
Ruby POV
Aqua mengelus lembut kepalaku yang sedari tadi terus diam meski aku adalah topik utama pertemuan ini.
"Katakan saja apa yang kamu inginkan. Apapun yang kamu mau, aku akan mengabulkannya."
Apa itu tadi? Perasaan Deja Vu ini...
Elusannya... mirip seperti yang selalu kakak lakukan saat aku baru melakukan sesuatu yang baik.
Kebiasaan aneh itu sudah ada sejak kakak masih kecil. Terkadang menyebalkan karena kakak rasanya selalu memperlakukanku seperti anak kecil. Tapi entah sejak kapan... aku merindukan elusan itu.
Meski yang melakukannya orang lain... rasanya berbeda dari saat kakak yang melakukannya.
Apa jangan-jangan Aqua itu...?
...... Tidak. Itu tidak mungkin.
Kebetulan macam apa itu.
Lupakan itu, lebih baik fokus pada apa yang ada di depanku. Aku harus menyelesaikan ini secepatnya agar aku bisa mencari kakak.
"Saya serahkan tentang pembalasan pada anda, Pangeran Aquamarine. Saya tidak masalah apapun itu selama tidak menimbulkan peristiwa berdarah."
Sebenarnya aku ingin membunuh dan mencabik-cabik mereka. Tapi kalau begitu apa bedanya aku dengan mereka. Aku tidak ingin menjadi psikopat seperti itu. Tapi membiarkannya begitu saja juga menyebalkan. Biarlah Aqua saja yang mengurusnya.
Orang sadis sepertinya pasti tetap bisa menyiksa tanpa melukai.
Sekarang yang lebih penting...
"Yang saya inginkan... adalah pelepasan kontrak dengan Kekaisaran."
Benar, aku muak dengan tittle "Anjing Kekaisaran"
Aku ingin bebas dari genggaman tangan mereka. Aku ingin pergi dari kekaisaran dan tidak wajib menjaga kekaisaran. Aku ingin mengembara mencari kakakku, bukan terkurung di tempat ini.
Entah kenapa senyuman bangga telah terlukis sempurna di wajah Aqua.
"Sesuai keinginanmu, My Lady."
Merinding! Aku tiba-tiba merinding!!
Aqua bukan orang yang akan mengatakan hal menggelikan seperti itu selain pada Heroine. Sebenarnya kenapa Aqua begitu baik saat memperlakukanku?
Aku bukan heroin!
Dan aku juga tidak ingat pernah melakukan sesuatu yang membuat Aqua jatuh cinta padaku sampai bucin!
Karena aku tunangannya?! Cuma karena itu!? Gak percaya aku!!!
Normal POV
Aqua agak bingung dengan ekspresi Ruby. Dia seperti pernah melihat ekspresi itu sebelumnya.
"Komuknya mirip Tiara saat lihat bucin," batinnya.
"Kaisar, anda mendengarnya sendiri. Apa yang akan anda lakukan?" tanya Aqua menyeringai.
Kaisar terlihat sangat tidak ingin melepas Keluarga Arsilla. Keluarga itu telah berabad-abad setia dan menjadi kekuatan terbesar kekaisaran. Tentu saja dia tidak ingin melepasnya begitu saja. Terutama karena keluarga Arsilla hanya bisa memiliki satu anak setiap generasi dan pergantian generasi terjadi ratusan tahun sekali.
Membiarkan Ruby bebas sama artinya dengan melepas keluarga Arsilla mulai generasi itu.
Ini adalah keputusan yang berat dan berpengaruh besar. Untuk memutuskan hal itu, membuat konflik besar dalam diri Kaisar. Jika bisa dia ingin melakukan segala cara agar Ruby tetap di kekaisaran. Tapi melihat tekad gadis itu, sepertinya itu tidak mungkin.
Kaisar bisa saja memaksanya tinggal. Namun sebagai gantinya, Aqua pasti akan melakukan semua yang dia bisa untuk melawan Kekaisaran.
"....... Baiklah. Tapi tolong izinkan saya membuat persyaratan," jawab Kaisar setelah berpikir panjang.
"Apa anda dalam situasi dimana anda bisa mengajukan syarat?" sindir Aqua.
"Tapi baiklah, katakan saja."
Kaisar menacing sesaat pada Machioness yang membuat dirinya harus merelakan kekuatan terbesar kekaisaran.
"Tolong berjanjilah, walau Arsilla tidak lagi menjadi kekuatan kekaisaran... setidaknya mereka tidak akan menjadi musuh kekaisaran."
Mendengar syarat yang cukup menyebalkan itu, Ruby menahan tangan Aqua agar dirinya saja yang menjawab.
"Saya tidak bisa berjanji karena saya tidak tau apa yang akan terjadi di masa depan. Tapi saya berjanji, saya tidak akan menjadi kekuatan pihak lain dan saya juga tidak akan menjadi musuh kekaisaran kecuali jika kekaisaran sudah menyentuh hal yang seharusnya tak disentuh."
"Itu... sudah cukup. Saya tau anda tidak bisa memaafkan adik dan keponakan saya. Tapi saya harap kemarahan anda tidak melibatkan pihak lain," balas Kaisar.
"Saya tidak pernah berpikir sesempit itu."
Aqua tersenyum. Entah kenapa dia merasa adiknya seolah sudah besar. Sepertinya masalah yang dimiliki Ruby dengan Kekaisaran sudah selesai.
"Tapi dengan saya masih belum," ucapnya tiba-tiba menghancurkan suasana tenang.
"!?"
Kaisar dan yang lainnya tersentak. Bukankah sudah cukup kekaisaran melepas kekuatan terbesar mereka? Itu yang mereka pikirkan.
"Sederhana, saya tidak bisa memaafkan makhluk yang berani meletakkan tangannya pada tunangan saya," jawab Aqua dingin.
Kaisar menghela napasnya berat. Dia sudah menduga kalau Pangeran Vittacelar tidak akan melepas ini begitu saja. Karena memang para Elf adalah tipe yang mendendam. Mereka akan membalas 10x lipat pada orang yang memberi mereka bunga dan 100x lipat pada yang membuang sampah ke mereka.
Meski tatapan Machioness terlihat memelas dan meminta bantuan. Kaisar hanya meliriknya seolah mengatakan, "Aku tidak bisa membantumu kali ini."
"Tolong jangan libatkan orang yang tak bersalah, Pangeran."
"Jangan khawatir, Baginda. Saya bukan orang yang seperti itu."
Aqua mengetuk-ngetuk jarinya di meja.
"Tunangan saya tidak mengizinkan adegan berdarah. Jadi saya berpikir cukup lama, balasan seperti apa yang sebaiknya mereka terima."
"Lalu sebuah ide brilian muncul di kepala saya."
Semua orang menelan ludahnya. Rasanya apa yang akan keluar dari mulut anak itu bukanlah hal yang sederhana.
"Pasti sakit rasanya diabaikan orang lain saat dia (Ruby) membutuhkan. Ini juga menjadi hukuman yang bagus untuk orang yang suka tutup mata pada kesengsaraan orang lain," kata Aqua.
Sepertinya yang lainnya bisa membuat gambaran tentang apa yang akan Aqua katakan selanjutnya. Meski yang Aqua nanti akan katakan melebihi spekulasi mereka.
"Pertama aku ingin mereka berdua di kunci di Ibukota dan... Umumkan pada semua orang di Kekaisaran atau yang memasuki Kekaisaran! Tidak ada seorangpun, baik human maupun demi human yang boleh berbicara dan berinteraksi dengan dua jal*ng ini!" seru Aqua dengan senyuman murka.
"Siapapun yang melanggarnya, baik itu rakyat biasa sampai keluarga kekaisaran... mereka akan menjadi musuh Kerajaan Vittacelar, Menara Sihir dan Raven."
"!!!"
Tidak ada yang tetap bisa mempertahankan ekspresi tenangnya. Lagi-lagi mereka dibuat tersentak oleh kata-kata pemuda itu.
"Pa-pangeran Aquamarine!!! Apa saya harus diperlakukan sampai seperti ini!!?" jerit Nedura tidak terima.
Aqua melirik gadis itu dengan dinginnya.
"Kapan aku mengizinkanmu memanggil namaku?"
Nedura merinding, dia merasakan ketakutan yang sama lagi. Mungkin karena dia terlalu marah, dia sampai lupa kalau pemuda didepannya ini bisa saja membunuh mereka kapan saja jika dia mau.
"Ha~ahh..."
Kaisar tidak habis pikir. Sudah tau orang itu tidak boleh diprovokasi, kenapa mereka malah memancingnya?
"Pangeran Vittacelar, keputusan anda tidak akan berubah ya?" lelah Kaisar.
"Tidak."
Aqua menjawabnya tanpa basa basi.
"Baiklah, kekaisaran akan melakukannya seperti yang anda inginkan."
Kaisar sudah pasrah saja, dia tidak bisa membantu Machioness lagi. Kesalahan adiknya sudah terlalu fatal.
"Terimakasih atas kemurahan hati, Baginda. Dengan demikian, pertemuan ini telah berakhir dengan keputusan akhir yang disepakati kedua belah pihak."
Aqua dan Ashlan bangkit dari kursinya. Diikuti Kaisar, Permaisuri dan Putra Mahkota.
"Ya. Terimakasih karena keputusan bijak anda yang meminimalisir kerugian kekaisaran."
Sejenak memang hukuman yang Aqua berikan terdengar ringan. Karena Machioness dan Nedura masih hidup tanpa luka sedikitpun di tubuhnya.
Tapi banyak orang bilang...
Luka mental lebih sulit disembuhkan daripada luka fisik.
Manusia adalah makhluk sosial. Alasannya karena mereka tidak bisa hidup sendiri tanpa orang lain. Tapi bagaimana jika hubungan sosial itu di putus paksa?
Apa yang akan terjadi pada Machioness dan Nedura setelahnya hanyalah angin lewat namun membekas menjadi cerita yang memberikan pelajaran.
Awalnya mereka baik-baik saja karena bisa keluar dari sana tanpa luka. Namun hari demi hari keadaan mereka semakin memburuk.
Setelah Kaisar mengumumkan permintaan Aqua, rakyat dan bangsawan menjadi sepenuhnya mengabaikan mereka. Orang yang semacam itu tidak pantas menduduki kursi Machioness. Jadi Kaisar mencabut gelarnya dan mengirim mereka berdua kepinggir ibu kota dengan sebuah mansion dan beberapa peralatan.
Hari pertama setelah pengumuman kaisar, mereka kacau karena pelayan dan pengurus mereka keluar dari mansion. Mereka terpaksa mengerjakan sendiri tugas rumah mereka.
Minggu pertama mereka jadi stress karena tidak ada pedagang yang mendengarkan mereka. Jadi semua uang yang mereka kumpulkan sia-sia.
Bulan pertama mereka putus asa, mereka kehabisan bahan makanan dan tidak ada yang bersedia menjual pada mereka. Meski mencoba menanampun, itu tidak ada berhasil. Entah bagaimana mereka bertahan setelahnya.
Setelah tiga bulan, mereka mencapai akhirnya dan menjadi gila. Keadaan dimana tidak ada satu orangpun yang menganggap kalian sebagai manusia tetapi seperti batu dipinggir jalan sangatlah menyiksa mental. Sang ibu mati bunuh diri, meninggalkan Nedura sendirian.
Bahkan di saat kematian sang ibu, tidak ada satu orangpun yang peduli.
Awalnya Nedura penuh dendam dan terus berlatih sendirian untuk balas dendam. Namun karena kepergian sang ibu, dirinya hanya sendiri di dunia yang sepi ini. Mental gadis itu hancur sepenuhnya setelah di tolak orang-orang pinggir jalan saat dia memohon sembari menangis maupun melakukan hal yang memalukan agar diperhatikan.
Akhirnya... satu Minggu setelah kematian sang ibu... Nedura menjatuhkan dirinya dari menara tertinggi di ibukota sebagai upaya terakhir untuk mendapat perhatian orang-orang.
Karena peristiwa tersebut, seluruh orang di Kekaisaran menanamkan satu hal pada diri mereka.
[ Jangan Pernah Menjadi Musuh Pangeran Aquamarine! ]