The System

The System
Daratan Hitam



"Nek, Kau benar benar membuatku penasaran," ucap Feng duduk di tanah.


Nenek Ki tersenyum kemuda membuka mulutnya hendak berbicara.


"Orang sepertiku dan Penguasa bodoh itu berbeda dengan Kalian para Pendekar," ucap Nenek Ki.


"Kami mungkin memang kuat, namun kekuatan Kami tak dapat di gunakan seenaknya, kekuatan Kami hanya bisa digunakan untuk membimbing Orang sepertimu dan Gadis ini," lanjutnya.


"Segala tujuan kembali padamu, dan segala pemikiran akan selalu datang menerpamu, Kau dan Gadis ini hanya memiliki 2 pilihan, yaitu mengikuti atau diikuti, siapa Aku dan siapa Penguasa bodoh itu semua akan Kau ketahui saat tiba waktunya berhenti di tangamu," akhir Nenek Ki kemudian berbalik kebelakang menatap Feng.


"Kini Latihanmu belum akan kembali di mulai karna Aku tau ada dendam yang harus Kau balaskan," ucap Nenek Ki kemudian melempar 2 bola kecil bewarna putih pada Feng, Feng menangkap bola kecil tersebut lalu menatap Nenek itu, namun Nenek Ki sudah tak ada lagi disana.


"Saat segala urusanmu selesai, maka pecahkan bola itu untuk memulai kembali latihan Kalian," suara Nenek Ki.


Feng menghela nafas kemudian membaringkan dirinya di tanah, Rara juga ikut membaringkan tubuhnya di samping Feng.


"Feng Gege, kalung yang Feng Gege kasih bagus," ucap Rara memegang kalung liontin di lehernya.


Feng tersenyum menatap Rara.


"Lalu?"


"Lalu?" beo Rara bingung.


"Hadiah untukku mana?" tanya Feng tersenyum, Rara terdiam mengetuk ngetuk keningnya berpikir.


"Em... Rara belum nyiapin hadiah buat Feng Gege," ucap Rara cemberut, Feng tertawa kecil kemudian bangkit dari tidurnya.


"Cukup Kau selalu bersamaku sudah menjadi hadiah terbesar untukku," jawab Feng kemudian berdiri.


"Sudahlah, ayo Kita jalan jalan dulu," ucap Feng, Rara mengangguk semangat kemudian bangkit dan melompat naik ke punggung Feng.


Feng dan Rara akhirnya memutuskan berjalan jalan, sesekali Mereka berhenti untuk memetik Sumber Daya berharga atau membunuh Hewan Buas.


1 Pekan kemudian...


"Groaaaar!"


Boom!


Sraaat!


Zrassh!


Feng dan Rara tampak sedang bertarung dengan seekor Macam bewarna biru tua dengan corak putih di tubuhnya.


Hewan Buas tersebut bernama Macan pembakar, Macan Pembakar adalah Hewan Buas tingkat Tinggi yang setara tingkat Surka lapis 7.


Macan Pembakar ini mengandalkan kukunya yang berapi dapat membunuh Pendekar tingkat Surka lapis 7 dan melukai parah para Pendekar tingkat Surka lapis 8 dan 9.


Setelah pertarungan beberapa jam, akhirnya Feng dan Rara berhasil membunuh Macan tersebut.


[Ding! Membunuh Macan Pemabakar : 1000 Point]


[Sisa Point : 100K]


Selama sepekan ini, Feng dan Rara melakukan kegiatan hari hari dengan jalan jalan, bertarung dan berlatih.


Mereka juga sudah banyak memburu Hewan Buas tingkat Tinggi sehingga Point Feng juga banyak yang bertambah.


Namun dalam sepekan ini, Mereka belum juga menemukan Peserta lain walau kadang Mereka sering mendengar suara ledakkan besar atau teriakan nyaring.


Kini Feng dan Rara tengah berjalan di Pantai sambil melihat lihat laut.


"Aarghh!" teriakan dan suara ledakkan tersebut membuat Rara dan Feng saling berpandangan lalu dengan cepat melesat menuju asal suara tersebut.


Sampai disana Mereka dapat melihat sekumpulan Orang yang sedang melawan seekor Kepiting besar.


Orang orang tersebut berjumlah 5 Orang dan merupakan perwakilan Kekaisaran Bintang, kini Mereka berlima tampak benar benar terpojok.


Feng dan Rara hanya diam memperhatikan tanpa berniat membantu, bukan tanpa alasan Feng dan Rara kini kehabisan Qi dan lagi Mereka berdua juga malas membantu disaat seperti ini.


Akhirnya kurang dari 10 Menit, 5 Orang tadi mati meninggalkan Kepiting besar itu yang hanya terluka kecil.


Kepiting besar tersebut hanya pada tingkat Bumi sehingga Feng tak perlu susah susah membunuhnya, Ia hanya menyuruh Di Mo untuk membunuhnya.


Hanya butuh satu kali serangan oleh Di Mo untuk membunuh Kepiting tersebut.


Feng kemudian menyimpan Kepiting tersebut dalam cincin Ruangnya lalu menatap Di Mo.


"Dimana makam Istrimu itu?" tanya Feng, Di Mo menutup matanya sesaat kemudian membuka matanya lalu menunjuk pada Menara hitam yang Mereka lihat sebelumnya.


Feng dan Rara ikut menatap Menara itu, kemudian beralih menatap Di Mo.


"Kau tau itu Menara apa?" tanya Feng.


"Tau Tuan, itu adalah Menara tempat ujian terakhir sekaligus jalan keluar dari sini," jawab Di Mo.


Feng menyeritakan dahinya karna teringat pada perkataan Nenek Ki tadi bahwa tujuan Feng dan Rara ada pada Menara itu, lalu kalau Menara itu adalah jalan keluar bukankah artinya itu adalah tujuan semua Peserta yang masuk.


Di Mo yang paham akan kebingungan Tuannya kemudian membuka mukutnya kembali berucap.


"Tuan, Menara itu hanya terdiri dari 3 Lantai dimana jalan keluar ada di Lantai 2 sedangkan di lantai 3 tak ada yang tau ada apa karna setiap Orang yang dikirim atau secara sukarela ke lantai 3 tak akan pernah kembali." jelas Di Mo.


"Ada rumor yang menagatakan bahwa di lantai 3 adalah tempat bersarangnya Hewan Buas tingkat Roh, ada juga yang menagatakan bahwa lantai 3 adalah jalan menuju Dunia berbeda," lanjut Di Mo membuat Feng sedikit bersemangat.


"Namun sepertinya yang dimaksud tujuan Nenek tadi terhadap Tuan dan Nona adalah menaklukan lantai 3," tebak Di Mo.


"Hahaha... Benar, apa yang dikatakan arwah bawahanmu itu benar, Kalian berdua harus menaklukan ujian ketiga sebagai awal latihan," suara Nenek Ki terdengar.


"Memangnya ada apa di lantai 3 itu?" tanya Feng berteriak.


"Hihihi... Kau akan segera tau setelah memasukinya, oh dan yang bisa masuk hanya Kau dan Gadismu, untuk arwah dan bawahanmu yang lainnya akan tetap diluar," lanjut Nenek itu membuat Feng terdiam.


"Huh... Baiklah, kalau begitu Kami akan pergi sekarang," ucap Feng bangkit diikuti Rara, kemudian Mereka berdua dengan cepat melesat menuju Menara itu.


Hanya butuh kurang dari 2 Jam, Feng dan Rara sampai didekat Menara tersebut.


Mereka turun lalu mengamati Menara tinggi itu sesaat, lalu melangkah hendak masuk ke dalam Menara itu.


Boom!


Feng dan Rara langsung terkejut saat merasakan langkah Mereka semakin maju semakin berat, Feng sendiri langsung mengetahui bahwa di sekitar Menara itu dipasang sebuah Segel Gravitasi yang akan membuat setiap langkah menjadi lebih berat.


Namun hal itu hanya berlaku untuk Orang di bawah tingkat Bumi, sedangkan Feng dan Rara yang sudah pada tingkat yang lebih tinggi dengan mudah dapat melalui itu dan mulai memasuki Menara.


Namun sepanjang jalan Feng sedikit terkejut saat dapat dengan jelas melihat beberapa jejak Orang yang tampaknya juga memasuki Menara lebih dahulu.


Feng dan Rara masuk dan terkejut saat secara tiba tiba, Kultivasi Mereka seperti ditahan hingga setara tingkat Perunggu lapis 7.


"Apa apaan ini?!" gumam Feng.


...- - -...