
Paus menepukkan tangannya, setelah itu masuk seorang penyihir sambil membawa item penilai berbentuk bola putih bersinar.
"Mungkin ini sedikit membuat kalian tidak nyaman. Benda ini adalah alat penilai yang bisa mengecek status kalian," ucap sang paus sambil mengambil bola sihir itu.
"Status?! Kayak yang di game itu?" senang Yoshida.
"Game?" tanya Himawadi bingung.
"Ck, gitu aja gak tau. Game MMORPG itu!!"
"Gak tau, aku bukan otaku!"
"Heh!!"
"Kalian berdua, tenanglah! Kita ada di depan Paus. Itu tidak sopan!!" tegas Sora.
"Maafkan kami..." sesal Yoshida dan Himawari.
Paus menghela napas tanpa disadari siapapun.
"Baiklah, mari kita langsung mulai saja. Tolong majulah satu per satu."
"Kalau begitu... tidak apa kalau aku maju duluan?" tanya Sora sebagai ketua klub.
Semua anak disana setuju Sora mencoba duluan. Gadis 18 tahun itu maju ke depan Paus dan meletakkan tangannya sesuai arahan Paus. Bola itu mengeluarkan sebuah layar tembus yang cukup besar di atasnya hingga mengejutkan ke-9 anak itu.
"Seorang Sage? Dengan elemen ganda? Ditambah level mu sudah 62. Ini luar biasa!" senang penyihir.
"Ap-Apa itu menakjubkan?" tanya Sora kebingungan.
"Untuk anak seusiamu itu menakjubkan. Biar kujelaskan. Tingkatan level makhluk didalam batasan kurang lebih seperti ini."
"Padahal kamu masih anak umur 18 tahun. Tapi sudah mencapai Penyihir tingkat menengah. Itu hebat! Kebanyakan penyihir hanya bisa sampai tingkat tinggi. Sangat jarang ada yang bisa menggunakan sihir tingkat Epic, Legend atau Mythic. Kurasa kamu punya potensi yang luar biasa!" seru sang penyihir senang.
"Diantara anak-anak seusiamu, kamu itu jenius!!!" lanjutnya.
( Tidak, anak-anakku lebih jenius )
Wajah Sora memerah karena dipuji sampai sebegitunya.
"Te-terima kasih."
"Senpai hebat!!! Aku tidak terlalu tau tentang game, tapi aku tau Sora-senpai luar biasa!!!" puji Kazuki dengan mata berbinar-binar.
"Tidak, tidan sebegitunya," malu Sora.
Sebenarnya bukan mereka yang lemah. Tapi Aqua dan teman-temannya yang tidak normal. Kebanyakan anak berusia 15 tahun yang masuk ke Akademi Sihir punya level awal kurang lebih 25. Itu karena sebelum dari Akademi, mereka tidak diajarkan sihir secara resmi. Hanya beberapa bangsawan kaya yang mampu menyewa penyihir tutor untuk anak mereka.
Jadi siswa yang berlevel lebih dari 50 saat awal masuk Akademi bisa dihitung dengan jari. Dan aslinya menaikkan level itu sangat sulit. Bisa dilihat dari Ashlan yang jenius itupun perlu ratusan tahun untuk mencapai level 700. Begitu pula dengan Elvira dan Elvina. Sekali lagi diingatkan, Aqua dan teman-temannya itu yang tidak normal.
Status murid lainnya juga kurang lebih mirip seperti itu. Hanya berbeda di bagian skill dan class saja. Sampai giliran terakhir, Kanzaki Kazuki.
"APAAA?!!!!! TITLE HERO DAN LEVEL 101?!!! TERLEBIH LAGI TRIPEL ELEMEN" jerit sang penyihir kaget.
Para siswa di sana juga ikut kaget melihat status Kazuki. Namun Paus hanya diam memandang dengan wajah sulit dimengerti.
"Aku belum pernah melihat anak 16 tahun sehebat ini!!!"
Sang penyihir sangat girang dan memegangi tangan Kazuki kagum.
"Ah... te-terima kasih..." malu Kazuki.
"Tidak sia-sia kami melakukan pemanggilan pahlawan dari dunia lain! Mereka mungkin bisa melampaui party pahlawan sebelumnya, Baginda!!!" senang Penyihir.
"Party pahlawan sebelumnya?" tanya Kazuki.
"Ya! Party pahlawan yang menyelamatkan dunia dan mengalahkan raja Iblis sebelumnya. Yah... itu sudah 500 tahun lalu. Saat ini hanya 1 saja yang masih hidup," jawab penyihir itu.
Paus bangun dari tahtanya dan turun berjalan ke pintu keluar.
"Cukup sampai disini. Tanyakan saja apapun pada penyihir itu. Aku ada urusan jadi aku pergi dulu."
Sebenarnya saat ini, banyak yang ingin ditanyakan anak-anak pada Paus dan penyihir. Namun mereka merasa bahwa Paus bukanlah orang yang bisa diganggu seperti itu. Rasanya Paus itu orang berbahaya yang tidak boleh di usik.
Begitu Paus sudah tidak ada, rasanya agak canggung.
"Ba-baiklah. Kalau begitu aku akan mengumumkan hasilnya...!" seru penyihir.
"Akabane Sora (62) Sage 2 elemen. Kasau Himawari (60) Healer 1 elemen. Shirasaki Aoi (61) Summoner 1 elemen. Dan Kanzaki Kazuki (101) Hero 3 elemen. Kalian berempat bisa menjadi penyihir karena memiliki berkah elemen. Sebentar lagi tahun ajaran baru Akademi Sihir, kalian akan di daftarkan menjadi siswa disana dan bisa melatih sihir kalian."
"Sisanya Yoshida Rakka (57) Assassin, Shirasaki Aoki (59) Archer, Yagami Souta (56) Fighter, Kuroki Hizaki (56) Fighter dan Aozora Yoru (60) Tanker. Kalian bisa belajar di Akademi Ksatria dalam waktu yang sama dengan keempat teman kalian. Petualangan sebagai party pahlawan bisa dimulai setelah kalian semua lulus."
"Ah, tentu saja kami tidak memaksa. Kalian bisa menolak jika kalian mau. Jadi? Apa pilihan kalian?" tanya sang penyihir.
Semua murid saling pandang. Mereka tidak mungkin bisa mengiyakan begitu saja tawaran tak masuk akal yang terjadi tiba-tiba. Tapi berbeda dengan satu anak.
"Kalau kami berlatih dan menjadi kuat demi menyelamatkan dunia, artinya banyak orang akan selamat dan senang, kan? Kalau begitu tidak perlu bertanya! Aku akan pergi!!!" seru Kazuki tanpa keraguan.
Semangat tanpa keraguan Kazuki akhirnya menggerakkan murid lainnya.
"Yare, yare... kalau Kazuki pergi, aku juga pergi!" timpal Yoshida sambil bersandar di tubuh Kazuki.
"Rakka..." harunya.
"Jangan nangis karena kutinggal sebentar!" cengir Yoshida.
"Hahahaha, tidak akan!"
"Aku juga akan pergi!" seru Aoi gantian. "Akademi Sihir adalah latar utama Dragon's Wing! Mana mungkin aku tidak pergi!"
"Aoi-senpai..."
"Mouuu... kalau Kazu-kun pergi, Hima juga pergi!!!" seru Himawari.
"Aku juga. Kouhai-ku saja pergi semua, bagaimana bisa aku tidak pergi?" ucap Sora.
"Himawari... Sora-senpai..."
"Apa boleh buat, dari pada diam disini. Aku juga pergi, lah! Ayo kita bertanding siapa yang paling kuat Hizaki!!" seru Souta.
"Oke!! Aku pasti menang, Souta!!!" jawab Hizaki.
"Yang lain ikut mana mungkin aku tidak ikut, aku juga akan pergi!! Lagipula pahlawan kami sudah memutuskan!" seru Yoru.
"Benar!!!"
"Semuanya..."
Kazuki terharu karena semua temannya di klub memilih mengikutinya.
Dengan wajah penuh tekad, Kazuki menghadap sang penyihir.
"Kami anggota klub permainan papan, setuju untuk belajar agar bisa menjadi party pahlawan yang hebat dan bisa menyelamatkan dunia!!!"
"Hohoho... terimakasih para pahlawan. Aku akan menjelaskan detai semuanya sekarang..."
...***...
Suatu Tempat di Alam Lain
|| Aku booosaaaaaannnn...... || ucap seorang gadis cantik sambil tiduran.
[[ ....... ]]
Seorang gadis yang sedikit lebih kecil darinya menatap gadis itu kesal.
[[ Kamu ini ngomong apa? ]] lelahnya.
|| Cerita kemarin cuma nerangin si pahlawan dari dunia lain. Jujur, aku tidak peduli dengan dia ||
[[ Jangan begitulah, perpindahan dunia dengan membawa wujud fisik itu sangat sulit dilakukan mereka. Itu mengagumkan loh ]]
|| Aku tau. Tapi kisah memanggil pahlawan dari dunia lain itukan udah mainstream... ditambah kalau sifatnya sok kepahlawanan. Aku lebih suka nonton ceritanya Aqua! ||
[[ Dasar kamu ini... ]]
Sang gadis melihat sekelilingnya dengan wajah mengantuk. Dia sekarang ada di alam para dewa di area khusus dewa tertinggi.
|| ....... Pembuat otome game itu... si Artemis, kan? ||
[[ Benar, Dewi Artemis adalah author dari game Dragon's Wing saat dia berlibur ke Bumi ]]
[[ Dia membuat itu berdasarkan kisah nyata dari pengelihatan masa depannya dan sedikit diubah agar menarik ]]
|| Yah... kalau gitu siapapun yang bereinkarnasi ke sana dan pernah memainkan game itu pasti akan salah paham dengan alur ceritanya ||
|| ...! ||
|| Tidak, itu mungkin akan menarik ||
Dewa tertinggi tersenyum licik begitu sebuah ide muncul di kepalanya. Gadis didepannya mulai curiga kalau temannya akan melakukan sesuatu yang merepotkan lagi.
|| Fuzzy! Sudah ku putuskan! Ayo pergi menonton dari dekat!! ||
[[ Haaaaahh?!!!! Kamu ngomong apa?!! Sudah berapa kali kubilang kalau kamu tidak boleh pergi main ke sana!!! ]] marah gadis itu.
|| Ck Ck Ck... bukan main! Tapi ob-ser-va-si! Observasi! Aku akan melakukan Observasi pada anak yang dimasa depan bisa menjadi dewa itu! || sangkal Dewa tertinggi.
[[ Alasan saja!! Aku yakin kamu cuma mau main ke Demetria aja, kan?! ]]
|| ........ ||
|| Teheee ||
[[ Teheee... apaan anjir?!!! ]] kesal gadis itu.
|| Ma Ma... jangan marah-marah gitu! ||
Dewa tertinggi bangun dari bantal raksasanya. Lalu dia mencium jari telunjuk tangan kirinya dan telapak tangan kirinya bergantian. Mendadak sebuah cahaya hijau dan merah ke merah mudaan bersinar didekatnya. Dari sana muncul seorang pria tampan dengan rambut hijau keputihan dan mata hijau gelap persis dan simbol (♎).
Disebelahnya muncul gadis kecil yang terlihat seperti anak SD. Rambut gadis itu berwarna merah muda dan matanya persis seperti (♓) ini.
[[ Libra, Sang Penimbang menjawab panggilan Master! ]] seru pria tampan itu.
[[ Pisces, Sang Pembidik menjawab panggilan Master! ]] seru gadis kecil itu.
[[ Kau... memanggil Libra dan Pisces, jangan bilang...?! ]]
Gadis di sebelahnya mulai lelah hanya dengan berpikir apa yang mau dilakukan temannya.
Sang Dewi tersenyum licik.
|| Pertemuan para Dewa sudah selesai. Setidaknya butuh waktu 10 abad untuk kembali bertemu. Libra! Pisces! Aku punya misi untuk kalian! ||
[[ Libra dan Pisces siap menjalankan misi apapun dari Master!! ]] jawab mereka serentak.
|| Bagus! Libra! Kamu akan bertanggung jawab ke konflik internal para dewa. Dan Pisces bertanggung jawab ke konflik eksternal. Lakukan misi itu selama aku pergi sebentar! ||
[[ Baik, Master!!! ]]
Sang gadis muda yang terlihat masih 18 tahun (tapi pendek) itu menepuk jidatnya lelah.
[[ *Kalau sudah gini, tidak ada yang bisa menghentikan*nya... ]]
|| Juga, sampaikan pada Virgo. Dia yang akan memegang kendali keputusan atas namaku selama aku pergi!! ||
[[ Baik, Master!!! ]]
|| Oke, sudah itu saja. Ayo Fuzzy!! ||
Sang Dewa tertinggi menarik tangan gadis muda yang disebut Fuzzy itu. Mereka bersinar terang, bersiap teleport ke Demetria. Mau tidak mau, dia harus mengikuti temannya dan memastikan temannya tidak menganggu keseimbangan di dunia yang dia kunjungi.
|| Jangan menolak, ini perintah! || seringai gadis itu.
[[ Baik, baik. Fuzriel menjawab perintah sang Dewi ]] jawab gadis muda bernama Fuzriel itu lelah.
Dengan begitu, tanpa seorangpun sadari, Dewa Tertinggi turun ke Demetria dari alam para Dewa hanya demi mengamati hidup anak kembar Dewi Athena dari dekat bersama Arc-Angel nya, Fuzriel.
Meski begitu, perlu diingat kalau yang mereka lakukan hanya mengamati dan menonton. Mereka tidak akan berperan banyak dalam kehidupan Aqua dan konflik yang harus dihadapinya kedepan.