
"Ashura?"
Yue memiringkan kepalanya bingung.
"Aqua! Ashura itu apa? Yue gak pernah dengar," tanyanya.
"Lah! Kamu gak tau Ashura!!?" kaget Lix tak percaya.
"Kalau Yue tau, Yue gak bakal nanya. Apa kamu bodoh?" kesal Yue.
"..... Ha~ah, Aqua tolong jelaskan padanya."
"Hahaha, baiklah. Yue, Ashura itu adalah makhluk yang memiliki darah dewa, mereka adalah salah satu ras paling langka di Demetria. Para bangsa Ashura memiliki penampilan terbaik dari manusia. Para lelakinya memiliki sosok kuat dan wanitanya merupakan yang cantik. Namun perbedaan terbesar Ashura dan manusia adalah kekuatan fisik besar yang mereka miliki. Ditambah penampilan mereka sedikit berbeda dengan manusia, kulit mereka berwarna ungu gelap dan rambutnya sangat cerah dan yang terpenting karena fisik mereka sangat besar layaknya raksasa," terang Aqua.
"Aqua, Lix gak kuat! Ditambah gak ungu! Terakhir, dia gak tampan! Kok beda?" bingung Yue.
Kata-kata Yue seolah menohok Lix dengan fakta kejam.
"Itu karena aku belum cukup umur!"
"Jadi begini Yue, pada awalnya Ras Ashura itu punya penampilan mirip manusia. Tapi saat sudah dewasa, mereka bisa merubah wujudnya seperti itu."
"Jadi begitu! Berarti nanti Lix kalau sudah besar bisa kayak gitu?" tanya Yue.
"..... Emm… aku tidak tau. Tadi Lix kan sudah bilang, dia cuma setengah Ashura. Bisa saja perubahannya tak sempurna, bisa juga iya," balas Aqua agak ragu.
"Gak perlu menutupinya. Katakan saja sejujurnya!" ucap Lix santai.
"....... Yue, Ashura yang bukan berdarah murni itu hanya memiliki kekuatan besar dan kecantikan fisiknya saja. Wujud raksasa dan penampilan Ashura tak bisa didapatkan setengah Ashura."
"Memangnya kenapa? Bagus dong kalau Lix tetap jadi Lix," balas Yue polos.
Aqua dan Lix terdiam mendengarnya. Mereka tak menyangka, Yue akan merespon seperti itu. Mereka tersenyum dan secara bersamaan mengusap kepala Yue senang.
"Kalian ini kenapa?" tanya Yue yang rambutnya berantakan.
"Ahahahahahaha."
.
.
.
.
TOK TOK TOK
Suara pintu diketuk menghentikan tawa mereka. Aqua meminta waktu sebentar karena mereka belum berganti pakaian. Dengan cepat, Aqua, Lix dan Yue sudah mengganti pakaian formalnya jadi pakaian mereka yang biasanya.
Aqua membuka pintu dengan tergesa-gesa. Dia mengira orang yang ada di depan pintu adalah penjaga atau pelayan. Makanya dia tersentak karena orang yang ada didepan bukanlah mereka.
Dua Elf dengan penampilan mempesona dan rambut warna silver indah. Aqua sudah melihat mereka tadi saat di ruang singgasana.
"Apa kalian sudah siap? Ayo kita pergi!" Ajak laki-laki Elf itu.
"Tentu."
Mereka berlima sedang dalam perjalanan keluar istana, menuju ke tempat yang agak terpencil di Kerajaan Vittacelar. Di perjalanan itu, mereka saling memperkenalkan diri dulu.
"Jadi kamu yang namanya Aquamarine! Boleh kupanggil Aqua?" tanya cewek Elf itu bersemangat.
"Boleh," jawab Aqua ramah.
"Karena aku lebih tua darimu, panggil aku Kak Rin, oke?!!" serunya.
"Rin! Itu tidak sopan! Kalau mau memperkenalkan diri itu yang benar!" tegas laki-laki Elf.
"Tapi kak! Aku selalu ingin bertemu dengannya. Apa kita harus melakukan hal formal seperti itu?"
"Harus! Kita itu Keluarga Kerajaan, jadi sebelum dekat kita harus bersikap sopan dulu!!"
Laki-laki itu menggelengkan kepalanya.
"Tolong maafkan adik perempuanku."
"Ah, saya tidak mempermasalahkan itu."
Kedua Elf itu menyatukan jari telunjuk dan tengah kirinya ( jari lain di tekuk ) lalu meletakkan kedua jarinya di bibir dan sedikit menunduk. Itu adalah gaya salam para Elf.
"Perkenalkan, nama saya Turquoise Caller El Vittacelar. Anak pertama dari Putri Amethyst Callen El Vittacelar."
"Sedangkan saya Citrine Caller El Vittacelar. Anak kedua dari Putri Amethyst Callen El Vittacelar."
Aqua menirukan gerakan dua Elf di depannya.
"Nama saya Aquamarine. Anak pertama dari Putri Sapphire Vallen El Vittacelar."
Yue dan Lix diam karena takjub melihat tiga Elf di depan mereka. Aqua menyenggol lengan Lix dan Yue, mengisyaratkan mereka agar ikut memperkenalkan diri.
Lix agak gelagapan meniru Aqua dan memperkenalkan dirinya.
"Ahh… Nama saya Feirlyx."
"Nama Yue itu Yue!" ucap Yue bersemangat.
Semua pandangan menuju ke Yue seketika. Lix dan Aqua panik karena tingkah laku anak satu ini. Namun bukannya marah, Citrine justru tertawa senang.
"Apa-apaan anak ini? Lucunya!! Hei, boleh aku membawa pulang dia?" tanya Lix.
"Tidak boleh!!!" jawab Aqua dan lix cepat hingga mengejutkan semua orang.
Citrine berpikir kalau Yue sangat disayangi hingga kedua anak laki-laki itu sangat tak mengizinkannya mengambil Yue. Tapi…
"Bagaimana kalau identitas Yue ketahuan dan dia dieksekusi??!!!" panik Aqua.
Yang ada dipikiran Aqua dan Lix benar-benar berbeda dari dugaan Citrine.
"Baik, baik. Sebagai gantinya… berhentilah bicara formal, oke! Seperti yang kubilang tadi, karena aku lebih tua panggil aku Kak Rin saja!" ujarnya.
"Aqua… bukankah kamu beruntung, punya kakak secantik dia. Umurnya sepertinya tak jauh darimu, paling hanya 3-4 tahun," goda Lix.
Aqua dan Turquoise menatap Lix tak percaya. Turquoise tersenyum mengejek Citrine.
"3-4 tahun katanya…" ejeknya hingga membuat Citrine kesal.
"?"
Aqua bingung mau bilang atau tidak, tapi pada akhirnya dia mengatakannya juga.
"Lix! Ci… Kak Rin itu… sudah 48 tahun."
Lix membelalakkan matanya.
"48 TAHUN?!!!"
"Bibi-bibi dong?!!!"
"Tidak sopan ya!!" marah Citrine sambil menyentil dahi Lix sampai merah.
"Bagi ras Elf, umur segitu itu masih muda. Kalau manusia dianggap dewasa umur 15 tahun, Elf dianggap dewasa umur 50 tahun. Lagipula Elf bisa hidup sampai 1000 tahun," kata Aqua menjelaskan.
"Ukhh… kan aku spontan ngomong," ucap Lix sambil menyentuh kepalanya.
"Aqua! Kenapa kamu berteman dengan orang kurang ajar kayak gini!!" kesal Citrine.
"Ahaha, tolong maafkan dia kak. Dia gak pernah bertemu Elf sebelumnya."
Aqua menendang kaki Lix pelan.
"Saya minta maaf…"
"Ahahaha… tidak masalah. Melihat Rin marah cukup menyenangkan kok. Lagian bukan cuma Rin, aku sendiri juga sudah berumur 74 tahun," kata Turquoise.
"74? Keren!!"
"Kenapa reaksimu berbeda saat mendengar umurku!?" marah Citrine.
Citrine yang sedang marah itu merasakan roknya ditarik pelan oleh seseorang. Dia menoleh ke orang yang menarik pelan roknya, anak perempuan manis berambut coklat gandum menatapnya dengan wajah berbinar-binar.
"Kak Rin! Apa Yue juga boleh panggil Kak Rin?" tanya Yue senang.
Mood Citrine yang rusak tadi sembuh seketika melihat kepolosan Yue. Dia tersenyum hangat.
"Boleh kok… panggil saja aku apapun yang kamu mau."
"Unn! Terimakasih!"
Aqua bersyukur Citrine sepertinya suka anak kecil. Dia menatap tajam Lix yang justru membuat mereka hampir dalam masalah. Lix tertawa canggung dan meminta maaf ke Aqua.
Tak terasa, mereka sudah berjalan cukup jauh dari istana. Saat ini bahkan rumah-rumah pohon Elf lain sudah tak terlihat lagi. Mereka sudah sampai di depan sebuah pohon raksasa yang ditinggali seseorang.
"Kita sampai! Ini rumah Tuan Alesta. Maafkan aku tapi kami hanya bisa mengantarmu sampai disini," kata Turquoise ramah.
"Tidak, ini sudah cukup. Terima kasih sudah mengantar kami," balas Aqua.
Citrine dan Turquoise melambaikan tangannya sambil meninggalkan mereka, kembali ke istana. Tiga anak itu membalas lambaian itu hingga mereka tak terlihat.
"Baiklah. Ini saatnya! Kita harus bisa belajar sihir dari guru ini!"
"Baik!"
Lix mendadak mengingat percakapan rahasianya dengan Aqua sebelumnya.
"Aku belajar sihir?"
"Ya! Kamu juga akan ikut denganku dan Yue belajar sihir ke Tuan Alesta."
"Kenapa? Aku gak punya berkah elemen loh!? Lagian dia itu guru sihir kegelapan, kan?"
"Kamu punya! Percayalah padaku. Meski sedikit berbeda dari yang lain, kamu tetap punya. Tuan Alesta memang guru sihir kegelapan, tapi aku yakin dia bisa mengajari elemen sihir unikmu."
".... Kalau kamu bilang begitu. Ya sudahlah, aku ikut."
.
.
.
.
.
.
Ilustrasi Tokoh Citrine (48 Tahun)
(Sauce: EB+ on Pixiv)
Ilustrasi Tokoh Turquoise (74 tahun)
(Sauce: Twitter Lucy Blueroses)
(Abaikan aja pakaian modern sama telinganya :v)