The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(S2) Chapter 125 [ Sesuatu Yang Direncanakan ]



"MICHAEL??!!!!!!!" jerit Ashlan dan Amethyst bersamaan setelah sadar sepenuhnya.


Mika tersenyum canggung. Rasanya mereka sudah lama tidak bertemu, karena baginya 15 tahun telah berlalu. Namun bagi Ashlan dan Amethyst, itu hanya beberapa bulan.


"Tunggu-tunggu!!! Apa yang anda lakukan disini Nona Michael?!" shock Ashlan.


"Arc-Angel lain sedang mencari anda sekuat tenaga mereka! Kenapa anda justru berada disini bersama Aqua?!" panik Ashlan tanpa melupakan sopan santunnya.


Amethyst menggenggam tangan Ashlan.


"Tidak senior! Bukankah ada yang lebih penting?"


"?"


Sesaat Ashlan kebingungan dengan kalimat Amethyst, namun dengan cepat dia menyadari apa yang aneh pada Michael.


Pupil mata Ashlan bergetar. Rasanya ini bukan sesuatu yang pantas ditanyakan. Namun rasa ingin tahunya lebih besar.


"Nona Michael... maafkan pertanyaan lancang saya... tetapi... dimana cincin anda?"


Satu hal yang Ashlan tau pasti. Meski bisa menyembunyikan sayap mereka, para malaikat tidak bisa menghilangkan cincin mereka. Karena itu dapat menurunkan kekuatan mereka secara signifikan. Jadi penyamaran tidak berguna bagi ras malaikat.


Karena ekspresi Mika tidak berubah, Aqua semakin merasa ada yang salah.


"Master! Tentang itu-"


Mika menahan Aqua dengan mengulurkan tangannya sambil menggeleng pelan.


"Akan saya jelaskan semuanya. Namun setelah mendengar itu, saya ingin anda berdua untuk menjaga beberapa rahasia dari luar."


"Jika anda setuju, saya akan mulai menjelaskannya," senyum Mika.


Ashlan dan Amethyst saling pandang. Yang akan Mika ceritakan pasti adalah rahasia besar yang hanya diketahui sedikit orang. Apa tidak masalah jika itu diceritakan begitu saja?


"Jika yang ingin anda rahasiakan bukanlah hal yang membahayakan Aqua, tolong ceritakan pada kami," jawab Ashlan membuat keputusan.


"Aku tidak bisa berjanji kalau Aqua tidak akan terlibat. Tapi aku bisa berjanji kalau aku akan memastikan nyawa Aqua tidak dalam bahaya karenanya," yakin Mika.


"Baiklah, saya mengerti. Tolong jelaskan pada kami apa yang terjadi!" pinta Ashlan.


Mika mengangguk. Setelah gadis itu menciptakan kursi dari awan lembut untuknya dan Aqua duduki, dia mulai menjelaskan apa yang terjadi padanya dengan ekspresi tenang. Berkali-kali Ashlan dan Amethyst dibuat terkejut dengan apa yang menimpa Mika sampai dia bertemu Aqua di dasar lantai.


Tapi yang paling membuat Ashlan terkejut dan menacing adalah fakta Aqua bertemu Mika di dasar lantai. Dari situ dia tau, kalau anak itu tidak memanjat naik dungeon, justru menuruni dungeon. Sudah tak terhitung berapa kali Ashlan menatap Aqua tajam karena Aqua tidak menjelaskannya.


Terakhir sebagai penutup, Mika tak lupa menjelaskan penelitiannya tentang menghidupkan kembali Citrine dan bahan yang diperlukan untuknya.


"Karena yang melakukannya adalah Nona Michael... saya yakin itu pasti berhasil. Namun yang menganggu pikiran saya, apa tidak masalah Nona Michael merahasiakan keberadaan anda dari Arc-Angel lain? Saya yakin setidaknya mereka sudah tau kalau anda berada di dungeon itu."


Ashlan mengajukan pertanyaan yang bisa Mika tebak.


"Tidak. Saya yang sekarang hanyalah beban bagi mereka. Lebih baik untuk saya dan mereka, jika tetap begini saja. Selama mereka tau saya masih hidup, itu sudah cukup."


"Baiklah, karena anda sendiri yang ingin seperti itu. Saya akan membantu Anda menjaga rahasia anda," balas Ashlan.


"Terimakasih."


"Oke, kembali ke topik utamanya!"


"Hmm... Rainbow Crystal Flower, ya... Itu bukan bunga yang bisa di temui di mana saja. Nyatanya satu-satunya saat aku pernah melihat bunga itu hanya di Benua Melayang," ucap Amethyst sedikit sendu.


"Rainbow Crystal Flower yang ada di luar Benua Melayang... aku tidak yakin itu ada ditempat lain selain tempat itu..." batin Ashlan.


"Aqua, bagaimana caramu mendapatkan bunga itu?" tanya Amethyst khawatir.


Aqua hanya tersenyum saja. Sejujurnya dia belum terlalu memikirkan itu.


"Untuk sekarang... saya sedang menunggu informasi dari guild informasi tentang keberadaan bunga itu."


"Pas sekali kalian sedang membahas itu!"


Ashlan dan Amethyst langsung bersiaga begitu mendengar suara wanita tak dikenal mendadak bergabung ke pembicaraan mereka.


Amethyst tidaklah seceroboh itu sampai membiarkan pembicaraan penting dan rahasia keluar begitu saja. Dia sudah membuat barrier pelindung dan kedap suara di ruangan singgasana. Namun kedua wanita serba hitam yang mendadak muncul itu mampu menembusnya seolah bukan apa-apa.


"Siapa kalian!!?" tanya Ashlan waspada.


Amethyst segera memunggungi Aqua dan Mika untuk melindungi mereka tanpa menyadari level dua anak itu cukup jauh di atasnya.


Kedua wanita serba hitam ini tersenyum santai melihat Ashlan yang sudah siap menyerang mereka kapan saja dengan tongkat sihirnya.


"Tenanglah, bukankah kita sudah berinteraksi beberapa kali?"


"Jangan coba-coba menipuku!"


Wanita hitam ungu menarik kedua tangannya.


"Aku tidak menipumu. Kamu sendiri yang beberapa kali mencari bantuan di guildku."


"Guild?!" batin Ashlan.


Ashlan segera menurunkan tongkatnya sambil memasang wajah agak terkejut.


"Jangan bilang kalian?"


"Yang kamu pikirkan benar."


Karena saat ini mereka tengah berada di Kerajaan Vittacelar dan dihadapan Ratu dan Pangeran Kerajaan, kedua wanita tadi mengikuti tata Krama Kerajaan Vittacelar dan memberi salam pada Elf.


"Kami adalah pemimpin guild informasi yang biasanya disebut Ungu dan Pink oleh pihak luar. Aku adalah 'Pride' dan adikku adalah 'Lust'. Kami juga merupakan anggota dari Raven."


Pride memperkenalkan dirinya dan adiknya bersamaan.


"Pride dan Lust? Raven? Aku tidak pernah mendengar itu," balas Ashlan agak curiga.


"Tentu saja. Karena kelompok kami baru resmi terbentuk beberapa saat yang lalu. Yah, nanti kamu akan mendengar nama itu dimana-mana sampai kamu bosan," jawab Lust santai.


"Kelompok baru dengan pemimpin guild informasi sebagai anggota? Apapun itu, pasti identitas Raven tidak biasa," pikir Ashlan.


"Padahal bahkan akupun tidak pernah bertemu langsung dengan pemimpin guild informasi. Selama ini 'Ungu' dan 'Pink' hanya menggunakan perantara saat menerima pelanggan."


"Aku mengerti. Lalu, apa yang pemimpin guild informasi lakukan disini?"


Senyum misterius Lust keluar. Wanita itu merangkul lengan Pride dari belakang.


"Kami hanya ingin membawakan informasi untuk klien kami~"


"Klien?! Siapa klien itu sampai pemimpin guild informasi datang sendiri?!"


Hanya dengan sedikit gerakan tangannya, secarik kertas panjang mendadak menjuntai kabut pink. Lust menerbangkan kertas itu ke depan Aqua dan Mika.


"Ini adalah detail informasi yang kalian inginkan."


Mendengar kalimat Lust, Ashlan langsung menoleh kaget ke Aqua.


"Bukan hanya Arc-Angel Michael, tapi pemimpin guild informasi juga?! Sebenarnya apa yang anak itu lakukan 2 tahun terakhir ini?!"


Aqua dan Mika membacanya dengan cermat. Ini memang sangat detail, seperti yang diharapkan dari guild informasi. Tapi Aqua tidak butuh detail itu, yang dia butuhkan hanyalah hasil akhirnya. Jadi anak itu melewati informasi-informasi tambahan dan hanya fokus ke kesimpulan saja.


| Satu-satunya tempat yang memiliki Rainbow Crystal Flower selain di Benua Melayang hanyalah Gudang Harta Bahan dan Obat Kekaisaran Levana |


"........"


Aqua tidak memberikan responnya.


"Dari semua tempat, kenapa harus di Kekaisaran," batinnya kesal.


Aqua mengangkat wajahnya dan menatap Pride agak tajam.


"Menurut pandangan guild Informasi, cara apa yang bisa kupakai untuk mendapatkannya dari sana?"


Pride menyeringai jahil sambil menggeleng pelan.


"Yang bisa memasuki gudang harta obat dan senjata hanyalah Keluarga Kekaisaran saja. Aku yakin kau tau itu."


Terdengar Aqua berdecak kesal. Anak itu sangat tidak mau memasuki istana Kekaisaran. Tapi dia sudah berjanji kalau dia akan menghidupkan kembali Citrine dengan tangannya sendiri. Kalau hanya itu caranya-


"Tidak, ada cara lain!" senyum Ashlan memotong pembicaraan.


"?!"


Pride tersenyum mendengar sanggahan Ashlan.


"Kamu mengatakan sesuatu yang menarik, Ratu Sihir. Benar, ada cara lain."


Sesaat setelah mengatakan itu, Pride dan Lust tersenyum kasihan pada Aqua. Mereka tidak ingin berada di sana lebih lama. Jadi tanpa menunggu jawaban kliennya, kedua wanita itu langsung menghilang.


"Mereka ini datang tiba-tiba, pulang tiba-tiba," sindir Ashlan.


"Yah, sebagai pemimpin guild informasi... mereka pasti sibuk," paham Amethyst.