
Ruby POV
Aku sudah melakukan beberapa percobaan untuk mengetahui skill ini lebih baik. Ada beberapa hal menakjubkan yang kutemukan di percobaan itu.
Pertama, skill ini benar-benar mirip dengan konsep bermain game. Bedanya Avatar game nya terhubung langsung denganku. Saat Clone ku leveling, aku sebagai tubuh utamanya juga ikut naik level. Disaat Clone ku mati, akan ada cooldown selama 8 jam sampai Clone ku hidup kembali.
Ini benar-benar skill yang menakjubkan dan sangat berguna. Namun yang paling menakjubkan bagiku yang sekarang adalah... apapun yang Clone ku makan, sebagian dari itu akan menjadi energi bagi tubuh utamaku. Dengan kata lain, aku tidak akan kelaparan selama Clone ku makan dan aku bisa tetap leveling meski terkurung disini.
Berkat ini... aku bisa leveling gila-gilaan sampai hari kedewasanku.
Entah kenapa Aqua menerima permintaan pertunangan waktu itu. Ruby... aku yang tidak punya ingatan kehidupan sebelumnya terlalu polos. Dia hanya tidak bisa memanfaatkan apa yang bisa dimanfaatkan. Aku tidak bisa menyalahkannya juga sih... lagipula lingkungan tumbuhnya seperti itu.
Aku adalah Ruby, juga adalah Tiara. Jangan kau kira aku akan senaif sebelumnya!
Aku harus bertambah kuat dengan cepat untuk mencari kakak! Juga untuk bertahan hidup!
Bertunangan dengan Aqua... entah itu keberuntungan atau kesialan.
Kalau aku sekarang bisa dibilang mengambil alih peran heroine, artinya aku juga harus mengambil kesulitan rute Aqua juga.
Rute Aqua itu sangat berbahaya, aku juga tidak tau apa yang berbeda dari game dan kenyataan sekarang... jadi anggap saja rute Aqua nyata jauh lebih berbahaya.
Mari kita tetap diam dan bersikap seperti biasa sambil terus leveling. Dengan identitas ini, aku tidak akan bisa melawan si jala*g itu.
Aku harus bersabar sebentar lagi... satu-satunya yang bisa membebaskanku dari kontrak ini hanyalah Keluarga Kekaisaran juga. Dalam kasus ini... Aqua adalah yang paling memungkinkan.
Aku merasa tidak enak harus memanfaatkannya.
Apalagi anak itu... Aqua adalah cinta pertama Ruby, aku yang dulu.
Tidak... bahkan sekarang rasa cintanyapun masih terasa. Hatiku berdebar-debar saat memikirkannya, aku merasa sangat merindukannya, bukan sebagai karakter 2D. Tapi sebagai seorang pria.
Ini jadi membingungkan... Ruby yang mencintai Aqua dan aku yang mencintai kakak.
Ha~ahh... kenapa kisah cintaku serumit ini?!!
Untuk menata perasaanku, pertama aku harus menemukan kakak dulu!
Mungkin saja kakak juga punya ingatan kehidupan sebelumnya sepertiku, kalau begitu itu akan memudahkanku menemukan kakak!
Kakak... tolong tunggu aku!
Begitu kita bertemu lagi... aku akan memastikan memukulmu setidaknya sekali karena tidak menepati janjimu!
...***...
Desa Para Dwarf, Rocco
"Hatchiiiiii..." bersin seseorang.
"Apa anda terkena flu?" tanya Pietro khawatir.
Anak remaja didepan Pietro mengusap hidungnya agak kasar.
"Tidak, mungkin ada yang membicarakanku."
"?"
Aqua berjalan bersama Pietro kembali ke rumah anak itu. Sepanjang perjalanannya, para dwarf menyapa Aqua dengan ramah. Cukup jarang bagi dwarf bersikap ramah, namun berkat Aqua dan Mika yang banyak membantu mereka, mereka mulai membuka hati mereka.
"Anu... apa anda yakin anda bisa menyakinkan ayah?" cemas Pietro.
Aqua tersenyum tipis.
"Berhenti bicara formal. Sudah kubilang panggil aku Aqua saja. Semua temanku memanggilku begitu."
Mata Pietro mulai berbinar-binar.
"Teman? Apa saya juga... termasuk teman anda?"
"Hahahaha, kenapa kamu bertanya begitu? Sejak aku memutuskan untuk membawamu, kamu sudah menjadi temanku. Jadi bicaralah seperti biasa saja," jawab Aqua.
"Ah... baik, eh bukan... iya," senang Pietro.
"Bagus. Hmm... tadi kamu bertanya apa aku yakin bisa menyakinkan ayahmu? Sejujurnya aku tidak yakin. Dwarf itu keras kepala, pasti sulit menyakinkan ayahmu, tapi setidaknya aku akan mencobanya."
"Terimakasih banyak, Aqua!!" girangnya.
Aqua hanya membalasnya dengan senyuman.
"Rasanya seperti punya adik laki-laki."
PUK
Seseorang menepuk pundak Aqua dari belakang. Anak itu langsung menoleh ke belakangnya. Dilihatnya seorang gadis (?) Kynlaus dalam keadaan berantakan. Rambutnya tidak rapi, pakaiannya kusut, matanya terlihat lelah dan ada mata panda disana.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Aqua agak dingin.
"Sudah selesai..."
"?"
"AKHIRNYA SUDAH SELESAI!!!!!!" jerit Eli menggelegar.
Rasanya telinga Aqua berdenging mendengar jeritan cempreng itu. Dia menutup mulut Eli dengan tangannya agak kasar.
"Diamlah, jelaskan pelan-pelan!"
"Fufufufu... akhirnya!! Barrett M82A1 dan SIG Sauer P226 pesananku sudah selesai!!!!" girang gadis (?) itu cukup keras.
Eli terhuyung-huyung kesana kemari seperti orang mabuk. Aqua tau temannya yang satu itu gila, tapi tidak dia sangka segila itu. Bagaimana tidak? Mungkin saking senang (stress) nya dia, Eli berkeliling desa sambil bersorak girang dan menyalami dwarf-dwarf yang dia temui.
Aqua menggeleng-geleng lelah. Mika keluar dari salah satu rumah tak jauh dari sana. Dia juga mendengar jeritan Eli tadi, jadi dia keluar untuk melihat keadaan.
"A-apa dia baik-baik saja?" cemas Pietro.
"Biarkan saja. Kepalanya memang sedikit bermasalah. Entah sudah berapa lama dia tidak tidur. Nanti dia akan membaik sendiri," lelah Aqua.
Mika berjalan mendekati Aqua dan Pietro.
"Senjata Eli sudah selesai? Ini bahkan belum 1 bulan, loh."
"Ya. Seperti yang diharapkan dari Recho Chalcedony. Pria tua itu memang luar biasa," puji Aqua.
Pietro tertegun mendengar pujian Aqua. Dia menundukkan kepalanya, perasaan anak itu sedikit rumit sekarang.
"Ini bagus. Kita bisa meninggalkan desa setelah membiarkan mereka berdua cukup istirahat," ucap Aqua.
"Baiklah."
Mika baru menyadari keberadaan Pietro sepenuhnya setelah pembicaraan mereka selesai.
"Apa kamu Pietro Chalcedony?" tanya Mika ramah.
Pietro agak ketakutan, dia bersembunyi di belakang Aqua.
"Ba-bagaimana anda bisa tau nama saya?"
"Aku mendengarnya dari para dwarf wanita kalau Recho Chalcedony punya seorang putra yang sangat imut bernama Pietro Chalcedony. Senang bertemu denganmu," senyum Mika lembut.
"Yah, apalagi Aqua juga sudah bilang penampilan Pietro Chalcedony seperti apa dulu."
"Bagitu... ya... Senang bertemu dengan anda juga..." gugup Pietro.
Aqua menyamping agar Pietro berhenti bersembunyi. Sambil merentangkan tangan ke arah Mika, anak itu mengenalkannya.
"Pietro, mungkin kamu sudah tau karena sudah mengamati kami cukup lama. Gadis ini adalah tunanganku, Mika. Dan yang tadi sedikit miring adalah teman dan rekanku, Neelima."
"Kalau kita pergi bersama nanti, mereka juga akan menjadi teman dan rekanmu. Jadi berhenti bicara formal juga pada mereka."
"Say- aku mengerti... mohon bantuannya juga..." kata Pietro masih sedikit gugup.
Mika tertawa kecil melihat anak itu. Bersama Aqua, Mika juga ikut menemani Pietro meminta izin ayahnya untuk pergi meninggalkan desa bersama kelompok Aqua.
Baik Mika maupun Aqua sudah menyiapkan ribuan rencana dalam kepala mereka. Jadi mereka pasti bisa menyakinkan Recho Chalcedony bagaimanapun caranya.
Tapi...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Hah!!? Kau mau membawa bocah ini bersamamu!? Oke, ambil saja kalau dia berguna untukmu!" jawab Recho tua santai sambil mengelap senapan runduk ciptaannya.
"!?"
Respon Recho Chalcedony begitu mendengar usulan Aqua dan Mika berbeda dari yang mereka kira.