
"Baiklah, mari Kita masuk ke babak pertama dari Turnamen ini," ucap Old Xi.
"Disini ada 10 gendang, Kalian hanya perlu memukulnya hingga mengeluarkan suara, dan jika Kalian ingin lolos ke babak selanjutnya maka Kalian harus minimal dapat memukul serta membuat suara dari 3 gendang," jelas Old Xi.
Para Peserta maupun Penonton mulai berbisik bisik mendengar penjelasan Old Xi, Mereka menatap remeh ke gendang gendang tersebut seakan mudah untuk dipukul.
"Hei hei, bukankah itu terlalu mudah," bisik salah seorang Peserta.
"Ya, sangat mudah malah," sahut bisik yang lainnya.
Feng hanya diam walau Ia tau pasti tak sesederahana dan semudah yang dikatakan Old Xi tentang memukul gendang tersebut, Ia bahkan dapat melihat dengan jelas bahwa Old Xi diam diam tersenyum tipis saat mendengar bisik bisik Penonton maupun Peserta.
"Baiklah, Kalian sudah mendapat No antrian bukan, silahkan untuk No 1 maju kedepan dan memulai seleksinya," ucap Old Xi.
Kemudian tampak seorang Laki laki berbadan besar serta berotot naik ke atas panggung, dipunggungnya tersarung Pedang besar dan Ia hanya mengenakkan celana pendek tanpa baju atasan sehingga memperlihatkan tubuhnya.
"Hei lihat, bukankah itu Ji Bai!" ucap salah satu Peserta didekat Feng.
"Ya, itu Ji Bai Anak dari Tetua tiga Keluarga Ji kabarnya Ia kini sudah sampai di Tingkat Perak lapis 3!" sahut yang lainnya.
"Ya, Benar benar jenius diumur yang ke 20 tahun sudah di Tingkat Perak," ucap yang lainnya.
Feng diam diam tertawa dalam hatinya, 20 tahun Tingkat Perak dibilang jenius? bagaimana reaksi Mereka jika mengetahui Feng yang kini berumur 17 tahun yang pada Tingkat Langit, mungkin Mereka akan mencongkel matanya saat tau itu.
Namun Feng tetap memilih untuk bersikap low profile, Ia tak berniat membuat banyak masalah atau urusan jika sampai ada yang tau kekuatannya.
Disisi lain, Ji Bai naik ke Panggung dan berdiri didepan 10 gendang tersebut.
Ia meremas remas tinjunya dan mengangkat tangannya bersiap untuk memukul.
Dong!
Gendang Pertama!
Dong!
Gendang ke Dua!
Orang orang yang melihatnya menatap kagum karna Mereka mengira Ji Bai melakukannya dengan mudah, namun aslinya tak seperti itu dan Feng melihatnya dengan sangat jelas.
Ji Bai kini berkeringat, Ia bahkan sudah menghabiskan Qi nya hanya untuk 2 pukulan tadi dan kini Ia harus memukul 1 lagi untuk lolos.
Ji Bai mengangkat tangannya, dengan kekuatan fisiknya mencoba memukul gendang ke Tiga.
Bom!
Bukan gendangnya yang bersuara melainkan Ji Bai yang sudah terpental jauh setelah memukul hingga menabrak dinding pembatas antara Arena dan Area Penontong.
Orang orang yang melihat itu membuka matanya lebar dengan raut wajah tak percaya.
"Peserta No 1, Gagal!" ucap Old Xi membuat semua Orang terdiam.
Kini Mereka tak lagi meremehkan ujian pertama itu.
Peserta No 2 pun maju, Ia adalah seorang Wanita dengan gaun putih cantik, saat Ia naik ketas Arena tak ada Pria yang tak terpikat dengan kecantikannya kecuali Feng tentu saja.
Wanita itu adalah Tuan Putri Kekaisaran Bulan.
Di Shi!
"Tuan Putri, semangat!"
"Tuan Putri Kau sangat cantik!"
"Tuan Putri Kau adalah Dewi!"
"Tuan Putri, Aku mencintaimu!"
Sorak demi sorakan mengiringi langkah Gadis tersebut ke atas arena, Di Shi berdiri lalu memasang kuda kudanya.
"Elang Bulan Salju, Di Mo, Keturunan Mu memang jenius," ucap Feng pada Di Mo namun hanya sedikit ada nada pujian disana.
"Ya Tuan, tapi dibandingkan Tuan dan Nona keturunan ku masih kalah jauh," ucap Di Mo merendah, Feng hanya diam setuju dengan ucapan Di Mo karna diliat dari manapun, Feng dan Rara adalah 2 Jenius di 3 Kekaisaran dan 3 Benua.
Elang Salju Bulan sendiri termasuk Hewan Bela Diri Tingkat Surka, dimana jika Hewan Buasnya ada pada Tingkat Tinggi.
Semua Orang masih terdiam terkagum kagum melihat Roh Bela Diri Di Shi, namun yang membuat Mereka bertambah terkejut Adalah Aura yang dikeluarkan oleh Tuan Putri Kekaisaran Bulan tersebut.
Tingkat Emas Lapis 2!
Semua Orang tambah terkagum mengetahui hal tersebut, Di Shi kini berumur 17 Tahun dan sudah pada Tingkat Emas Lapis 2, sungguh jenius!
Di Shi yang kini berada di Arena kemudian mengangkat tangannya dan bersiap memukul.
Dong!
Gendang 1!
Dong!
Gendang 2!
Dong!
Gendang 3!
Semua Orang terpana melihat hal tersebut, disisi lain Di Shi sedang mengatur nafasnya, Ia walau sudah dapat dibilang lulus namun Ia benar benar menginginkan hasil lebih.
Dong!
Gendang 4!
Suara yang dikeluarkan gendang ke empat juga kecil, setelah memukul gendang ke empat, Di Shi langsung terduduk lemas dengan Qi yang sudah habis.
"Peserta No 2, Lulus!" ucap Old Xi tersenyum puas.
Di Shi kemudian bangkit dan berjalan menuruni arena dibawah tatapan kagum dan memuja banyak Orang.
Ujian pun terus dilanjutkan hingga kini giliran No 7 yaitu Feng.
Feng berjalan naik ke atas Arena, semua Orang yang melihat wajah Feng terutama Wanita tak tahan untuk tak terpekik kagum.
Ketampanan Feng sungguh benar benar membius seluruh Penonton.
"Hei, siapa Dia, Dia sangat tampan!" bisik salah seorang Penonton Perempuan.
"Ya, Dia benar benar Dewa yang sangat tampan!" ucap yang lainnya.
"Dia memang tampan, tapi tadi saat mendaftar Ia sudah membuat masalah dengan Tuan Muda Keluarga Ji, mungkin ketampanannya tak akan bertahan lama," ucap Penonton yang melihat kejadian tadi antara Feng dan Tuan Muda Keluarga Ji.
Disisi Lain, Ji Yao yang melihat Pemuda yang membuat tangannya patah saat sebelum pendaftaran tadi mebaiki Arena tak tahan untuk tak menggertakkan gigi dengan geram.
"Bocah itu!" geramnya, seorang Laki laki yang seumuran dengannya yang berada disampingnya kemudian berkata pada Ji Yao.
"Tuan Muda Ji, tenanglah, Kita tidak bisa membunuhnya sekarang karna itu akan membuat nama Tuan Muda Ji tercemar lebih baik Kita membunuhnya saat ujian kedua," saran Laki laki tersebut.
Ji Yao terdiam sesaat kemudian mengangguk.
"Kau benar, Ji Zang, Aku akan membunuhnya saat ujian Kedua bersiaplah mati Kau dasar Pemuda sialan!" geram Ji Yao tersenyum licik.
Disebelahnya, Laki laki yang bernama Ji Zang yang merupakan Anak Tetua Satu Keluarga Ji serta tangan kanan Ji Yao juga ikut tersenyum licik.
Feng sendiri dapat mendengar ucapan Ji Yao dan Ji Zang walau dalam jarak cukup jauh hanya tersenyum tipis.
"Kita lihat siapa yang membunuh siapa Tuan Muda Ji."
...- - -...