
Akibat keluhan Eli yang terus mencuat keluar, Aqua mengeluarkan sebuah kereta kuda dari inventory. Benda itu berasal dari dungeon, Aqua membuatnya karena Mika bilang ingin menaiki kereta kuda seperti putri dalam dongeng yang diceritakan Aqua.
Bisa dibilang benda itu sangat mewah. Bagaimana tidak? Karena Aqua membuatnya dari material dungeon lantai dasar, jadi kereta itu setiap bagiannya adalah item langka. Agar tidak menarik perhatian, Aqua menggunakan sihir kamuflase pada kereta itu sehingga terlihat seperti kereta pedagang kecil.
Kuda yang menariknya adalah kuda hitam Dullahan, tentu kuda itu juga terpengaruh sihir kamuflase hingga terlihat seperti kuda biasa.
"Hei... dari tadi aku penasaran, kenapa Dullahan ingin menghancurkan Kekaisaran Anessa?" tanya Eli tiba-tiba.
"Aku paham kalau tempat itu busuk sampai ke akar-akarnya. Tapi menurutku kalau tidak ada gunanya, lebih baik tidak berhubungan."
Tak ada yang menjawab. Aqua dan Mika yang duduk di depannya diam tanpa mengubah ekspresinya. Dullahan yang duduk di kursi depan sebagai kusir juga hanya diam saja.
"A-Apa aku menanyakan sesuatu yang tabu?" canggung Eli merasa bersalah.
"Tidak. Hanya saja, aku tidak berhak menjawab pertanyaanmu. Itu adalah privasi Hell. Tanyakan sendiri padanya," balas Aqua agak dingin.
Mika mengangguk setuju, dia juga merasakan hal yang sama dengan Aqua. Mungkin kalian berpikir kalau Mika tidak tau apa-apa. Namun tidak mungkin baginya yang sudah bersama Dullahan sebelum bertemu Aqua tidak tau cerita tentang tentang Dullahan.
"Oke. Heolstor, kenapa kamu ingin Kekaisaran Anessa hancur?" tanya Eli blak-blakkan.
Aqua dan Mika membelalakkan matanya karena kaget. Tidak disangka Eli bertanya begitu saja tanpa kecanggungan, basa basi atau keraguan sedikitpun. Heolstor di kursi kusir juga tertegun kaget. Dia belum pernah lihat wanita (?) yang seterbuka itu.
"......."
"Emm... Tuan Aqua, apa saya harus menceritakannya?" tanya Heolstor bingung.
"Tidak harus."
".......... Nona Neelima, anda adalah rekan dari tuan saya. Tuan sudah berkata kalau anggota timnya akan membantu juga. Jadi saya rasa, anda juga berhak tau keadaan saya," kata Heolstor.
"Ini mungkin akan menjadi kisah yang panjang. Meski begitu anda masih mau mendengarkan?"
Heolstor tersenyum mematikan pada Eli sampai dia sedikit memerah.
"Tentu. Lagipula perjalanan kita masih panjang!" jawabnya santai.
"Baiklah. Saya akan menceritakannya secara singkat. Saya kehilangan kekasih saya karena Kekaisaran Anessa."
"......"
"......"
"......"
"......"
"......"
"......"
"......"
"......"
"Sudah?" tanya Eli.
"Sudah."
"ITU TERLALU SINGKAT WOIII!!!!!"
Aqua menggelengkan kepalanya, Mika justru terkikik geli melihat mereka.
"Hell, kamu buruk dalam bercerita. Boleh aku ambil alih?" tanya Mika geli.
"Tadi kamu gak mau!" sela Eli.
"Ya, tapi sekarang berbeda. Hell sudah mengizinkan, jadi aku boleh melakukannya," senyum Mika.
"......... Tolong bantuannya, Nona Mika!!"
"Fufufu, baik..."
Namun takdir bagai tak mengizinkan mereka untuk bahagia terlalu lama, tuan dan nyonya Kota Bess tewas dalam kecelakaan kereta kuda. Tak ada yang mengetahui pasti apakah itu benar-benar kecelakaan atau percobaan pembunuhan.
Putra Tuan Kota yang masih berumur 2 tahun harus menjadi tuan kota baru. Dibawah bimbingan para petinggi, Tuan Muda tumbuh sebagai tuan kota yang bijaksana. Dia sangat dekat dengan rakyat dan dicintai rakyatnya juga.
Sampai suatu hari, pencalonan Saintess terjadi. Ada 3 calon Saintess dengan sihir cahaya luar biasa. Calonnya adalah Tuan Putri Ras Elf, wanita Skywing dari Benua Sihir dan gadis manusia dari Kota Bess. Karena akhirnya calon Saintess lahir di Kota Bess, mereka menjaganya dan sangat baik pada gadis itu.
Hingga beberapa waktu kemudian, tuan muda dan calon Saintess saling jatuh cinta pada satu sama lain. Namun cinta mereka terpisahkan karena calon Saintess diambil oleh Kekaisaran Anessa untuk dilatih secara pribadi.
"Tunggu!! Cuma gara-gara itu Dullahan dendam???" potong Eli.
"Tidak mungkin kalau cuma karena itu!" jawab Mika. "Aku lanjutkan."
Meski tidak rela, Tuan muda mengikhlaskan kepergian calon Saintess demi masa depannya. Tahun demi tahun berlalu, sudah lama tuan muda tidak bertemu calon Saintess. Karenanya, tuan muda pergi ke Kekaisaran Anessa untuk mengunjungi calon Saintess.
Dari sana dia tau sesuatu yang mengerikan, sebenarnya pemilihan Saintess itu sama sekali tidak ada. Dari awal Saintess sudah ditentukan, mereka melakukan sandiwara pemilihan itu demi mengumpulkan orang dengan sihir cahaya tingkat tinggi.
Dan orang-orang itu...
Dijadikan pertumbalan.
"Pertumbalan?!!!!" jerit Eli kaget.
"Iya, sesuatu tidak manusiawi yang dilakukan demi kepuasan kalangan tertentu," timpal Aqua dingin.
Para calon Saintess yang dari awal bukanlah Saintess itu dijadikan pasokan energi untuk menggerakkan Kekaisaran Anessa. Mereka dimasukkan ke dalam ruangan khusus dan dimasukkan di tabung air yang menghisap mana dan sihir cahaya mereka sampai mereka kering seolah tanpa darah.
Pemaksaan pengeluaran mana itu sangat menyakitkan. Rasanya mirip seperti saat pemasukan mana yang dilakukan Aqua dulu. Dan itu terjadi setiap hari, setiap waktu sampai dia mati.
Yang ditemukan oleh tuan muda hanyalah mayat kering kekasihnya yang sudah di buang oleh Kekaisaran Anessa. Terbakar oleh dendam, tuan muda dan pasukannya menuntut balasan pada Kekaisaran Anessa.
Tapi seperti yang bisa di prediksi, Kekaisaran Anessa menang telak. Ternyata mereka sengaja menunjukkan mayat itu agar tuan muda menjadi yang pertama mengumumkan perang sehingga mereka memiliki alasan menghancurkan Kota Bess.
"Jadi begitulah ceritanya," akhir Mika.
"........."
Eli terdiam merasa bersalah. Nyatanya setiap orang yang ada di kereta kuda ini memiliki masalah dan masa lalu kelam masing-masing. Tidak ada dari mereka yang bisa berpikir bahwa mereka yang paling tidak beruntung.
"Hahahaha!!! Itu sudah berlalu sangat lama, Nona Neelima. Tidak perlu merasa bersalah!" seru Heolstor dengan tawa lebar.
Eli tau kalau dibalik tawanya itu, Heolstor merasa diingatkan kembali kenangan buruk yang ingin dia kubur dalam-dalam.
"Heolstor... aku juga anggota Raven! Sebagai anggota Raven, aku akan ikut bersumpah kalau aku akan membantumu membalas Kekaisaran Anessa meski butuh waktu cukup lama!!"
Tatapan tanpa keraguan Eli berhasil menyakinkan Heolstor.
"Saya sudah bersumpah akan setia hanya pada Tuan Aqua, tuan saya. Sampai membuat rekan Tuan Aqua turut membantu saya, terimakasih banyak," balas Heolstor dengan senyum tulus.
Aqua dan Mika tersenyum melihat Heolstor dan Eli yang sudah mulai akrab. Mika yang duduk disebelah Aqua menyenggol lengannya.
"Hei, apa menurutmu mereka bisa bersama?" bisik Mika menggoda.
"Itu tidak mungkin."
Jawaban cepat Aqua membuat Mika sedikit kesal. Rasanya seolah Aqua menolak membuat mereka bersama.
"Kenapa??" rajuknya.
Aqua melirik Mika yang terlihat sedikit merajuk. Dengan senyum geli, Aqua menarik kepala Mika agar telinganya mendekat ke bibirnya.
"Hell bukan tipe Eli. Dia itu shotacon akut. Di dunia sebelumnya tidak ada ras umur panjang, jadi shota tidak akan selamanya menjadi shota. Tapi mungkin saja Eli menemukan tipenya di dunia ini."
"..... Shota yang selamanya jadi shota?" tanya Aqua ikut geli.
"Yap."
Mereka berdua tertawa kecil bersama, sampai membuat Eli yang melihatnya kesal entah kenapa.