The System

The System
Sepenggal Kisah Masa Lalu



"Kekuatan," ucap Kakek itu menghela nafas panjang, Feng juga diam mendengar hal tersebut. Entah kenapa Ia juga baru menyadarinya bahwa kerakusan terbesar Manusia adalah ambisi untuk menjadi yang terkuat, sayang itu tak pernah bisa di wujudkan. Feng kemudian memandang Kakek itu dengan tatapan seakan mengatakan "Bagaimana dengan Aku?"


"Kau berbeda," senyum Kakek tersebut kemudian melanjutkan ceritanya.


"Baiklah, setelah semua itu, akhirnya Kami menunjukkan tempat dimana sumber kekuatan itu berasal. Kekuatan yang merupakan kerakusan yang akan menelan siapa saja yang tak dapat mengendalikan dirinya, tempat itu adalah... Makam Kesesatan."


Demu mendengar itu, Feng membulatkan matanya tak menutupi ekspresi keterkejutan di wajahnya. Makam Kesesatan? Itu adalah tempat yang di beri tau System untuk Ia kunjungi di alam Iblis ini, namun tidak sempat karna Ia harus bertemu Falca dan berakhir di tempat ini.


"Lalu bagaimana?" tanya Feng penasaran dengan hal selanjutnya, Kakek itu kembali mengheka nafasnya.


"Kami dari 3 Penguasa Dunia sudah melarangnya, namun Ia tak mendengarkan dan tetap masuk ke tempat terkutuk itu. Akhirnya mungkin Kau bisa tebak, Ia kembali keluar namun bukan dengan dirinya yang sebenarnya, Ia sudah berubah menjadi seseorang yang hanya di penuhi dengan kesombongan, keserakahan, dendam dan seluruh sifat negatif lainnya."


"Ia menghancurkan keluarganya, membunuh Kakek Neneknya, Orang tuanya dengan segenap tenaga menahan dirinya namun taruhannya memang hanyalah nyawa dan selain itu Ia juga masih bisa membunuh Saudarinya sendiri saat itu."


"Namun ada satu hal yang tak Mereka sadari, bahwa Kami, Tiga penguasa Dunia ini sudah menghalangi dirinya sebelum membalaskan dendam ke Keluarganya. Ya, Kami Tiga Penguasa berserta seluruh Pasukan Kami, berusahan menahannya. Harusnya itu berhasil walau taruhannya begitu banyak mulai dari ribuan nyawa dari ras Kami yang melayang dan lainnya, namun Ia justru dengan liciknya dapat kabur dan membalaskan dendamnya dengan kekuatan yang tinggal sedikit tersebut."


"Setelah Ia terbunuh, Kami merasa sangat lega meski kabarnya Ia memecah kekuatanya dan Kami tak tau pasti kemana Ia sebar kekuatannya tersebut. Namun salah satunya, berhasil di temukan oleh seseorang Prajurit dari ras Kami beberapa tahun kemudian membuat kekacauan besar kembali muncul."


"Beruntung saat itu muncul Anak itu, Dewa Kematian!" ucap Kakek itu tersenyum dengan ekspresi senang mengingat hal tetsebut. Feng terdiam, cerita yang Ia dengar dari Kakek ini benar benar seperti dongeng dongeng atau cerita cerita di Novel yang Ia dengar dan baca saat di Bumi. Namun kini Ia benar benar mendengar dan Ia tak bisa memungkirinya, karna di Dunia ini... Tak ada yang tak mungkin.


"Kemudi-" ucapan Kakek itu terputus saat pintu halaman belajang rumahnya itu mendadak di tendang keras dan jatuh berdebam membuat Feng dan Kakek itu meboleh, disana telah tegak Falco dengan muka merah menahan emosi, tatapanya tajam menatap Feng.


"Kau! Kau apakan Adikku?!" ucap Falco emosi dan melesat melayangkan tinjunya kepada Feng, Feng memutuskan menghindar membiarkan kursi yang Ia duduki tadi hancur menjadi debu akibat pukulan Falco.


"Adikku menangis dan mengurung dirinya sekarang!" marah Falco berteriak teriak menunjuk Feng dan kembali maju menyerang Feng. Feng tak membalas ataupun menangkis serangan Falco tersebut dan hanya menghindari setiap serangannya dengan halus.


Setelah beberapa saat, Falco akhirnya berhenti dan menatap Feng marah dengan nafas ngos ngos an. Ia kemudian kembali maju melayangkan tinjunya ke arah dada Feng.


Buk! Feng menangkap kepalan tinju itu dengan mudah dan menyapu kaki Falco membuatnya jatuh berdebam ke tanah.


"Kau masih belum mempelajari kekuaranganmu dari duel sebelumnya," ucap Feng dingin kemudian berjalan meminum teh di atas meja. Kakek yang sedari tadi diam membiarkan dua anak muda itu bertarung kini bergerak membantu Falco untuk bangun.


"Dia Kek! Aku tak tau apa yang Ia lakukan pada Falca sehingga Falca menangis sampai matanya bengkak dan mengurung dirinya di kamar tanpa mau bertemu dengan siapapun termasuk diriku bahkan makanpun tak kau," marah Falco menunjuk nunjuk Feng. Kakek itu terdiam mendengar itu dan beralih menatap Feng dengan ekspresi muka mengatakan "Ada apa?"


Feng menyeruput tehnya dengan tenang, dan menjelaskan apa yang terjadi tadi sebelum Ia meninggalkan Falca tanpa tau apa yang Perempuan itu lakukan. Setelah mendengar keseluruh cerita dari Feng, Falco dan Kakeknya hanya bisa terdiam, termasuk Falco yang semula menyalahkan Feng atas kesedihan adiknya.


"Hahhh... Anak itu memang," gumam Kakek itu merasa kasihan kepada Cucu Perempuannya itu, Ia merupakan satu satunya cucu perempuannya dan Ia tumbuh menjadi gadis yang cantik dan pemberani. Banyak Pemuda ras Manusia elang yang mengincar dan coba mendekatinya, namun Ia dengan blak blak an menolak. Kini setelah Ia menemukan Orang yang Ia sukai dan cintai, justru berakhir menyedigkan seperti itu, karma itu berlaku.


"Kapan?" tanya Feng menatap Kakek itu mengalihkan topik pembicaraan.


"Kapan?" beo Kakek itu sedikit bingung.


"Pagoda Kuno," jawab Feng mengingatkan, Ah, Kakek itu tersadar kemudian mengangguk. Ia kemudian menyuruh Feng menunggu sejenak kemudian berjalan masuk ke dalam rumahnya.


Suasana hening selagi Kakek itu pergi karna baik Feng ataupun Falco tak ada satupun yang mau membuka mulutnya untuk berbicara.


"Tidak bisakah?" ucap Falco tiba tiba menatap Feng, Feng mengangkat sebelah alisnya bertanya. Namun melihat mata Falco, Ia menyadari bahwa itu bukan lagi tatapan marah melainkan tatapan kesedihan dan permintaan.


"Tidak bisakah Kau menerima cinta Adikku? Ia tumbuh dan besar bersama denganku, Aku mengerti dirinya. Ia selalu menemaniku latihan tanpa peduli bahwa keinginan dirinya bukanlah latihan melainkan bermain sama seperti generasi muda bangsa Manusia elang lainnya," cerita Falco dengan wajah sedih mengingat itu.


"Ia juga tak pernah membiarkan dirinya suka kepada laki laki lain dengan alasan Ia takut meninggalkanku jika Ia suka kepada laki laki lain dan itu... Benar benar membuatku sangat menyayanginya melebihi siapaou di Dunia ini."


"Lalu akhirnya Ia jatuh cinta, walau Aku tak menyukaimu dan membenci dirimu karna berhasil mengalahkanku saat duel namun melihat adikku yang bersedih karena..." Falco tak bisa lagi melanjutkan ucapannya dan mendongak menatap Feng. Setetes air mata mengalir dari matanya dan tatapannya yang dalam.


"Aku minta... Aku benar benar meminta agar Kau bisa menerimanya, tak peduli jika Kau menyukai atau tidak, Aku akan melakukan apa saja yang Kau mau jika Kau mau menerimanya," ucap Falco dengan tubuh gemetar sedih dan penuh permohonan.


Suasana hening sejenak, Feng menghela nafasnya berpikir sejenak.


"Maaf."


...- - -...