
Boom! Boom!
Feng tercengang, begitu juga semua Orang yang langsung memfokuskan diri Mereka ke arena satu. Ledakkan terdengar bergema kemana mana di arena satu membuat debu mengepul. Hingga debu menghilang, maka tampaklah 3 Orang yang tengah berdiri di atas arena satu.
"Itu Putri ke tujuh!" ucap salah satu orang terkejut.
"Bukan hanya Putri ketujuh, bukankah itu Tang Ya!"
"Tang Ya, Putri dari Ketua Arena Pertarungan yang jenius itu!" sahut salah satu Orang terkejut.
"Namun lihatlah, satu Orang lagi, siapa Dia?"
"Ya, Dia sangat cantik dan bisa menyaingi Putri ketujuh dan Tang Ya!"
Semua Orang heboh, termasuk di arena arena yang telah menyelesaikan pertarungan Mereka. Mereka semua langsung melihat ke arena satu dimana 3 orang perempuan cantik itu tampak tengah berhadap hadapan.
"Oh, inikah Tang Ya sang jenius itu?" ucap Putri ketujuh menatap Tang Ya, Tang Ya sedikit membungkukkan badannya kepada Putri ketujuh.
"Suatu kehormatan bisa bertarung dengan Putri ketujuh, Aku juga mendengar bahwa Putri ketujuh bahkan bisa mengalahkan Orang tiga tingkat diatas tingkatan Tuan Putri, benar benar berbakat," puji Tang Ya.
"Baiklah, lalu..." Putri ketujuh kemudian ganti menoleh menatap Rara, begitu juga Tang Ya.
"Siapakah Saudari ini?" tanya Putri ketujuh menatap Rara, Rara yang tak fokus pada pembicaraan Mereka dan asik membersihkan jubahnya yang kotor terkena debu. Putri ketujuh yang merasa diabaikan menggertakkan giginya kesal, Tang Ya juga menatap Rara tajam.
"Maaf Saudari, Tuan Putri sedang bertanya kepadamu," Tang Ya mengeraskan suaranya mengarahkan auranya ke Rara membuat Rara tersadar dan menatap kedua orang didepannya itu.
"Ha? Apa?" tanya Rara kebingungan. Feng menepuk kepalanya, sikap Rara itu benar benar menarik perhatian semua Orang padahal semula Mereka tak ingin menjadi pusat perhatian.
"Siapa Dia?"
"Dia benar benar berani mengabaikan Tuan Putri?"
"Tapi masih bisa tegak di arena menunjukkan dirinya memiliki kemampuan," bisik orang orang yang menyaksikan itu.
"Tang Ya, kurasa Ia harus dikeluarkan dulu atas sikapnya itu," ucap Putri ketujuh mengeluarkan auranya yang berada di tingkat Bumi, Tang Ya mengangguk ikut mengeluarkan auranya.
Wushhh...
Mereka bergerak cepat mengarahkan tinju Mereka ke arah Rara. Rara menatap kedua Orang yang akan menyerang itu tenang.
Tap... Tap...
Rara dengan mudah menangkap tinju dua orang itu dan memutar kemudian mendorong Mereka kembali ke belakang. Mata Putri ketujuh dan Tang Ya terbuka lebar, meski pukulan Mereka tak sekuat tenaga, namun melihat perempuan di depan Mereka dapat menangkap tinju Mereka berdua dengan mudah sungguh membuat Mereka berdua terkejut.
Disisi lain Feng kembali menepuk jidadnya, lagi lagi Rara membuat semua orang terkejut yang berarti akan membuatnya semakin menjadi pusat perhatian.
"Ra, keluarkan Roh beladirimu," Feng mengirim telepati kepada Rara, Rara yang mendapat telepati Feng dengan wajah lugunya.
"Oh iya," lupa Rara menepuk jidadnya kemudian mengeluarkan Roh beladirinya, siluet Harimau berwarna putih keluar dari dalam tubuhnya. Melihat Rara mengeluarkan Roh beladirinya, Putri ketujuh dan Tang Ya juga langsung mengeluarkan Roh beladirinya.
"Wahhh... Bukankah itu Roh beladiri Tuan Putri Dewi Perang?!"
"Aku tak menyangka bisa melihat Roh beladiri Dewi Perang yang legendaris itu!"
Tang Ya tak mau kalah, Ia juga mengeluarkan Roh beladirinya. Siluet Perempuan dengan sebuah busur keluar dari dalam tubuhnya, busur yang memancarkan aura sangat kuat.
"Dewi Pemanah!"
"Benar benar tak salah jika disebut jenius, lagi lagi Aku dapat melihat salah satu Roh beladiri yang legendaris Dewi Pemanah!"
Feng berjalan turun arena sambil menghela nafas, kemudian menatap arena satu itu.
"Dua Roh beladiri tingkat Langit, dan juga Roh beladiri Dewa pertama yang Aku lihat selama datang di Alam dewa ini," gumam Feng kemudian menatap Rara dan kembali mengirim telepati kepadanya.
"Ra, cukup beberapa gerakan untuk bertahan, jangan menyerang kemudian terus menghindar," Rara mengangguk mendapat telepati dari Feng kemudian menatap kedua Orang didepannya. Feng sendiri langsung mengambil tempat duduk dan duduk bermeditasi menutup matanya.
Sedari tadi, Pangeran kesepuluh yang sudah memperhatikan Feng terutama gerak geriknya melihat arena satu tersenyum tipis kemudian berjalan mendekatinya. Feng yang sudah tau bahwa Pangeran kesepuluh datang mendekatinya membuka matanya menatap Pangeran kesepuluh.
"Salam saudara, bolehkan Aku duduk disamping Saudara?" tanya Pangeran kesepuluh ramah, Feng tersenyum tipis mengangguk. Pangeran kesepuluh kemudian duduk di samping Feng dan kembali membuka mulutnya ingin berbicara.
"Aku sudah memperhatikan Saudara sedari di Arena tadi, Saudara benar benar luar biasa. Bisa mengalahkan Tuan Muda Api yang sombong itu, Aku rasa bahkan Saudara bisa mengalahkan 3 Tuan Muda itu," ucap Pangeran kesepululuh basa basi. Feng tersenyum tipis menggeleng.
"Pangeran kesepuluh terlalu melebihkan, melihat Pangeran ketujuh bisa lolos tanpa ada yang berani melawan membuktikan seberapa kuatnya Pangeran kesepuluhh," balas Feng basa basi juga. Pangeran kesepuluh tertawa menepuk pundak Feng sekaligus diam diam ingin mengecek kekuatannya, Feng mengetahui itu langsung menekan kekuatannya layaknya Orang pada umumnya. Dahi Pangeran kesepuluh berkerut sebentar saat merasakan bahwa kekuatan Feng bahkan sama seperti Orang kebanyakan, Ia merasa bahkan Tuan Muda Api berada diatasnya. Lalu bagaimaba caranya mengalahkan Tuan Muda Api?
"Oh yah, ngomong ngomong siapa nama Saudara?" tanya Pangeran kesepuluh.
"Pangeran bisa memanggilku Feng," jawab Feng, Pangeran kesepuluh mengangguk.
"Namaku Long Tian, kau bisa memanggilku Tian," balas Pangeran kesepuluh, Feng menggeleng mendengar itu.
"Maaf, Aku tak memiliki keberanian memanggil nama pangeran langsung seperti itu," jawab Feng. Pangeran kesepuluh kembali tertawa mendengar itu.
"Baiklah, baiklah."
"Oh, bagaimana pendapatmu soal pertarungan di Arena pertama itu?" tanya Pangeran kesepuluh mengubah topik pembicaraan. Feng diam sejenak menatap pertarungan di arena pertama sebelum akhirnya menjawab.
"Aku tak bisa berkomentar apa apa, kurasa Pangeran lebih tau bukan?" balas Feng, Pangeran kesepuluh tersenyum ikut menatap pertarungan di arena pertama.
"Kau lihat Kakakku itu?" ucapnya menunjuk Putri ketujuh, Feng mengangguk.
"Diantara 10 bersaudara, Ia merupakan satu satunya Anak perempuan dan seluruh istana selalu meamnjakannya. Namun itu benar benar tak membuat Kakakku menjadi manja, malah membuatnya semakin keras apalagi dalam hal berlatih. Hingga Roh beladirinya, Dewi Perang, terbangun kami tau alasan mengapa Ia menjadi gila dalam bertarung," cerita Pangeran kesepuluh, Feng mengangguk mendengar cerita Pangeran kesepuluh tersebut.
"Putri Ketua Arena Pertarungan, Tang Ya. Ia juga merupakan salah satu jenius berbakat yang terkenal bahkan melebihi Kakakku, mungkin karna Kakakku jarang keluar dan lebih senang berlatih di istana sehingga jarang keluar dan menunjukkan kekuatannya."
"Kemudian Perempuan satu lagi..."
...- - -...