
"Rambut perak itu, Tuan Putri Elf?"
"Cantik banget... aku belum pernah melihat perempuan secantik itu sebelumnya."
"Liat Elf di luar kerajaan mereka aja sudah langka banget, tapi yang kita lihat sekarang justru tuan putrinya!? Aku bersyukur masuk akademi!"
"Aja ngomong, gih!"
"Mana berani atuh! Dia royalty dan aku tuh rakyat jelata..."
"Dih..."
"Dia cucu Saintess sebelumnya kan? Luar biasa! Kemampuannya pasti hebat banget dong!!"
"Kalau gak salah di pesta debutante sebelumnya di Kekaisaran Levana, ada Elf perak lain yang muncul kan?"
"Ah, iya iya. Yang datang pangeran loh! Pangeran kedua!!"
"Sebelumnya lagi Pangeran Pertama juga pernah jadi duta ke Kekaisaran Levana. Bukannya artinya ketiga anak Ratu sudah pernah datang ke Kekaisaran Levana dalam kurun waktu singkat!?"
"Benar juga!!"
"Ah, aku baru ingat!! Si Pangeran Kedua itukan datang sebagai tunangan vampir itu dan murid langsung Ratu Sihir, kan!?"
"Eh!!!????"
"Murid langsung Ratu Sihir!?? Ratu Sihir yang gak pernah nerima murid sama sekali itu!!?? Hebat!!!!"
"Kalau dia murid langsung Ratu Sihir, kenapa gak hadir di akademi?"
"Bodoh! Tentu saja karena dia gak perlu datang lagi! Lagian dia udah di ajari langsung sama pro nya!"
"Memang sih..."
"Tapi... ini menakjubkan gak sih? Tuan Putrinya di gadang-gadang akan jadi Saintess selanjutnya. Pangerannya jadi murid Ratu Sihir langsung. Kayak... mereka itu dah another level kan?"
"Paham banget!!!"
"Jujur aja, daripada keluarga kekaisaran kita yang terlalu sibuk rebutan tahta, keluarga kerajaan elf itu keren bangett, mereka juga akur kan?"
"Iya, para Elf gak haus tahta, aku pernah dengar, setiap generasi mereka justru saling lempar tahta karena gak mau diikat. Dan karena keluarga kerajaan Elf hanya bisa punya 2 anak, makanya hubungan kekeluargaan mereka lebih baik dari pada kerajaan lain."
"Loh, 2 anak? Terus si pangeran kedua?"
"Ah, dia itu anak kandung Putri Sapphire, adik Ratu Elf yang sekarang. Karena Putri Sapphire sudah tiada, makanya Pangeran Aquamarine di adopsi Ratu yang sekarang."
"Heh..."
"Tapi jangan salah. Biarpun bukan anak kandung, darah keluarga kerajaannya gak kalah kental. Buktinya rambutnya juga perak bersih. Apalagi, menurut rumor lama, sebenarnya Putri Sapphire lah yang akan jadi Ratu selanjutnya karena dia punya kekuatan sihir yang luar biasa besar dan keanggunan khas keluarga kerajaan. Tapi dia melarikan diri karena tidak mau."
"Gitu ya, kalau dia gak melarikan diri... berarti Pangeran Aquamarine bisa jadi Pangeran tunggal dong?"
"UmU UmU."
"Yah, sekarang pun dia Pangeran tunggal kok. Sayang sekali, Pangeran Pertama mereka tewas belum lama ini."
"Iya sih... gak ada yang tau alasannya?"
"Gimana mau tau. Dapetin informasi tentang Kerajaan Vittacelar itu sulit tau!! Bisa tau info yang sebelumnya aja, itu karena para bangsawan berbondong-bondong mencari informasi tentang Pangeran Kedua setelah kemunculannya di pesta debutante."
"Cari dimana?"
"Dimana lagi? Tentu saja Guild Informasi."
"Berisik," batin Aqua mendengar semua bisik-bisikan teman sekelasnya sepanjang dia berjalan ke kursinya.
Meski pikirannya dipenuhi celaan dan keluhan pada teman-teman sekelasnya, Aqua tetap memasang poker face di wajahnya. Bibinya, Ratu Amethyst tidak memintanya melakukan hal khusus sebagai Citrine selain menjadi mencolok. Di tambah dirinya tidak pernah melihat bagaimana kakaknya itu berperilaku diluar keluarganya, jadi Aqua memilih untuk membuat image Citrine menjadi Tuan Putri Elf yang sulit didekati. Layaknya bunga mawar yang meskipun indah namun juga mematikan.
Sebenarnya bisa saja Aqua membuat imagenya menjadi Tuan Putri ramah yang dekat dengan siapa saja plus disukai semua orang. Tapi kalau ternyata Citirine bukanlah orang yang seperti itu, itu hanya akan memberatkan Citirine saat hidup kembali nanti. Jadi menjaga jarak yang pas, tidak terlalu dekat dan jauh adalah keputusan paling tepat menurut Aqua.
Gadis dengan rambut perak berkilau yang memantulkan cahaya matahari dari sela-sela jendela telah melihat satu-satunya kursi yang tidak berpenghuni. Berjalanlah gadis itu ke tempat itu sebelum pengajar memasuki ruang kelas.
Hampir semua anak di kelasnya menatap dirinya hingga dirinya duduk di kursi yang tersisa. Dirinya memang sedikit terganggu dengan semua itu, namun hal yang paling mengganggunya adalah seorang gadis yang duduk dibelakangnya.
Tatapan tajam dari gadis berambut hitam pendek yang terus menuju Aqua sejak ia memasuki kelas tak kunjung berhenti.
"Ce-cewek rambut perak!! Dia cewek yang tadi di sebut Aoi-senpai, kan!? Si Tuan Putri itu!!?" batin gadis itu terkejut.
BRAAAKK
Karena cukup panik, Himawari bangkit dari kursinya sambil menggebrak meja.
"?"
"Tadi itu... aku min-"
TAP TAP TAP TAP
Belum sempat Himawari menyelesaikan ucapannya, langkah kaki yang cukup berat terdengar memasuki ruang kelas. Karena seluruh siswa telah berada di kelas, maka pemilik langkah kaki itu tak lain tak bukan adalah sang pengajar itu sendiri. Seluruh kelas hening seketika, termasuk Himawari yang segera duduk begitu melihatnya.
Aqua memfokuskan perhatiannya pada seorang wanita muda dengan rambut kream pendek seleher. Mata ungu sendu dan rambut yang lembut seperti bulu terlihat begitu imut. Tubuhnya yang kecil dan penampilannya yang lemah membuat orang-orang tidak yakin kalau wanita yang berdiri di hadapan mereka adalah pengajar mereka. Beberapa sudah mulai bisik-bisik kalau wanita muda yang lebih pendek dari mereka itu pasti bukan guru.
"Dasar bodoh, jangan menilai buku dari covernya. Tanpa perlu memakai Dragon's Eye, aku bisa melihat mana yang luar biasa besar dan hangat darinya. Itu bukan jumlah mana yang normal dimiliki," pikir Aqua ketika melirik wanita itu dan teman sekelasnya bergantian.
"Wanita itu... kuat."
Menyadari murid-muridnya mulai tidak setenang sebelumnya, sang wanita muda itu hanya tersenyum lembut saja.
"Ekhm! Bisakah kita mulai perkenalannya?" ucap wanita itu lembut.
"!"
Para murid kembali tenang, tapi tetap dipenuhi perasaan tak yakin.
Di tengah kekhawatiran itu, sang wanita muda yang berdiri didepan papan tulis sihir mengagungkan jarinya. Bersamaan dengan itu, suatu tulisan mulai nampak di papan tulis. Sebuah nama yang ditulis dalam aksara kuno. Sudah pasti beberapa anak tidak mengerti arti tulisan itu, karena di mata mereka, tulisan tersebut hanyalah coretan bentuk tidak jelas.
Melihat muridnya kebingungan, sang wanita tetap tersenyum lembut. Entah kenapa Aqua tidak suka dengan senyum itu. Karena senyumannya terlihat berbahaya.
"Apa ada yang bisa membaca itu?" tanya sang wanita tetap lembut.
"......"
Hening, tak ada yang menjawab. Memang ada sedikit yang memahami kata-kata di papan tulis, namun rasanya ada yang tidak benar. Seolah-olah cara membaca mereka salah dan ada cara yang berbeda untuk membacanya.
"Hmm? Tidak ada yang bisa membacanya?"
"Kalau begitu... bagaimana kalau ibu tunjuk saja?" usul wanita itu.
"!!!"
Satu kelas terperanjat. Di dunia manapun, tak ada murid yang suka ketika guru berniat menunjuk muridnya untuk menjawab pertanyaan. Semuanya gugup kalau-kalau mereka terpilih. Memang bukan berarti yang salah menjawab akan dihukum, tapi entah kenapa rasanya akan ada sesuatu yang buruk terjadi kalau mereka salah.
"Mari kita lihat~"
"Silahkan kamu baca, Skyforwd Billiam."
Seketika seluruh mata tertuju pada murid dengan name tag "Skyforwd Billiam" dan yang punya nama justru diam mematung di tempat.
"Hmm?" sang wanita tersenyum kembali.
Skyforwd refleks berdiri gelagapan karena senyuman itu. Dia melirik kesana sini mencari bantuan, tapi tak ada yang membantunya. Keringat dingin mulai mengalir di wajahnya. Dengan penuh keraguan, Skyforwd mengatakan sesuatu.
"I-Itu bertuliskan... Bunga... Hijau?" jawabnya terbata-bata.
"Pfft... kenapa malah bertanya?" tawa sang wanita.
Satu kelas ikutan gugup karena sang guru tidak terlihat membenarkan jawaban pria itu. Padahal anak-anak yang memahami cara membacanya juga berpikir itulah artinya. Ya, semuanya... kecuali Aqua tentu saja.
"Yang lainnya setuju?"
"......"
"Lagi-lagi tak ada yang menjawab ya? Apa aksara kuno selulit itu?" ucap sang guru.
"Bukan itu masalahnya!" batin anak-anak muridnya.
"Baiklah, kita coba lihat jawaban murid lainnya. Ah, omong-omong jawabanmu dan kalian yang berpikiran sama... salah! Karena itu, kita akan mengadakan kelas tambahan untuk aksara kuno nanti."
"!!?"
Tanpa rasa bersalah atau kasihan, sang guru menusuk telak anak-anak yang gagal menjawab pertanyaannya dengan pelajaran tambahan tepat di hari pertama mereka masuk.
Sekarang tak ada lagi anak yang berpikir kalau wanita didepan mereka itu bukan guru dan bahwa dirinya lemah lembut. Nyatanya guru yang memberikan kelas tambahan di hari pertama hanyalah guru killer saja!
"Kesempatan terakhir, kalau yang ini juga salah. Maka kelas tambahan akan benar-benar diadakan."
"!!"
"KUMOHON SIAPAPUN JAWABLAH DENGAN BENAR!!!!!" jerit hati mereka.