The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(S3) Chapter 133 [ Hari Yang Melelahkan ]



NORMAL POV


"TUNANGAN!????"


Semua orang di pesta itu memikirkan hal yang sama. Tidak ada yang menduga plot twist seperti itu akan terjadi.


"Hei! Siapa yang bilang kalau tunangan Nona Arsilla adalah rakyat biasa?"


"Sebenarnya kapan Nona Arsilla bertemu dengan Pangeran Vittacelar?"


"Bukankah ini gawat? Kalau seperti ini, menyakiti Nona Arsilla... sama saja merusak hubungan diplomatik, kan?"


"Bagaimana ini...?"


"Apa yang akan terjadi kalau Pangeran Vittacelar marah dan mengajukan perang!?"


"Itu tidak akan terjadi! Mungkin..."


Bisikan demi bisikan menyebar ke seluruh ruangan. Banyak yang panik karena menyadari situasinya, banyak juga yang terkejut dengan fakta yang baru saja mereka dengar. Bahkan ada orang yang langsung mengubah arah untuk menjilat Rubylia Arsilla.


Tentu saja, dengan Indra yang telah dipertajam saat transformasi ras naga, Aqua bisa mendengar semua itu.


"Tu-tunggu dulu! Bukankah tunangan Kak Ruby itu rakyat biasa?" sela Nedura tidak terima.


Sejujurnya, saat baru pertama kali melihat Aqua, Nedura langsung jatuh cinta pada pandangan pertama oleh ketampanan anak itu. Dia pikir bahwa pangeran Elf ini jauh lebih baik daripada Putra Mahkota dan berniat menggodanya. Namun belum beberapa menit berlalu, dia dikejutkan oleh pria itu.


Aqua menatap gadis pirang itu dengan mata dingin.


"Siapa kamu?"


"!"


Nedura membeku, dia tidak pernah di perlakukan sedingin itu sebelumnya. Bahkan oleh Putra Mahkota yang terkenal sulit didekati.


Dalam sekejap, Nedura memberikan salam formal.


"Nama saya Nedura Arsilla. Saya adalah nona kedua dari keluarga Marquess Arsilla."


"...... Ah, si anak manja kekaisaran."


BLUUSHHH


Wajah Nedura memerah seketika. Dia tidak menyangka bahwa pangeran itu akan mengatakan hal semacam itu di pertemuan pertama mereka. Tangannya bergetar menahan amarah dan malu. Begitu pula dengan Machioness. Dia tidak terima putrinya diperlakukan seperti itu.


Tapi, siapa yang berani menyela Aqua?


Bahkan Kaisar saja harus berhati-hati dalam berucap padanya. Karena jika membuat kesalahan, bukan hanya Kerajaan Vittacelar yang dipenuhi penyihir yang akan menjadi musuh mereka. Namun menara sihir juga akan turut memusuhi mereka.


Jika menjadi musuh Kerajaan Vittacelar saja sudah sangat merugikan Kekaisaran. Apalagi menjadi musuh menara sihir yang memiliki koneksi dengan seluruh penyihir di dunia. Kemungkinan terburuknya, Kekaisaran akan hancur.


Aqua yang menyadari hal itu tidak perlu repot-repot menjaga kelakuannya. Ashlan pernah berkata, "Jangan pikirkan pandangan orang lain tentang dirimu. Namun pikirkan pandanganmu tentang orang lain. Jika ada hal yang harus kau perhatikan, maka itu adalah... Jangan biarkan orang lain meremehkanmu!"


Seringai misterius menghiasi wajah Aqua.


"Tadi kamu bertanya bukankah tunangan Ruby adalah rakyat biasa?"


"Apa Ruby sendiri pernah mengatakan kalau tunangannya adalah Rakyat biasa?" sindir Aqua pada orang-orang yang seenaknya mengambil kesimpulan sendiri.


"!"


Wajah Ruby seketika merenggut. Sebenarnya dia sendiri juga berpikir tunangannya hanya rakyat biasa. Melihat itu, perlahan tangan Aqua menyentuh tangan Ruby hingga membuat gadis itu tersentak.


"Tidak apa-apa, serahkan saja padaku," bisik Aqua.


"Kamu tidak perlu menahan semuanya lagi."


Karena tidak ada yang berani menjawab, Aqua berpikir bahwa orang-orang ini adalah pengecut di hadapan kekuasaan. Aqua tidak lagi mempedulikan para bangsawan. Dia beralih ke Kaisar dan gurunya.


Ashlan tersenyum saja melihat kelakuan muridnya. Di satu sisi dia bangga, di sisi lain dia agak marah.


"Hahh... dasar anak ini!"


"Kamu sudah selesai bicaranya?" tanya Ashlan.


"Ya, Master. Untuk saat ini," senyum Aqua.


Perasaan Kaisar menjadi campur aduk. Tidak, sepertinya bukan hanya Kaisar. Raut wajah tegang keluar dari wajah keluarga kekaisaran lainnya. Namun senyum sang permaisuri masih sama.


"Tolong maafkan muridku yang seenaknya ini."


Ashlan merangkul Aqua yang tengah menggandeng tangan Ruby.


"Hahahaha... jangan terlalu dipikirkan. Anak-anak di umur ini memang bertingkah seperti itu. Biarkan saja!" tawa Kaisar.


"Ngomong-ngomong, Nyonya Vashlana. Saya mendengar rumor kalau anda sedang mencari murid. Apa itu benar?"


"Kamu sama sekali tidak berubah ya, Kaleena. Sangat pandai mengatur pembicaraan," sindir Ashlan.


"Ara-ara... tidak sehebat kamu yang pandai menghancurkan suasana," sindir Permaisuri gantian. Mungkin karena sindiran itu atau karena alasan lain, Permaisuri berhenti bicara formal pada Ashlan.


"Hohoho... kamu mengatakan sesuatu yang lucu."


"Fufufu... terimakasih..."


BZZZTTTTTTT


Atmosfer berat yang Aqua ciptakan memang memudar, namun justru berganti dengan atmosfer lain. Padahal tidak ada apa-apa di antara Permaisuri dan Ratu Sihir, tapi orang-orang bisa melihat petir di antara mereka.


"Master, apa master mengenal Yang Mulia Permaisuri?" tanya Aqua santai.


Ashlan tersenyum, namun kemarahan masih terlihat darinya.


"Hufthh... bagiamana aku bisa tidak kenal? Dia dan Agate itu sahabat dekat."


Mata Aqua sedikit terbelalak.


"Dengan nenek?"


"Ya... dan posesifnya itu menyebalkan. Dari dulu, kalau ada teman yang lebih dekat dengan Agate selain dirinya, dia akan meneror orang itu!" bisik Ashlan mengejek.


"???"


Permaisuri tersenyum menyeramkan.


"Aku bisa mendengarnya, loh."


"Hahahaha, sepertinya permaisuri saya dan Nyonya Magiya cukup dekat. Saya ingin memberi kalian waktu untuk berbicara. Tapi karena waktu kita tidak banyak, mari langsung ke intinya."


Kaisar yang dari tadi hanya menonton akhirnya angkat bicara sebelum para bangsawan menyadari indentitas Permaisuri terlalu dalam.


Ashlan juga tau itu. Dia mengikuti alur saja.


"Oke, lagipula pembicaraan kami akan selalu sama. Tadi kamu tanya tentang murid. Aku tidak ada niatan mengambil murid selain Aqua."


"Hoho? Kenapa? Bukankah memberi kesempatan pada generasi muda akan bagus?" tanya Kaisar begitu melihat raut kecewa anak-anaknya.


"Hmm, bisa dibilang standarku tinggi. Aku hanya memilih murid paling berbakat dan paling niat saja. Selain itu, aku tidak butuh," jawab Ashlan blak-blakan.


"!?"


Rasa terhina adalah apa yang para nona, tuan muda, Putri dan Pangeran rasakan. Bukannya Ashlan sama saja bilang kalau mereka tidak berbakat dan tidak memenuhi standarnya? Walau memang kenyataannya begitu.


Dari mereka semua, Putra Mahkota yang disebut jenius Kekaisaran merasa paling terhina. Dia tidak masalah jika diremehkan dalam hal lain, karena memang dia tidak sempurna dalam segala hal. Namun jika menyangkut bakat sihir, dia tidak menerimanya.


"Ratu Sihir, Nyonya Vashlana Magiya. Apa saya juga tidak memenuhi kriteria yang anda inginkan?" tanya Putra Mahkota dengan berani.


"Tidak."


Jawaban cepat Ashlan membuat harga diri sang putra mahkota semakin diinjak. Dia marah, marah entah pada siapa.


"Padahal anda belum melihat kemampuan saya. Tapi kenapa anda begitu yakin tentang itu?"


Putra Mahkota menatap tajam Ashlan, yang mana tidak banyak orang berani melakukan itu.


"Anak ini... menarik..." batin Ashlan.


"Bocah, aku suka tekadmu. Tapi untuk menjadi muridku, tekad saja tidak cukup. Hmm... gini saja! Coba bertahan dari aura muridku selama 15 menit. Kalau kamu bisa melakukannya, aku akan menerimamu."


"Master!?" kaget Aqua.


"Menahan aura 15 menit?! Apa anda tidak terlalu meremehkan saya?" kesal Putra Mahkota.


Ashlan mengangkat tangannya bagai berpose "Siapa tau?"


"...... Baiklah. Tapi saya tidak akan hanya menahan aura orang ini selama 15 menit saja! Saya akan mengalahkannya! Dan membuktikan bahwa saya lebih dari cukup untuk menjadi murid anda!" tekad Putra Mahkota.


"!!"


Tentu saja ucapannya menghebohkan semua orang disana. Rasanya apa yang terjadi hari ini terlalu memusingkan. Belum selesai dengan tunangan Rubylia Arsilla, fakta Ratu Sihir dan Permaisuri saling kenal dan sekarang? Tantangan Ratu sihir pada Putra Mahkota?


"Fufufu... aku menantikannya. Lakukan yang terbaik, kalian berdua!" senyum Ashlan.


Aqua menggeleng lelah.


"Aku tidak ada pilihan lain ya, Master?"


Melewati semua hal yang baru terjadi, gadis pirang mata merah di samping Aqua gemetaran.


"Tunggu dulu!!Sebenarnya apa yang sedang terjadi hari ini?!" batin Ruby yang terseret semua ini begitu saja.