
"Ok, Kita sudah sampai," ucap Feng tersenyum tipis melihat para Pasukannya terpana melihat bangunan bangunan yang Ia rancang.
"Kaisar, Ini...," salah satu Pasukan Reinkarnasi bertanya sambil memandang Feng, Feng mengangguk kemudian berucap.
"Mulai saat ini Kalian akan tinggal dan berlatih di Dunia ku ini," ucap Feng kemudian menunjuk bangunan Asrama.
"Itu tempat tinggal Pasukan Reinkarnasi," ucap Feng kemudian menunjuk Hutan.
"Di hutan itu Aku juga sudah membuat tempat tinggal untuk para Hewan Buas," lanjut Feng.
"Ada beberapa tempat lagi yang ingin Aku jelaskan, tapi sebaiknya Aku jelaskan esok hari, sekarang Kalian pergilah ke tempat masing masing dan beristirahatlah," ucap Feng.
"Baik Kaisar!" ucap kompar para Pasukannya, kemudian Pasukan Reinkarnasi berjalan menuju Asrama, Hewan buas menuju Hutan sedangkan Kelelawar hilang kembali ke System.
"Hm... Sekarang, dimana Rara?" gumam Feng, namun baru beberapa detik Feng bergumam sebuah siluet cepat dari langit nan jauh terbang ke arahnya.
Wussh~
"Kaisar!" ucap Anan mendarat menunduk di hadapan Feng, Feng mengangguk.
"Dimana Rara?" tanya Feng.
"Em... Anu, Permaisuri sepertinya kelelahan dan terti-" ucap Anan namun terpotong oleh suara igauan.
"Feng Gege, itu indah," igau Rara, Feng tersenyum kemudian berjalan naik ke Anan lalu menggendong Rara turun.
"Makasih Anan sudah mau menemani Rara seharian," ucap Feng, Anan mengangguk.
"Sudah kewajibanku Tuan," ucap Anan kemudian berubah menjadi cahaya dan kembali menjadi gelang di tangan Feng.
Feng tersenyum melihat wajah polos Rara yang sedang tertidur dengan jari jempol dihisap.
Cup...
Feng mengecup dahi Rara kemudian berjalan masuk ke Istana yang Ia sudah buatkan kamarnya dan Rara di dalam Istana.
Ia kemudian membaringkan Rara dan menyelimutinya, kemudian mengecup mukanya beberapa kali lalu berjalan keluar.
"System bawa Aku keluar," ucap Feng.
[Baik Tuan]
Sekitar Feng kemudian berubah dan kembali menjadi tempat markas tempat Pasukan Reinkarnasi tadi, Feng kemudian berjala. keluar Markas.
"Saatnya menemui Dia," gumam Feng tersenyum.
...- - -...
Tok... Tok... Tok...
Kakek yang merupakan Kakek yang bertemu Feng pada malam itu tersentak, Ia sedang merancang alat pembunuh baru saat suara ketukan pintu mengalihkan fokusnya.
Memang semenjak bertemu dengan Feng pada Malam itu, entah kenapa Ia merasa Pemuda itu seperti benar benar bisa membantunya menemukan Pembunuh Cucunya yang Ia cari selama ini.
Namun untuk berjaga jaga, Ia memutuskan merancang alat untuk membunuh baru yang lebih rahasia dan tak di sadari siapapun.
Kakek itu pun bangkit dan berjalan membuka pintu, alangkah terkejutnya saat Ia membuka pintu dan menemukan seorang Pemuda berumur 17 tahun dengan mata dan rambut hitam tersenyum dingin padanya, Yap itu Feng.
"Ah, halo juga," jawab Kakek itu.
"Sepertinya Aku menganggu fokusmu dalam merancang alat membunuh baru ya," ucap Feng, hal tersebut tentu saja membuat Kakek itu tersentak kaget dan terkejut.
"Bagaimana Pemuda ini tau?" pikir Kakek itu, Feng tersenyum sudah menebak pikiran Kakek itu, tadi Ia memang sempat menyebarkan Qi nya sehingga Ia tau apa yang terjadi di sekitarnya.
"Kek, tak Kau persilahkankah Tamu mu ini duduk," ucap Feng, Kakek tadi tersentak dari lamunannya mendengar ucapan Feng.
"Ah iya, masuklah," ucap Kakek itu, Feng mengangguk kemudian berjalan memasuki Rumah Kakek itu, Rumah Kakek itu sederhana tak mewah dan masih layak di tempati.
Feng kemudian duduk berhadapan dengan Kakek itu.
"Kakek sudah memikirkan soal yang Aku katakan malam itu," ucap Feng tanpa basa basi.
Kakek itu menghela nafas kemudian mengangguk.
"Apapun permintaanmu akan Aku lakukan asal Aku dapat menemukan Cucuku," ucap Kakek itu, Feng tersenyum tipis mendengar itu.
"Baiklah, pertama Aku akan beri tahu dulu siapa Pembunuh Cucumu, Aku juga akan bantu membalas dendamnya tapi bersumpahlah Kau akan balas membantu apa yang ku minta," ucap Feng.
"Aku bersumpah," ucap Kakek itu mengangguk, Feng kemudian mengangguk kemudian berucap.
"Pembunuhnya adalah Kepala Keluarga Wang," ucap Feng membuat Kakek itu membuka matanya terkejut.
"Bagaimana mungkin?!" ucap Kakek itu terkejut, Feng mengangguk mulai menjelaskan.
"Aku tau Kau terkejut, Aku pun juga terkejut saat tau Kepala Keluarga Wang yang merupakan Kepala Keluarga dengan nama baik bisa melakukan itu, namun salah satu bawahanku bernama Di Mo sudah menyelidikinya," jelas Feng.
"Kepala Keluarga Wang melakukan ini untuk menambah kekuatannya, Aku tau, Kau dan Cucumu memiliki Qi yang tergolong istimewa namun tak di ketahui siapa siapa apalagi setelah Anak dan Menantumu tewas karna hal itu."
"Namun, Kepala Keluarga Wang mengetahui hal itu dan menculik Cucumu untuk melakukan semacam penyerapan untuk menambah kekuatannya."
"Kau tau bukan berita tentang Tuan Muda Wang yang di usir dari Keluarganya," ucap Feng, Kakek itu mengangguk.
"Sebenarnya itu bukan karena soal Perempuan yang mengaku di nodai Tuan Muda Wang tersebut namun karena Tuan Muda Wang tersebut hampir berhasil menemukan Cucumu yang di sekap tersebut, dan menurut pengamatan Anak Buahku, Cucumu masih Hidup."
Kakek itu tersentak kaget hingga berdiri, air matanya mengalir haru.
"Be-benarkah Li Hao masih hidup?!" ucapnya tak percaya, Feng mengangguk tersenyum.
"Kalau begitu Aku harus menyelamatkannya," ucap Kakek itu penuh semangat dan kemarahan, Feng menggeleng.
"Kau hanya bunuh diri jika berangkat sendiri saat ini," ucap Feng, Kakek itu menatap Feng mendengar hal itu.
"Aku akan membantumu, tapi tidak sekarang tapi besok, tunggulah Aku di depat gerbang Keluarga Wang," ucap Feng kemudian berdiri berjalan keluar.
"Terima Kasih banyak Tuan Muda," ucap Kakek itu, Feng mengangguk.
"Balas hal yang ku lakukan ini dengan perbuatanmu nanti."
...- - -...
...Instagram : @t_riq__...