
[ Ahh, tau gak. Author akhir-akhir ini tertampar sama yang namanya kenyataan kalau gambar author justru kek merusak bayangan tentang tokoh-tokoh novel ini :")
Yasudah, mulai sekarang gambar dari Author cuma dasaran aja deh. Anggap aja Fanart gak papa. Hahahaha, nanti author bakal nyari2 gambar dari tempat lain dengan menyertakan sauce tentu saja. Kucari yang semirip mungkin sama bayangan karakter itu di pikiranku. Soalnya jujur aja, kemampuan author tidak memadai buat menunjukkan imajinasi wujud karakter itu sepenuhnya.
Sudah banyak yang author cari dan ketemu yang paling mirip sama bayangan author tentang karakter itu. Tapi beberapa ada yang mirip sama karakter bernama yang cukup populer. Jadi jadikan itu refrensi saja buat imajinasi kalian :v
Kalian bisa lihat ilustrasi-ilustrasi itu di chapter2 sebelumnya :3
Btw banyak yang belum ada ilustrasinya karena author gak Nemu yang sesuai image author. Contohnya, Elvira dan Elvina, Pietro, Mika, Dewa Dewi, dsb. Kalau kalian Nemu, tolong beritahu author yak, jangan lupa sama sauce nya loh.
Sekarang author tunjukin tokoh Evelyn kurang lebih gimana.
(Sauce: Twitter @rin7914)
Sebenarnya author gak kenal dia siapa. Tapi waktu cari-cari di Pinterest, langsung kepikiran. Itu Eve!!!
Eh lah dahlah, ternyata dia punya nama, alias bukan OC. Bedanya sama Eve cuma di pakaian sama mata aja sih (warna mata aslinya dia biru, gambar lain juga author ubah warna matanya biar sesuai sama tokoh TDBG). Sama kalau Eve ada sayap, dan nanti kalau udah gabung Yue ada tanduk dsb gitu.
Oke gitu aja dari author, selamat menikmati ceritanya lagi~ ]
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Evelyn Airella, seorang gadis remaja dengan arti nama Cahaya Kehidupan itu kini tersenyum tulus dari lubuk hatinya. Perasaannya yang berantakan telah selesai ia tata. Dadanya terasa jauh lebih segar dari sebelumnya.
Perlahan, Evelyn mengangkat tubuhnya. Dia berdiri berhadapan dengan luasnya lautan. Sejenak Evelyn merenung sebelum akhirnya mengambil suatu keputusan.
"Nostra harusnya sudah mulai bergerak sekarang. Seharusnya mereka masih memulai rencana mereka sekitar 5 tahun lagi. Sepertinya perubahan yang Aqua lakukan mempercepat rencana itu," batin Evelyn serius.
Evelyn merentangkan tangannya yang mulai kesemutan. "Kalau begitu rencanaku juga harus mulai berjalan."
Bersamaan dengan senyuman penuh tekad di wajahnya, sayap Evelyn kembali terbentang. Akibat hal itu, kain putih polos yang menyelimuti tubuhnya perlahan terjatuh dan menampakkan tubuh putih mulusnya.
"..... Aku harus ganti dulu."
Gadis itu tidak berkata-kata, namun sesuatu mulai terjadi. Kain putih polos yang jatuh ke pasir pantai tadi terangkat dan kembali menyelimuti tubuhnya, atau mungkin lebih tepat kalau dibilang membungkus seluruh tubuhnya. Dari sana, kainnya mulai membentuk suatu desain yang ada di kepala Evelyn. Tak butuh waktu lama hingga kain itu berubah sepenuhnya menjadi gaun putih yang anggun dan indah.
Evelyn tersenyum puas melihat pantulannya dari laut. Sesekali ia berputar dan menggoyangkan gaunnya.
"Sekarang lebih baik," batinnya senang.
"Ah, aku melupakan sesuatu!"
Menyadari ada sesuatu yang tidak benar, Evelyn menggerakkan jari-jarinya yang lentik. Bersamaan dengan itu, kakinya tengah telanjang mulai terbalutkan kristal indah layaknya es. Kristal itu membentuk sepatu kaca seperti yang ada di dongeng-dongeng.
"Mmm, lengkap sudah," angguk gadis itu dengan senyum manisnya.
"Melihatmu sudah bisa berdandan, apa aku bisa mengatakan mood-mu sudah baik-baik saja, sekarang?"
"!"
Pertanyaan seseorang yang berdiri di belakang Evelyn sedikit mengejutkannya. Gadis itu memang sudah menduga bahwa cepat atau lambat, keberadaannya akan ketahuan. Namun tak ia sangka akan secepat itu.
Evelyn tidak langsung menjawabnya. Dia justru berjalan dengan langkah kecil sembari memandang keindahan bintang yang terpantul di laut.
"Dua pertanyaan."
"Sejak kapan kau disini?" tanya gadis itu tanpa melihat pria muda dibelakangnya.
Pria muda berambut perak yang tak lain, tak bukan, ialah sang pangeran Elf, berpikir sejenak. "....Sejak kain di tubuhmu itu jatuh."
Jawaban pria itu membuatnya mendapat lirikan tajam dari Evelyn. "Hmm... meski cuma dari belakang, tapi tetap saja kamu sudah melihat sesuatu yang tak seharusnya kamu lihat. Mesum."
"......." Aqua tak bisa menyangkalnya. Dia memang melihat semuanya tadi. Bohong jika dia bilang dia tidak melihat apapun.
"Ya sudahlah, pertanyaan kedua. Bagaimana kamu bisa tahu aku ada disini?" tanya Evelyn lagi.
Aqua tersenyum mendengar pertanyaan kedua gadis itu, "Dari dulu selalu seperti ini, kan?"
"Karena rumah kita dekat dengan laut, setiap kali kamu sedih, terpuruk atau kesal, kamu selalu menenangkan dirimu di laut. Kamu selalu mengatakan kalau melihat laut selalu membuat hatimu damai. Bukan begitu, Tia?" jawab Aqua ringan.
Evelyn terdiam karena kalimat yang Aqua keluarkan. Sesaat kemudian, gadis itu kembali memunggungi Aqua. "Seperti biasa, kakak memang peka, ya."
"Tapi kak, laut itu luas. Pantai tak hanya berada disini."
"Oh, kalau itu... menebaknya tak terlalu sulit. Orang yang suasana hatinya kacau cenderung lari dalam garis lurus selama tidak ada belokan. Karena kamu terbang, hampir tak ada sesuatu yang akan membuatmu belok. Jadi lokasi yang paling mungkin kamu datangi adalah pantai selatan ini," terang Aqua.
Evelyn mengerutkan keningnya, "Terkadang sisimu yang itu menyebalkan, kak."
"......."
"......."
"......."
"......."
Percakapan mereka terhenti. Keduanya memilih diam, tak bersuara. Namun meski keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Anehnya tak ada hawa-hawa canggung di sekitar mereka. Bahkan senyuman mereka masih belum luntur ditelan keheningan.
"......."
"......Aqua."
"Hmm?"
"Menurutmu gimana?"
"Gimana apanya?"
"Aku yang sekarang bukanlah orang yang kau kenal sebelumnya. Aku bukan Tiara yang selalu mengikuti dan manja padamu. Aku bukan Mika yang selalu di sisimu dengan senyum lembutnya dan memberimu banyak saran berguna. Aku juga bukan Ruby, gadis yang memintamu menjadi tunangannya 5 tahun yang lalu. Tapi disisi lain, aku juga ada mereka semua. Bagaimana caramu melihatku sekarang?" tanya Evelyn dengan mata serius, penuh kecemasan.
Aqua melirik ke langit yang penuh bintang itu. "Bagaimana ya..."
Ekspresinya penuh dengan kerinduan yang sulit untuk dijelaskan.
"Dari awal sulit bagiku melepaskan pemikiran bahwa Yue, Mika dan Ruby itu mengingatkanku dengan Tiara. Tak hanya sekali dua kali aku menganggap kalian adikku, dan ternyata kalian memang adikku."
"Meski di satu sisi aku melihat kalian sebagai adikku, di sisi lain aku juga melihat kalian sebagaimana diri kalian adanya. Hal itu tak akan berubah, tak peduli seperti apa dirimu sekarang."
Perhatian Aqua kini sepenuhnya terarah pada gadis didepannya.
"Aku juga bisa menanyakan hal yang sama padamu. Kalau nanti mendapatkan kembali semua ingatanku, apa aku bukan lagi Aqua? Bukan lagi Syam? Apa kamu akan memperlakukanku seperti orang yang berbeda nantinya?"
"......!"
Mata Evelyn sedikit terbelalak. Dia menjerit dalam hatinya bahwa dia akan tetap mencintai Aqua walaupun ingatan-ingatan lama itu kembali. Dia pastinya akan tetap menganggap Aqua sebagai kakaknya apapun yang terjadi. Alasan Mika dan Yue yang belum pernah bertemu Aqua ataupun memiliki ingatan Tiara dapat semanja itu pada Aqua adalah bukti bahwa jauh di dalam dirinya, dia selalu melihat Aqua sebagai kakaknya.
Menyadari jawaban yang dia inginkan selama ini ada dalam dirinya membuat Evelyn menertawakan dirinya sendiri dalam hati. "Ahh ahhh, aku merasa bodoh sudah menanyakan itu."
Ekspresi lega terlukis di pikirannya dan di saat yang sama, air mata mengalir begitu saja. Aqua yang melihat itu hanya tersenyum saja, dia membiarkan Evelyn menenangkan dirinya sendiri.
Setelah Evelyn tenang, Aqua berjalan mendekatinya.
"Kau tau? Terkadang aku berpikir, kenapa kita dipertemukan jika akhirnya kita hanya akan dipisahkan. Kenapa jarak yang begitu luas di letakkan di antara kita?"
"Perjalanan yang kulalui sejak pertama kali mengingat kehidupanku sebagai Syamara Mahiswara hingga sekarang perlahan-lahan menjawab pertanyaan itu."
Evelyn, "...?"
Senyuman yang Aqua keluarkan kini penuh kelembutan dan kasih sayang.
"Tapi jarak itu sebenarnya tak pernah ada. Pertemuan dan perpisahan diciptakan oleh perasaan, sedangkan jarak hanya rintangan yang bisa ditempuh untuk bertemu."
"Baik aku maupun kamu tidak akan merubah cara kita memandang satu sama lain hanya karena ingatan dan sifat yang sedikit berubah. Karena kita tidak menjadi orang lain, kita hanya akan kembali menjadi diri kita sendiri."
Padahal air mata Evelyn baru saja berhenti, tapi kata-kata Aqua membuatnya kembali menitikkan air mata. Kali ini Aqua tak diam saja dan membiarkan gadis itu tenang sendiri. Aqua justru semakin tersenyum sembari menepuk dan mengelus kepala Evelyn.
"Jadi jawaban pertanyaanmu itu... aku tidak akan mengubah caraku memandang kalian semua, memandangmu. Aku hanya akan mengatakan..."
"Selamat datang. Akhirnya kita bertemu kembali, Eve."
Air mata Evelyn pecah. Dia memang sering meyakinkan dirinya sendiri kalau Aqua dan yang lainnya tidak akan memperlakukannya seperti orang asing setelah ingatannya kembali, namun mendengarnya langsung dari mulut Aqua membuat semua perasaan yang ditahannya tumpah seketika.
Evelyn berbalik, menghadap Aqua dan langsung memeluknya erat-erat.
"Aku pulang... kakak..."
Aqua hanya menghela napas kecil dengan senyum lega. Tangannya yang cukup berotot itu kini membalas pelukan Eve dengan lembut. "Kalau kamu cemas tentang bagaimana hubungan kita kedepannya, tidak perlu khawatir."
"Pelan-pelan saja... waktu akan membentuk kembali kenangan yang akan kita lalui. Dan kenangan-kenangan kita sebelumnya tidak akan menghilang. Jadi tidak perlu terburu-buru, kita jalani saja semuanya pelan-pelan. Oke?"
Anggukan Eve menjadi penutup percakapan mereka. Aqua membiarkan Eve menangis sepuasnya dalam pelukannya. Tangannya mengelus-elus punggung Eve agar gadis itu dapat lebih tenang. Mata pria itu terlihat begitu hangat dan lembut. Hanya dihadapan gadis itulah, Aqua dapat mengeluarkan tatapan seperti itu.
"......"
"......"
Setelah tubuh Eve berhenti gemetaran dan tangisnya telah reda, Aqua menanyakan sesuatu yang sudah menganggunya sejak tadi.
"Omong-omong, Eve. Kenapa kau memukulku tadi?"
DDUUUGGHH
Belum tiga detik setelah Aqua menanyakan hal itu, Eve mendorongnya hingga jatuh terduduk.
Aqua, "???"
Mood Eve benar-benar berubah sekarang. Dirinya tersenyum menyeramkan dan memancarkan aura kemarahan.
"Aqua... bukan, kakak... kamu mengingatkanku sesuatu yang sudah kulupakan tadi š¢"
"Huh?"
"Sepertinya pukulanku sebelumnya tidak menyadarkanmu sama sekali akan kesalahanmu. Biarkan aku memukulmu sekali lagi. Kali ini, sekuat tenagaku!" seru Eve sembari menyiapkan tinjunya.
Melihat itu membuat Aqua merinding, level gadis itu hanya selisih sedikit dengan dirinya. Kalau dia memukul sekuat tenaga, itu tidak akan menimbulkan damage sederhana seperti sebelumnya.
"E-Eve?"
"Te-Tenangkan dirimu... kamu- kamu lagi gak bisa berpikir jernih... pertama-tama turunkan dulu tanganmu, oke? Ki-Kita bicara dulu baik-baik..."
Kata-kata Aqua justru membuat senyum menyeramkan Eve semakin lebar.
"Kakak tau gak? Banyak orang bilang, terkadang pukulan lebih berarti dari ucapan."
"Ha... hahaha..." senyum Aqua merinding.
"Sepertinya nyawaku akan berakhir hari ini."