kami untuk kabur," ucap Wang Yi sedih sambil mengepalkan tangannya.
"Kekaisaran Matahari," gumam Feng dingin namun tersirat kebencian dan kekejaman di setiap kalimatnya.
"Baiklah, sementara Kalian istirahat dulu sehari disini," ucap Feng kemudian beritirahat, yang lainnya mengangguk lalu ikut beristirahat.
"System?"
Feng menghela nafas, sama seperti Ia saat berlatih di Alam milik Penguasa Dunia, kali ini System kembali tak dapat digunakan.
...- - -...
Hutan Daratan Hitam
"Sial, Kita kehilangan mangsa Kita," umpat Da Bai kesal.
"Lain kali, jika bertemu Aku pastikan untuk menikmati tubuh Tuan Putri itu hahaha..," tawa Pangeran kedua.
"Hmph! Cepat atau lambat Kita pasti menemukan Semut semut itu," dengus Ning Mei, sedangkat Putri Mentri Han yang merupakan tunangan Pangeran Pertama bernama Han Si hanya mengangguk setuju.
Pangeran Pertama sendiri juga kesal namun hanya diam saja.
Beberapa meter di belakang Mereka, Ru Lang yang merupakan Ketua kelas sebelum di kirim ke Dunia ini menggertakkan giginya menatap sekumpulan Orang didepannya.
Ia benar benar kesal, dan marah pada Pangeran Mahkota, Pangeran Kedua, Han Si, Da Bai dan Ning Mei yang bersikap seenaknya.
Bahkan tadi Mereka mengorbankan 5 anggota lainnya tanpa rasa bersalah saat melawan Hewan Buas tingkat Tinggi demi sepucuk Sumber Daya.
Sebenarnya Ru Lang sudah ingin pergi dari kumpulan Orang bodoh ini, namun Ia sadar jika Ia pergi akan di katakan pengkhianat lalu Ia akan diserang.
Hak tersebut sama saja bunuh diri mengingat kultivasinya masih dibawah Pangeran Mahkota, Pangeran kedua dan Han Si.
...- - -...