
Sesaat Sebelum Jatuhnya Benua Melayang
Seorang gadis jelita bersayap putih bersih tengah terbang beberapa senti di atas permukaan air laut. Hanya dengan merendah sedikit saja, kaki gadis itu dapat menyentuh air laut yang bercahaya memantulkan cahaya bulan.
Tujuan gadis itu tidak lain tidak bukan adalah pesisir pantai yang jauh dari jangkauan manusia karena letaknya yang dikelilingi bebatuan curam. Gadis itu mendarat di pasir pantai yang sangat halus, putih dan bersih layaknya sayap di punggungnya. Begitu kaki gadis itu menapak pasir, sayapnya menutup dan menghilang.
Gadis itu duduk di atas pasir sembari memeluk lututnya. Dia menatap lautan yang membentang luas didepannya. Matanya terlihat sendu dan penuh beban pikiran. Untuk beberapa saat, dia diam saja seperti itu. Tidak mengatakan apapun, tidak memikirkan apapun. Hanya diam, melihat indahnya lautan.
"......."
"......."
"......."
"......."
Setelah beberapa menit seperti itu, dia akhirnya melihat telapak tangan kanannya dengan tatapan yang aneh.
"......."
"......."
"Aku... sebenarnya siapa...?" gumamnya.
Didalam kepalanya, terputar kembali ingatan yang cukup membebani dirinya. Ingatan seorang gadis berambut pirang yang ditinggal berdua dengan wanita berambut biru muda yang tertidur di ranjangnya. Kedua perempuan itu bertemu didalam mimpi mereka dan menjadi dekat hanya dalam sekali pertemuan itu. Tak lupa, ingatan tentang gadis berambut dan mata hitam yang dapat merubah wujudnya, serta ingatan jatuhnya kedua perempuan tadi dari langit setelah mereka saling menggenggam juga terlintas di kepalanya.
Ingatan terakhir yang dia putar kembali ialah masa dimana gadis itu memukul tepat di perut seorang pria muda yang baru ditemuinya.
(????) POV
"......"
Sekarang aku bertanya-tanya... inikah yang orang sebut "Krisis Identitas"?
Memang benar puluhan pertanyaanku terjawab.
Tapi ratusan pertanyaan baru membanjiri kepalaku.
Belum memikirkannya saja sudah membuatku pusing.
Ha~ahhh....
Kuselonjorkan kakiku di atas pasir putih pantai. Rasanya sedikit menggelitik karena tak ada apapun yang memisahkan pasir dan kulitku. Angin malam yang menerpa rambutku tidak membuatku merasa kedinginan barang sedikitpun. Mungkin ini keistimewaan salah satu ras tubuhku ini.
Mata yang berat ini kini mengarah ke langit malam penuh bintang dan terhiasi Aurora.
"Yueva Satalin Luxvieda, putri raja iblis... Rubylia Arsilla, bangsawan vampir Kekaisaran Levana... Michael, satu dari lima Arc-Angel pelindung Demetria..." gumam.
"Semuanya identitas yang menakjubkan..."
Aneh sekali...
Padahal ingatan yang kini memenuhi kepalaku adalah ingatan dari 4 orang yang berbeda, tidak... apa 3,5 ya? Soalnya Yue belum sepenuhnya... ah, lupakan itu. Intinya meski ingatan sebanyak itu memenuhi kepalaku, otakku tidak kelebihan kapasitas.
Apa ini yang dimaksud Airella?
Yang lebih aneh lagi, aku memang mempertanyakan identitas diriku yang sekarang, namun aku sama sekali tidak merasakan yang namanya kehilangan jati diri. Rasanya justru melengkapi potongan puzzle yang hilang. Seperti... orang yang amnesia karena kecelakaan, berhasil mendapatkan ingatannya kembali. Bukankah orang yang seperti itu, bisa dibilang orang yang berbeda sebelum dan setelah amnesia, namun juga orang yang sama?
Perasaanku mirip dengan itu.
Aku sama sekali tidak mempermasalahkan penggabungan ini... justru aku bersyukur sudah melakukannya. Karena rasanya aku semakin kembali menjadi diriku yang sebenarnya.
Sebelumnya meski aku, bukan... meski Ruby mendapatkan ingatan Tiara, itu tidak sepenuhnya. Tiara yang asli, yang di kehidupan sebelumnya itu mempunyai ingatan kehidupan pertama hingga kelima entah sejak kapan. Itulah alasan kenapa 'aku' pada saat itu terlalu dewasa dan rasional, serta terlalu jenius bahkan untuk orang dewasa sekalipun. Walau aku tetap bersikap kekanak-kanakan didepan keluargaku. Intinya sifat Tiara yang dulu adalah hasil dari seluruh ingatannya. Jadi aneh rasanya ingatan Tiara yang dikirim ke Ruby. Karena dari awal itu tidak lengkap.
Karena itu aku bersyukur sudah mendapatkan kepingan ingatan dan jiwaku.
Hanya saja...
Ini sedikit... emm... (menggeleng)
Ini cukup membuatku shock.
Kak Syam ternyata bereinkarnasi sebagai Aqua dan ternyata pula merupakan kekasih-kekasihku di kehidupan sebelumnya.
Selain itu, Mbak Kirana juga bereinkarnasi sebagai Neelima, rekan kakak sekarang karena di utus Dewi Hestia.
Gimana ya itu...
Kek... aneh aja gitu rasanya...
Jangan bilang nanti mendadak ada informasi kalau Kak Syana juga ikut reinkarnasi jadi siapa gitu? (keringat dingin)
Gak, gak, gak... pikiranku kejauhan...
"......"
Hufth....
Reaksiku seharusnya jauh lebih heboh dari ini, tapi sisi Ruby dan Mika saling menenangkan karena pengetahuan yang kami miliki.
... Setelah dipikir-pikir... sebelumnya aku dan aku saling menyombongkan diri tentang ingatan siapa yang mendominasi. Aku baru ingat.
Lucu.
Ingatan siapa yang mendominasi?
Pfftt... Nyatanya semua ingatan yang kupikir akan saling memakan satu sama lain itu justru sepenuhnya dilahap oleh sesuatu yang berbeda.
Sekarang aku paham apa maksud si Airella kalau, tidak peduli sebanyak apapun ingatan yang bercampur, aku akan tetap menjadi aku.
Namun seiring perkembangan mereka, sifat-sifat yang terpecah itu mengisi kekosongan yang ada dengan sifat baru yang meniru sifat asli yang hilang. Mudahnya, semakin mereka tumbuh, semakin mirip sifat mereka dengan satu sama lainnya. Itulah kenapa tidak terjadi shock besar ketika penggabungan terjadi.
Iya sih begitu.
Kalau kasus normal harusnya gitu...
Tapi... ketiga diriku ini kasus abnormal...
Si Mika ratusan kali regresi? Yang benar saja!
Ruby juga pake campuran ingatan Tiara.
Dan Yue... dia yang paling normal sih, tapi tetap saja dia pernah mengulang waktunya sendiri dan itu membuat sifatnya berkembang lebih cepat juga.
Intinya karena faktor eksternal itu, sifat mereka jadi agak berantakan. Jadi hasilnya membuatku lebih linglung dan mempertanyakan identitas ku sendiri...
Bikin pusing saja!
Sekarang apa yang harus kulakukan?
Begitu aku sadar tadi sampai aku duduk di pesisir pantai ini, aku sudah menata perasaan dan ingatanku yang campur aduk ini hingga rapi. Tapi tetap saja rasanya agak aneh.
"......."
"......."
Pikiranku lelah. Aku membaringkan tubuhku di pasir pantai. Mata dan perasaanku yang berat membuatku ingin melarikan diri ke alam mimpi saja. Namun diriku tak bisa menghilangkan kesadaran ini. Tak peduli seberapa lelah mentalku sekarang.
"Sebenarnya dari mana semua bisa jadi serumit ini...?"
"......"
"......"
"......"
"......"
"Aku ini... bodoh ya...?"
"Kenapa aku menanyakan hal yang sudah pasti?"
Aku bangkit dari rebahanku yang nyaman ini dengan hati berat namun juga ringan (oke aku tau ini aneh, tapi emang gitu rasanya).
Dari mana sumber masalah ini, huh?
Itu sih jelas saja... karena kehidupan pertama sebagai Michael, alias sebelum aku yang itu regresi, semua baik-baik saja sampai penggabungan ketiga dengan lancar jaya. Semua masalah ini terjadi, karena... sebelum mendapatkan ingatan utuh sebagai Airella, aku yang telah mendapatkan keutuhan jiwaku, selalu mati.
Ya, aku mati.
Ratusan kali.
Entah itu saat masih menjadi Michael, atau saat sudah bergabung.
Semuanya mati pada akhirnya.
Terkadang yang mati adalah kakak, tapi demi mengulang waktu, aku membunuh diriku sendiri. Berkali-kali.
Sampai rasa sakit itu sudah menjadi hal yang biasa.
Satu-satunya alasan kenapa ingatan regresi itu hanya tiba ke Mika meski terkadang kami telah bergabung sebelum regresi, itu karena Mika adalah yang terpintar di antara ketiganya. Karena beban ingatan regresi itu hanya dapat di tampung salah satu pecahan jiwa agar tetap stabil. Tapi bahkan dengan itu, mengubah masa depan adalah sesuatu yang sangat sulit.
Tak terhitung lagi betapa banyaknya kegagalan yang aku (Mika) alami.
Setiap regresi bisa membuat Mika kembali ke 1-3 tahun yang lalu. Jika sudah melebihi 3 tahun, dia tidak bisa mengulang waktu kembali karena pengulangan waktu seperti itu adalah original magic yang diciptakan Mika untuk saat-saat darurat dan bayarannya adalah nyawanya. Untung Mika juga adalah putri Dewi, berkat itu nyawanya hanya terkikis sedikit demi sedikit, tidak sampai langsung membunuhnya. Meski begitu, tetap saja. Yang namanya kembali ke masa lalu, menghidupkan orang mati dan keabadian adalah sihir tabu yang dapat membuat penggunanya mendapat karma tinggi.
Tanpa mempedulikan semua itu, Mika terus mengulang waktu sampai akhirnya dia sendiri tidak mengingat sudah berapa kali dia mengulang waktu.
Butuh 27x regresi demi tetap hidup sampai kami (aku dan kakak) mengetahui kebenaran kelahiran kami. Pada mulanya Mika membutuhkan waktu 10-15 tahun bersama Aqua, Yue dan Ruby sebelum akhirnya mereka mengetahui kebenaran perpecahan jiwa Airella. Dan kini, berkat rencana Mika yang memanfaatkan pengkhianatan Lucifer, dia mampu menyingkat waktu itu di dungeon sehingga alur berjalan lebih cepat dan korban semakin sedikit.
Butuh 32x regresi sebelum Mika bergabung dengan Yue karena Yue selalu berakhir menjadi raja iblis dan membuatnya mustahil untuk bergabung karena jiwanya yang menghitam.
Butuh 44x regresi sebelum Mika dan bergabung dengan Ruby dan karena Ruby dan Mika selalu berakhir menggila. Kenapa bisa? Tentu saja jawabannya karena Yue. Kalau Yue menjadi raja iblis dan jiwanya menghitam, yang terkena dampak bukan hanya Yue. Mika dan Ruby yang merupakan pecahan lain jiwanya akan ikut ternoda dan membuat jiwa mereka tidak stabil. Ketidakstabilan itulah alasan mereka jadi gila dan tidak bisa berpikir jernih.
Berkat semua pengalaman itu, Mika menjadwal dengan rinci kapan maximal dia harus bergabung dengan Ruby sebelum bergabung dengan Yue, berkat itu Mika bisa mengurangi regresi yang dia lakukan.
Butuh 8x regresi untuk ketiganya berhasil bergabung dengan baik, tanpa masalah besar.
Namun masalah yang sesungguhnya datang dari sana. Meski ketiganya sudah bergabung, karena aku dan kakak masih terlalu lemah, kami dengan mudah di hancurkan oleh semua musuh kami. Baik musuhku ataupun musuh kakak.
Mulai dari sinilah kesulitannya meningkat drastis. Butuh 117x regresi agar kami berdua berhasil bertahan hidup dan mengalahkan Nostra dan semua musuh kami. Tapi... kami mengalahkan mereka terlalu cepat. Ada potongan puzzle yang terlewati. Dan puzzle itulah bagian penting dari misi bertahan hidup ini.
Setelah itu, kami selalu mati sebelum melawan Dewi Kejahatan.
Karena terlalu fokus bertahan hidup, aku (Mika) juga melewatkan beberapa informasi yang seharusnya ku ketahui rinciannya.
Tapi semua sudah terlambat...
Seperti yang kubilang tadi, aku hanya bisa mengulang waktu maximal 3 tahun saja. Itulah kenapa aku sedikit-sedikit mengulang waktu agar tidak melakukan kesalahan apapun karena aku tak akan lagi bisa mengulang kalau sudah lewat 3 tahun.
Walaupun sudah seteliti itu, aku masih saja melewatkan beberapa hal penting di awal sekali cerita ini dimulai.
Penyesalan selalu datang terlambat, itu benar. Dan sekarang tak ada gunanya lagi mengulang 3 tahun kalau kesalahan terjadi sangat di awal. Apapun yang kulakukan setelah itu, hanya akan membuat semua semakin bertambah parah dan sia-sia saja
Ending yang aku dapatkan selalu sama... kematian semua orang yang aku sayangi.
Di tengah keputusasaan itulah, gadis aneh itu datang.