
"Betapa bodohnya Kekasihmu itu, Ia saja sudah bisa mengalahkan Kami tapi justru mengirim dirimu ke sini," ucap Kakek itu menatap Gadis kecil di depannya tersebut.
Rara yang mendengar kata Kekasih bodoh dari mulut Kakek tersebut seketika langsung kesal, dan hanya dalam hitungan detik Rara menghilang dan muncul kembali tepat di depan Kakek itu.
Boom!
Kakek itu pun terhempas jauh saat Rara melayangkan tinjunya yang tepat mengenai perut Kakek tersebut, Kakek tersebut juga langsung memuntahkan darah begitu terkena pukulan Rara.
Kakek dan Nenek itu membuka matanya lebar karna terkejut melihat begitu cepatnya Rara.
"Hmph! Feng Gege gak bodoh! Terus Rara kok yang minta lawan Kakek sama Nenek," ucap Rara menggembungkan pipinya kesal.
"Tapii... Kok Kakek kalah sih padahal itu tadi Rara tinju gak pake tenaga lho," ucap Rara dengan mata polosnya, semua Orang yang mendengar itu termasuk Kakek, Nenek dan Pasukan Feng tersedak terkejut.
"Gak pake tenaga aja udah sekuat itu," pikir Pasukan Feng berkeringat dingin.
Feng hanya tertawa kecil mendengar itu, Ia sama sekali tak terkejut mendengar hal itu dari mulut Rara, bagaimanapun juga Istri kecilnya itu begitu kuat.
"Sepertinya Kami harus melawan Kau dengan serius," ucap Nenek itu kemudian mengeluarkan Roh Bela Dirinya.
Siluet seekor Ular berwarna ungu keluar dari tubuh Nenek itu, Kakek tadi juga bangun dan mengeluarkan Roh Beladirinya yaitu Ular berwarna hijau.
Feng mengangkat sebelah alisnya begitu melihat Roh Beladiri Kakek dan Nenek itu.
Itu adalah Ular Racun Naga, Hewan Buas tingkat tinggi serta Roh beladiri tingkat Surka, sebagai pengguna Racun, Feng tentu saja juga tau kenapa Ular itu dinamai Ular Racun Naga.
Hal itu di sebabkan Racun Ular tersebut yang termasuk Racun mematikan, tapi kemudian Feng tersenyum tipis, dengan hal ini Ia ingin tau bagaimana Rara akan menghadapinya.
"Hei Gadis kecil! Lebih baik Kau keluarkan Roh Beladirimu itu," ucap Kakek itu menatap Rara.
"Hmph! Kata Feng Gege kalau Orangnya lemah gak usah pake Roh Beladiri," ucap Rara.
"Kau! Begitu sombong!" ucap Nenek itu emosi, Nenek itu kemudian bergerak cepat menyerang Rara begitu juga Kakek tersebut.
Rara dengan cepat dan lentur mengindari serangan Kakek dan Nenek tersebut, Feng yang melihat hal tersebut teringat sesuatu.
"Bukankah Ular selalu memangsa Kelinci," pikirnya tertawa kecil saat membandingkan Rara yang sedang melawan Kakek dan Nenek itu.
Setelah beberapa serangan, Kakek dan Nenek itu pun menyadari betapa perbedaan Mereka dengan Gadis kecil di depan Mereka saat ini.
"Nak! Lebih baik Kau keluarkan Roh Bela dirimu segera," ucap Kakek dan Nenek itu kemudian menyatukan telapak tangan Mereka, seketika itu Roh Beladiri Kakek dan Nenek itu menyatu dan berubah menjadi seekor Ular berkepala 2 dengan warna hitam.
Feng yang melihat itu sedikit terkejut, Jurus itu dinamakan penyatuan Roh Beladiri, Ia tak menyangka bahwa ada yang berhasil menggunakan Jurus itu di Benua ini karna Jurus itu terbilang susah di pelajari.
2 Orang yang mempelajari Jurus itu haruslah hatinya saling terikat kuat, dan sudah saling mengalami keadaan hidup mati berulang kali namun hasilnya jika berhasil di pelajari tentu saja sangat kuat.
Feng sebenarnya juga ingin mempelajari jurus itu dengan Rara, apalagi hati Mereka sudah terikat sangat erat, namun Ia memutuskan untuk mempelajarinya nanti saja saat Ia dan Rara sudah lebih kuat.
"Kali ini Kau pasti kalah!" ucap Nenek itu.
"Kabut Racun malam!" ucap Kakek dan Nenek itu, seketika Kabut muncul di medang perang itu menutupi seluruh yang ada di dalam pelindung yang dibuat Feng.
Namun hanya dalam hitungan detik seluruh kabut itu tiba tiba tersedot ke satu titik, itu adalah bola angin yang berada di tangan Rara, Feng tersenyum melihat kecerdasan Rara tersebut.
"Kau! Bagaimana bisa!" ucap Kakek dan Nenek itu terkejut, jurusnya tersebut terbilang kuat bahkan Orang pada tingkatan Surka pasti akan keracunan terkena Racunnya tersebut.
"Ok, sekarang giliran Rara yah," ucap Rara kemudian dengan cepat melesat ke arah Kakek dan Nenek itu sambil mengeluarkan Pedangnya.
"Tebasan Phoenix," ucap Rara kemudian menebaskan pedangnya, Energi tebasan itu melesat ke arah Kakek dan Nenek itu dengan cepat, Kakek dan Nenek yang tak sempat mengindar tersebut akhirnya membuat pelindung namun pelindung itu justru dengan mudahnya hancur dan tebasan itu masih meluncur menuju Kakek dan Nenek itu.
Slassh...
Slassh...
Bagai memotong sebuah Tahu, tebasang itu memotong Kakek dan Nenek itu jadi 2.
"Eh? Kok? Rara kan baru mulai!" ucap Rara dengan muka polosnya, semua Pasukan Feng tambah berkeringat dingin melihat kekejaman dan kekuatan Permaisuri Mereka tersebut.
Feng tersenyum kemudian menjentikkan jarinya dan seketika pelindung yang dibuatnya menghilang, Rara sendiri langsung dengan cepat memeluk Feng dengan muka kesalnya.
"Feng Gege, Kakek sama Nenek itu sangat lemah, Rara bahkan belum selesai Olahraga udah mati duluan," kesal Rara menggembungkan pipinya, Feng tertawa kecil melihat kekesalan Rara yang tampak sangat imut tersebut.
"Ya udah, nanti aja Olahranganya, sekarang Kita makan dulu gimana?" tawar Feng, muka Rara seketika langsung berubah dengan cepat menjadi senang sambil mengangguk girang.
Feng tertawa kecil melihat tingkah Rara tersebut, Makanan memang slalu menjadi obat dari kekesalannya.
...- - -...