
"Feng Gege..." ucap Rara tercekat sambil menangis panjang, tangisan yang membuat semua Orang yang mendengarnya tak mampu untuk menahan perasaannya agar tidak ikut bersedih dan menangis. Raja Iblis menundukkan pandangannya begitu juga para Mentrinya, Rara sudah bangun sejak 1 jam yang lalu dan langsung menangis sambil memeluk erat gelang peninggalan Feng.
Tangisan Rara memang tak sekeras seperti tangisan biasanya saat bersama Feng, namun tangisan itu membawa aura kesedihan yang menyebar ke seluruh penjuru bahkan tanpa Raja Iblis ketahui, kini seluruh Prajurit dan Rakyatnya di Kerajaan Iblis entah mengapa tiba tiba merasakan kesedihan yang mendalam. Raja Iblis sendiri juga merasakannya, merasakan seberapa dalam kesedihan yang dirasakan Permaisuri Mereka itu begitu kehilangan Orang yang paling Ia cintai tersebut.
"Raja..." panggil Mentrinya saat melihat setetes air mata keluar dari sudut mata Raja Iblis, Raja Iblis mengangguk menghapus air mata itu kemudian menghela nafas. Ia bangkit berdiri kemudian menatap seluruh Mentrinya.
"Aku akan pergi menemui Kaisar, Kalian jaga Permaisuri dari apapun itu hal yang berbahaya, nyawa Kalian taruhannya!" ucap Raja Iblis, para Mentrinya mengangguk, "Siap Raja!"
...- - -...
"Umurku baru 5 tahun saat itu, saat tubuh Kakakku langsung jatuh begitu roh Saudaraku itu menghilang. Aku tak tau, namun Aku langsung menangis nangis memeluk tubuhnya, Ia hanya tersenyum menyentuh muka ku."
"Kemudian berkata, 'Adikku, sebanyak apapun masalah yang terjadi padamu, yang membuat dirimu marah, kesal bahkan benci. Jangan pernah meletakkan dendam atas itu, jangan sekali kali karna itu hanya akan membawa kehancuran yang lebih banyak. Aku menyayangimu maka sayangilah Orang yang pantas engkau sayangi seperti rasa sayangku padamu, tetap tenang dalam situasi apapun dan jangan pernah menyombongkan diri atas hal sekecil apapun dalam dirimu.' Setelah itu Kakakku terdiam cukup lama membuatku menangis lebih kencang. 'M-maaf K-kakak tak bisa menemanimu l-lebih lama...' dan Ia pergi tanpa bisa ku cegah," akhir cerita Pemuda itu dengan ekspresi sedih. Feng yang mendengar dan memperhatikan Pemuda itu bercerita hanya bisa menutup mulutnya, meski Ia tak memiliki Kakak atau Abang, Ia juga dapat merasakan kesedihan akibat kehilangan keluarga yang paling Ia cintai.
"Feng Gege..." suara itu membuat Feng langsung sadar dari lamunannya dan menatap ke seluruh penjuru sisi, Pemuda di sampingnya tersenyum.
"Aku salah, ternyata ikatan cinta di antara Kalian berdua memang telah merusak tatanan alam," ucap Pemuda itu membuat Feng langsung menoleh menatapnya bingung, merusak tatanan Alam?
"Akan Aku jelaskan nanti tapi sebelum itu ada suatu hal yang harus Kau lakukan," senyum Pemuda itu.
...- - -...
Rara berjalan di tengah remangnya hutan, matanya tak lagi menandakan semangat kehidupan, begitu juga dengan muka dan gerak tubuhnya. Ia benar benar merasa putus asa, otaknya terus memutar kenangannya dengan Feng membuat luka di hati itu semakin bertambah besar. Tanpa Rara sadari Ia sudah berdiri di tepi sebuah jurang yang nampak dalam, Ia menatap kebawah melihat suasana gelap di dalam jurang tak berdasar tersebut.
"Feng Gege..." gumamnya menatap nanar kedalaman jurang itu, hanya dalam sepersekian detik Rara langsung mengambil keputusan untuk melompat ke dalam jurang. Setidaknya Ia bisa menyusul Feng bukan ke Alam sana?
Wushh...
Sebelum tubuh Rara sempat jatuh, sepasang tangan lebih dulu dengan cepat menangkap tangannya. Kemudian tanpa Rara bisa berpikir lebih lanjut, tubuhnya sudsh dibawa masuk ke dalam sebuah pelukan, pekukan yang sangat fsmiliar dengannya, pelukan yang paling Ia sukai.
"Hiks..." kemudian tanpa bisa mengucal sepatah kata, air mata Rara telah lebih turun mengalirkan semua perasaannya. Feng tersenyum dengan air mata menetes.
Cup... Ia mencium pucuk kepala Rara lama, tak ada yang berbicara selama beberapa detik.
"Sayang, Aku tak bisa berlama lama," ucap Feng tersenyum lembut, Ia bahkan pengganti panggilannya pada Rara dengan kata sayang. Rara menggeleng memeluk erat leher Feng, Ia tak mau! Ia benar benar tak mau berpisah dengan Feng apapun itu alasannya!
"Sayang..." panggil Feng lebih lembut, tapi panggilan itu justru membuat pelukan Rara semakin kuat.
"Sayang, Aku tak mungkin mati, Aku adalah tokoh utama dan Dunia ini terlepas entah ini benar benar nyata atau hanya sekedar cerita karangan. Namun maaf, Aku melanggar janjiku sebelumnya, Aku benar benar minta maaf, tak ada yang bisa Aku lakukan selain hal itu untuk menyelamatkanmu, karna meski seburuk apapun kondisi tak akan ada yang benar benar bisa mengambil nyawaku kecuali jika cerita ini ingin berakhir di tengah jalan." jelas Feng, Rara terdiam cengkaman pekukannya mulai mengendur.
"Namun mungkin selama beberapa waktu kedepan Aku tak bisa menemanimu," lanjut Feng membuat Rara kembali mengeratkan pelukannya, Feng tersenyum membelai rambut hitam panjang Rara.
"Tak apa, Kita pasti bertemu lagi percayalah, namun sebelum itu ada hal yang mesti Kita lakukan dan itu harus membuat Kita tak bisa bersama beberapa saat," saat mengatakan itu, tubub Feng perlahan bersinar dan pecah menjadi cahya cahaya kecil yang perlahan menghilang. Rara yang melihat itu panik dengan air mata mengalir deras.
"Tenanglah, ingat pesanku, latihanlah dengan keras, tingkatkan terus kekuatanmu karna semakin cepat kekuatanmu meningkat semakin cepat pula Kita bertemu," senyum Feng menepuk lembut kepala Rara perlahan Feng mendekatkan wajahnya ke wajah Rara dan...
Cup..
Itu ciuman terakhir sebelum tubuh Feng menghilang jadi cahaya dan menghilang.
...- - -...
Pemuda itu menghela nafas terdiam melihat Feng yang juga masih terdiam dengan air mata menetes, Feng yang sadar di tatap Pemuda itu langsung menghapus air matanya. "Aku tidak apa apa."
Pemuda itu tersenyum, " Sudah luapkan saja, cinta Kalian merupakan cinta puncak di seluruh alam bahkan merusak tatanannya."
Kalimat tersebut membuat Feng menoleh menatap Pemuda itu, merusak tatanan alam? Pemuda itu tersenyum menangguk.
"Kau mungkin pernah mendengar kisah cinta tentang sepasang kekasih yang rela meminum racun demi kekasihnya, afau kisah tentang cinta yang bertemu karna sebuah sepatu. Itu memang kisah cinta yang menarik namun juga terbalik."
"Cinta itu tak pernah melibatkan logika dan hanya mengandalkan perasaan, seseorang tak perlu nampak selalu mesra dengan kekasihnya hanya untuk menunjukkan cintanya, hal itu benar benar salah. Begitu juga kisah cinta yang ada di dalam dongeng dongeng tersebut, karna sejatinya kisah cinta itu bukan tentang sejauh mana Kau berkorban demi kekasihmu atau seromantis apaoun engkau dengan kekasihmu," jelas Pemuda itu kemudian menatap Feng yang nampak terdiam.
"Namun kisah cinta yang paling benar itu adalah seputar Ikatan!"
...- - -...