The System

The System
Dewa Pembebas



Rara mengangkat sebelah alisnya melihat Suku Iblis Kuno tersebut, kenapa Mereka mendadak hormat kepadanya? Bukankah Mereka terkenal sangat agresif dan kejam? Mereka juga rata rata berada di tingkat Bumi, Langit dan Surka, tapi kenapa mendadak langsung hormat kepada Rara?


Rara meluaskan pandangannya, melihat seluruh Suku Iblis Kuno tersebut, menilisik bahwa penghormatan ini bukan merupakan rencana licik Mereka bukan?


Tapi setelah memperhatikan seluruhnya, Rara sama sekali tak menemukan kebohongan di diri Mereka bahwa penghormatan itu merupakan rencana licik yang Mereka buat buat. Lalu kenapa Mereka hormat kepada Rara?


"Kenapa Kalian hormat kepadaku?" tanya Rara, Iblis yang berada paling depan dengan Rara bangkit ingin berbicara.


"Karna Engkau adalah Dewi yang sudah diramalkan dari lama oleh Leluhur Kami," jawab Iblis itu, Rara menatap Iblis itu bingung.


"Darimana Kau tau Aku Dewi yang di ramalkan oleh Leluhurmu?" tanya Rara lagi.


"Itu karna Dewi berhasil menghancurkan Pembatas yang dibuat oleh Leluhur Kami pertama kali, sesuai wasiatnya, siapa yang dapat menghancurkan pembatas itu adalah Dewa atau Dewi yang diutus untuk Kami dan Kami siap untuk melayaninya serumur hidup," jelas Iblis itu panjang lebar, Rara terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat Rara mengangguk kemudian berbalik ingin pergi.


"Dewi, Kau kau kemana?" tanya Iblis tersebut, Rara berhenti menoleh.


"Bukankah di dekat sini ada satu Gunung lagi yang ditempati oleh para Bandit yang paling berkuasa di Alam ini?"


"Ya!"


"Aku ingin menghancurkannya," ucap Rara singkat.


"Tidak perlu Dewi!" ucap Iblis itu, perkataan Iblis itu membuat Rara berputar melihat Iblis itu.


"Dewi tidak perlu buang buang tenaga untuk menghancurkan para Tikus itu, izinkan Kami yang akan meratakan Mereka," ucap Iblis itu dengan mata penuh keyakinan seluruh Iblis di belakangnya juga bangkit.


"Kami siap Melayani Dewi!" ucap Mereka, Rara mengangguk tersenyum tipis melihat itu, baiklah mari Kita lihat seberapa kuat para Iblis ini karna dari kabar yang Rara dapat bahwa Bandit di Gunung itu tak bisa diremehkan bahkan kabarnya ada seorang tingkat Walis yang melindungi Mereka sehingga dari dulu hingga sekarang tak ada Pasukan Kerajaan atau kekuatan lain yang bisa menaklukan Mereka.


"Baiklah, Aku mengizinka Kalian pergi, namun sebelum itu," Rara kemudian mengangkat sebelah tangannya, kemudian cahaya cahaya itu keluar dari lengan bajunya dan melesat menuju seluruh Suku Iblis Kuno tersebut. Ketika cahaya itu mengenai Mereka, Mereka merasakan energi yang meluap luap dari dalan tubuh Mereka.


"Gunakan seluruh tenaga Kalian, Ku jamin energi Kalian tak akan pernah habis."


"Terima Kasih Dewi! Kami pasti tak akan mengecewakanmu!" ucap Mereka berlutut, Rara mengangguk dan memberi Mereka kode akan segera pergi. Mereka semua bangun dan dengan cepat melesat terbang pergi dengan cepat. Rara menyaksikan Mereka pergi kemudian melihat ke langit.


"Feng Gege, Rara kangen."


...----------------...


Feng perlahan membuka matanya, Ia tersadar kemudian langsung bangkit duduk.


"Feng, Kau tidak apa apa? Apa yang terjadi didalam sana? Kenapa Aku tak bisa masuk? Apakah ada hal yang tak boleh Ku ketahui di dalam sana?" Dewa Kematian yang melihat Feng sadar langsung memberondong Feng dengan berbagai pertanyaan. Feng mengangkat tangannya menyuruh Dewa Kematian diam, Dewa Kematian yang kini bersamanya benar benar berbeda dengan Dewa Kematian yang Ia temui tadi. Dewa Kematian tadi lebih cool sedangkan yang ini... Cerewet.


Tapi, meski begitu Feng menatap Dewa Kematian dengan kagum. Siapa sangka Dewa Kematian yang cerewet kini adalah Makhluk dengan kekuatan paling kuat dulu di zamannya.


"Hei... Kenapa Kau menatapku seperti itu? Kau tidak kelainan bukan? Atau jangan jangan! Sesuatu di dalam sana telah membuat sifatmu berbelok?!" Cerewet Dewa Kematian, Feng menghela nafasnya menempeleng kepala Dewa Kematian, hilang sudah rasa kagumnya melihat kecerewetan Dewa Kematian saat ini.


"Lupakan, itu tak penting bagimu," ucap Feng tak peduli kemudian bangkit berdiri, Dewa Kematian menggerutu mendengar jawaban Feng tersebut.


"Apakah Kita sudah selesai?" tanya Feng melihat ke atas, tepat di puncak Pagoda itu telah terbuka ujungnya. Feng tersenyum tipis, akhirnya ujian Pagoda ini selesai juga setelah sekian lama.


"Baiklah, saatnya meninggalkan tempat ini dan segera mencari Istriku," gumam Feng kemudian melesat keluar, namun belum sempat keluar, Feng tertahan saat merasakan sesuatu yang menghalangi jalan keluarnya.


Feng kemudian tersenyum, ini saatnya mengetes kekuatan sebenarnya dari Tombak Kuno. Feng mengeluarkan tombak kuno tersebut dan mengambil ancang ancang, dalam satu gerakan Feng melesatkan tombaknya dan dengan cepat menabrak segel tersebut.


Kraaak...


Boom!!


Benar saja, hanya dalam sepersekian detik, tombak kuno itu berhasil menghancurkan segel itu dan kembali ke tangan Feng.


Diluar sana, Kakek, Falco, Falca dan seluruh Manusia Elang menunggu dengan cemas keluarnya Feng dari lantai terakhir Pagoda tersebut. Kini, Mereka yang semula berharap Feng dapat melewati seluruh ujian di Pagoda itu dan membebaskan Mereka berubah, kini tanpa sadar Mereka hanya berharap bahwa Feng dapat keluar dari sana dalam keadaan baik baik saja, karna tanpa Mereka sadari bahwa Mereka telah meletakkan Feng sebagai Pahlawan yang sudah sampai paling jauh dalam melewati Pagoda tersebut.


Kraak...


Suara retakan itu membuat seluruh Manusia Elang mendongak, mata Mereka terbuka lebar saat sebuah tombak nampak menabrak langit dan menimbulkan retakan ke segala penjuru langit.


Boom!!


Hening~


Setelah beberapa saat hening, sorak sorai mulai terdengar bersahut sahut dari seluruh Manusia Elang di tempat itu. Ya! Mereka mengerti apa yang saja barusan terjadi, bahwa segel yang telah mengurung Mereka bertahun tahun kini benar benar telah hancur dan itu berarti hanya ada satu jawaban... Mereka bebas kini!


Wusssh...


Beberapa saat kemudian sesosok Orang keluar dari Pagoda tersebut dan mendarat di hadapan Manusia Elang. Seorang Pemuda tampan dengan jubah hitam dan tombak di genggamannya.


Seluruh Manusia Elang kembali sunyi beberapa saat sebelum akhirnya Mereka kembali bersorak sorai.


"Hidup Pahalawan!"


"Hidup Dewa!"


"Hidup Pembawa Kebebasan!"


Sorak sorai pujian dan sanjungan terdebgar bersahutan dan seluruhnya hanya di tujukan kepada satu Orang... Feng.


Feng yang melihat Manusia Elang sangat bersuka cita bahkan beberapa menangis haru saat menyadari bahwa Mereka telah bebas saat ini, hal itu membuat Feng sangat senang.


"Dewa!" sebuah suara membuat Feng menoleh, Kakek itu mendekat ke arah Feng dengan linangan air mata dan tubub bergertar haru.


Bruuuk...


"Terima kasih Dewa! Terima Kasih!" ucap Kakek itu sambil berlutut di hadapan Feng. Feng tentu saja kaget dan segera membantu Kakek itu berdiri.


"Kek, tidak usah berterima kasih."


...----------------...


**Assalamualaikum...


Ayooo!!! Kembali bantu ramaikan The System**!!!