
Sangat masuk akal bahwa dwarf itu sulit ditemui. Letak desa mereka begitu penuh rintangan untuk bisa di lewati. Aqua dan yang lainnya harus melewati jurang yang dalam dan berbagai perangkap sihir jika mereka menggunakan cara normal.
Tapi Aqua tidak sebodoh itu. Dia merencanakan sesuatu dengan Mika sedari tadi. Mereka berdua menyadari bahwa ada beberapa dwarf penjaga yang mengawasi mereka, jadi mereka sengaja singgah di sebuah goa untuk menarik perhatian para dwarf. Mereka juga sengaja mengumbar kelemahan mereka agar para dwarf mengetahui kalau mereka tidak berbahaya dan tidak berniat melawan mereka.
Setelah dwarf menyadari keunggulan mereka, para dwarf akan secara terang-terangan menangkap mereka baik untuk introgasi maupun memanfaatkan mereka.
Aqua dan Mika memang sengaja membuat diri mereka tertangkap. Namun apa mereka benar-benar dalam kondisi tidak bisa melawan? Bodoh jika iya. Nyatanya kekuatan fisik mereka cukup besar karena perbedaan level yang jauh. Ditambah "skill" selain berkah elemen itu tidak membutuhkan "mana". Karena sumber energinya mereka berbeda.
Aqua memiliki cincin inventory lainnya yang fungsinya seperti item box biasa, waktu tidak berhenti dan ruang terbatas. Namun itu sudah lebih dari cukup, ruangan dalam cincin sebesar sebuah desa itu hanya diisi oleh air.
Berkat skill pemberian Leviathan, Aqua bisa mengendalikan air sesuka hatinya tanpa menggunakan mana sama sekali. Air sebanyak sebuah desa atau danau kecil bisa dikendalikan sesuka hati? Itu jelas sangat berbahaya.
Bagaimana dengan Mika? Sepertinya gadis itu tidak perlu dibahas lagi.
Paling dasar saja yaitu sayapnya, sudah sangat berbahaya. Mika punya sebuah skill yang membuat sayapnya bisa setajam pedang. Sayapnya punya kurang lebih 700.000 bulu setajam pedang yang bisa dia kendalikan sesuka hati. Itu saja baru skill dasar para Arc-Angel. Belum skill lainnya, saat ini tidak ada makhluk selain Mika yang mengetahui berapa banyak skill yang dimiliki Arc-Angel Michael.
"Ini luar biasa..." kagum Eli.
Aqua, Mika, Eli dan Hell telah sampai di sebuah tempat yang terlihat seperti kuil bawah tanah yang terhubung dengan goa tadi. Ada sebuah patung raksasa seorang wanita yang dipuja sebagai Dewi satu-satunya Demetria, Dewi Athena.
Para dwarf bersujud hormat pada sang Dewi, setelah itu salah satu dari mereka meraba bagian bunga di patung Dewi dan menggerakkannya hingga bengkok.
DRRRRGGGGGGGG
Ruangan bergetar, seperti sedang gempa. Tak lama sebuah tangga menuju bawah tanah muncul. Para dwarf menarik kelompok Aqua ke bawah bersama mereka. Didalam sana bukanlah sesuatu yang luar biasa seperti kota bawah tanah atau sesuatu yang menyeramkan seperti penjara. Hanya sebuah ruangan kecil dengan altar bundar yang terlukis lingkaran sihir rumit.
« Itu lingkaran sihir teleportasi, ya? »
Suara Mika terkirim ke kepala Aqua. Saat ini Aqua dan Mika sedang menggunakan telepati khusus yang mereka ciptakan sendiri.
« Ya, dwarf pasti pergi ke desanya lewat sana »
Aqua menarik sudut bibirnya.
« Mika, tolong lakukan itu »
« Oke! »
Pandangan Mika fokus pada lingkaran itu. Simbol ☮️ muncul kembali dan berputar dengan cepat seperti gangsing sehingga terlihat sangat cantik. Saat ini, Mika sedang menyimpan data lingkaran sihir itu dengan matanya agar nanti mereka bisa membuatnya sendiri. Bisa dibilang seperti screenshot dalam android smartphone.
« Aku sudah menyimpan datanya »
« Terimakasih »
Aqua melirik para dwarf yang sibuk berdiskusi satu sama lain. Sekarang Aqua dan yang lainnya sedang ditawan dwarf dalam kondisi tangan mereka di borgol dan dirantai bersama.
"Hei, apa kalian akan membawa kami?" pancing Aqua.
"Diamlah bocah! Ini semua tidak ada urusannya denganmu!!" marah seorang dwarf.
"Tidak, tidak, yang kalian tawan itukan kami," batin Aqua.
Aqua mengeluarkan senyum tipis mengejek.
"Apa kau yakin? Membawa orang berbahaya seperti kami ke desa kalian?"
Para dwarf tertegun, tak lama mereka tertawa keras seakan mengolok-olok kata-kata Aqua. Mereka terus mengejek Aqua dan yang lain sok kuat dan tak sadar posisi mereka. Dwarf memang ras dengan harga diri dan kesombongan yang terlalu tinggi. Sedikit berbeda namun mirip dengan Elf.
"Itu saja sudah cukup," batin Aqua.
Para dwarf mengaktifkan lingkaran sihir mereka dan menarik kelompok Aqua ke dekat mereka. Lingkaran sihir itu memancarkan sinar merah terang dari tengah ke pinggir. Sesaat setelah cahaya merah itu mencapai bagian paling jauh, dwarf dan kelompok Aqua menghilang dari sana.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pemandangan asri yang jauh berbeda dari goa bawah tanah menyambut mata mereka.
Terlihat sebuah desa dikelilingi oleh hutan dan tebing gunung. Rasanya seperti desa itu dibangun di dalam lubang gunung ( tempat lava vulkanik ). Benar-benar tempat yang terpencil. Sulit membayangkan orang bisa masuk ke sana tanpa melewati portal lingkaran teleportasi tadi.
« Desa Rocco... aku tidak menyangka kita benar-benar bisa masuk ke sini. Sekarang tinggal membuat senjata dan membawa anak dwarf itu, kan? » senyum Mika.
« Iya, rencana kita baru dimulai dari sekarang » jawab Aqua agak malas.
"Cepatlah!!" jerit dwarf yang memegang rantai mereka.
Aqua, Mika, Eli dan Hell di tarik paksa menuju desa. Raut wajah Eli dan Hell terlihat sangat kesal, terutama Hell. Dia pasti sudah membunuh mereka semua yang ada di sana kalau tidak di larang Aqua. Level para dwarf tidak ada yang lebih dari 300, di atas 200 saja cukup jarang. Satu-satunya dwarf yang sudah berlevel lebih dari 500 hanyalah Jasper Chalcedony, dan dia sudah tiada.
"Kenapa kalian membawa orang asing masuk, Khal!!!" marah dwarf yang terlihat tua.
Sejujurnya di mata Mika, semua dwarf ini sama saja. Sulit membedakan siapa yang lebih tua dan siapa yang lebih muda karena wajah mereka semua terlihat seperti pria tua pendek.
"Mereka bajingan yang berpikir bisa membeli produk kita. Mereka pikir mereka siapa, hahahaha!" tawa dwarf lainnya.
"Hmm... Half-elf, Kynlaus dan dua manusia ya," gumam dwarf itu.
Sebagai catatan, Mika tanpa cincin dan sayapnya terlihat seperti manusia pada umumnya. Begitu juga Heolstor yang sekarang. Selama mereka menyembunyikan aura mereka dengan baik, ras lain akan menganggap mereka manusia.
DUUUGGH
"Dasar bodoh!! Apapun alasannya, membawa orang asing ke desa itu melanggar aturan!!! Bisakah kau bertanggung jawab kalau mereka berbahaya!!!"
"Ma-maafkan aku pak tua Ghor!!!" sesal dwarf itu. "Mereka tidak bisa menggunakan sihir di sini, kalau hanya kemampuan fisik, kita para dwarf yang akan menang."
DUUUGGH
"Inilah kenapa aku tidak percaya kalian, dwarf muda bodoh!!!!" pukulnya lagi.
Dwarf tua itu mendekat dan mengamati Aqua, Mika, Eli dan Hell lekat-lekat. Tatapannya sangat menganggu Aqua, tapi itu reaksi yang wajar bagi orang untuk memperhatikan baik-baik penyusup wilayah mereka.
"......."
Mata dwarf itu terlihat sangat tajam seolah bisa membelah mereka dengan tatapan itu.
"Lepaskan mereka!" seru dwarf tua.
"Eh?? Tapi kenapa, pak tua?!!" bingung dwarf muda.
Tatapan dwarf tua itu menajam ke kumpulan dwarf muda yang menyandra Aqua dan yang lain.
"Kalau tidak mau mati, lepaskan mereka!!!"
"Ba-baik!!!"
Para dwarf muda langsung melepaskan Aqua dan yang lain. Mereka mungkin mengira kalau dwarf tua akan membunuh mereka jika mereka tidak mengikuti perintahnya. Namun bukan itu maksud sang dwarf tua.
Aqua mengusap pergelangan tangannya memutar. Anak itu juga menarik lembut tangan Mika ke depannya. Lingkaran merah membekas di pergelangan tangan putih Mika karena borgol besi berkarat yang dwarf gunakan.
Mika, "?"
Aqua tau, dengan kemampuan Mika dan levelnya sekarang, luka semacam itu akan cepat pulih meski hanya didiamkan saja. Tapi dia tetap saja kesal. Ingin rasanya dia menghancurkan semua besi yang ada disana dan menyiksa para dwarf tadi.
Namun dia mengurungkan semua niat itu. Aqua mengusap lembut tangan Mika dengan jarinya. Secara ajaib, luka itu langsung hilang tanpa bekas. Setelah memastikan tidak ada luka yang tertinggal, Aqua menurunkan tangan Mika pelan-pelan.
"Terimakasih," senyum Mika.
"Tidak apa, itu hanya demi kepuasan pribadiku," jawab Aqua lembut.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
[ Nih, Ilustrasi yang diminta oleh para fans!!! ]
@Arion \= Aqua Gelud
Itu rambutnya Aqua agak berantakan karena angin, pas gini jadi mirip Lix yak :v Btw maaf ini simpel gitu, untuk sekarang cukup ini aja ya.
@Apollo \= Yuri si kembar
Elvira : "Kita sedang di tengah misi, bodoh!"
Elvina: "Eh... sesekali tidak apa, kan?"
Elvira: "💢"
@Emerald~ \= Lix
Hmm... harusnya author tidak membuatnya pakai baju modern yak :D
@Entah? \= Dewi Athena
Aku membuat Dewi Athena tidak memakai sesuatu yang berlebihan, karena ya... para dewa hidupnya bisa dibilang damai dan santai di alam dewa. Jadi tidak perlu memakai pakaian tempur atau semacamnya.
.
.
.
.
.
[ Oke itu aja. Maaf kalau gambar nya tidak memenuhi ekspektasi kalian. Kemampuan menggambar manual author tidak terlalu memadai untuk membuat hal yang spektakuler ( alias gak isa di edit :v ) ]