
Dwarf tua berjalan ke depan Aqua dengan tampang garang.
"Apa yang kalian inginkan di desa ini?!!" tanya dwarf tua tidak ramah.
"Bahkan tanpa sihir sekalipun, kalian bisa membunuh mereka dengan mudah. Pasti alasan kalian memang ingin datang kemari, kan?!" garangnya.
Para dwarf muda yang membawa Aqua tadi terlihat kebingungan. Mereka tidak paham kenapa dwarf tua mengatakan kalau orang asing yang mereka bawa bisa membunuh mereka dengan mudah.
"Aku sudah bilang. Aku adalah pelanggan. Tentu alasanku datang untuk membuat pesanan," jawab Aqua dingin.
Dwarf tua berbalik memunggungi Aqua.
"Bocah, asal kau tau! Kami para dwarf tidak akan membuatkan sesuatu pada orang asing. Yang bisa membuat pesanan pada kami hanyalah orang yang sudah kami akui dan kami jamin identitasnya."
"Pulanglah!! Aku akan menyuruh mereka mengantar kalian kembali! Sebaiknya jangan membuat masalah di wilayah kami!" lanjutnya.
Aqua menatap dwarf tua itu dingin.
"Tidak bisa. Kami tidak jauh-jauh datang kemari hanya untuk melihat desa kalian saja."
"Kau tidak mendengarku bocah!!! Kubilang pulanglah!!! Bahkan jika kamu sangat kuat, membuat dwarf menjadi musuhmu tidak akan menguntungkan!!!" marah dwarf itu.
Aqua menghela napas. Dia merogoh sesuatu dari kantung jubahnya.
"Aku tau. Itulah sebabnya ak- kami sama sekali tidak melawan tadi."
Dari jubah itu, keluar sebuah kalung silver mewah dengan lambang pentagram.
Masing-masing sisinya memiliki sebuah permata dengan warna berbeda. Berlian (putih) di sisi atas, Topaz (biru) di sisi kiri, Peridot (hijau) di sisi kanan, Citrine (kuning) di sisi kiri bawah dan Ruby (merah) di sisi kanan bawah.
Para dwarf muda, Eli dan Hell terlihat kebingungan dengan benda yang dikeluarkan Aqua. Kenapa anak itu mengeluarkan kalung di saat seperti ini? Mika hanya tersenyum saja melihatnya.
Sedangkan dwarf tua terlihat sangat terkejut dengan benda itu.
"Ka-kalung pentagram itu?!!" kagetnya.
Dwarf muda, "???"
Dengan wajah tergesa-gesa, dwarf tua menarik tangan Aqua.
"Bocah! Ayo pergi ke rumah kepala desa!!!"
"Tentu."
Dengan cepatnya, Aqua ditarik pergi dwarf tua itu. Mika, Eli dan Hell segera mengejarnya, meninggalkan para dwarf muda yang masih tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.
.
.
.
.
.
.
DRAP DRAP DRAP
Langkah berat sang dwarf tua terdengar menuju sebuah rumah yang sedikit lebih besar dari rumah lainnya.
"PAK TUA RECHO!!!!" jeritnya membahana.
Saking kerasnya suara dwarf tua itu, mungkin tak seorangpun di desa yang tidak mendengarnya.
"BERISIK GHOR TUA!!!!" jerit seorang dwarf dari dalam.
Seorang dwarf yang seumuran dwarf tua yang menarik Aqua keluar dari rumahnya dengan paku besar di tangannya. Badannya berantakan dan penuh dengan noda hitam gosong. Pakaiannya juga terlihat hampir rusak dimana-mana.
"!"
Dwarf yang dipanggilnya Recho itu menyadari keberadaan Aqua dan yang lainnya.
"Siapa bocah yang kau bawah?"
"Bahkan untukmu, melanggar aturan desa tidak bisa dimaafkan!" bentaknya.
"Hmrggh! Kau kira aku punya waktu membawa bocah dari luar kesini?!! Aku juga sibuk!!" dwarf tua mendorong tubuh Aqua maju.
"Bocah ini pasti punya urusan denganmu!"
"Hahh?! Kenapa bocah Half-elf sepertinya mencariku?!" kesal Dwarf tua Recho.
"Bocah ini punya kalung itu."
"Kalung itu?"
Dwarf tua tadi menyenggol lengan Aqua. Dari wajahnya terlihat kalau dia menyuruh Aqua menunjukkan kalungnya.
Aqua mengikuti saja perintah dwarf tua, dia mengeluarkan kembali kalung pentagram tadi dan menunjukkannya ke Dwarf Recho.
Dwarf tua Recho membelalakkan matanya.
"Bocah! Kau!!!"
"Apa sekarang kita bisa mulai bicara pesanan kami?" senyum Aqua.
"......" Recho tua tak bisa berkata-kata. Meski kesal dan terpaksa, dia membiarkan Aqua dan teman-temannya masuk ke rumahnya.
Rumah para dwarf menyatu dengan bengkel tempa mereka. Saat masuk, kau akan melihat tempat penempaan yang dimiliki semua dwarf dan hasil tempaan mereka terpajang di dinding. Jika masuk lebih dalam, barulah bagian yang bisa disebut rumah terlihat.
Recho tua menyuruh Aqua dan yang lainnya duduk di kursi depan meja besar dari batu yang di poles halus. Dwarf tua itu juga duduk tak jauh dari mereka.
"Punya kalung itu, rambut silver dan Half-elf. Bocah, apa hubunganmu dengan Saintess Agate?" tanya Recho tua dengan nada sedikit keras.
"Anaknya Sapphire?"
"Benar."
Recho tua menghela napas kesal.
"Itulah kenapa kau bisa punya kalung itu."
Eli menyentuh Mika dengan jarinya. Tangannya bergerak menyuruh Mika mendekat padanya. Mika mendekatkan telinganya ke dekat wajah Eli.
"Kalung apa itu?" bisik Eli.
Kali ini giliran Mika mendekatkan mulutnya ke telinga Eli.
"Itu adalah kalung khusus yang dibuat Jasper Chalcedony begitu dia masuk party pahlawan. Kalung itu adalah item pertama yang dia buat untuk party pahlawan. Masing-masing anggota party memilikinya, dan masing-masing sisi juga mencerminkan anggotanya," bisik Mika.
"Berlian Pahlawan, Topaz Penyihir, Peridot Saintess, Citrine Tanker dan Ruby Assassin. Kalung itu hanya ada 5 di dunia ini dan tidak bisa dicuri. Punya salah satunya artinya kamu merupakan orang terpercaya anggota party atau anggota party itu sendiri."
"Kalung itu juga punya hak akses untuk pemegangnya. Berlian memberi akses masuk istana Kekaisaran Levana. Topaz memberi akses masuk Menara Sihir. Peridot memberi akses masuk Kekaisaran Anessa. Citrine memberi akses masuk Desa Rocco. Ruby memberi akses masuk Guild Assassin."
"Dengan kata lain, yang punya kalung itu pasti orang penting, gitu?" bisik Eli.
"Bisa dibilang begitu."
Recho tua mendekat, melihat baik-baik kalung Pentagram itu.
"Ini asli. Ada tanda tangan ayah disini."
"Ayah?" bingung Eli.
"Baiklah bocah. Kau punya kalung ini, jadi kamu bisa masuk ke desa dan membuat pesanan. Tapi! Kami para dwarf juga bisa menerima atau menolak pesananmu! Catat itu!!" bentak Recho tua.
"Aku tau."
Aqua menarik sudut bibirnya.
"Karena harga diri tinggi Dwarf, mereka adalah ras yang pasti membalas budi baik penolong mereka dan juga membalas perbuatan buruk tanpa sebab yang mereka lakukan. Alasan Aqua membiarkan dirinya di tangkap dan diperlakukan seperti itu adalah demi ini. Karena perbuatan kurang ajar dwarf yang tadi, dwarf di sini tidak akan menolak request Aqua karena harga diri mereka. Semuanya berjalan lancar," batin Mika.
"Omong-omong bocah, boleh aku tanya sesuatu?" pinta Recho tua.
"Silahkan."
Aqua memasukkan kembali kalungnya ke inventory. Sebelumnya dia sebenarnya mengeluarkan kalung itu dari inventory, tapi agar tidak mencolok, dia pura-pura mengeluarkannya dari kantung.
"Saintess tidak akan memberikan kalung seberharga itu pada anak atau cucunya begitu saja. Hanya keturunan yang akan naik tahta yang akan diwarisi kalung itu."
"Namun para pewaris tahta hanyalah keturunan berdarah murni. Half-elf sepertimu tidak mungkin bisa. Bagaimana caramu membuat Saintess memberikan kalung itu?" tanya Recho tua curiga.
Tanpa tekanan sedikitpun, Aqua menjawabnya dengan santai.
"Apa aku pernah bilang kalau aku mendapatkannya dari Saintess? Yang menyimpulkan sendiri itu kamu."
"BOCAH KURANG AJAR!!!! JANGAN BILANG KAU MENCURINYA?!!" bentak Recho tua.
"Ha~ahh... kau harusnya paling tau. Kalung ini tidak bisa dicuri. Mana mungkin aku mencurinya."
Recho tua tidak bisa berkata-kata, yang Aqua katakan benar. Tidak mungkin bagi siapapun mencuri kalung itu. Bahkan untuk makhluk di luar batasan sekalipun. Itu karena dalam kalung itu terpasang sihir dari penyihir party pahlawan dan berkat Dewi dari Saintess.
"Kalau begitu darimana kau mendapatkan kalung itu kalau bukan dari Saintess, nenekmu?!"
Aqua tersenyum tipis.
"Dari Masterku."
"Penyihir dari party pahlawan sebelumnya dan pemilik Menara sihir saat ini. Serta satu-satunya anggota party pahlawan yang masih hidup sekarang. Masterku, Vashlana Magiya yang memberikannya padaku."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
[ Wahhh!!!! Tak terasa kita sudah bersama sampai 100 chapter, guys. Author terhura!!! Terimakasih untuk semua reader yang senantiasa menemani author dari awal novel ini rilis. Terimakasih untuk para reader yang selalu menekan tombol like. Terimakasih untuk reader yang selalu komen tiap chapter nya. Lama-lama author apal sama kalian!!! ]
MINNA!!!! ARIGATOU!!!!!!!
(≧▽≦)
HONTO NI!!! ARIGATOU NA!!!!!!
(≧▽≦)(≧▽≦)(≧▽≦)(≧▽≦)(≧▽≦)
DAISUKI DA!!!!!!!!!!!
(づ ̄ ³ ̄)づ