The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(S3) Chapter 134 [ Para Jenius Kekaisaran ]



"Tolong tunggu sebentar! Bukankah ini tidak adil jika hanya Putra Mahkota yang berhak mencoba ujiannya?"


Suara laki-laki yang duduk di singgasana itu langsung mencuri perhatian. Pemilik suara itu tidak lain tidak bukan adalah Pangeran Pertama Kekaisaran, Cyrilo Davide de Levana.


Ashlan tersenyum, sepertinya tekad Putra Mahkota mempengaruhi pangeran dan putri lain. Karena bukan hanya Pangeran Cyrilo, para tuan putri juga memancarkan tekad yang sama di mata mereka. Semua, kecuali seorang.


"Tentu, lakukan saja. Aqua, kau bisa menangani mereka, kan?" tanya Ashlan menyindir.


Aqua agak kesal, semua jadi tambah merepotkan. Tanpa membalas sang master, Aqua menarik pelan tangan Ruby dan mendudukkannya di kursi dengan hati-hati. Normalnya perempuan yang diperlukan seperti itu akan terbawa perasaan, namun eskpresi Ruby tetap datar. Perasaan gadis itu pada Aqua sama sekali bukan rasa suka maupun cinta.


Setelah meminggirkan Ruby, orang-orang ikut menyingkir dalam radius 7m.


"Siapa yang ingin maju duluan?" tanya Putra Mahkota mencoba ramah.


Ruby menatap pria itu agak dingin.


"Kamu hanya ingin maju terakhir setelah mengamati lawanmu dengan baik dan memanfaatkan semua kemungkinan hingga peluang menang mu jadi tinggi, kan?"


Memang benar itulah rencana Putra Mahkota. Namun itu tidak mungkin bisa dilakukan. Karena...


"Maju duluan? Jangan membuang-buang waktuku. Majulah sekaligus!" dingin Aqua.


"!!!"


Seketika para pangeran dan putri terbakar oleh amarah. Bahkan jika itu Pangeran Vittacelar, bukankah ini namanya penghinaan?!


"Itu juga kalau kalian masih bisa bergerak setelah menerima aura-ku."


"Sepertinya kamu terlalu meremehkan kami!! Bahkan meski kamu adalah seorang jenius, tapi melawan kami ber-5 sekaligus adalah tindakan bodoh," kesal Putra Mahkota.


"Biasanya aku tidak akan setuju dengannya, tapi kali ini dia benar. Jangan meremehkan kami!!" geram Pangeran Cyrilo.


"Ayo kita rebut gelar jenius dari pria ini, Launa!!" seru Putri Ketiga, Laura Dakota de Levana.


"Oke, Laura!!!" jawab Putri Keempat, Launa Salma de Levana.


"......."


Putri kedua, Selena Deva de Levana tidak mengatakan apapun, gadis ini memang irit berbicara.


Seperti yang telah di jelaskan. Kelima anak yang menantang Aqua adalah Putra Mahkota Analic, Pangeran Cyrilo, Putri Selena dan Putri kembar Launa Laura. Satu-satunya anak kaisar yang memilih duduk diam di kurisnya adalah Putri Pertama, Ileana Thea de Levana.


Karena tindakan Putri Pertama yang memilih dia, para bangsawan menggunjingnya dari belakang. Mereka menganggap bahwa Putri Pertama ini tidak memiliki ambisi sedikitpun, benar-benar cocok dengan sebutannya.


⟨ Abandoned Princess ⟩


"Putri yang terabaikan. Ironisnya julukan itu memang cocok untuk Putri Pertama. Putra Mahkota memiliki Kaisar, Pangeran Pertama dan Putri Kedua memiliki Ratu, Putri Ketiga dan Keempat memiliki Permaisuri. Namun Putri Pertama... tidak ada yang memperhatikannya. Dia yang lahir dengan pengorbanan nyawa ratu sebelumnya di pandang dingin oleh kakaknya dan ayahnya sendiri. Jika keluarga kandungnya saja menatapnya dingin, apalagi keluarga tiri."


"Sebenarnya Permaisuri sempat memperhatikannya, namun karena dirinya telah terabaikan sejak dia lahir, dia tidak mempercayai siapapun dan tinggal dalam diam di ujung istana putri," batin Ruby simpati.


Berbeda dengan Ruby yang simpati atau bangsawan yang menggunjingnya, apa yang Ashlan dan Aqua pikiran sama sekali berbeda. Namun itu akan di bahas lain waktu.


Aqua berdiri tepat di tengah-tengah kelima anak kaisar itu. Aneh rasanya mengingat Aqua juga anak Kaisar.


"Aku tidak akan bergerak sedikitpun dari sini."


Kesombongan Aqua seperti menuangkan minyak dalam bara api mereka. Karena mereka adalah Keluarga Kekaisaran dan sedang di lihat para bangsawan, mereka tidak bisa berkata kasar sekarang. Meski dalam hati terus mengutuk Aqua.


"Kesombongan oleh orang yang memiliki kekuatan bukanlah kesombongan, itu adalah Kebanggaan," senyum Ashlan.


Ashlan merentangkan tangannya ke depan.


"Akan kumulai hitungannya. Satu..."


Walaupun sedikit tidak pantas, Para Pangeran dan Putri langsung mengacungkan senjata mereka pada Aqua dan bersiap dalam kuda-kuda yang baik.


"Dua..."


Tidak lupa mereka juga mulai merapal mantra berbagai Sihir. Mulai dari penguatan, pertahanan sampai sihir serangan.


"Ti... ga!"


SSWEEEEEEEENGGGGGGGGGGG


"AKHGGGGHHH!!!!!!!"


Mendadak gravitasi terasa begitu berat dalam radius 7 meter itu. Kelima anak itu langsung ambruk tanpa perlawanan. Untuk menggerakkan seujung jari pun rasanya sangat berat. Bagai tertimpa puluhan gajah di atas mereka.


"Apa-apaan ini!? Aku... tidak bisa bergerak...!" batin kelimanya shock.


"Napasku... sesak..."


Benar, bukan hanya gravitasi saja. Aliran mana dan udara di area itu menjadi kacau. Mereka pasti akan mengalami kesulitan bernapas dan mana yang berputar di tubuh mereka akan terganggu sehingga organ tubuh tidak berfungsi dengan baik.


"HUEEKKKK!!!"


Beberapa anak bahkan sampai memuntahkan darah. Tidak, bukan hanya dari mulut. Darah juga mulai mengalir keluar dari mata, hidung dan telinga.


Melihat anak-anaknya menjadi seperti itu. Kaisar berusaha menghentikannya. Namun belum sempat berucap, tangan Ashlan menahannya.


"Jangan khawatir, aku akan menyembuhkan mereka nanti."


Aqua mengeluarkan sebuah kursi mewah dari Inventory di tengah-tengah tekanan itu dan duduk dengan santainya. Tangan kanan anak itu menahan kepala, satu kakinya di taruh di atas kaki lain. Dengan tatapan dingin dan merendahkan, dia mulai membuka mulutnya.


"Kemana perginya kata-katamu yang tadi?" sindir Aqua.


"Bukannya kalian tidak ingin di remehkan dan berniat mengalahkanku? Tapi apa ini? Jangankan mengalahkanku, bisa bergerak saja tidak."


Malu, takut, tertekan dan marah. Perasaan-perasaan itu tercampur aduk dalam diri mereka semua. Untuk menjawab Aqua saja mereka tidak bisa. Rasanya mereka bisa pingsan kapan saja karena darah terus dan terus mengalir keluar.


"Lemah... padahal aku hanya menggunakan 10% auraku," batin Aqua.


Di sisa-sisa kesadarannya yang mulai mengabur, Putra Mahkota bisa melihat Aqua yang memandang rendah mereka.


"Apa... perbedaan kemampuan kami... sejauh ini? Apa ini yang orang-orang rasakan saat aku mengalahkan mereka dengan telak? Sebuah jurang kemampuan yang tidak bisa dilewati?"


"Sialan!!!"


Jika harus diumpamakan, para Pangeran dan Putri bagai berdiri di depan tembok kokoh yang sangat tinggi hingga tidak bisa mereka lihat ujungnya. Ternyata inilah yang dinamakan...


⟨ Perbedaan Kemampuan ⟩


Bukan hanya yang mengalaminya, yang menonton juga ikut merasakan jurang perbedaan itu. Kebanyakan bangsawan muda berpikir, "Jika keluarga kekaisaran saja sampai seperti itu, apa yang akan terjadi kalau aku ada disana?!"


Mereka gemetar ketakutan di depan kekuatan besar. Mereka takut bahwa suatu saat kekuatan itu akan mengarah pada mereka karena Aqua adalah tunangan Rubylia Arsilla. Tentu saja yang paling merasakan ini adalah Machioness dan Nedura Arsilla.


"Cukup!! Hentikan!!! Mereka tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi!" seru Kaisar.


Ashlan tersenyum mengejek.


"Tapi ini bahkan belum 1 menit, loh."


Kaisar mengepalkan tangannya erat-erat.


"Tidak... hentikan saja... aku mohoh padamu."


"!?"


Semua orang terkejut, termasuk Aqua itu sendiri. Tidak disangka Kaisar akan memohon seperti itu. Tapi Ashlan pikir itu wajar. Karena terlihat bahwa satu-satunya yang masih mempertahankan kesadarannya di bawah aura Aqua meski hanya 1 menit saja adalah Putra Mahkota.


"Apa boleh buat. Aqua!" seru Ashlan.


"Baik, Master."


Tak perlu waktu lama untuk Aqua menarik kembali auranya. Seketika aliran udara, mana dan gravitasi kembali normal. Para Pangeran dan Putri bisa bernapas lagi.


Karena sudah menawarkan akan menyembuhkan mereka, Ashlan langsung bergerak ke tempat para Pangeran dan Putri terbaring penuh luka.


"Bocah itu! Aku tau dia bertambah kuat, tapi tidak kusangka sampai sedrastis ini. Aku juga tau aura tadi hanya sebagian kecil saja, meski begitu itu bukan aura yang bisa ditahan oleh anak-anak di umurnya. Tidak, bahkan orang dewasa saja akan kesulitan."


"Sudah kuduga aku harus mengajarinya akal sehat lain kali. Hebat juga si Putra Mahkota ini, bisa bertahan walau hanya 1 menit di bawah aura yang bisa membuat monster langsung pingsan. Pangeran dan putri lain juga tidak buruk, meski tidak sebagus dia. Benar-benar... Kekaisaran ini terus melahirkan jenius-jenius yang melampaui akal sehat."


Hanya dari satu jentikan jari, para pangeran dan putri langsung pulih seketika oleh sihir cahaya tingkat Epic. Sihir cahaya tingkat Legend ke atas hanya bisa dipakai Saintess dan malaikat saja. Jadi meski Ashlan adalah Ratu Sihir, dia tidak bisa memakainya. Tapi itu saja sudah cukup, karena Aqua tidak melukai mereka separah itu sampai membutuhkan sihri cahaya tingkat Legend.


Ashlan menatap muridnya itu dengan ekspresi lelah.


"Tapi ya... jenius di antara jenius yang lahir dari Kekaisaran ini adalah bocah sialan itu."