
Tak hanya Aqua, Leviathan juga puas dengan jawaban anak itu. Dia sempat merasa akan ada banyak hal merepotkan yang akan terjadi kedepannya, namun melihat adanya harapan kecil seperti Aqua, membuatnya merasa hal-hal merepotkan itu layak untuk dilakukan.
⟨ Berjuanglah, nak! Aku akan pergi ke diriku dan nantinya diriku akan memberitahu Hennie serta yang lainnya untuk membantu ⟩
Aqua membungkuk 90°, "Terimakasih banyak, Tuan Leviathan!"
⟨ Sama-sama... Ah, ini mungkin akan sedikit membantumu mencari Levana. Tidak banyak lukisan yang menyimpan wujud manusia Great Dragon. Tapi karena si Ashlan itu sempat berguru sebentar pada kami, dia memasang lukisan kami di sebelah lukisan gurunya, tepatnya di galeri seni di Menara Sihir ⟩
⟨ Nanti mintalah anak itu menunjukannya padamu ⟩
Aqua mengangguk dengan senyum sopan.
"Lukisan para Great Dragon ya... Master pasti cukup dekat sampai diizinkan memiliki itu."
"Saya mengerti, petunjuk dari Anda sangat membantu. Saya akan mencari Baginda Levana berdasarkan lukisan tersebut. Omong-omong Tuan Leviathan, seperti apakah wujud manusia anda?"
⟨ Hohoho... Mari kita jadikan itu sebagai kejutan kecil untukmu nanti ⟩
"....Baik..." kecewa Aqua.
"Mencurigakan."
⟨ Sebelum aku pergi, bisa aku tanyakan sesuatu? ⟩
"Tentu. Silahkan."
Leviathan tak langsung menanyakan apa yang mengusik pikirannya sejak tadi. Sedari dia dikeluarkan dari dimensi, dia langsung dapat merasakan banyak hal yang tak dapat dirasakan orang lain. Salah satunya adalah aura orang. Dari seluruh orang di Benua ini, Leviathan dapat dengan jelas merasakan aura tak biasa milik Aqua dan Eve yang samar-samar berwarna keemasan.
⟨ Apa terjadi sesuatu pada wanita yang bersamamu (Michael)? ⟩
Aqua tertegun, tak ia sangka pertanyaan itulah yang akan terucap di mulut Leviathan. ".... Dia mengalami shock dan panic attack karana jatuhnya Benua Melayang. Sekarang dia tengah beristirahat di markas kami."
⟨ Hmm... Semoga dia cepat pulih ⟩
"Iya... Terimakasih... Atas doanya."
⟨ Sebenarnya itu bukan jawaban yang kuinginkan. Sepertinya anak ini tidak menangkap maksud pertanyaanku. Yang kumaksud adalah... Apa yang terjadi padanya? Kenapa tiba-tiba aura keemasan yang hanya samar-samar bercampur itu kini menjadi lebih kuat dan ketara? ⟩ batin Leviathan.
Meskipun dirinya membatin seperti itu, dia tidak menanyakan lagi pertanyaan tersebut pada Aqua.
⟨ Apakah hari dimana... putra putri Sang Dewi bangkit akan segera tiba? ⟩
Leviathan tersenyum membingungkan.
⟨ Aku menantikannya masa depan kalian. ( Akan jadi sekuat apa putra putri Dewi yang telah bangkit nanti ) ⟩
"...? Baik..."
Kata-kata terakhir Leviathan sebelum pergi menuju laut dalam tak dapat dimengerti oleh Aqua. Entah apa yang sebenarnya ia maksud dari hal itu. Karenanya, Aqua memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya.
Sampai bayangan gelap dari dalam laut itu menghilang sepenuhnya, Aqua terus menatap laut dengan pikirannya yang berantakan. Diamnya anak itu adalah tanda bahwa dirinya sedang berpikir. Berpikir tentang masa depannya dan Raven serta apa yang harus dilakukan mulai sekarang sampai 5 tahun ke depan sebelum Nostra menyerang dengan 100% kemampuannya baik pada makhluk di luar maupun dalam batasan.
"Ada banyak yang harus dilakukan. Ha~ahh... Mari urus yang terdekat dulu."
"Sepertinya kedepannya akan semakin merepotkan," senyum kesal Aqua.
Sementara itu di Bagian Terdalam Guild Informasi, saat yang sama dengan kedatangan Aqua di Laut.
Seorang gadis remaja berambut biru langit terbangun dari tidurnya. Belum satu jam berlalu sejak orang-orang yang berkumpul di ruangan itu kembali berpencar, namun gadis yang seharusnya bangun beberapa jam lagi telah membuka matanya.
Gadis itu, Evelyn Airella mengusap matanya yang memerah dan sedikit bengkak karena habis menangis. Lalu tangan kanannya bergerak memegangi belakang lehernya sembari menggerakkan kepalanya yang terasa berat dan kaku. Apa karena kedua wanita fenrir yang tengah duduk di sofa panjang di depannya sedang dalam keadaan fokus total atau karena pergerakan Eve terlalu sunyi dan halus, mereka sama sekali tidak menyadari pergerakannya?
Tidak, jawabannya adalah karena sihir Eve. Begitu Aqua keluar dari ruangan, Eve memasang sihir dimensi tingkat Epic (berbeda dengan dimensi yang dipakai Aqua untuk menyimpan Leviathan) yang mengurung Elvira dan Elvina dalam dimensi transparan. Berbeda dengan barrier yang melindungi apa yang ada didalamnya, dimensi ini lebih ke pemblokir panca indera (perasa mana dan aura juga termasuk) objek didalam dimensi.
Meski dimensi ini cukup berbahaya jika digunakan sembarangan (karena jika objek didalam tak merasakan panca inderanya, mereka takkan menjadi waspada dan rentan terkena bahaya tanpa disadari), namun karena Eve juga menjaga tempat itu, ini tak menjadi masalah. Selain itu, dimensi ini juga akan membantu Elvira dan Elvina agar dapat lebih fokus tanpa terganggu hal-hal di luar dimensi.
"Aqua benar-benar menidurkanku dengan sihir ya..." batinnya.
"Apa dia lupa siapa aku?"
Memang benar dugaan Eve, Aqua melupakan fakta bahwa Arc-Angel Michael, bagian dari dirinya itu adalah seorang jenius dalam sihir yang telah berkali-kali bereksperimen sihir yang mustahil di ciptakan. Arc-Angel terkuat yang memahami sihir lebih dari siapapun. Melihat sosoknya yang menangis meraung-raung membuat Aqua sempat melupakan itu.
Tubuh Eve memiliki kekebalan sihir hasil dari eksperimennya sendiri. Tak mengherankan kalau sihir sederhana seperti tidur dapat ia tangkal. Meskipun sihir sederhana itu sendiri telah diperkuat dengan mana naga yang membuat efeknya lebih kuat puluhan kali.
Eve terdiam menatap matahari yang mulai naik dari jendela ruangan. Terlihat pantulan dirinya yang terlihat menyedihkan. Tak heran teman-temannya simpati padanya.
"Mungkin karena sisi Ruby dan Tiara, aku jadi lebih emosional dari biasanya."
"Tak kusangka tangis palsu itu akan menjadi serealistis ini. Kalau hanya dari sisi Mika, akan sulit membuatnya terlihat begitu meyakinkan."
Eve memalingkan wajahnya dari jendela, kini matanya beralih ke Elvira dan Elvina yang masih sibuk mencari informasi tentang Benua Melayang.
".... Kejatuhan Benua Melayang... Entah sudah berapa puluh kali aku mengalaminya. Saking banyaknya sampai aku nggak kaget dan sedih lagi. Cuma yang satu ini... Terjadi beberapa tahun lebih cepat dari yang seharusnya."
"Untung saja aku sudah membuat penanggulangan jauh sebelumnya," senyum Eve.
Mungkin banyak yang sudah melupakannya. Perlu diingat bahwa Michael telah ratusan kali memutar kembali waktu atau istilah kerennya adalah regresi demi menciptakan masa depan yang indah dan bahagia dengan orang-orang yang disayanginya.
Eve merentangkan kedua tangannya yang pegal ke atas, "Hngghh..."
"Selama ratusan kali regresi ku, Lucifer selalu hanya mengincar Arc-Angel dan membiarkan para malaikat begitu saja dalam keadaaan terluka parah dan selalu Ifigenia yang membunuh mereka dengan cara menjatuhkan Benua Melayang."
"Genderang perang, huh... Sungguh cara yang mencolok dan kekanak-kanakan. Di bagian ini selalu tidak berubah. Sebenarnya siapa yang merencanakan hal konyol semacam ini?" kesal Eve.
Eve berjalan kembali menuju jendela untuk membukanya.
"Tapi yah... Berkat itu rencanaku berjalan lancar, meski ini terjadi lebih cepat dari yang direncanakan."
"Pertama aku mengutus pelayan-pelayanku untuk menawarkan sesuatu pada wanita yang dapat membantuku itu."
"Wanita itu akan membantuku menyelamatkan 5283 malaikat biasa sesaat setelah kejatuhan Benua Melayang."
"Lalu, dalam perlindungannya dan orang-orangnya, aku telah memintanya membawa mereka ke lokasi bagus yang telah kutentukan untuk menyembunyikan 5283 malaikat ini. Dan lokasinya adalah lokasi yang tidak mungkin terpikirkan oleh sialan-sialan itu."
Eve menyeringai sembari menyibak rambutnya yang tertiup angin, "Seperti yang diduga, tempat teraman dari musuh adalah markas musuh itu sendiri."
"Takkan ada yang mengira kalau aku menyembunyikan 5283 malaikat di Benua Iblis."
"Apalagi... Takkan ada yang mengira pula kalau Putri Raja Iblis, Yueva Satalin Luxvieda sudah berbagi rencana yang sama dengan Arc-Angel Michael jauh sebelumnya."
"Yue sudah menyiapkan tempat rahasia di Benua Iblis untuk para malaikat dari jauh hari yang lalu. Dia menggunakan dalih mencoba memperluas wilayah cakupannya agar para petinggi iblis tidak menyadarinya. Meski dia memang ingin memperluas cakupannya, namun rencana inti kami adalah menambah kekuatan yang memungkinkan, yaitu keberadaan para malaikat."
"Sekarang seharusnya mereka sudah aman di tempat itu. Untuk jaga-jaga aura mereka sebagai malaikat bocor, aku juga meminta wanita itu membawa cincin Halo ke-5283 malaikat itu bersamanya. Tentu saja mereka takkan menolak jika itu adalah perintah langsung dari Arc-Angel Michael, satu dari 5 pemimpin tertinggi mereka.
"Sayang sekali, di lepasnya cincin Halo mereka membuat level mereka turun drastis ke 200-300 an sehingga mereka takkan berguna sampai perang besar tiba nanti."
"Yahh... Bukan masalah juga. Lagipula aku memang merencanakan mereka sebagai prajurit perang besar nanti. Untuk saat ini, biarkan saja mereka berlatih dan memulihkan diri disana."
Eve merasa puas dan bangga pada dirinya sendiri. Rasanya semua kerja keras dan masalah memusingkan yang di urusnya tak berakhir sia-sia.
Kepala gadis itu menoleh ke samping kanannya. Terlihat dari ekspresinya bahwa moodnya benar-benar bagus sekarang.
"Melihatmu ada disini sekarang. Bisa kuanggap semuanya telah selesai disana?"
Tanpa diduga, seorang wanita telah berdiri di beranda sejak lama. Dan alasan Eve mendatangi jendela adalah karena ia melihat keberadaan wanita yang menunggunya itu.
Wanita itu menyilang kan tangannya di bawah dada dan bersandar di dinding, "Ya. Dan sekarang giliran ku menagih apa yang kau janjikan, Michael."
Terlihat jelas dibawah cahaya matahari yang bersinar keemasan, rambut perak bersinar yang mirip seperti milik keluarga kerajaan Vittacelar. Namun melihat telinganya yang tak runcing seperti Elf menandakan dia bukanlah keluarga kerajaan Vittacelar. Matanya juga berwarna perak seperti berlian yang sangat indah dan murni. Dan selain itu, aura putih kuat dan menekan darinya terasa begitu jelas hingga dapat membekukan siapapun disekitarnya, tentu saja tidak termasuk Eve.
"Kau bilang kau bisa mengembalikanku menjadi Great Dragon lagi, bukan?"