
"Ra, ada apa?" tanya Feng melihat Rara yang seperti sedang memikirkan sesuatu, Rara yang sedang melamun berpikir itu langsung tersentak kemudian menatap Feng serius.
"Feng Gege, di-" Rara ingin mengatakan tapi urung saat melihat Mal Li datang sambil menggendong Mal Xia, Feng yang mengerti tak lagi bertanya dan mengajak Mereka semua untuk mulai makan.
"Enakkk..." ucap Mal Xia dengan mulut penuh makanan, Feng dan Mal Li tersenyum melihat itu.
"Iya donk enak, kan Ayah yang masak," sahut Mal Li membusungkan dadanya bangga, Feng yang melihat itu tersenyum menggeleng. Apanya yang memasak, menyuruh Mal Li membantunya saja membuat Feng teringat saat Ia menghukum Rara dan Ran dulu sampai dapur dibuat jadi medan perang, meski tak separah Ran dan Rara dulu, namun tetap saja menyusahkan.
...- - -...
"Feng Gege..." ucap Rara begitu Mereka masuk ke Kamar, Feng langsung bangkit berdiri dan menggendong Rara kemudian duduk di atas ranjang Mereka.
"Ada apa hm?" ucap Feng, Rara menatap Feng serius.
"Tadi, waktu Rara aja Xia xia main keluar, ada Orang yang mata matain Kami," ucap Rara, Feng diam tersenyum tipis.
"Lalu bagaimana? Apa Orang itu mengganggu Kalian?" tanya Feng, Rara menggeleng.
"Dia cuman mata matain tapi gak ngapa ngapain, tapi tadi buat jaga jaga Rara..."
...- - -...
Esok Harinya...
Tok... Tok...
Pintu kamar Feng dan Rara di ketuk, membuat Feng terbangun sedangkan Rara masih tidur nyenyak di pelukannya. Feng meletakkan kepala Rara di atas bantal kemudian bangkit membuka pintu, di depan pintu, Mal Li sudah berdiri.
"Tuan Feng, kemarin sudah menyuruhku datang untuk apa?" tanya Mal Li, Feng mengangguk kemudian menyuruh Mal Li menunggu sejenak, Ia ingin membersihkan diri dulu.
. . . . . . . .
"Aku akan membantumu menyingkirkan penghalang di tubuhmu," ucap Feng, Mal Li tersentak kaget, penghalang?
"Ya, Kau tau kenapa selama ini Kau tak berkembang padahal sama sekali tak ada cacat dalam tubuhmu? Itu karna ada penghalang dalam tubuhmu," jelas Feng membuat Mal Li tambah kaget.
"Tapi, tapi, bagaimana mungkin bisa ada pengahalang dan lagi Ayah dulu sama sekali tak menyadarinya," ucap Mal Li tak percaya, Feng tersenyum mendengar itu.
"Itu memang ada, Ayahmu mungkin tak menyadarinya, namun justru mungkin Ia yang meletakkannya dalam tubuhmu," jelas Feng lagi lagi membuat Mal Li terkejut dan otaknya seketika di penuhi pikiran negatif ke Ayahnya.
"Jangan berpikiran negatif dulu, Ayahmu mungkin saja sengaja meletakkan penghalang itu untuk menjaga dirimu dari bahaya para Panyusup yang Kau ceritakan kemarin, andai Ayahmu tak meletakkan penghalang itu, mungkin saja tingkatanmu sama atau lebih dari Pemuda pemudi generasimu sehingga Kau justru menjadi target utama para Penyusup itu, dan jika sudah jadi target utama, Kau tau konsekuensinya apa bukan?"
"Baiklah, sekarang duduk bersilalah dan pejamkan matamu, proses ini mungkin agak sedikit menyakitkan," peringat Feng, Mal Li mengangguk duduk bersila memejamkan matanya, Feng meletakkan telapak tangannya di punggung Mal Li dan perlahan mengalirkan Qi nya ke tubuh Mal Li, Mal Li perlahan merasakan energi asing memasuki tubuhnya dan langsung menyebar ke seluruh tubuhnya lalu tiba tiba langsung menusuk urat uratnya membuat Mal Li langsung menggerang kesakitan.
Feng tersenyum tipis membuka matanya masih dengan telapak tangan mengalirkan energi ke tubub Mal Li. Setengah senyumanya Ia maksudkan untuk Mal Li dan kekuatan di dalam tubuhnya yang akan bangkit, sedangkan setengah senyumannya lagi Ia maksudkan untuk Penyusul yang di katakan semalam.
"Benar benar perxuma," gumam Feng.
...- - -...
Penyusup itu terus memperhatikan dua laki laki itu dengan waspada, Ia terus menyembunyikan auranya agar tak ketahuan, Ia yakin bahwa hal yang akan Ia kabarkan hari ini akan menjadi informasi penting di ras utama Keluarga Mal. Ia pun cukup percaya diri akan kemampuannha dan terus memperhatikan Feng dan Mal Li, beberapa saat kemudian Feng melepaskan telapak tangannya dari Mal Li, sedangkan Mal Li masih duduk bersila diam menerima kekuatannya, perlahan aura kekuatan yang sangat hebat keluar dari tubuh Mal Li, hal itu juga diringi dengan terisi penuhnya tanda Bintang Mal Li hingga 6 tanda Bintang terisi penuh, Penyusup yang menyaksikan itu gemetar ketakutan dan berniat berbalik pergi, namun saat Ia berbalik seseorang telah muncul di hadapannya.
Orang itu adalah Feng yang berdiri tersenyum dingin di depan Penyusup itu, badan Penyusup itu seketika gemetar saat merasakan aura mengerikan yang keluar dari tubuh Feng.
"Kenapa Kau terburu buru?" tanya Feng kemudian meraih mencekik lehernya, membuat Penyusup itu seketika menggeliat kehabisa nafas, Feng tersenyum kemudian melemparkan Penyusup itu.
Boom!
Mal Li terkejut saat baru membuka mata, dan menemukan Orang terhempas si dekatnya, Ia terkejut dan melihat siapa Orang itu dan siapa yang melemparnya, seketika Ia lebih terkejut lagi saat tau bahwa Orang yang terhempas tadi adalah salah satu Panglimanya dan yang melemlarkannya adalah Tuan Penolongnya, Feng.
"Tuan, tuan, Tolong, Orang asing ini ingin membunuhku!" ucap Panglimanya itu, Feng yang melihat itu tersenyum dingin sedangkan Mal Li dalam sepersekian detik otaknya berputar dan langsung menendang Pangilmanya itu hingga terhempas lagi.
"Untung Kau tak terlambat, jika terlambat sedetik saja keputusanmu, mungkin bukan hanya Ia yang hancur, Kau dan seluruh impianmu itu juga akan hancur," gumam Feng dingin menepuk pundak Mal Li, Mal Li seketika gemetaran mendengar itu apalagi melihat wajah dingin Feng dan aura mengerikan yang keluar dari tubuhnya.
"I-ia pengyusup?" tanya Mal Li, Feng mengangguk.
"Andai Istirku tak menyadari dan mengatakan hal ini kemarin, mungkin saja Aku juga tak memlerhatikan hal kecil inj kemarin, namun melihat kemampuannya..." Feng berjalan mendekati Penyusup itu yang masih terbaring kesakitan itu, penyusup ingin mendongakkan kepalanya namun terlambat karna Feng lebih dulu menginjak kepalanya hingga hancur, Mal Li yang melihat kekejaman Feng merinding ngeri, saat kejam aura Feng berbanding terbalik dengan saat Ia di dapur.
"Bagaimana kekuatanmu?" tanya Feng, Mal Li tersentak.
"Aku sudah merasakan seluruhnya, namun belum seimbang sehingga tak bisa langsung di gunakan," jelas Mal Li, Feng mengangguk kemudian membuka mulutnya.
"Kau bisa menyeimbangkannya dalam satu hari ini, namun sebelum itu perintahkan seluruh pasukanmu untuk berkumpul, mulai dari Panglima hingga prajurit kecil."
"Untuk apa Tu-, Maksud Tuan penyusulnga bukan hanya satu?!" ucap Mal Li terkejut, Feng menggeleng memandang mayat penyusup tadi.
"Penyusup yang memata matai Istriku kemarin bukan yang ini."
...- - -...