
Feng melangkahkan kakinya menaiki tangga, Ia sampai ke lantai 2 Pagoda sambil terus memperhatikan sekitarnya dengan seksama dan waspada.
Mendadak ruangan itu berubah menjadi gelap begitu juga hal halbdi sekitar Feng, hal itu tentu saja membuat Feng semakin waspada dan menatap sekitarnya dengan tajam. Setelah beberapa saat akhirnya ruangan itu sempurna menjadi gelap, Feng sendiri bahkan tak dapat melihat jari jarinya saat ini.
"Apakah ini melatih insting?" gumamnya berfikir bahwa akan ada serangan di saat gelap seperti ini sehingga membuatnya menunggu dengan waspada.
1 Menit...
2 Menit...
5 Menit..
15 Menit...
Dahi Feng menyerit saat mengetahui Ia sama sekali belum di serang, Ia kemudian menutup matanya menyebarkan instingnya coba melihat keadaan sekitarnya. Namun nihil, semua tampak biasa saja, hanya kegelapan saja yang membuat pandangannya tertutup. Feng akhirnya memutuskan kembali menunggu dengan waspada.
25 Menit...
45 Menit...
1 Jam...
"Ini pasti sesuatu yang harus ku pecahkan."
...- - -...
Disisi lain Kakek, Falco dan Falca menunggu dengan cemas. Sudah satu jam lebih lampu Pagoda lantai 2 hidup dan belum ada tanda tanda bahwa itu akan mati.
"Tenanglah..." Ucap Kakek melihat Falco dan Falca yang menunggu dengan cemas, Falco dan Falca menoleh melihat Kakeknya yang tersenyum pada Mereka dengan wajah penuh ketenangan.
"Tapi kek! Dia udah lebih dari 1 Jam disana," kali ini Falco yang menjawab, Ia yang awalnya tak peduli dan nampak sangat memusuhi Feng sekarang justru yang paling cemas memikirkannya.
"Kalian lupa? Bahwa Kalian menyelesaikan lantai 2 Pagoda berapa lama?" tanya Kakek itu pada Falco dan Falca sambil tersenyum.
Perkataan Kakek Mereka itu sentak membuat Falco dan Falca terdiam, benar juga, Mereka bahkan baru bisa lulus dari lantai 2 sekitar 1 Bulan, lalu ini bahkan baru satu jam sejak Feng masuk.
"Ia memang berhasil membuat ekspetasi Kita melambung tinggi karenanya, karena Ia berhasil menyelesaikan lantai 1 hanya dalam waktu kurang dari 1 jam. Membuat Kita berpikir bahwa Ia juga akan membuat Kita terkejut pada lantai 2," jelas Kakek itu membuat Falco dan Falca mengangguk.
"Apakah itu berarti Feng akan lama juga Kek?" tanya Falca, Kakek itu tersenyum mendengar pertanyaan cucunya tersebut, Ia diam menatap ke arah Pagoda tersebut.
"Ia adalah pewaris Dewa Kematian, seorang yang sebenarnya bisa menguasai alam ini namun memilih bersembunyi dan tampak lemah, selain itu Ia juga pemilik takdir paling Istimewa dan Misterius yang pernah Ku temui," ucap Kakek itu masih menatap Pagoda itu, beberapa saat kemudian Ia kembali menoleh menatap Falco dan Falca yang menatapnya bingung.
Kakek itu tersenyum, "Ia akan membuat Kita kembali tetkejut."
...- - -...
Feng menghela nafas, sudah satu jam lebih Ia menunggu di sini dan belum ada tanda tanda bahwa akan ada tantangan disini. Ia kemudian terdiam coba memikirkan sesuatu, tiba tiba Ia tersentak saat pikirannya mengingat sesuatu.
"Lihat ke dalam, jika sekitarmu masih gelap berarti masih ada sebuah titik gelap," gumam Feng mengingat sebuah tulisan yang ada di buku pemberian Kakek itu sebelum Ia masuk.
"Lalu titik gelap? Apakah ini kejahatan? Penyakit? atau yang lainnya?" gumam Feng kembali berfikir, Ia kemudian menggeleng. Ia tak bisa terus terusan berfikir seperti ini, Ia harus mencari pencerahan untuk dirinya.
Feng akhirnya duduk di tengah kegelapan ruangan yang gelap itu, menutup matanya dan coba berfikir lebih jernih.
Ia memang banyak melakukan kejahatan, mulai dari menyiksa, balas dendam dan yang lainnya. Apakah ini titik hitamnya? Tidak, Ia merasa bukan itu, lalu apa?
Mendadak di kesadaran Feng muncul sebuah bola berwarna putih dengan sebuah titik hitam kecil di tengahnya. Dahi Feng menyerit memperhatikan bola itu, Ia menggerakkan tangannya mencoba menyentuh bola itu namun kemudian begitu Ia menyentuhnya...
Ia merasakan perasaan campur aduk yang kemudian membuatnya menjadi sangat marah, bahkan saat itu membuat dirinya tak terkendali dan mengeluarkan roh beladirinya, melepaskan auta kematian yang sangat kuat dan energi kemarahan yang meluap luap dari tubuhnya.
Namun setitik kesadaran Feng yang masih bertahan langsung menariknya menjauhi bola itu. Feng membuka matanya dengan nafas ngos ngosan dan keringat dingin yang bercucuran, perasaan tadi...
Ia pernah merasakan perasaan itu, mulia sejak Orang tauanya di Bumi meninggal, Perusahaan direbut, Ia dikhianati, Ia dibunuh, Ia balas dendam, Saat ada Orang yang melecehkan Rara. Semua itu memiliki perasaan yang sama, kemarahan yang susah Ia kendalikan.
"Apakah itu titik hitamnya?" gumam Feng, jujur Ia rasa dari dirinya sendiri hanya hal hal itu yang membuatnya susah mengendalikan dirinya. Bahkan untuk cuman sekedar memikirkannya saja membuatnya sedikit kehilangan kendali.
"Aku harus melatih kembali pengendalian diriku."
...- - -...
Sudah 3 Jam berlalu, Kakek Falco dan Falca dengan setiap tetap menunggu dan memperhatikan lantai 2 Pagoda tersebut.
"Falca, Kau kira berapa lama Ia akan berhasil lolos?" tanya Falco iseng bertanya pada Falca, Falca terdiam. Ia suka pada Feng dan itu juga yang membuat kekaguman dan ekspetasi pada Feng meningkat berkali kali lipat sehingga Ia yakin Feng akan cepat menaklukan lantai 2 Pagoda tersebut. Namun mengingat perkataan Kakeknya tadi, Ia rasa Ia memang tak boleh terlalu ber ekspetasi berlebihan.
"Entahlah bang, mungkin paling cepat satu minggu?" ucap Falca, Falco mengangguk.
"Kalau menurut Abang berapa lama?" tanya Falca pada Falco, Falco nampak terdiam berfikir sejenak.
"2 Minggu mungkin?" jawab Falco tak yakin, Falca mengangguk paham.
"Ups, tapi sepertinya Kalian berdua salah," ucap Kakek yang tiba tiba nimbrung di percakapan Falco dan Falca. Falco dan Falca refleks melihat Kakek Mereka itu dengan bingung.
Tiba tiba Manusia manusia Elang di sekitar Mereka bersorak berteriak tak percaya, hal itu tentu saja membuat Falco dan Falca semaking linglung, ada apa ini?
"Lihatlah itu," ucap Kakek Mereka sambil tetsenyum memberi kode pada Mereka berdua untuk melihat ke Pagoda lantai 2.
Seketika Mereka terdiam dengan mulut menganga tak bisa berucap.
...- - -...
Feng menghela nafasnya sambil menatap ke ruangan di sekitarnya yang sudah kembali seperti semula. Ia tersenyum tipis, akhirnya Ia resmi bisa mengendalikan dirinya sendiri dan mengatasi salah satu kejanggalan dalam dirinya.
Sama seperti di lantai 1, setelah Ia menyelesaikan tantangannya. Sebuah cahaya muncul di depannya dan menghilang menampakkan sebuah barang yang Feng kenali.
Itu adalah sebuah Tombak, tombak berwarna hitam dengan corak naga dan phoenix dan aura misterius yang keluar darinya. Feng menatap Tombak itu sejenak, kemudian menggerakkan tangannya menyentuh tombak tersebut.
Wusssh...