
"Wortel besarnya mana?" tanya Rara dengan cemberut, semua Orang di sana yang mendengar itu terdiam bingung, Wortel?
Feng sendiri yang mendengar itu tersenyum kemudian membisikkan sesuatu kepada Rara, sesuatu yang membuat wajah Rara memerah. Semua Orang yang melihat itu kebingungan, apa yang di bisikkan Feng pada Rara?
Lalu secara tiba tiba, Feng menggendong Rara membuat Rara terpekik kecil dengan wajah memerah, semua Orang yang melihat itu tersenyum senyum.
Rara yang malu langsung menyembunyikan wajahnya di dada Feng, sedangkan Feng mengedipkan matanya pada Orang orang di sana lalu berlalu pergi.
Orang orang di situ yang mengerti arti kedipan mata Feng di buat tersenyum senyum lagi.
"Feng! Kasih Aku Keponakan yang banyak!" teriak Wangwang, Feng yang berjalan pergi mengangkat jempolnya, sementara semua Orang tertawa.
Feng membawa Rara ke kamar yang berada di Istana paling atas, di Kamar itu tampak Pemandangan seluruh Kota Kekaisaran Bulan yang indah, Kamar itu juga sengaja di buat dan di persiapkab untuk Feng dan Rara, untuk hal besar Mereka Malam ini.
Feng mendudukan Rara di atas pembatas balkon sambil menikmati indahnya pemandanga Malam Kota Kekaisaran Bulan. Feng menyandarkan kepalanya di bahu Rara, menikmati wangi rambut Rara.
"Ra, ingat pertama kali saat Kita bertemu?" tanya Feng, Rara yang juga menikmati pemandangan Malam itu mengangguk.
"Waktu itu Rara lagi mandi, terus Fe-"
"Bukan yang itu," potong Feng, jangan mengingatkan bagian itu, atau nanti nafsunya kembali naik karna mengingat itu, dan malam indah ini bisa berlalu terlalu cepat.
"Habistu yang mana?" tanya Rara polos.
"Em, Janji yang Kita buat saat di atas Pohon, ingat?" tanya Feng, Rara terdiam sejenak mengingat kemudian mengangguk.
"Waktu itu Sore, terus Feng Gege nanya ke Rara mau liat Dunia luar gak? Terus Rara bilang mau, dan setelah itu Feng Gege dan Rara janji buat untuk selalu menjaga dan bersama nanti saat melihat Dunia luar," cerita Rara, Feng tersenyum mengingat itu, ya, Janji Matahari Terbenam.
"Lalu, ingat gak saat Kita pertama kali menikah?" tanya Feng, Rara kali ini langsung ingat.
"Ingat ingat! Feng Gege waktu itu ajak Rara ke pinggir Danau, Danaunya indah, warna warni, kemudian Feng Gege ajak Rara berdiri di sebuah gambar Love dan Rara sama Feng Gege nikah," cerita Rara, Feng tersenyum.
"Terus ingat gak saat Rara ngambek?" tanya Feng lagi, kini Rara kembali terdiam lama.
"Rara ngambek?" bingung Rara, Feng tersenyum.
"Iya, Rara ngambek pas di Desa Hijau lumut karna pas bangun Aku gak ada, terus Rara nyariin Aku tapi gak ketemu dan ketemu pas udah Sore lalu Rara ngambek gak mau bicara, dan saat Malam-" kali ini cerita Feng langsung di potong Rara dengan menutup mulut Feng, wajah Rara sempurna memerah saat mengingat itu, mengingat bagaimana Feng membujuknya.
Feng tiba tiba memegang tangan mungil Rara kemudian menatap matanya dalam, Rara juga menatap Feng dalam.
"Ra, Malam ini, di Malam Ulang Tahun Rara yang ke 15, Aku mau minta satu hal boleh?" tanya Feng dengan lembut, Rara mengangguk.
"Aku mau Kita bersatu seutuhnya, memiliki seutuhnya, biarlah Malam ini menjadi Malam terindah Kita untuk selamanya, Rara mau kan?" tanya Feng lembut, pipi Rara merona merah.
Sunyi sejenak, akhirnya Rara mengangguk.
Feng tersenyum kemudian menyatukan bibirnya ke bibir Rara.
Cup...
Seluruh perasaan Cinta yang ada di dalam diri Feng dan Rara membucah ruah, dan Mereka menyalurkan perasaan itu di mulai dari ciuman ini.
Lama sekali ciuman itu berlangsung, seakan bibir keduanya telah di lem dan tak dapat di pisahkan, setelah di rasa keduanya mulai kehabisan nafas barulah Mereka melepaskan ciuman itu.
Feng menatap Rara dengan penuh cinta, begitu juga Rara yang juga menatap Feng penuh cinta.
"Shh~" nafas Rara sedikit memburu, begitu juga dengan suara suara pelan yang perlahan Ia keluarkan, Feng semakin gencar memberi tanda kepemilikannya di leher jenjang putih Rara.
Setelah beberapa tanda kemudian, Feng menghentikannya kemudian kembali menatap Rara. Udara malam yang memang dingin itu tiba tiba berubah menjadi panas bagi Feng dan Rara.
Feng menatap Rara yang sepertinya juga sudah mulai naik nafsunya, Ia tanpa aba aba kemudian menggendong Rara dan membawanya ke dalam Kamar kemudian merebahkannya di atas kasur.
Mereka saling bertatapan penuh cinta kemudian tersenyum.
"Rara cinta Feng Gege."
"Aku juga mencintaimu!"
Cup...
Ciuman panjang itu kembali, kali ini tangan Feng tak tinggal diam dan mulai bergerak memberi rasa kenikmatan baru bagi Rara, juga bagi Feng.
Lama dalam pemanasan itu, hingga tibalah waktunya, waktu bagi 2 Orang yang sangat mencintai satu sama lain itu memiliki seutuhnya.
Feng menatap Rara seakan bertanya apakah Rara siap, Rara mengangguk menjawab itu sambil menggenggam tangan Feng erat.
"Selamat mencoba Wortel besarnya, Kelinci kecilku."
Maka Malam itu menjadi Malam bersejarah bagi Feng dan Rara, Malam dimana Mereka akhirnya memiliki seutuhnya, dan Malam itu tak akan pernah Mereka kan bisa lupakan.
Desiran angin menemani Malam panjang dan panas Mereka, Malan yang penuh kebahagian dan...
Cinta.
...- - -...
Pagi Hari...
Feng membuka matanya perlahan, kemudian tersenyum melihat Rara yang masih tertidur pulas dalam pelukannya, keduanya masih belum mengenakkan apa apa sehingga Feng masih dapat melihat berapa banyak tanda kepemilikan yang Ia tinggalkan di kulit putih tubuh Rara, begitu juga tanda cakaran yang Rara tinggalkan di tubuh Feng.
Feng tersenyum mengelus rambut Rara yang masih tertidur pulas dengan jari jempol di mulutnya, Ia kemudian mencium kening Rara lembut dan lama.
Feng tau Rara benar benar jodohnya, Malam itu Ia sangat senang, walau Ia benar benar yakin bahwa Rara masih perawan, namun kadang Ia memikirkan yang tidak tidak. Namun malam itu telah membuktikan semuanya, saat cairan merah itu keluar saat Mereka menyatukan tubuh pertama kalinya, dan Feng sangat senang karna itu.
"Ra, Aku janji, akan selalu menjagamu, hidupku adalah milikmu, Kelinci kecilku."
Feng kembali mencium kening Rara lembut, tiba tiba Rara yang tertidur di hadapannya menggeliat kecil kemudian membuka matanya.
"Feng... gege," panggil Rara sambil membuka matanya, Feng sendiri tiba tiba diam dengan wajah tegang, melihat itu Rara membuka matanya sempurna.
"Feng Gege kenapa?" tanya Rara, Feng sendiri tiba tiba tersenyum, bukan senyuman biasa.
Rara sendiri bingung, namun kemudian Ia merasa ada yang bergerak di tubuhnya membuatnya tau dan wajahnya langsung memerah sempurna. Feng kembali menerkam Rara.
Dan Malam panjang itu belum berakhir...
...- - -...