
"Kalau begitu, ayah pergi dulu. Kalian baik-baik di istana, ya."
Turquoise menaiki kuda yang berada di barisan paling depan utusan diplomasi.
"Baik, ayahanda!! Hati-hati!!!!"
Kedua anak dan kekasihnya melambai sepanjang perjalanan Turquoise sampai keluar dari wilayah istana.
"Ibunda! Kami mau main dulu!" seru Veni, sang kakak.
"Baiklah, jangan terlalu larut. Ibunda akan membaca di perpustakaan."
Sang ibu mengusap lembut rambut Veni dan Khorin. Sembari di temani pelayan, dia berjalan masuk ke Istana dengan elegannya.
Melihat ibunya sudah pergi jauh, Veni langsung melirik Khorin dengan mata berbinar.
"Ayo pergi!!"
"Ayo kak!!!" jawab Khorin cepat.
Kedua anak itu menolak diikuti pelayan. Karena mereka memang tidak bermain jauh, hanya di taman yang disiapkan Turquoise khusus untuk mereka, maka pelayan juga tidak melarang.
Jika hanya sekali terlihat, taman itu terlihat normal, seperti taman pada umumnya. Hanya ada satu pohon raksasa di tengah-tengahnya. Namun terdapat sesuatu yang aneh. Ada banyak gundukan tanah di taman itu. Para pelayan hanya berpikir kalau itu adalah hasil bermain kakak beradik itu, jadi mereka tidak mempermasalahkannya.
Veni dan Khorin berjalan masuk ke belakang pohon raksasa. Karena zona itu tertutup semak belukar, tidak ada yang mendekatinya. Mereka yang mendekatpun tidak akan sadar kalau didalam semak itu ada barrier.
Dengan mudahnya, kakak beradik ini melewati barrier itu seolah bukan apa-apa.
Hal mengejutkan terlihat. Didalam zona khusus itu, terdapat sebuah gazebo cantik yang dikelilingi mawar.
Namun ada yang tidak beres, seorang wanita Elf terikat dengan rantai panjang disana. Seluruh tubuhnya penuh dengan luka. Matanya buta karena shock berat. Bekas cambukan, sayatan dan luka bakar ada di seluruh tubuhnya. Telinga kanannya sobek hingga lebih pendek dari manusia. Perban tidak rapi memenuhi tubuhnya. Sedari tadi, dia menggumamkan sesuatu, namun tidak jelas apa.
"Kakak! Kami datang untuk bermain lagi denganmu!!" seru Veni bersemangat.
Entah karena sudah terbiasa atau kehilangan harapan, wanita Elf ini hanya diam bergumam seperti biasanya.
"Kakak?" tanya Khorin tepat di depan mata wanita Elf itu.
"Hmm... apa kakak ini sudah rusak, ya? Daritadi gak jelas ngomong apa?" kesal Veni.
"Itukan karena Kak Veni memotong tenggorokannya! Kita jadi gak bisa dengerin jeritan kesakitan dia, kan!!" kesal Khorin gantian.
"Berisik ah!! Itu karena sebelumnya dia terlalu berisik!!" sanggah Veni.
"Hmmph! Yasudahlah, toh ayahanda nanti akan membawa mainan baru."
Veni mengatakan itu seperti gadis kecil yang ingin mengganti Boneka berbie-nya.
Khorin hanya menggeleng lelah.
"Kalau begitu apa yang harus kita lakukan dengan ini?"
"Hmm... ayo bunuh saja!"
Mendengar itu, wanita Elf tersentak. Dia tidak melawan, tidak juga berusaha melarikan diri. Yang ada dipikirannya hanyalah... akhirnya dia terbebas dari semua ini.
Sepanjang hidupnya, dia sudah menjadi pelayan pribadi Tuan Putri Citrine Caller El Vittacelar, namun setelah Putri Citrine dinyatakan tewas, dirinya menjadi pelayan biasa yang kesepian. Dia senang karena mengetahui Turquoise memiliki anak perempuan dan tambah senang karena bisa melayaninya sebagai pelayan pribadi.
Namun siapa sangka... kalau hal yang dia senangi saat itu adalah gerbang menuju neraka.
[ Fire Ball ]
Veni mengeluarkan bola api, dia menembaknya ke wanita Elf begitu saja dengan senyum lebar.
"AHAHAHAHHAHAHHAHAHAHHAHAHA!!!!"
"Kakak curang!!! Aku juga mau main!!" jerit Turquoise merajuk.
"Dia mainanku!! Salah sendiri kamu membunuh mainanmu duluan!!!" sanggah Veni membuat Khorin menggembungkan pipinya.
Meski ditembakkan bola api bertubi-tubi tanpa ampun, meski rasanya sangat sakit karena tubuhnya mulai terpanggang sedikit demi sedikit, wanita Elf tidak menjerit ataupun mengeluarkan air mata. Baik mental maupun fisiknya sudah hancur.
"Cih, aku juga mau main!!!" jerit Khorin melengking.
[ Water Ball ]
Dikeluarkannya bola air sangat besar hingga menutupi seluruh tubuh wanita Elf itu. Setelah terpanggang hangus, dia sekarang ditenggelamkan dan dibuat tidak bisa bernafas.
Veni mengacungkan tangan kirinya. Dari sana keluar sengatan listrik yang tidak terlalu besar.
[ Thunder ]
Namun dalam keadaan tenggelam oleh bola air, jika ditambah sengatan listrik, maka rasa sakitnya sangat berbeda.
Tidak ada yang merasa bersalah, keduanya tertawa senang melihat betapa tersiksanya wanita Elf itu.
Begitu senangnya sampai tak menyadari...
Kalau bayangan seseorang ada dibelakang mereka.
"Wah, main air gak ngajak-ngajak. Apa paman boleh ikut?"
"!"
Veni dan Khorin langsung berbalik dengan ekspresi waspada. Terlihat seorang pria muda berambut perak sedang tersenyum menyeringai.
Selama ini mereka menganggap paman mereka hanyalah orang bodoh tidak berguna. Mereka juga berpikir mungkin suatu saat nanti, mereka bisa "bermain'' dengan paman mereka. Dan sama seperti yang lainnya, paman mereka tidak akan bisa melawan.
Tapi jangankan tidak bisa melawan. Paman yang saat ini berdiri di hadapan mereka, membuat seluruh tubuh mereka merinding. Memberi isyarat untuk melarikan diri.
Secara refleks, Veni langsung menarik tangan Khorin menjauh dari sana. Aqua tertegun sesaat.
"Hehh... insting mereka masih ada, huh."
Kedua kakak beradik ini berlari sekuat yang mereka bisa menjauh dari sana.
"Hah... hahhh... apa kamu... merasakannya?" tanya Veni terengah-engah.
"Ya... kak... Aku belum pernah, bertemu hawa membunuh sebesar itu... tadi rasanya tercekik..." jawab Khorin hampir menangis.
"Mungkin saja... paman sebenarnya adalah orang yang berbahaya. Kita harus memberi tahu ibunda!!" seru Veni ketakutan.
Khorin mengangguk setuju. Sembari bersembunyi dan mengendap-endap, mereka memastikan tidak ada yang melihat mereka. Karena mereka tidak tau, siapa saja di istana ini yang bisa menjadi mata atau telinga Aqua.
Tapi...
"Ciluk ba!" ucap Aqua riang sambil memunculkan wajahnya dari balik dinding.
"KYAAAAAAAAAA!!!!!"
Veni menjerit kaget, wajahnya memucat seolah bertemu hantu. Karena meski kelakuannya riang, hawa membunuh Aqua sama sekali tidak disembunyikan.
Dengan cepat, Veni dan Khorin kembali melarikan diri. Namun itu sia-sia. Tidak peduli berapa cepat mereka lari, dibelakang mereka selalu ada paman gila yang dengan santainya mengejar mereka. Sekilas memang terlihat seperti seorang paman yang bermain dengan keponakannya.
"Apa kalian tidak capek? Aku aja capek cuma liat kalian?" keluh Aqua setengah bercanda.
Kedua bersaudara ini sama sekali tidak menggubris Aqua dan hanya fokus melarikan diri.
"Ada yang aneh?! Kenapa tidak ada pelayan satu orangpun?!!" batin Veni takut.
"Oi, oi... kalian mengabaikanku? Hiks... paman jadi sedih..." canda Aqua.
Aqua berhenti mengejar kedua anak itu. Hal itu membuat kedua anak Turquoise agak lega dan mempercepat kaki mereka. Namun berhenti bukan berarti menyerah, Aqua hanya malas meladeni mereka lebih lama.
"Aku benci kedua kaki yang melarikan diri dariku itu. Hmm... pasti akan bagus kalau mereka tidak bisa dipakai, kan?" tanya Aqua sendiri.
Aqua menggerakkan tangannya membentuk pistol sambil mengarahkan pistol tangan itu ke ke Veni dan Khorin.
"Bang!"
Tepat setelah Aqua mengatakan itu, kedua pasang kaki anak Turquoise langsung berlubang hingga membuat mereka jatuh tersungkur.
"Ahh...? AHHHHHHHRRRRRRGGGGHHH!!!!!!!!"
Jeritan kesakitan Veni dan Khorin melengking tinggi hingga bisa didengar siapapun di istana. Tentu saja, termasuk sang ibu yang sedang membaca.
"Veni?! Khorin?!!" tanpa membuang waktu, sang ibu langsung bergegas menuju anak-anaknya.
Sementara itu, Aqua berjongkok di depan Veni dan Khorin yang masih menjerit kesakitan. Lubang yang awalnya tidak terlalu besar, mulai membesar bagai api melelehkan es. Itu semua karena pelurunya memiliki zat asam beruang kutub dari dungeon lantai 90-an. Tentu saja zat korosifnya sangat berbahaya.
"Ckckck... kalian ini gimana? Tadi main lembar bola air gitu senangnya minta ampun. Sekarang aku lemparin bola air kecil kok nangis?" senyumnya menyeramkan.
Yah... meski yang nembak bukan Aqua.