
"Ini terlalu lambat. Aku harus naik level lebih cepat," gumam Michael kesal pada dirinya sendiri.
"Kelihatannya kamu dalam masalah. Apa karena 8 Jendral Dewa Kejahatan lagi?"
"!"
Suara seorang wanita tiba-tiba terdengar dari belakangnya. Michael memasang wajah waspada dan berbalik dengan cepat dalam posisi siap menyerang. Dia sama sekali tidak merasakan keberadaan orang itu di radarnya.
Mata Michael terbelalak sesaat, menyadari bahwa wanita itu bukanlah musuhnya, dia kembali tenang.
"Kenapa kau ada disini?" tanya Mika ramah.
Wanita dewasa dengan rambut merah muda ini tersenyum santai.
"Meski tidak terlalu terlihat, Aqua masuk dengan ekspresi murung. Aku hanya ingin tau apa yang terjadi?"
"Ternyata kamu sedang ada di mode 'Michael'," balas wanita itu.
"Mode Michael, huh..."
Wanita yang tak asing di mata Michael ini hanya menggelengkan kepalanya.
"Kamu berusaha terlalu keras. Alasanmu mengirim ingatan itu pada kami-kan karena kamu butuh bantuan.
"....... Benar. Tidak mungkin aku bisa mengubah semuanya hanya dengan kekuatanku sendiri. Aku membutuhkan informasi sebanyak mungkin. Sebanyak masa depan yang berubah," jawab gadis itu.
Beberapa mungkin sudah bisa menebaknya, wanita di hadapan Michael adalah sang fenrir kembar, Elvina.
"Dasar... apa kau tau betapa kagetnya kami saat tiba-tiba kau mendatangi kami dulu?"
keluh Elvina santai.
"Tapi itu berjalan cukup lancar, kan?" senyum Mika pahit.
Elvina tersenyum, dia berjalan mendekati Mika yang terlihat mengalami masalah.
"Tidak perlu khawatir. Hanya dengan ingatan yang kamu kirimkan pada kami, sudah cukup untuk kami membantumu dan Aqua. Tapi apa kita benar-benar harus pura-pura tidak kenal?"
"Harus. Kita tidak boleh mengacaukannya lebih dari ini. Kalau semua terlalu berbeda, mungkin sesuatu yang lebih buruk bisa terjadi," tegas Mika.
"Hmm... itu juga alasan kamu membiarkan Lucifer berkhianat meski sudah tau sebelumnya. Kamu bahkan sama sekali tidak mencoba meminimalisir korban."
"Bukannya aku tidak mau. Tapi aku tidak bisa. Kau tidak tau apa yang akan terjadi kalau korbannya berbeda dengan yang sekarang. Kupikir itu akan membaik, namun nyatanya... itu justru semakin menambah masalah."
"Heh... kayak kematian 'Mantan Saintess'? Benar juga... kalau beliau masih hidup, pasti akan timbul perang dan itu membuat korban jatuh semakin banyak," pikir Elvina.
"Ya, benar. Dan bukan hanya dari dia saja. Justru kalau korban berkurang, sang Ratu Sihir pasti akan mati. Demi Aqua itu tidak boleh terjadi," sambung Mika.
Elvina menatap Mika dengan ekspresi yang sulit dimengerti.
"Yasudahlah. Kita bertiga memang pembohong ulung. Kamu juga tidak mengatakan semuanya ke anak itu, kan? Seperti kalau kamu-"
"Katakan itu lagi dan aku akan memotong mulutmu!" ancam Mika dengan senyuman menyeramkan.
Elvina tidak panik, meski dia tau kalau ancaman seorang Michael bukan sekedar ancaman biasa, dia tetap mempertahankan ketenangannya.
"Ok, ok... topik itu terlalu berat, kan? Lupakan saja... kembali ke sebelumnya. Kamu kekurangan informasi, kan? Menurutmu apa gunanya guild informasi?"
"Guild kalian belum sampai Benua Melayang dan Iblis, kan? Aku tahu mengembangkan guild sampai sebesar ini dalam 1,5 tahun itu sulit. Tapi kalau informasi yang kuinginkan belum bisa kalian dapat, itu tidak ada gunanya."
"Jahatnya! Beri kami 1 tahun lagi! Dengan waktu itu, aku yakin tidak ada informasi yang tidak diketahui Raven nanti!" ucap Elvina pura-pura marah.
"1 tahun terlalu lama. Siapa yang tau apa yang bisa dilakukan 8 Jendral dalam waktu itu. Kalau kamu benar-benar mau membantuku, lakukan dalam 2 bulan," balas Mika agak dingin sambil meninggalkan Elvina.
"Hei! Itu pelanggaran hak kerja!!" marah Elvina.
"Sebenarnya kenapa kamu begitu tergesa-gesa? Bukankah selama kamu tidak diketahui sudah keluar dari dungeon, kamu tetap aman?"
Langkah Michael terhenti. Dia menoleh dengan ekspresi serius hingga membuat Elvina gugup.
"Anak itu... Aqua ingin menghancurkan Kekaisaran Anessa dalam waktu 3 tahun."
"Kenapa bisa?! Sebelumnya gak ada bahasan kayak gitu, kan?!!"
"Tidak... mungkin karena Aqua dan aku sudah ada di dungeon terlalu lama dan tidak menyelesaikannya, hal itu terjadi begitu saja."
"Kalau itu sih gawat... Baiklah! Sementara aku akan memfokuskan guild informasi untuk mencari informasi Benua Suci dulu. Untuk sekarang cukup, kan?" kata Elvina setelah berpikir sejenak.
"Ya, itu dulu cukup. Terimakasih."
Elvina tersenyum pasrah mendengar Mika mengatakan terimakasih.
"Ha~ahh... dasar bucin... sepertinya beban pikiranmu bertambah karena Aqua, ya?"
"Tidak. Yang dia kurangi lebih banyak dari yang dia tambah," jawab Mika yakin.
"Oh... kamu ini... padahal kamu ini sangat peduli pada dunia, tapi kayaknya kalau itu demi Aqua... menghancurkan dunia pun kamu rela," goda Elvina.
"Kau tau itu. Bukankah kalian juga begitu? Aku memang tau apa yang terjadi dulu, tapi tidak dengan detailnya. Kalian sendirilah yang tau alasan kalian menjadi begitu setia dengan Aqua," balas Mika membuat Elvina terdiam sesaat.
"Yah... apapun yang terjadi di masa lalu. Yang penting adalah masa kini dan masa depan. Mari kita bekerja sama mulai sekarang, rekan!" senyum Elvina merangkul Mika.
"Lepaskan aku!"
"Ayolah~ Kenapa kau jadi sangat mirip anak itu?"
...***...
"Kalian sudah kembali?" tanya Aqua melihat Mika dan Elvina masuk bersama.
"Ya. Maaf menung-"
Ucapan Mika terpotong. Dia tidak tau harus berkata apa setelah melihat apa yang ada didepan matanya.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Mika lelah.
"Ahaha..."
Aqua tertawa hambar, didepan Mika dan Elvina sekarang terlihat Pietro dalam keadaan hampir menangis karena didandani Elvira dan Eli memakai pakaian perempuan yang imut dan manis.
"Maaf, aku tidak bisa menghentikannya," sesal Aqua.
Mika yang dalam mood buruk sebelumnya gemetaran menahan tawanya. Tapi karena itu terlalu menggelitik perutnya, dia tidak bisa menahannya lagi.
"Ahahahaha... beneran deh... kalian ini ngapain?" tawa Mika sedikit menitikkan air mata.
Aqua tertegun sejenak, lalu tersenyum kembali.
"Sepertinya moodnya sudah membaik."
"Jangan cuma menonton Mika!! Bantu kami!!!" jerit Eli riang.
"Baik, baik... Aku datang~" seru Mika menghampiri mereka.
"Ah! Jangan tinggalkan aku!! Aku juga mau main!!" saur Elvina.
"Hentikan!!! Aku tidak mau!!!! Lepaskan aku!!!!"
Pietro masih meronta-ronta dengan wajah hampir menangis. Tapi apa daya, yang dilawannya adalah 4 perempuan yang fisiknya lebih besar dari dirinya. Dia tidak bisa menang.
Pietro menggantungkan harapan terakhirnya pada Aqua dan Lix. Dia menatap dua lelaki itu dengan wajah memelas, meminta bantuan. Namun sayang... harapan terakhir Pietro hancur berkeping-keping.
Baik Aqua maupun Lix berpura-pura tidak melihat Pietro yang menatap mereka dengan wajah anak anjing itu. Agar tidak semakin diserang rasa bersalah, Aqua dan Lix memilih meninggalkan mereka untuk minum-minum di luar saja. Toh, mereka berdua sudah cukup umur.
"Maaf... Pietro!"
Melihat dua anak laki-laki itu meninggalkan Pietro sendiri, menjadi mangsa 4 serigala betina membuat Pietro tidak bisa menahan air matanya.
"TIDAAAKKKK!!!! JANGAN TINGGALKAN AKU!!!!!!!"