
Di perjalanan, Aqua tidak bisa berhenti memikirkan Yue.
"Mau dipikir bagaimanapun, anak ini benar-benar mencurigakan."
"Aqua?"
Yue melambaikan tangannya didepan mata Aqua agar dia sadar dari lamunannya.
"Hmm? Kenapa?"
Aqua menjawab dengan ramah. Meski Aqua mencurigai Yue, dia tidak merasa Yue itu jahat.
Yue menggembungkan pipinya.
"Dari tadi Aqua aneh."
"Apa iya?"
"Iya!!! Apa ada sesuatu?"
"...."
Aqua tidak tau harus menjawab apa. Dia benar-benar ingin bertanya pada Yue tentang jati dirinya, tapi Aqua merasa Yue tak akan senang dengan pembicaraan itu.
"... Yue. Apa aku boleh bertanya sesuatu?"
"Tentu! Lagipula Aqua adalah Aqua!"
Senyuman lebar yang terlukis di wajah Yue menusuk hati nurani Aqua.
"Itu… aku sudah pernah bertanya sebelumnya. Tapi kenapa kamu bisa ada disini? Benua ini jauh dari benua iblis, kan?"
Yue terdiam, dia mengerutkan keningnya dan menutup matanya untuk berpikir keras. Ekspresi imut itu terlihat bingung.
"Yue tidak tau!"
Kata Yue setelah banyak berpikir.
"?!"
"Apa maksudmu tidak tau?"
"Anone… begitu Yue membuka mata, Yue sudah ada di gua gelap dan dingin. Disana gak ada orang selain Yue. Begitu Yue keluar, entah kenapa orang-orang menyerang Yue. Mereka menyebut Yue berbeda dengan mereka dan Yue itu jahat."
Tatapan Yue terlihat sendu. Sejujurnya dia tidak ingin mengingat kejadian itu. Tapi karena yang bertanya adalah Aqua, Yue mencoba menceritakannya dan berharap Aqua percaya padanya.
"Padahal Yue tidak melakukan apapun dan menyakiti siapapun. Yue dikejar-kejar dan hidup dalam pelarian sebelum bertemu Aqua."
"Yue…"
Aqua merasa bersalah sudah mengorek kenangan buruk Yue.
"Maaf. Maaf karena membuatmu mengingatnya," sesal Aqua.
"Tidak masalah. Lagipula Yue bahagia setelah bersama Aqua!"
Yue memeluk lengan Aqua dan tersenyum hangat padanya. Wajah putih itu terhiasi rona merah yang mampu membuat siapapun tidak kuat melihatnya.
"/////"
"Ekhm!! Kalau begitu… apa Yue tidak ingat apapun sebelum Yue ada di gua?"
"Yue cuma ingat kalau Yue adalah Yue!"
"Dia cuma ingat namanya? Berada di gua… apa dia disegel atau semacamnya? Kalau begitu kemungkinan Yue adalah iblis masa lalu yang cukup kuat."
"Yah… apapun itu, Yue yang sekarang tidak berbahaya. Aku sudah mengambil Yue, jadi aku harus bertanggung jawab menjaganya," gumam Aqua pelan.
"Hmm?! Menjaga Yue?"
Yue mendengar sedikit gumaman Aqua. Dia menanyakan itu dengan nada polos tanpa maksud spesial.
"Apa itu berarti Aqua akan selalu disamping Yue?" tanya anak itu polos.
".... Tentu. Kalau begitu, aku akan menganggap Yue sebagai adikku sendiri. Seorang kakak sudah pasti akan menjaga adiknya bukan?" jawab Aqua hangat.
"Kakak… Umm!!! Yue mau jadi adiknya Aqua! Itu berarti kita keluarga, kan?"
"Iya. Yue adalah keluargaku yang berharga."
Aqua tidak tau kalau peryataan itu akan menjadi tali pengekangannya di masa depan. Hubungannya dengan Yue akan membuatnya merasakan takdir yang lebih merepotkan daripada terlibat dengan gamenya secara langsung.
"Ini pertama kalinya… Yue merasakan perasaan hangat seperti ini."
Saat ini, Aqua telah resmi menjadi segalanya bagi Yue. Penolongnya, sahabatnya, keluarganya dan… cinta pertamanya.
Aqua sendiri juga senang-senang saja karena mempunyai adik baru.
"Sepertinya jiwa ke kakakan ku masih ada, haha. Ah, tapi aku bukan lolicon oke."
Perjalanan hangat kakak beradik itu terus berlanjut sampai mereka menemukan sebuah kota yang cukup besar. Banyak kereta kuda yang berbaris rapi di depan gerbang mencoba masuk ke dalam. Penjaga yang menjaga perbatasan sepertinya juga cukup ketat mengawasi.
"Warna rambut Yue terlalu mencolok. Kita pasti jadi pusat perhatian kalau masuk."
"Yue… aku boleh mengubah warna rambutmu jadi sepertiku?" tanya Aqua.
"Seperti Aqua? Yue mau!!!"
Jawaban Yue terdengar bersemangat. Aqua bersyukur Yue tidak mempermasalahkan warna rambutnya.
"Ini juga bukan warna rambut asliku. Seperti Yue, punyaku cukup mencolok. Makanya aku merubahnya."
Aqua tak merasa perlu merahasiakan itu dari Yue, jadi dia mengatakannya.
"Bukan? Warna asli Aqua apa?"
Aqua tersenyum, dia meletakkan jari telunjuknya di mulut.
"Nanti Yue akan tau. Tidak sekarang."
Yue memanyunkan bibirnya, dia ngambek karena Aqua main rahasia-rahasiaan darinya. Aqua tertawa melihat tingkah kekanakan gadis kecil itu.
Aqua meletakkan tangannya di atas kepala Yue. Tak lama, warna rambut hitam Yue berubah coklat persis seperti Aqua.
"Yue. Kalau ditanya, bilang saja kita ini kakak beradik dari suatu desa kecil. Jangan mengatakan hal-hal yang membuat kita dicurigai, terutama tentang ras aslimu. Sisanya serahkan saja padaku, oke?"
"Baik!"
Aqua mengelus kepala Yue. Elusan kepala Aqua adalah hal yang paling disukai Yue.
"Hehe…"
Mereka bergandengan tangan dan ikut mengantri bersama orang lainnya. Beberapa orang berhasil masuk ke kota, namun juga ada orang yang tidak diizinkan masuk dengan berbagai alasan.
Begitu giliran Aqua dan Yue datang. Penjaga itu bingung karena tidak ada orang dewasa yang menemani dua anak itu. Dia berjongkok menyamakan tinggi Yue dan bertanya dengan ramah.
"Adik kecil, dimana orang tuamu? Apa kamu hanya berdua saja?" tanya penjaga wanita itu seramah mungkin.
Yue bersembunyi di belakang Aqua, meski sudah dekat dengan Aqua, Yue masih belum percaya pada manusia. Penjaga itu sedikit sakit hati karena dikiranya anak-anak takut padanya.
"Tidak apa-apa, jangan takut. Aku disini," kata Aqua menenangkan Yue. Yue mengangguk, dia menggenggam erat jubah Aqua.
"Tolong maafkan adik saya. Dia tidak terbiasa dengan orang lain," ucap Aqua sopan sambil meletakkan tangan didada dan menunduk sedikit. Aqua pernah diajari sopan santun dasar oleh Ashlan agar Aqua tak terlibat masalah dengan bangsawan.
"Tidak, tidak masalah. Jadi dik, apa kamu berdua saja?" jawab penjaga itu ramah.
"Dia masih kecil, tapi sudah sesopan ini. Apa dia bangsawan? Tidak… tidak mungkin bangsawan sendiri tanpa pengawalan."
"Saya hanya seorang yatim piatu biasa dari sebuah desa kecil. Kami sedang dalam perjalanan untuk pergi ke tempat yang diminta guru saya. Untuk itu, kami harus melewati kota ini," terang Aqua.
"Guru yang meminta anak kecil melakukan perjalanan sendiri itu guru macam apa? Kalau aku bertemu dia nanti, aku akan memarahinya!!" kesal penjaga itu.
"Haaachiii!!!!" terdengar suara bersin yang nyaring. "Apa ada yang membicarakanku?" tanya Ashlan iseng.
Jadi begitu, apa kamu punya tanda pengenal? Kalau punya kamu bisa masuk saja, tapi kalau tidak kalian harus melewati beberapa prosedur."
Aqua punya tanda pengenal. Ashlan pernah membuatkan satu untuk Aqua. Tapi tanda itu bukan tanda biasa. Itu adalah tanda pengenal penyihir yang dibuat langsung oleh menara sihir. Disana tertulis tingkat penyihir seseorang, punya Aqua adalah tingkat tinggi.
"Orang-orang pasti akan heboh kalau melihat anak 13 tahun adalah seorang penyihir tingkat tinggi. Sudahlah…"
.
.
.
.
.
[ Sudah gak error, kan? ]